Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Quo Vadis Produser Lagu Batak?

with 2 comments

Sambil anda membacanya, nikmati pula rangkaian lagu yang ada disini http://www.youtube.com/user/lagubatak1 [klik kanan>>pilih>Open Link In New Tab]

Malam ini adalah akhir dari bulan Ramadhan bagi umat mulsim, dan tidak banyak yang dapat saya perbuat, sambil mendengar bunyi takbiran dari beberapa mesjid dekat rumah saya, maka saya mencoba memperbanyak perbendaharaan blog saya lagu batak.

Kemarin siang saya mempunyai kesempatan untuk datang berkunjung ke salah satu studio rekaman batak di Jakarta, dengan maksud untuk mengamati dan menikmati rekaman lagu batak sambil bersenda gurau dengan rekan rekan artis artis batak yang sedang berada di studio tersebut. Inilah salah satu kenikmatan yang tidak bisa saya beli dengan bentuk uang, diantaranya melihat kegigihan dan ketekunan rekan untuk tetap setia melakukan tugas masing masing karena menurut saya mereka inilah yang betul betul menaruh perhatian penuh terhadap kesinambungan dan kelangsungan lagu lagu batak itu sendiri.

Dalam kesempatan tersebut beberapa diantara kami sedang serius membicarakan hal hal yang mendasar atau umum bagaimana tetap eksis untuk melakukan produksi dalam lagu batak yang sebenarnya “tidak menguntungkan secara financial”. Namun karena sudah terlanjur cinta dan separuh badan sudah keburu diserahkan, maka apapun yang terjadi sungguh sulit rasanya untuk meninggalkannya.

Disamping mereka yang bekerja di dalam 2 studio rekaman tersebut, kami memilih untuk duduk sambil menyeruput kopi yang nikmat dan sesekali menikmati rokok sore hari itu dengan pembicaraan yang menurut saya sudah mulai agak membosankan. Tiba tiba salah satu musisi senior lagu batak melontarkan pertanyaan kepada salah satu rekan produser lagu batak yang senior pula, yakni yang sudah memberikan jiwa raganya untuk memproduksi lagu lagu batak sejak 25 tahun lalu, selayaknya orang orang yang terjun dalam dunia produser lagu batak bahwa beliau adalah salah seorang pengusaha muda yang sukses pada masanya dan entah apa yang membuat dia berkenalan dengan dunia musik batak yang serba mystery itu.

“Ai boha nama lagu batak on lae?” itulah kira kira pertanyaan sang musisi kepada rekan produser tadi, dengan datar sang produser sambil mengusap usap telapak tangannya, mendesah sambil menjawab kalimat seadanya, “ai boha be bahenon?, tapaihut ihut ma”, katanya. Saya terkejut mendengar jawaban tersebut, karena saya sebenarnya bukan mengharapkan jawaban itu karena saya tau bagaimana dia yang menguasai betul seluk beluk tentang produksi lagu batak, khusus jawaban ini saya merasa bahwa dalam jawaban tersebut terdapat nada “pasrah” dan sepertinya tidak ada lagi yang dapat diharapkan.

Saya langsung membayangkan pikirannya terhadap bagaimana musik batak sekarang ini yang tidak dapat dikontrol lagi, tidak mempunyai jati diri, dan tidak mempunyai pegangan dan pendirian seperti layaknya jenis usaha yang sama dalam pop indonesia dan lainnya. Betul saja dia kontan menyambungnya bahwa “ai so siulaon be on molo adong dope usaha na asing” (ini tidak layak dilanjutkan lagi sebagai usaha jika masih ada pekerjaan lain yang tersedia). Setelah dia mengungkapkan kalimat tersebut, dengan waktu yang bersamaan seorang pencipta lagu senior bergabung dalam diskusi kami yang baru tiba di tempat tersebut.

Rekan produser tadi melanjutkan bahwa di lingkungan produser Batak saat ini sudah tidak mengindahkan etika usaha yang sebenarnya harus dipahami, karena apa yang terjadi saat ini setiap orang sudah dapat dengan mudah ikut terjun memproduksi tanpa mengetahui bahkan tidak perlu belajar seperti apa yang pernah dilakukannya sebelumnya. Bahwa produser lagu batak tidak mempunyai jati diri lagi karena semua orang dapat berlomba lomba untuk melakukan produksi, dengan kiasan mati satu tumbuh seratus. Lihatlah bahwa jadwal studio kita disini terdapat 2 studio dengan kondisi 2 shift perhari tapi tidak pernah kosong. Kita selalu melihat orang orang yang berbeda dan semua dapat dengan serba cepat melakukan pencetakan dan pendistribusian tanpa melakukan tindakan tindakan yang legal.

Saya mencoba untuk melakukan pemancingan apa sebenarnya yang ada dalam benaknya, “sebenarnya, itu bisa dicegah dengan menggunakan peraturan dan undang-undang dari pemerintah, sanggahku. Langsung saja dengan wajah serius dan dengan nada yang agak tinggi mengatakan bahwa negara kita ini menganut kebebasan berkreasi dan tidak akan ada payung pemerintah yang sanggup melakukan untuk mengekang pertumbuhan tersebut, walaupun sebenarnya bisa ditempuh tapi masih banyak hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pejabat pejabatnya. Sebenarnya secara legal kita sudah membuat bentuk undang undang yang sudah disepakati bersama antara beberapa departemen terkait dalam pemerintahan, dan undang undang tersebut telah diajukan kepada DPR untuk disikapi dan dirapatkan guna mendapat dukungan dan persetujuan untuk dikumandangkan sebagai undang undang.

Pada tahun 2005 kebangkitan musik batak mulai bergerak, walaupun maraknya bajakan yang ada saat itu namun para pelaku musik batak dapat mengambil terobosan baru untuk membuat vcd batak dengan harga ekonomis (tidak jauh berbeda dengan vcd bajakan) maka para pembajak mengurungkan niat untuk melakukan pembajakan karena tidak menguntungkan baginya. Keadaan itu bisa berlanjut sampai akhir tahun 2007, dan ada beberapa produser yang diuntungkan pada posisi tersebut. Namun awal tahun 2008 ada exodus besar besaran dari masyarakat batak untuk melakukan usaha ini karena ingin menikmati karena mengira bahwa usaha rekaman seperti ini sangat menjanjikan, disamping dia melakukan usaha rekaman bahkan dia dapat dengan cepat terkenal dilingkungan orang batak, karena nama dan gambar visual dia dapat dimasukkan dalam video lagu batak yang dia produksi. Disamping itu mereka tergiur melihat beberapa produser yang kelihatannya sangat berhasil dibidang ini.

Antara tahun 2008 dan 2010 banyak produser batak yang merugi, namun tidak menjadikan efek jera kepada orang lain, seolah olah orang yang telah menyerah tersebut bukan menjadi suatu pelajaran. Disamping banyaknya penyanyi batak yang berhasil membujuk seseorang untuk dijadikan sebagai “bapak angkat” sekedar untuk membuat album lagu batak mereka, ini berlanjut terus sampai saat ini. Yang lebih parahnya bahwa mulai tahun 2011 ada beberapa penyanyi yang sudah melek dengan tehnologi rekaman, tidak sedikit yang begitu berani melakukan produksi layaknya “home production” dan melakukannya dengan sesuka hati, dia dapat mencipta lagu, kemudian belajar untuk program musik, lalu melakukan take vocal dan sampai pada pembuatan video clip. Tidak berhenti disitu saja, bahkan dia melakukan pendistribusian hasil karya tersebut. Mungkin inilah yang dibayangkan oleh rekan produser tadi yang mengatakan bahwa semua orang batak sekarang sudah mampu mengatakan dirinya sebagai seorang produser lagu batak, tidak mempunyai jati diri, tidak ada lagi standard dan semua bebas berekspresi yang tidak dapat dibendung oleh siapapun.

Sebenarnya ada titik kontrol yang perlu dilakukan seseorang agar dia dapat melakukan usaha ini, yakni harus memiliki badan usaha dan izin produksi agar dapat mememperbanyak (cetak) produksi tersebut dipabrik. Namun dengan mudah mereka dapat mencari produser lain yang sudah memiliki izin dan menjalin kerja sama dengan pemilik usaha tersebut agar dapat melakukan memperbanyak (cetak) ke pihak pabrikan, maka keluhan tadi benarlah sudah.

Dalam peraturan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah, bahwa setiap penjualan barang haruslah mempunyai pajak penjualan atau pajak pertambahan nilai layaknya seperti penjualan rokok haruslah memiliki bandrol cukai yang akan dipungut oleh pemerintah, maka untuk vcd lagu batak pajak pertambahan nilai (PPN) bukan lagi menjadi persoalan, karena vcd dapat dijual kepasaran tanpa menggunakan PPN dengan alasan harga ekonomis. Maka begitulah persoalan yang muncul hari demi hari, bahwa produser batak sebenarnya tidak lagi melakukan “self control” atas usahanya seperti yang diinginkan oleh pemerintah, dia sudah melakukannya tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku.

Diam diam dalam diskusi tersebut saya merasa bersalah, awalnya tahun 2008 saya pernah memberikan petunjuk kepada beberapa rekan yang merasa kesulitan pengetahuan dan berkeinginan untuk melakukan produksi sendiri> namun karena menurut hemat saya mereka dapat melakukan pekerjaan ini dengan benar dan dapat mengindahkan kaidah kaidah etika bisnis, saya pernah mengajarkan bagaimana agar mereka dapat meningkatkan yang tadinya usaha bidang “editing” video clip batak agar dapat menjadi “produser”. Saat itu saya menyarankan agar dia dapat melakukan produksi tanpa harus terlibat untuk mengurus surat izin produksi dan lainnya, dan apabila nantinya produksinya telah selesai maka dia dapat mencari produser yang telah memiliki izin agar dapat digandakan ke pabrik. Dan akhirnya dia melakukannya dengan baik, akhirnya pada tahun berikutnya dia juga mengurus izin izin usah yang dibutuhkan karena menurutnya dia sudah pantas untuk melakukannya dengan serius. Apakah ini awal dari malapetaka tersebut pikirku, dan dalam blog ini pun saya pernah memberi arahan kepada masyarakat luas untuk melakukan produksi dengan ketentuan yang sama.

Dalam kesempatan ini saya perlu jelaskan, bahwa penjelasan saya tersebut telah dilakukan oleh pihak pihak lain melebihi penjelasan yang telah saya berikan, “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. bahwa 50% (bahkan lebih) produser batak sekarang ini tidak memiliki izin izin yang dibutuhkan namun dapat melakukan produksi dan penggandaan namun melakukan logo dan menggunakan “NN records”. Mereka dengan leluasa dapat melakukan penggandaan dengan bekerja sama dengan produser yang memiliki izin produksi, lihat tulisan saya sebelumnya di blog ini : https://lagubatak.wordpress.com/produser/anda-tertarik-menjadi-produser-rekaman/ namun yang saya maksud dalam tulisan tersebut hanya sampai pada bidang produksi, bukan hal pendistribusian.

Inilah yang dimaksud oleh rekan produser tadi bahwa usaha ini sudah tidak layak lagi ditekuni jika ada pekerjaan lain yang mampu dilakukan diluar memproduksi lagu batak.

Sedangkan si pencipta lagu yang saya sebutkan tadi dengan tenang menyampaikan, bahwa sebenarnya yang perlu dilakukan saat ini adalah tetap pada bagian masing masing, antara penyanyi, pencipta lagu, pemusik dan produser. Maka akan tercipta usaha yang sehat. Sebenarnya dalam hati saya berpikir situasi ini ikut menguntungkannya karena semakin banyak produser yang melakukan produksi maka kesempatan dia untuk menjual lagunya semakin besar termasuk pemusik.

Menurut saya bukan pada kesalahan bagaimana produksi itu, betul setiap orang berhak untuk berkreasi, namun yang perlu dicermati bahwa setiap insan yang terlibat dalam produksi lagu batak harus memperhatikan etika usaha. Dengan demikian peredaran lagu batak dapat dikontrol baik dari segi produksi dan harga, bukan seperti yang terjadi saat ini, tidak ada lagi keseimbangan karena semua merasa berhak untuk melakukan apa saja, mencipta lagu, penyanyi, produser, juga distributor hal tersebut sangat sulit dilakukan dengan bersamaan.

Written by lagubatak

August 7, 2013 at 5:17 pm

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Horas…
    Kami Hassaphie Band, band batak dengan versi akustik berdomisili di kota medan.. sedang mencari jalan untuk memperkenalkan hasil karya kami berupa lagu batak yg berjumlah 10 lagu hasil ciptaan kami.. kami sangat berharap kepada semua produser lagu batak yg sudi kiranya membantu memproduseri dan merekam lagu2 yg sudah kami ciptakan,. Karena kami sadar akan semua keterbatasan yg kami miliki.. Mauliate….
    Cp 081260177222 aritonang

    joe art

    September 9, 2016 at 5:01 am

  2. Horas…
    Kami Hassaphie Band, band batak dengan versi akustik berdomisili di kota medan.. sedang mencari jalan untuk memperkenalkan hasil karya kami berupa lagu batak yg berjumlah 10 lagu hasil ciptaan kami.. kami sangat berharap kepada semua produser lagu batak yg sudi kiranya membantu memproduseri dan merekam lagu2 yg sudah kami ciptakan,. Karena kami sadar akan semua keterbatasan yg kami miliki.. Mauliate….

    joe art

    September 9, 2016 at 5:00 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: