Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Posts Tagged ‘LIRIK

Pencipta Lagu Batak

with 4 comments

balgani tangani

balgani tangani

Pencipta Lagu Batak

Iya, sekarang kita mencoba membahas nama-nama para pencipta lagu batak atau kalau halak sileban membilang “songwriters”, entah apalah namanya kalau bahasa jawa, karena kita tidak membahas yang berbau jawa maka saya pun tidak perlu untuk mencari perpadanan bahasa batak dengan bahasa jawa.

Kalau kita mengikuti perjalanan musik batak sampai saat ini, tidak banyak nama yang perlu harus kita ingat untuk mengetahui bagaimana lagu batak itu tercipta dan sampai ke telinga kita, sebut saja lah Nahum Situmorang… khusus nama ini sampai generasi kedua setelah dia, saya tidak akan banyak membahasnya karena mungkin anda sudah lebih tahu banyak dari saya tentang oppung ini dan teman teman-temannya itu (S.Dis, Ismail Hutajulu, Tilhang Gultom, Dll).

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang para pencipta lagu batak yang sekarang sedang aktif (baca : masih hidup) dan berkarya seperti yang lazimnya anda lihat pada cover cover kaset/cd/vcd saat ini.
Saya akan mencoba membagi mereka dalam 2 kategori :

Generasi Senior :
Tagor Tampubolon, Tigor Gipsy Marpaung, Dakka Hutagalung, Anton Siallagan, Iran Ambarita, Bunthora Situmorang, Jack Marpaung, Johny S. Manurung.

Generasi Junior :
Robert Marbun, William Naibaho, Yamin Panjaitan, Gaols Naibaho, Abidin Simamora, Posther Sihotang, Tigor Panjaitan, Sakkan Sihombing, Soritua Manurung, John Ferry Sitanggang, Jennifer Simanjuntak, JoeHarlen Simanjuntak, Mangara T. Manik, Pangihutan Manik, Hady Rumapea, Anton Manik, Tagor Pangaribuan, Fredy Tambunan, Edison (Transaksi) Sibuea, Dll.

Bagaimana mereka berkarya?,
Pada umumnya sama, ada yang berkarya atas tuntutan ilham dan ada juga dengan tuntutan dapur. yang saya maksud dengan tuntutan ilham adalah, seperti biasanya seorang seniman yang berkecimpung dalam penulisan lagu, mereka sangat dekat dan akrab dengan kehidupan masyarakat, apabila dia melihat sesuatu hal yang menurut mereka aneh, katanya jika mereka akan hendak tidur… maka ilham itu akan terus datang menghantui tidur mereka, apabila ilham ini belum direalisasikan dalam bentuk karya lagu, maka mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak walau datangnya malam hari (dan malah sering) pagi sekalipun, maka rokok, ballpoint, kertas partitur, gitar, keyborad, recorder adalah teman setia yang mereka andalkan untuk dapat bekerja. Biasanya hasil karya dengan kedatangan ilham seperti ini adalah karya yang dapat dibanggakan dikemudian hari.
Yang tidak masuk akal, jika hal ini yang terjadi umumnya mereka akan menyimpan karyanya sampai pada suatu saat mereka mempunyai kesempatan untuk menjual dengan harga yang kadang tidak masuk akal sehat. Pernah suatu saat sipencipta tertangkap tangan kejatuhan sebuah kertas yang sudah sangat lusuh, ternyata usut punya usut kertas itu adalah sebuah lagu ciptaan yang cukup bagus baik dari cerita dan notasi. Jawaban klise yang didapat bahwa lagu tersebut menunggu sampai ada kesempatan untuk diikutkan dalam sebuah festival lagu batak.

Nah, yang menarik perhatian adalah jika tuntutan itu datangnya dari dapur, biasanya datangnya dari pesanan sang produser yang langsung berhubungan dengan uang tunai, biasanya jika produser ingin membuat suatu produksi, hal yang pertama dilakukan adalah pengumpulan lagu, maka sang produser menghubungi para pencipta untuk menyediakan lagu kepada penyanyi yang telah ditentukan sebelumnya.

Dari sekian nama yang saya sebutkan diatas umumnya sangat piawai untuk membuat lagu sesuai pesanan produser, biasanya mereka akan menanyakan kepada sang pemesan, siapa penyanyi yang akan membawakan lagu pesanan tersebut, alasannya adalah agar mereka dapat membuat notasi dengan formasi jenis suara masing masing, kita tahu dalam lagu batak ada lengkingan khas agar lagu tersebut sedikit menggigit ditelinga.
Setelah mereka mengetahui type vocal yang akan menyanyikan, serta merta dengan hitungan jam, tersebutlah sebuah lagu yang lengkap dengan alunan suara sang pencipta dalam sebuah cassette yang disebut contoh lagu, maka terjadilah transaksinya (situ butuh sini juga butuh). Saya kira semua tindak kehidupan itu sama, jika kita melakukan sesuatu hal dengan terburu buru, maka hasilnya tidak akan maksimal, akur?, kuuuurrr.

Generasi pertama tadi umumnya jauh lebih terkendali dalam hal bernegosiasi dengan para produser atau pemesan lagu, biasanya mereka akan bertanya apakah permintaan lagu tersebut ada pesanan khusus (moral) didalamnya atau cukup mengikuti alur cerita yang ada dalam pikiran sang pencipta tersebut. Kedua system ini juga berlaku penerapan harga yang berbeda.
Sedangkan generasi yang kedua tampaknya masih sporadis dalam menawarkan ide lagu, dengan dilengkapi dengan ‘video clip’ (berupa lips service) tentang cerita lagu dengan maksud untuk menekankan betapa ‘berbedanya’ lagu ciptaannya. Ingat! tidak semua lagu pesanan ini mutlak diterima oleh produser/pemesan, namun harus melalui seleksi yang ditentukan, tapi apabila semua telah terpenuhi maka terjadilah transaksi tadi.

Bahkan dari beberapa pencipta terakhir ada juga yang mempunyai keahlian mencipta lagu dengan system minus one, artinya sipencipta mendengarkan salah satu lagu sebagai referensi, bisa dari lagu barat, batak atau yang lainnya. dari musik tersebut dia hanya melarikan sedikit melody lagu agar tidak sama persis dengan lagu yang sedang didengarkan namun musik dasar (string, bas, drum) boleh sama dari awal lagu sampai akhir.
Contohnya, silahkan dengar lagu Gareja Bolon dan Anak Naburju, hadirkan seorang pemain gitar dan 2 orang penyanyi, satu orang menyanyikan lagu Gareja Bolon dan satu orang lagi menyanyikan Anak Naburju, nikmati kedua lagu tersebut sekaligus bersamaan dengan musik dasar/nada (petikan gitar) yang sama. Saya tidak mengajak anda untuk mengetahui siapa yang mengikuti siapa, tapi kedua lagu tersebut sama sama bagus, banyak lagi lagu yang terlepas dari perhatian karena memang lagu tersebut tidak mencuat kepermukaan.

Sejujurnya, dari penilaian generasi pencipta lagu batak, rasanya kita pantas gamang untuk menyerahkannya kepada para generasi generasi baru saat ini, mengingat minimnya pengetahuan mereka terhadap perbendaharaan ungkapan kata yang baik untuk menggugah perasaan seperti yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka. Rasanya sudah waktunya para orang batak (terutama seni bahasa) membuat suatu sumbangsih pemikiran dengan cara mendekatkan diri ke komunitas seniman batak agar mereka lebih bertanggung jawab dengan jalur yang mereka pilih.

horas,
bj

Written by lagubatak

January 17, 2009 at 1:21 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers