Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Inang

with 4 comments

“cerita ini didapat dari http://dennysitohang.wordpress.com/2008/11/09/inang/

Inang yakin, “Kalau Barita sudah menjadi orang yang hebat, dan pasti pula segalanya dia ingat, rumah, kebun, kerabat, semuanya, dan tentu pula padaku … Barita sedang berjuang di ibukota, sebaiknya aku terus berdo’a agar dia hebat seperti impianku” Dulu, supaya anaknya itu dapat menjadi sarjana, Inang bersemangat mengerjakan apa saja.

Selain berkebun di belakang rumah, dia menjadi buruh bangunan, Mengetok batu di pinggir jalan, tukang pengaspal jalan dan juga mengamen di tempat-tempat keramaian. Uang yang didapatnya selalu ia kumpulkan seperak demi separak. Bahkan sering dia berlauk garam dan cabe kalau makan. Semua dia lakukan demi mengirit untuk biaya kuliah Barita di Jakarta.

Sampai kemudian Inang mendengarkan Risma, gadis 15 tahun tetangganya membacakan surat yang dikirimkan Barita sambil menenun ulos di depan jendela yang menghadap keluar rumah. “Inang, kami berharap, Inang mau tinggal di Jakarta bersama Aku, Tiur, Istriku dan Anak-anak ku. Besok si Hotman datang menjemput Inang. Aku harap Inang bersiap-siap. Aku dan Tiur rindu sama Inang. Kami tunggu Inang di Jakarta. Salam hormat, Barita.”

Sesudah dipikir-pikir, tentulah karena Inang sudah lama menahan rindu. Pergilah dia ke ibu kota bersama dengan Hotman yang diutus Barita untuk menjemputnya.

Bukan main senangnya, Barita mendapatkan Inang yang datang menemuinya. Langsung saja disiapkannya kamar yang luas dan mewah untuk mamaknya itu, pesta penyambutan yang mengundang pejabat-pejabat, sejumlah pengusaha dan artis-artis pun dibuatnya untuk memperkenalkan mamaknya itu di depan klien-kliennya.

“Dialah perempuan yang bisa bikin aku berdiri di sini,” ujar Barita di atas panggung menggunakan mic di hadapan seluruh tamu undangan. Dengan paksaan Barita dan Tiur sambil menarik-narik tangan Inang, ia pun tiba di atas panggung bersama dengan Barita dan Tiur.

Namun ternyata sikap Sinta (istri Barita) dan Ibu Sinta berbeda dengan Barita. Mereka tampak tidak senang, mereka merasa sikap Barita terlalu berlebihan dengan kehadiran mamaknya.

Di atas panggung Inang menerima sebuah kado dari Barita dan dengan paksaan Inang harus membuka kado tersebut di hadapan para tamu yang hadir. Sebuah kacamata bergagang emas yang diterima Inang langsung dipakainya dengan keragu-raguan. “Itu supaya Inang bisa melihat dengan jelas” ujar Barita.

Di hadapannya, Inang dapat melihat dengan jelas ruangan yang luar biasa mewah tapi cenderung berlebihan yang dipadati oleh tamu perempuan dengan perhiasan emas dengan rambut yang bersasak setinggi langit dan tamu lelaki berjas hitam mahal. Jelas pemandangan yang tak biasa bagi Inang.

Di sampingnya ia melihat Barita berdiri dengan baju tuxedo mahal rancangan perancang terkenal lengkap dengan dasi kupu-kupu, tapi terlihat sedikit tercekik dan penuh keringat karena saking ketatnya baju yang dikenakan Barita.

“Kurasa semuanya ini tak pantas buatku,” kata Inang menggunakan mic. “Sekarang baru jelas kutengok, ruangan ini berlebihan mewahnya, lampu-lampu ini kelewat terang, padahal pemerintah menganjurkan hemat energy, dan kalau aku lihat dari dasi kalian semua, jangan-jangan kalian pula yang ikut menyusun peraturan itu. Kau Barita, apa bajumu itu tak kesempitan buatmu?” tambah Inang dengan keluguan dan kesederhanaannya.

Pesta pun berakhir, di kamar yang cukup luas, tampak sosok Inang tidur di atas tempat tidur yang besar dengan dibaluti berlapis-lapis pakaian dan selimut. Inang duduk dan meraih remote AC, namun ia tak dapat mematikan AC meski sudah mencoba menekan tombol-tombol yang ada di remote. “Dingin pun, dingin semu di Jakarta ini,” ujarnya dengan kesal.

Diraihnya tas-tas yang dibawanya dari kampung, dan pindah ke kamar yang lebih kecil di belakang rumah bekas kamar pembantu Barita. Di dalamnya hanya ada lemari kecil dan tempat tidur kayu yang kecil.

Pagi hari, Barita yang akan berangkat ke kantor tidak dapat menemui mamaknya di kamar terlihat panik mencari. Semua yang ada di rumah menjadi sasaran kemarahan Barita.

Sampai akhirnya seorang pembantu Barita menemukan Inang berada di kamar belakang.

Barita tidak senang melihat Inang pindah kekamar tersebut apalagi membersihkan dan membereskan kamar sendiri, Barita ingin Inang hanya bersantai-santai saja di rumah, karena semuanya sudah ada pembantu yang mengerjakan. Namun beda bagi Inang, Inang tidak mengerti bersantai-santai seperti yang diinginkan Barita. Perdebatan di dalam kamar antara Barita dan Inang terjadi sampai akhirnya Barita menerima telpon dan melambaikan tangan pada Inang untuk pamit berangkat kerja.

Hari demi hari dilalui Inang dengan suasana seperti orang asing di rumah Barita. Sampai pada klimaksnya, Inang melihat Tiur anak perempuanya yang sedang berciuman mesra dengan pacarnya di pinggir jalan di seberang salon. Sambil memanggil-manggil Tiur dan tanpa memperdulikan kendaraan-kendaraan yang berseliweran, Inang dengan cueknya berjalan menyeberang jalan.

Mobil-mobil pada ngerem mendadak. Seorang supir berteriak marah, “Kalau mau reunian jangan di tengah jalan, ini Jakarta.” Dengan emosi Inang menjawab, “Jakarta! Makan kaulah Jakarta kau itu! Hebat kali kayaknya!”

Melihat situasi ini, Tiur justru berbalik marah kepada Inang. Tiur merasa malu dengan penampilan Inang yang terkesan kampungan terlebih dengan sikap Inang yang marah-marah kepada Tiur di pinggir jalan. Dengan emosi Inang balas memarahi Tiur, “Kau yang bikin malu aku.. Tak ada keturunan kita seperti kau.. Untuk apa kau berpeluk-pelukan dan berciuman di depan kantor orang di pinggir jalan.. Dosa siapa ini Tuhan?”

Sementara Barita dan Sinta terus ribut dengan keberadaan Inang di rumah mereka, Sinta merasa Inang tidak bisa menghargai orang-orang di rumah dan keras kepala.

Suatu pagi, Inang melihat satpam sedang bersitegang dengan sepasang suami istri yang membawa seorang anak perempuan kecil. Inang menghampiri, lalu suami istri tersebut memberitahukan kepada Inang kalau mereka butuh perlindungan hukum dari Barita sebagai pengacara.

Inang membawa mereka menemui Barita di kantornya, tapi justru kekecewaan yang diterima Inang. Barita justru tidak dapat membela keluarga tersebut, karena Barita saat itu sedang menjadi pengacara perusahaan pabrik yang sedang dituntut anak keluarga tersebut dalam kasus yang berbeda. Dengan kecewa ibu si anak yang membutuhkan perlindungan hukum berkata dihadapan Inang, “Anak ibu sudah menjadi pengacara yang komersil.”

Di dalam kamar di rumah Barita, sambil duduk di pinggir tempat tidur dengan hati yang berkecamuk, Inang berkata dalam hati, “Barita sudah lupa akan semuanya, ia lupa apa yang harus dia perjuangkan, bahwa kita berjuang bukan untuk uang.. Dia pikir uang bisa membeli segalanya..”

Kekecewaan Inang bertambah ketika mendapati kabar Tiur telah ditahan Polisi karena sedang berpesta narkoba di apartemen milik teman Tiur. Terlebih-lebih ketika seluruh keluarga Sinta mengungkit-ungkit bahwa kesuksesan Barita tidak terlepas dari bantuan mereka. “Jujur saja, kalau tidak karena kami, Barita mungkin sedang mengais-ngais mencari pekerjaan di LBH sana,” kata Ibu Sinta.

Namun Inang melarang Barita untuk mengeluarkan Tiur dari tahanan meskipun itu akan mencoreng kehormatan keluarga. “Tiur harus menjalani persidangan, dia harus menerima hukuman atas perbuatannya. Tiur sudah terperosok, dan kau yang membuatnya semakin terperosok”.

Di hadapan orang tua Sinta, dengan tegas Inang mengatakan, “Ya, aku tega! Aku tanamkan di otak mereka untuk bertanggungjawab.. Dengan begitulah aku membesarkan dan menyekolahkan anak-anakku hingga mereka bisa seperti ini.. Mungkin dia lebih baik mengais-ngais di LBH sana untuk mencari pekerjaan, daripada menutup mata untuk membela orang lemah dan menghabiskan waktu untuk membela para koruptor yang jelas-jelas bersalah!! Dan kalian semua di sini ikut menikmati hasilnya.”

Sejak saat itu Barita mulai gamang, perkataan-perkataan Inang kepadanya terus-menerus terngiang-ngiang dikepalanya, perkataan-perkataan itu terus menterornya, di kantor hingga ketika sedang mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.

Sesampainya di rumah, Sinta sibuk menunjukkan tabloid yang mengekspos kasus Tiur, Barita tak memperdulikannya. Barita terus menuju kamar Inang. Tapi justru Barita tidak mendapati Inang di dalam kamarnya. Barita hanya menemukan barang-barang yang dibelikannya buat Inang termasuk kacamata bergagang emas di sisi tempat tidur dan sebuah buku kecil yang di sampulnya tertulis nama Inang di atas bantal. Barita pun terduduk di sisi tempat tidur sambil memegang buku kecil dan kacamata Inang.

Dengan bergegas ia masuk ke kamarnya, Barita sibuk memasukkan perlengkapannya dan langsung menutup tas ranselnya dan langsung berjalan keluar tanpa memperdulikan Sinta.

Barita menjadi cemas, ia segera mencari kemana kira-kira Inang pergi. Barita berkeliling, ke berbagai jalan, mencari-cari. Menduga Inang akan pulang ke kampung, Barita mendatangi stasiun-stasiun Bis yang bertrayek Jakarta-Medan. Barita tiba di stasiun bis terakhir, ia mengecek daftar penumpang dan ternyata tertera nama mamaknya. Barita bertambah panik, dan tanpa pikir panjang ia segera mengejar bis yang telah lama berangkat.

Sesampai Barita di pelabuhan Merak. Semua bis yang menuju Medan diperiksanya. Lalu di dalam kapal penyeberangan, dicarinya Inang ke segala pelosok kapal. Tetap tidak ada hasil.

Kemudian, sepanjang perjalanan menuju kampung, dia seringkali menyetop bus–bus yang diperkirakannya membawa Inang. Dengan tanpa lelah, Barita terus memburu. Rumah-rumah makan tempat-tempat bis singgah pun didatanginya. Barita terus mencari dan mengejar dengan perasaan cemas.

Dalam pengejaran seperti itu, Barita seringkali diingatkan oleh kenangan-kenangannya. Ketika dia masih kecil, dan lalu meningkat remaja. Sendirian Inang merawat dan melindunginya. Bahkan terus bekerja keras ia agar dapat membesarkanya. Sampai Barita kuliah di Jakarta, dan akhirnya menjadi sarjana. Lalu sukses sebagai pengacara yang ternama.

Sementara itu Inang menumpang bis yang membawanya menuju kampung. Sepanjang perjalanan, dia terus merasa kecewa pada kenyataan yang terjadi. Barita ternyata tidak seperti apa yang diimpikannya. Namun dia masih berharap, dan karena itu dia berdo’a, supaya Barita dapat benar-benar menjadi impiannya.

Sepanjang perjalanan, sangat banyak yang dialami oleh Inang. Pengalaman-pengalaman manis maupun, pahit. Bis terperosok, lalu mogok yang membuat Inang harus mencari tumpangan karena sudah kehabisan uang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus lainnya. Menumpang dengan mobil yang isinya anak-anak band, sampai harus menumpang mobil terbuka yang membuat Inang masuk angin.

Barita yang terus menyusuri jalan menuju kampungnya, merasakan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Ketegangan dalam perjalanan semakin menjadi, dan akhirnya Barita kecelakaan, mobilnya rusak.

Barita terus tegang, dia harus bertemu menghadap Inang, dan langsung meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ia berharap Inang selamat, tetap sehat, dan dapat ditemuinya di rumah. Di dalam mimpinya Inang pergi menjauh darinya.

Sampailah Barita di rumah Inang, Rumah yang sangat sederhana, bahkan nampak rusak di sana sini. Dengan perlahan Barita memasuki rumah yang ternyata tidak terkunci. Barita melihat meja makan dengan dengan sepiring kosong yang ditengah-tengah mejanya telah terhidang sebakul nasi, serta lauk yang baru dimasak.

Barita kembali berjalan memasuki tiap ruangan yang terlihat rapi dan bersih. Namun tetap tak ada Inang di sana. Barita kemudian berjalan menuju pintu belakang yang terbuka dan sinar matahari yang masuk menerangi bagian belakang rumah.

Barita mendapati Inang sedang duduk di kursi di tengah halaman yang dipenuhi rumput serta bebungaan indah. Barita berjalan perlahan ke depan Inang. Mata Inang terbuka, seakan menikmati pemandangan danau dihadapannya.

Barita menatap Inang lekat-lekat. Mata Barita berlinang air mata. Dengan perlahan Barita mengguncang tangan Inang yang telah tak berdaya. Sejak itu, Barita sadar Inang telah tak ada bersamanya. Barita terduduk, air mata mengalir pelan.

Di pangkuan Inang tampak sebuah lipatan kain ulos lama dan secarik kertas dengan tulisan, “Akhirnya kau sampai! Ulos ini buat kau, supaya kau selalu ingat darimana kau berasal!”

Barita menangis dengan tubuhnya yang terguncang, namun ia tersenyum. Barita menutup mata ibunya dengan telapak tangannya. Barita menggendong tubuh ibunya masuk kedalam rumah. Akankah Barita mencari Inang di Akhirat yang begitu luas..?(Creatted By. Irwan Siregar & Firman Triyadi)

Written by lagubatak

February 18, 2009 at 6:15 am

Posted in Uncategorized

Tagged with

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] 7 April 2009 INANG Posted by IMAPASBAR under Cooling Down | Tag: inang;Bunda;Umak;mama;ibu, umi; | No Comments  “cerita ini didapat dari http://dennysitohang.wordpress.com/2008/11/09/inang/ dan https://lagubatak.wordpress.com/2009/02/18/inang/ […]

  2. Mohon Izin untuk memposting tulisan ini di Blog Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat ya kawan-kawan… Horas…

    IMAPASBAR

    April 7, 2009 at 9:58 am

  3. Ini cerita benaran ada terjadi gak sich dikalangan batak, sepertinya blum sampai segitunya kali, bisa aja ini sipengarang brita, tapi bagus jg sich sempat hati saya perihatin atas keluarga barita itu, secara materi berlimpah tapi suasansa rumah tangga sepertinya tidak ada kenyamanan dan kedamaian, alangkah inidahnya keluarga barita apabila didasari dgn rendah hati dan jgn lupa diri dan kepada sang pencipta yg memberi dia seglanya alias bersikap seturut dgn kehendak Tuhan

    ida dermawani sagala MM

    March 11, 2009 at 2:14 am

  4. LUNGUN SEKALI CERITA INI SAMPE SOMARHOSA MANJAHA BAHHH
    Mauliatema di hamu ate

    lae bin,

    dang seritakku i bah, na hutakko doi sian bariba:-))… alai memang attar lungun alai pahebat hu dibaen nasida sarita i, gabe mago otik impolana…

    bj

    Mr Bin

    February 19, 2009 at 8:54 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: