Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Para Pembajak VCD/DVD di Kepulauan Riau Aman??

leave a comment »

“Dimana ada gula disitu ada semut”, pepatah kuno yang selalu eksis dalam perumpamaan kehidupan manusia, baik itu diartikan secara positif dan sebaliknya. Namun untuk tulisan kali ini saya mengibaratkannya seperti menggambarkan bagaimana gairah beberapa oknum untuk berbondong bondong melakukan pekerjaan seperti semut untuk mendapatkan “gula” yang manis itu dengan analogi yang saya sebut VCD/DVD bajakan.

Seperti yang dilansir di harian Batam Pos beberapa bulan lalu, bahwa peredaran VCD/DVD bajakan di Kepulauan Riau ditakutkan akan menjadi perdagangan barang haram yang dihalalkan dengan mempersenjatai ketidak tahuan masyarakan atau minimnya informasi yang dimiliki oleh masyarakat.
Apa dan bagaimana barang haram tersebut sudah menjadi kebutuhan sehari hari, dan lebih celakanya itu akan menjadi pelajaran harian yang terbuka bagi generasi muda yang sebahagian besar komunitasnya sebagai “customer”nya.

Saya akan berbagi sedikit apa dan bagaimana VCD/DVD bajakan itu, bagaimana mereka melakoninya hingga sampai dipasaran dengan iming iming harga yang sangat murah, agar konsumen dapat menilai dan memutuskan sendiri apa yang akan dilakukan untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri maupun keyakinannya.

Seorang produser resmi film dan lagu, sebelum mengeluarkan produk untuk dipasarkan haruslah terlebih dahulu membayar segala urusan royalti lagu, musik dan artis agar dapat dikatakan syah secara hukum. Setelah semua persyaratan tersebut dilakukan maka dia siap untuk menggandakan sesuai dengan keinginannya, biaya tambahan yang diwajibkan adalah menyertakan secarik kertas kecil dari Pajak Negara yang disebut Pajak Pertambahan Nilai (PPN), seperti perlakuan cukai untuk rokok. Pembayaran PPN ini dilakukan kepada Negara setiap penjualan per unit adalah Rp. 1.000 s/d 1.500.
Sedangkan harga jual VCD/DVD original saat ini berkisar antara Rp.25.000,- s/d 50.000, namun ada juga beberapa produser yang menyiasatinya dengan membuat produk Ekonomis untuk menghindari ulah para pembajak, harga untuk VCD ekonomis antara Rp. 10.000 s/d Rp. 15.000.
Dapat dibayangkan apabila produser resmi telah bersusah payah untuk membayar seluruh kewajibannya tersebut diatas, setelah dia meluncurkan produknya dipasaran tidak berapa lama kemudian terdapat VCD/DVD bajakannya dengan harga Rp.5.000,-.

Pembuat VCD/DVD bajakan itu disinyalir adalah para pemain atau pemilik pabrik cetakan VCD/DVD yang asli atau terdaftar dan syah memiliki kantor dan izin usaha yang valid. namun seperti pernyataan diatas tadi, semut sangat membutuhkan gula. maka para pemilik pabrik tersebut tergiur untuk melakukan hal mudah dengan keuntungan yang besar walaupun melanggar norma norma hukum yang berlaku, apalagi perbuatan tersebut bersambut dari pihak masyarakat dengan iming iming harga lebih murah dan lebih up to date.

Peredaran VCD/DVD bajakan yang terdapat di Kepulauan Riau seperti sekarang ini diyakini disuplay dari Glodok Jakarta. Batam dan Tanjungpinang hanya memfasilitasi pembungkusan sampul dan penempelan label (hologram), seolah olah barang tersebut merupakan barang yang sudah “dimeterai” untuk layak diperjual belikan tanpa dilarang lagi oleh pihak pihak yang berwajib dan berkepentingan.

Hologram dengan bentuk segi 8 agak bulat berwarna merah muda, serta bergaris simetris di tengah bermotif seperti kembang tersebut dapat dengan mudah dibeli dipasar pasar keramaian seperti baru baru ini kembali dilansir Batam Pos, dari dari pengamatan yang dilakukan bahwa berita itu benar adanya diperkuat dengan tanya jawab yang likakukan terhadap para penjual VCD/DVD untuk daerah Batam dan Tanjungpinang.

Sebagai seorang produser, sangat miris melihat keadaan ini, dan juga sebagai seorang pengawas produk produk dari anggota assosiasi rekaman sering bepergian kebeberapa tempat di Indonesia terutama Sumatra. Kepulauan Riau adalah suatu lahan empuk bagi orang orang yang melakukan tugas pembajakan ini, karena didaerah lain belum pernah ditemukan modus operandi seperti ini. saya khawatir pada gilirannya akan sangat mempengaruhi penilaian terhadap kinerja pihak pihak yang berwajib.

Dalam bentuk fisiknya, VCD/DVD terbagi dalam berbagai bentuk dan kwalitas, dapat dipastikan bahwa piranti yang digunakan untuk VCD/DVD bajakan adalah kwalitas yang paling rendah, itu sebabnya jika membeli barang bajakan tersebut sebagian besar hanya bertahan untuk dinimkati maksimal 3 kali, selebihnya akan macet dan tak bisa digunakan lagi, hal yang belum pernah diperhatikan adalah menambah sampah yang tidak bisa didaur ulang.
Ada juga peenggandaan VCD/DVD dengan menggunakan salinan atau perekaman melalui computer biasa atau Deskjet dengan menggunakan software tertentu, namun untuk yang terakhir ini hanya sedikit dampaknya.

Secara umum apabila pihak pihak yang berkepentingan (Kepolisian, Perpajakan dan Perdagangan, Industri) serius untuk memberantas peredaran barang bajakan tersebut, sangat mudah dan tidak perlu lempar masalah yang tidak kunjung usai dilapangan. Asalkan ada niat yang serius dan bekerja sama dengan pihak pihak yang berkepentingan didalamnya, misalnya produser dan assosiasi anti pembajakan.

Mari kita hitung sejenak berapa kerugian Negara atas beredarnya VCD/DVD bajakan ini, Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa setiap keping penjualan cakram VCD/DVD menjadi pemasukan ke kas Negara antara Rp. 1.000 s/d 1.500 tergantung jenis materi yang terdapat dalam piranti tersebut (lagu daerah, nasional, asing dan Film). Saya asumsikan rata rata minimal peredaran VCD/DVD di Kepulauan Riau mencapai 20.000pcs perhari, maka nilai rupiah yang terhindar dari pendapatan Negara adalah Rp. 750.000.000 per bulan dan belum lagi kerugian secara moral yang menyangkut bagaimana pendidikan kepada generasi muda.

Jika peredaran VCD/DVD bajakan ini tidak segera dihentikan oleh pihak yang berwajib, dikhawatirkan akan terjadinya krisis moral yang berkepanjangan kepada masyarakat sebagai pengguna, karena bukan tidak mungkin sangat mudah untuk mencari film film porno dipasaran yang pada gilirannya adalah merusak akhlak dan moral masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

Dari modus yang dilakukan oleh para pembajak sekarang ini cukup cerdas, karena mereka tidak perlu membeli perangkat atau mesin pengganda, mereka hanya memesan barang yang ada di Jakarta dengan harga kisaran Rp.1.000 s/d 3.500, setelah barang tersebut tiba didaerah Batam, Tanjungpinang, saat mengadakan pembungkusan dan sekaligus merekatkan label hologram tadi, maka mereka menjualnya ke pihak agen dan pengecer sebesar antara Rp. 5.000 s/d 8.000, keuntungan yang fantastis! sungguh perlakuan yang sangat cerdas tanpa membutuhkan modal yang besar seperti layaknya seorang pembajakan VCD/DVD sebelumnya. Dengan demikian apabila suatu saat keberadaan mereka tidak aman, maka dengan cepat mereka dapat cuci tangan tanpa bukti peralatan atau kerugian materi yang besar.

Namun bagaimanapun, ini adalah pekerjaan yang harus tetap diberantas dan tidak layak untuk dibiarkan untuik menghindari kejadian kejadian sampai pada akhirnya masyarakat sendiri yang akan menjadi alat control mereka.

Sebelum membeli produk VCD/DVD ada baiknya dilakukan dengan bijak dengan cara meneliti produk tersebut apakah bajakan atau tidak. Caranya dengan melihat secara langsung pada fisik VCD/DVD dalam lingkaran kecil bagi produk original/asli biasanya dicantumkan code pabrik pencetak dan nama perusahaan yang merekam atau distributor resmi lagu/film tersebut, hal tersebut tidak terdapat pada fisik VCD/DVD. Laporkanlah kepada pihak yang berwajib jika menemukan barang tersebut dan jangan beri kesempatan ruang terhadap pemasarannya.

Written by lagubatak

June 14, 2009 at 5:50 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: