Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Andung Ni Anak Siampudan

with 7 comments

Dang begeonku inong

Soara mi dainong hu

Turi turian nama diau dainong

Dipaninggalhon mi diau

Pussu ni si ubeon mi dainong

Au inong simagoi

 

Dung hubege baritami dainong

Naung jumolo ho inong

Mangangguk bobar maau inong

Lungun nai di au on

Di au siampudan mi dainong

Da siampudan lapungi

 

Marsali ma au dainong

Da tu hombar ni jabui

Asa adong da ongkos hi dainong

Manggeahi udean mi

Inganan na saoboi be haulahani dainong

Tois nai ho inong hu

 

Dung sahat au dainong

Diharbaganni hitai

Hubereng ma da ruma mi dainong

Nungnga balik balatuk mi

Marduhut ma alaman mi dainong

Nungnga tudos tu natarulangi

 

Reff.

Hei….. hei…. Hei…. Hei… hei …. Hei…

Inong…. Inong….ingong….inong…inonggg

 

Husukkun ma dongan sahuta dainong

Didia do hudean mi

Dipatuduhon ma tu au dainong

Da dipudini jabui

Dihambirang ni damangi dainong

Ditoruni harambir mi

 

Ukkap potimi dainong

Inganan ni salendang mi

Hape ditongos do tu au dainong

Gabe tinggal ma orbuki

Sian rapu rapu turere dainong

Ias ias ni jabumi

 

Advertisements

Written by lagubatak

September 2, 2008 at 11:02 am

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Yang saya ingat kuat, lagu ini karya Jonggi Saur Malum Manullang (alm).
    Lagu ini pernah dibawakan Rita Butar-Butar, Eddy Silitonga, dan Emilia Contesa.

    Lagu ini pernah diperkarakan penciptanya karena telah banyak dilanggar Hak Ciptanya oleh Remaco Record dan Flower Sound Record, dan putusan pengadilan memenangkan Hak Cipta Bapak J Manullang itu. Dikarenakan salah satu perusahaan rekaman tidak mau berperkara, maka diselesaikan secara kekeluargaan dengan sejumlah kompensasi. Dan kompensasi ini menjadi bukti, terutama bagi Remaco, bahwa klaim lagu ini adalah ‘lagu rakyat’ sehingga tidak ada penciptanya, menjadi gugur.

    Mungkin sebelumnya belum lae ketahui sejarah lagu ini. Kalau secara emosional, lagu ini sungguh pengalaman hidup penciptanya. Jadi setidaknya lae bisa berjiwa besar mencantumkan nama penciptanya.

    Saya tidak mengarang cerita ini. Jika lae merasa perlu, bisa dikonfirmasi kepada saudara-saudara dari pencipta yang dari galur Manullang Ompu Pamuha Raja – Ompu Raja Na Walu. Bahkan kalau perlu konfirmasi langsung ke ahli warisnya, mereka masih ada, tiga orang putera.

    Chirho

    June 21, 2011 at 5:06 am

  2. mauliate dihamu namambaen sisongonon jd manang didia pe hita di saluhut sudut ni portibion boi begeon tong lagu naung jarang nibege,mauliate horas…

    horas raja purba

    April 27, 2010 at 2:54 pm

  3. horas,, lae.. molo naeng mandonlod lagu on,, songon dia do cara na???
    mangajari ma hamu lae..

    ulitua

    November 11, 2009 at 3:07 pm

  4. Aku tidak terlalu mengerti kalimat per kalimat arti dari lagu ini.
    Hanya garis besarnya saja yang aku mengerti lewat cerita dari teman ( kalau aku tidak salah ingat ) lagu ini bercerita tentang anak bungus yang kehilangan Ibu’nya.
    saat Ibunya dipanggil TUHAN dia tidak bisa pulang kampung karna tidak ada ongkos 😦
    Tiap aku denger lagu ini pasti aku nangis.
    Kalau ada yang bisa menterjemahkan lagu ini kedalam bahasa Indonesia…aku aku sangat berterimakasih.

    Miss. Ginting

    September 25, 2009 at 8:12 pm

    • RATAP TANGIS ANAK BUNGSU

      Tiadakan kudengar lagi suaramu Ibundaku
      Tinggal kenangan bagiku setelah dikau pergi meninggalkanku
      Aku anak bungsumu, daku kehilanganmu Bunda

      Saat kudengar kabar tentangmu, dikau telah pergi selamanya Bunda
      Kumenangis sejadi-jadinya Ibundaku, betapa pilu rasanya
      Aku anak bungsumu Bunda, anak bungsu yang hampa merana

      Kuharus berhutang kepada tetangga ya Bunda
      Supaya ada biayaku untuk menjiarahi makammu
      Dan tak mungkin lagi dapat kubayar kembali, betapa teganya kau Ibundaku

      Ketika ku tiba di pintu gerbang kampung
      Terlihat olehku rumahmu Bunda, sudah terbalik tangganya
      Halamannya pun penuh ilalang, seperti lahan semak belukar

      Kutanya teman sekampung di mana pusaramu
      Ditunjukkan padaku Bunda, di belakang rumah
      Di sebelah kiri pusara Ayahanda, Bundaku, di bawah pohon kelapamu.

      Buka petimu Bunda tempat selendangmu,
      Pernah dikirim padaku, kini yang tinggal hanya debu
      Serpihan kayu pada jatuh ke tikar, menghiasi rumahmu

      Fredi

      February 3, 2017 at 3:52 pm

      • Terima kasih untuk terjemahannya😊😊😊😊😊

        Rimasagala

        September 6, 2017 at 8:06 am

  5. “Dang begeonku inong”.Baris parjolo.
    Bukankah seharusnya “dang begeon hu be inong”…?
    “Inganan na saoboi be haulahani dainong”
    bukankah seharusnya: “inganan na so boi be haulahan i da inong” …?

    M. Gurning

    September 12, 2008 at 9:27 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: