Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Marsius Sitohang

with 5 comments

[The Muse; Tonggo Simangunsong]

Marsius SitohangSebagai seniman tradisional Batak Toba, Marsius Sitohang mengaku lebih dihargai di negeri asing daripada di negerinya sendiri. Makanya, setiap kali pulang pagelaran dari luar negeri, Marsius selalu sedih. “Ternyata orang asing lebih cinta budaya kita daripada kita sendiri,” kata lelaki kelahiran Palipi, Samosir 1953 itu, miris.

Marsius masih ingat betul kejadian 1980 -an silam. Seperti kebiasaan orang Batak lainnya, sore hari sehabis manarik becak ia selalu menyempatkan diri untuk singgah di kedai tuak. Bersama tukang becak lainnya, di kedai tuak di Jalan Mesjid Raya Medan itu, mereka kerap menyenandungkan lagu Batak diiringi gitar. Sedang Marsius selalu didaulat memainkan seruling.

Kemahiran Marsius memainkan seruling memang tak diragukan lagi. Marsius kecil adalah gembala kerbau yang sering menghabiskan waktunya dengan seruling. Dan belajar secara otodidak dari orang-orang di kampungnya, Palipi.

Menarik becak sebenarnya hanya pelarian bagi Marsius, ketika grup opera yang sejak puluhan tahun ia geluti bersama ayahnya, tutup. Opera Batak bernama “Saut Cinta Nauli” milik ayah Marsius termasuk opera Batak yang sempat lama eskis di Sumatra Utara. Opera ini ibarat suku Gipsy, yang sering berpindah-pindah dan menetap dalam waktu lama dari kota-ke kota. Sayang, opera ini terpaksa gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan seni pertunjukan modern yang semakin gencar saat itu.

Setelah Opera Batak “Saut Cinta Nauli” bangkrut dan tutup, semua pemainnya beralih profesi. “Ada yang jadi sopir, pedagang. Dan seperti saya, yang terpaksa menarik becak karena tidak tahu mau kerja apa lagi,” kata Marsius.

The New York TimesMarsius yang sering mangkal di kedai tuak, diam-diam ternyata dilirik Alm M Marpaung, yang waktu ini memimpin “Pir Tondi Matogu”, sebuah grup tradisional, yang sering menjadi pengisi acara adat-adat Batak, seperti pernikahan, acara adat kematian dan lain-lain.

Alm M Marpaung akhirnya sering mengajak Marsius untuk mengisi musik di acara-cara adat. Sejak itu nama Marsius pun mulai dikenal. Hingga suatu kali, ia pernah diundang dalam sebuah seminar tentang musik tradisional, yang diadakan di Taman Budaya Medan.

Marsius sudah lupa persis kapan bulannya. “Tapi yang pasti saat itu, ada enam orang pemain musik tradisional yang turut diundang waktu itu, termasuk saya,” ujar Marsius dengan logat Batak Toba yang sangat kental.

Pada kesempatan itu, Marsius pun diperkenankan memainkan serulingnya. Ia masih ingat, “Waktu itu kami membawakan lagu ‘Andung-andung’, ‘Pinasa Sidungdungon dan ‘Didang-didang’”, kenangnya. Saat itu juga Marsius diperkenalkan kepada Rizaldi Siagian, yang adalah ketua jurusan di Fakultas Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU), yang turut hadir di seminar itu.

“Bisa kau ngajar?,” ujar Rizaldi kemudian kepadanya, seperti ditirukan Marsius. Ia tidak percaya dengan tawaran itu. Dan menganggapnya sebagai lulucon. Dengan enteng Marsius pun menjawab, “Saya tidak tahu not. Apa yang mau kuajari nanti?”

“Kau cukup mengajari prakteknya saja,” begitu Rizaldi menjelaskannya kepada Marsius saat itu. Tawaran itu pun akhirnya diterimanya dengan bangga. Ia lalu banting setir dari kesehariannya menarik becak. Dan beralih profesi menjadi dosen, dengan status honor.

Honor sedikit, asal seni tradisi terangkat

“Sejak 1987 lah saya resmi diangkat jadi dosen di sini. Waktu itu honor saya masih 3 ribu rupiah perbulan,” kenang ayah enam anak itu. Honor yang sedikit itu pun tidak dipersoalkan Marsius. “Asal seni tradisi ini terangkat,” ujarnya kepada Rizaldi saat itu.

Sejak diangkat menjadi dosen di Fakultas Etnomusikoli USU, nama Marsius pun semakin dikenal luas. Harian terkemuka Amerika Serikat The New York Times edisi 19 November 1991 bahkan pernah mempublikasikan pertunjukan Marsius dengan sesama pemusik tardisional lainnya. Termasuk dengan adiknya, Sarikaran Sitohang, yang selalu diajak Marsius sebagai pemusik pengiring.

“Sudah empat benua saya singgahi karena seruling,” ujarnya bangga. Termasuk negara-negara di Asia, Eropa, Australia dan Eropa. “Ini merupakan pengalaman yang sangat membanggakan. Karena seruling inilah saya bisa keliling dunia. Paling tidak saya bisa membanggakan nama USU dan Indonesia,” ujarnya.

Tak sedikit pula penghargaan yang ia terima dari luar negeri maupun dari negeri sendiri. “Saya tidak pernah menghitungnya. Karena banyaknya, saya sampai kerepotan untuk menjaganya agar tidak lapuk karena tidak bisa saya bingkai semua,” katanya.

Ketenaran ini jugalah yang mengundang banyak persepsi tentang Marsius. “Banyak orang menganggap saya sudah kaya karena saya sering ke luar negeri. Padahal, tidak. Seandainya mereka tahu,” ujarnya.

Wajar saja jika Marsius berkata demikian. Maklum, sejak ia diangkat menjadi dosen pada 1987, statusnya masih tetap pegawai honor. Bahkan, jumlah honor yang diterimanya setiap bulannya sangatlah tidak bisa diharapakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Untunglah selama ini saya punya kerja sampingan mengiringi acara pesta-pesta adat Batak. Kalau tidak dari situ, dari mana saya bisa menyekolahkan anak saya,” katanya. Marsius juga dipercaya mengelola sebuah grup tradisional bernama “Grup Sopo Nauli” di Jalan Bakti Medan, milik Daulat Manurung. Grup tradisional ini sudah enam tahun ia kelola.

“Kalau menggantungkan penghasian dari honor, sangat tidak mungkin,” jelasnya. Honor yang diterima Marsius setiap bulannya memang sangat sedikit. “Hanya Rp 270 ribu perbulan. Untuk transport saja kurang,” akunya.

Sayang, meski status kepegawaian Marsius yang sudah 20 tahun mengabdi namun masih berstatus honor itu sudah pernah diangkat lewat media massa dan eletronik di Tanah Air, namun, “Belum ada respons dari universitas samapi sekarang,” katanya.

Kalau respon dari masyarakat banyak, ujarnya. Suatu kali, Marsius pernah menerima uang dari orang yang tak dikenal. “Suatu hari saya dapat surat dari seseorang. Ia tak menyebutkan namanya, tapi di surat itu dituliskan dari seseorang yang bekerja sebuah perusahaan di Jakarta,” kenanganya.

Di surat itu si pengirim menyampaikan rasa simpatinya. Dan menyaranakn agar Marsius membuka rekening di bank. “Selama dua tahun ia mengirimi saya uang, sebesar 250 ribu per bulan,” kata Marsius tersenyum. “Itulah, entah siapa orangnya, aku pun tak tahu,” sambungnya.

Karena merasa penasaran, suatu kali ketika diundang main dalam sebuah pagelaran seni tradisional di Jakarta, Marsius pun menyempatkan diri untuk mendatangai alamat perusahaan si pengirim itu, dengan maksud ingin memberikan oleh-oleh seruling kepada orang tak yang tak pernah bertatap muka dengannya itu. “Sayang sekali waktu itu, saya tidak ketemu dengan orangnya. Akhirnya, seruling itu saya titipkan sajalah kepada karyawan di kantor itu,” katanya.

Begitulah lika-liku hidup Marsius, seniman tradisional Batak itu. Pun begitu, ia tetap selalu bersyukur dengan apa yang ia peroleh saat ini. Tak bisa dipungkiri memang bahwa USU lah yang membesarkan nama Marsius. “Karena USU jugalah saya sering diundang ke luar negeri. Sehingga saya dikenal orang. Dan bisa bermain musik di mana-mana,” akunya, meski ia masih sering “mocok-mocok” mencari job sampingan di luar aktivitasnya di kampus.

“Untunglah mahasiswa saja mau mengerti. Sehingga saya bisa mengatur waktu agar bisa main musik di grup lain,” ujarnya. Dari sinilah memang Marsius bisa mencari uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Sedikit demi sedikit uang hasil bermain musik ia tabung. Dari hasil tabungannya tersebut, ia mengaku bisa mendirikan rumah dan menyekolahkan anak-anaknya. Meski hanya satu orang yang sanggup ia saya biayai kuliah. “Yang lainnya hanya sampai SMA saja. Saya tidak sanggup lagi,” ujarnya.

Dan inilah harapan Marsius. ”Kalau memang honor saya tidak bisa dinaikkan, paling tidak tahun depan USU bisa memberikan satu kursi buat anak saya,” pintanya menyebut anak bungsunya, Tong Pandapotan Sitohang, yang kini masih duduk di bangku Sekolah Musik Menengah, Medan.

Sebenarnya sudah lama permohonan ini ia pendam. “Ketika saya ajukan kepada dekanat, mereka hanya menyuruh saya menjumpai sendiri ke rektorat,” katanya sambil menunjukkan surat permohonan itu…

Discl. Tri Yuwono
Foto-foto: Repro/Dokumentasi Marsius Sitohang

http://tonggo.wordpress.com/2007/12/04/marsius-sitohang-20-tahun-mengabdi-tetap-honor/

Written by lagubatak

December 27, 2008 at 3:06 am

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Album CD beliu ga ada ya.?

    Totar

    October 4, 2011 at 3:20 pm

  2. @TINA

    lembaga batak musik for the world kok baru dengar pusatnya dimana ini??bisa bergabung gak??syaratnya apa ito??thanks

    HalakBatakDoAhu

    September 17, 2009 at 7:12 am

  3. W: Cerita master uning-uningan Batak!

    Cerita master uning-uningan Batak!———–Mari Mendukung:
    1. Marsius Sitohang (nara usmber eps. ‘Untukmu Guru’). pria lulusan sekolah dasar asal medan. profesi awalnya adalah sebagai tukang becak yang mahir bermain suling. nasib kemudian membawanya menjadi dosen di universitas sumatera utara. ia mengajar mata kuliah musik tradisional batak toba pada jurusan etnomusikologi. sampai saat ini, marsius sudah berkeliling memainkan musik tradisional batak hingga ke berbagai negara.

    http://www.bbc.co.uk/indonesian/programmes/story/2008/07/printable/tokohmarsius.shtml

    http://www.kickandy.com/heroes/?ar_id=MTQ3Ng==

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=70422183915

    http://tonggo.wordpress.com/2007/12/04/marsius-sitohang-20-tahun-mengabdi-tetap-honor/

    http://www.hariansumutpos.com/2009/07/harapan-marsius-sitohang-dewa-seruling-tradisional-batak-di-masa-tuanya.html

    http://ardh14n.multiply.com/journal/item/14

    Kalo mau langsung..boleh boleh saja ..:

    MARSIUS SITOHANG

    Bank BRI Cabang 5314 unit Bangun sari Medan Putri Hijau

    No rek. 5314-01-002948-53-3

    Bila mau call2 beliau boleh juga di no : +628126563272

    (Transfer dari ATM mandiri, ATM BCA atau ATM BNI Juga bisa-Mudah)

    Alamat : JL Martoba II (tanya saja warung ikan -depan POLDA Ampelas MEDAN)

    Polda Ampelas pasti kita lewati bila kita dari Medan ke arah Parapat-Tarutung

    Rek ini baru di buka hari ini 12 August 2009-(di bantu oleh borunya). _karena selama ini beliau tidak ada no Rek.

    my Comment ”

    Aku baru bertemu beliau hari Jumat & Sabtu lalu 7&8 August 2009. (ngeri kali pun..)pada tgl 8 tersebut kebetulan Amang Marsius ini lagi parmusic di acara pesta kawinan batak. Mereka masing masing bawa cash 80rb/orang (dari pagi jam 7 ke jam 7 malam)! Yah yg marulaon juga pasti pas-pasan juga- tidak aa yg salah disini.

    “Marsius seperti kitab lama yg masih hidup , dengan nafas & tangannya memainkan irama toba yg khas..!

    mungkin terkesan usang tetapi ..” mari masiurupan”. Manusia Batak yg Berbudaya…Semoga semasa hidupnya kita menghargai & beri dukungan.!!

    Mungkin ” cash tranfered’ terkesan “negative” seandai-andainya ada hal2 yg lebih baik dari itu seperti :

    – Sendainya ada “event2” tertentu di hotel, acara pariwisata, café dimana beliau dengan team ya bisa mendapatakan upahnya dengan ber-main musik dengan harga layak…(contoh :ada acara batak harmony di jakarta 12 Feb 2009 dengan harga vip 850rb,dan kelas yg lain 500rb,200rb,150rb perorang..! Hebat!(bukan ngiri tetapi beda nasib aja sama amang ini)

    – Seandainya ada rekaman lagi (walau sebenarnya ) sudah banyak kasetnya beredar tetapi tidak ada lagi loyalty fee. , karena ada juga beberapa album kaset dia yg beredar tetapi “kaset” itu sendiri pun masih harus dia beli sendiri !

    – Dan Hasil Rekaman ini bisa dijual langsung pada saat show- mugkin lebih effective…
    -Aku melihat beberapa contoh para “pemusik etnic seperti ” pan-flute” indian yg live show si luarnegeri, atau di malmal dll, selesai bermain mereka menjual langsung CD/VCD hasil rekaman nya.( noted utk kalangan sendiri!)

    -Seandainya ada acara lagi keluar negeri , dengan upah yg lebih layak lagi…-dengan appreciate orang lebih menarik…
    -Seperti angan2 beliau ingin punya sanggar sendiri , dengan berupa café kecil yg bisa minum kopi sambil markombur2, seperti di starbuck sambil diiringi music live mereka…,atau seperti café dengan kerjasama dengan para travel yg bisa jadi tempat persingahan para turis, dengan melihat2 koleksi budaya , sambil nyantai..

    – Semoga ada orang2 batak yg telah sukses! Bisa punya pikiran/perbuatan utk amang ini.
    -Seandainya anak/boru beliau dapat sekolah yg baik, dengan dapat kerja yg baik..karena Marius adalah kelahiran 1953! Generasi berikutnya adalah generasi penerus…

    -Semoga indahnya irama music batak ini beliau dapat menyentuh hati batak, agar tidak punah…
    -Seandainya ada se-kelas menteri atau pejabat daerah yg perhatian dengan beliau ini , karena telah menjadi “icon” perjuangan music batak hingga eksis sampai sekarang, dan masih ada pejuang2 lain (Turman Sinaga, Posther Sitohang,Kansas Sinaga (almarhum),Korem Sihombing,Robinson Sitanggang,Binsar Nadeak,Hadi Rumapea,Wesley S, Martogi Sitohang,.dll-Aku percaya mereka pasti tahu nama Marsius dengang nasibnya..

    -jadi teringat nama lama seperti-Tilhang Gultom,Iwan Simatupang, Sitor Situomrang,Nahum Situmorang,AWK Samosir,Gordon Tobing,Bill Saragih,dll.bbrp telah tiada ttp karya merka massih ada….

    – Aku orang kecil yg hanya bisa bantu dukungan kecil dari uang saku ke amang ini..HORAS! HORAS! HORAS!
    God Bless U.!
    Email ini akan difoward to batak diliat portibi!! Dunia on.

    sam

    September 10, 2009 at 9:25 am

  4. Horas … Pak Sitohang,… Saya Christina dari Lembaga Batak Music For The World,… Apa saya bisa minta nomor contactnya?

    TINA

    July 17, 2009 at 8:03 am

    • Bila mau call2 beliau boleh juga di no : +628126563272

      ada tuh itu.. buru-buru yah??sampe gak ngeliat??

      HalakBatakDoAhu

      September 17, 2009 at 7:13 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: