Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Mata Baru, Semangat Baru

leave a comment »

Tulisan ini di-unduh dari salah satu note seorang motivator St. Jansen Sinamo. Penting untuk dilihat karena mencakup beberapa sejarah yang ada di tanah batak. semoga beliau berkenan dengan pengu-unduhan secara sepihak, tanpa meminta persetujuan. Namun karena nilai yang terkandung didalamnya yang membuat saya berani melakukannya:)/

Pertengahan Juni 2007 yang lalu saya berkunjung lagi ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Saya bermaksud mengikuti puncak acara peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII, yang tewas di ujung bedil Belanda pada 17 Juni 1907. Sebagai Sekjen Yayasan Pencinta Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini berbeda. Dulu saya melihat daerah ini dengan mata ekologi dan geologi. Kali ini saya melihatnya dengan mata sejarah.

Dengan mata ekologi saya tak putus takjub dengan fenomena alam Danau Toba. Geologi menakrifkan danau ini terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu tatkala Gunung Toba purba meletus sambil menghamburkan 800 km kubik material ke angkasa. Bandingkan dengan Gunung St. Hellens, Pinatubo, dan Tambora yang masing-masing cuma melontarkan 0.2, 4, dan 20 km kubik saja. Letusan Gunung Toba adalah salah satu ledakan terdahsyat yang pernah terjadi di bumi, nyaris memusnahkan umat manusia. Kaldera yang ditinggalkannya itulah yang kemudian menjadi Danau Toba, 110 km panjangnya membujur miring dari barat laut ke tenggara.

Selama 10.000 tahun selanjutnya, magma terus mendorong—meski tak lagi sanggup bikin ledakan—lalu mendongkrak kulit bumi sehingga menggembung di atas muka danau: dan hatta, lahirlah pulau Samosir!

Ribuan tahun selanjutnya bekas-bekas ledakan kolosal itu hilang perlahan oleh tutupan vegetasi dan kemudian menghutan lalu berganti rupa menjadi situs ekologi yang biru dan hijau, subur dan cantik menawan, seperti yang dengan menggetarkan dikidungkan Nahum Situmorang.

Kemudian, di sekitar abad ke-14 atau 15, beberapa rombongan manusia merambah naik ke kawasan ini, bermukim di sana, lalu menjadi sebuah masyarakat yang kini disebut sebagai orang Batak. Saya tak putus-putus mensyukuri temuan alam para nenek moyang itu yang menjadi situs ekologis kelahiran jutaan putera-puteri Batak: banyak yang jenderal dan profesor, guru dan pendeta, politikus dan birokrat, seniman dan intelektual, pengusaha dan pengacara, sopir dan kondektur; termasuk dinasti Sisingamangaraja yang bertahta di Bakara, dan tentu: saya sendiri juga.

Dari ketinggian bukit makam resmi pahlawan itu saya memandangi Balige dan sekitarnya. Saya mengingat ulang kisah perjuangan Sisingamangaraja XII: khususnya episode pertempuran Bahal Batu yang pertama. Saya bayangkan ribuan pasukan Batak bertempur di pallagan Balige itu dengan bedil-bedil sederhana melawan pasukan Belanda yang telah bersenjata otomatis bahkan bermeriam. Dengan menunggang Sihapaspili, kuda putihnya, Raja Batak yang masih belia itu tampil gagah ke medan laga. Namun sungguh sial, bahu kirinya tertembak. Ia kalah, lalu mundur teratur. Namun sejak itu, selama 30 tahun ia terus melawan secara gerilya dari hutan-hutan kawasan barat daya Danau Toba. Tetapi, akhirnya ia tewas pada 1907 mempertahankan kebebasannya, kedaulatan negerinya, dan martabat bangsanya. Saat tafakur mengheningkan cipta di depan makam Soposurung itu, tanpa bisa dicegah air mata saya merembes deras: terharu, bersyukur, dan bangga sekaligus. ***

Dari ketinggian surga sana Allah melihat dunia. Ia menyaksikan derita manusia. Mata yang penuh belas kasihan itu tidak tahan lalu mengutus putera-Nya yang tunggal. Sang putera itu kemudian mengundang manusia: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”Begitulah mata Tuhan melihat Anda dan saya. Ia tahu derita dan sedih-pedih kita. Ia melihat dan menunggu kita. Mari datang dan berlabuh di haribaan-Nya. Ia tahu harapan dan rindu-cita kita. Ia melihat dan menunggu kita. Mari memandang, datang, dan berharap akan rahmat-Nya.

Mari memakai mata Tuhan sebagaimana Abraham melihat dengan mata Tuhan. Meski janji Tuhan tampak mustahil, namun Abraham tidak bimbang. Ia memutuskan melihat kondisi hidupnya sebagaimana Tuhan melihatnya. Ia percaya dan terus menanti penuh iman akan janji-Nya.

Mari memakai mata Tuhan sebagaimana Daud melihat dengan mata Tuhan. Meski jauh-jauh hari telah diurapi Samuel, namun prospek menjadi raja tampaknya justru mustahil sementara ia malah jadi buronan raja Saul yang makin tua makin menderita neurosis. Namun Daud tidak bimbang. Ia memutuskan melihat kondisi hidupnya sebagaimana Tuhan melihatnya. Ia percaya dan menanti penuh perjuangan akan janji-Nya.

Ketika saya melihat dan menghayati Danau Toba sebagai medan laga bagi pejuang-pejuang Batak melawan Belanda, maka Sisingamangaraja XII menjadi riil di hati saya. Saya rasakan ia begitu dekat, menghayati emosi dan pikirannya, dan terinspirasi olehnya. Karenanya, saya lebih mencintai Tanah Batak [dan Indonesia] yang diperjuangkannya.

Ketika saya melihat hidup saya dengan mata Tuhan sebagaimana Tuhan melihatnya: bahwa Ia sedang bekerja di dalam dan melalui diri saya, maka Tuhan begitu riil di hati saya, sehingga sukacita, keberanian, serta semangat baru melimpah ruah dari dalam jiwa saya.

Terimakasih Tuhan, Engkau sungguh baik, bisik saya mantap, dengan wajah sumringah!

Written by lagubatak

September 21, 2010 at 12:22 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: