Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Posts Tagged ‘Legenda Batak

Tujuh Keajaiban, Empat Batu dan Tiga Air

with 5 comments

Sumber : http://yonroy.multiply.com

Part I.
Gondang Saparangguan (Seperangkat Gendang Batak), Pagar (Ramuan penangkal penyakit), hujur sumba baho (tombak bertuah), piso solom Debata (pedang bertuah), pungga Haomasan (Batu Gosok Emas), tintin Sipajadi-jadi (Cincin Ajaib), tawar Sipagabang-abang, Sipagubung-ubung, Sipangolu na Mate, Siparata Naung Busuk (Obat yang mampu menghidupkan yang sudah mati, serta menyegarkan kembali yang telah busuk). Pagar, Hujur Sumba Baho, Piso Solom Debata, Pungga Haomasan, Tintin Sipanjadi-jadi dan Tawar, semua dibungkus dengan buku lak-lak atau buku Pustaha, yaitu Buku Ilmu Pengetahuan tentang kebudayaan Batak, yang di tulis dengan aksara Batak. Peti Batu tempat penyimpanan harta pusaka inilah yang disebut Batu Hobon (Peti Batu) karena Hobon artinya Peti.

Keanehannya, Sudah tiga kali orang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini namun ketiga-tiganya gagal, dan orang yang berusaha membuka itupun serta merta mendapat bala dan meninggal dunia.

Pertama :
Pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang pejabat Pemerintah Belanda dari Pangururan, berusaha untuk membuka batu Hobon, dia berangkat membawa dinamit dan peralatan lain, serta beberapa orang personil. Pada saat mereka mempersiapkan alat-alat untuk meledakkan Batu Hobon itu dengan tiba-tiba datanglah hujan panas yang sangat lebat, disertai angin yang sangat kencang, serta petir dan guntur yang sambung menyambung, dan tiba-tiba mereka melihat ditempat itu ada ular yang sangat besar dan pada saat itu juga ada berkas cahaya (sinar) seperti tembakan sinar laser dari langit tepat keatas Batu Hobon itu, maka orang Belanda itu tiba-tiba pingsan, sehingga dia harus di tandu ke Pangururan, dan setelah sampai Pangururan dia pun meninggal dunia.

Kedua :
Pada masa pemberotakan PRRI, ada seorang tentara yang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini, menembaki Batu Hobon itu dengan senapan, tetapi sampai habis persediaan pelurunya Batu Hobon itu tidak mengalami kerusakan apa-apa, bahkan si Tentara itu menjadi gila dan dia menjadi ketakutan dia berjalan sambil berputar-putar, serta menembaki sekelilingnya, walaupun peluru senapannya sudah kosong, dan tidak berapa lama, si Tentara itupun meninggal dunia.

Ketiga :
Pernah juga ada orang yang tinggalnya di daerah Sumatera Timur, berambisi untuk mengambil Harta Pusaka yang ada dalam Batu Hobon ini, sehingga mereka berangkat kesana dengan beberapa orang personil, membawa peralatan untuk membuka dan memecahkan batu. Mereka sempat membuka tutup lapisan yang paling atas, tetapi dengan tiba-tiba mereka melihat ular yang sangat besar di Batu Hobon itu sehingga mereka lari terbirit-birit dan gagallah usaha mereka untuk membuka Batu Hobon itu dan tidak berapa lama pimpinan rombongan itupun meninggal dunia dan anggota rombongan itupun banyak yang mendapat bala.

Tutup Batu Hobon yang terbuka itu, sempat mengundang keresahan bagi tokoh masyarakat Tapanuli Utara sehingga datanglah ratusan murid-murid Perguruan HKI dari Tarutung yang dipimpin oleh Bapak Mangantar Lumbantobing, untuk memasang kembali tutup Batu Hobon yang sempat terbuka itu. Pada mulanya tutup batu itu tidak dapat diangkat, walaupun telah ratusan orang sekaligus mengangkatnya, tetapi barulah setelah diadakan Upacara memohon restu penghuni alam yang ada di tempat itu yang dipimpin oleh salah seorang pengetua adat dari limbong, maka dengan mudah, tutup batu itu dapat diangkat dan dipasang kembali ketempat semula.

Demikianlah setelah Saribu Raja selesai memasukkan/menyimpan harta Pusaka ke dalam Batu Hobon, maka berangkatlah dia bersama si Boru Parese, mengembara ke hutan rimba raya hingga mereka sampai di Ulu Darat dan disanalah si Boru Pareme tinggal, hingga lahir anaknya yang diberi nama Raja Lontung.

Setelah si Sariburaja berangkat mengembara ke hutan rimba, maka abang mereka pun yaitu Raja Uti (mempunyai kesaktian) dan karena kesaktiannya terbang ke Pusuk Buhit dan dari Pusuk buhit terbang ke Barus dan Aceh, demikian juga adik mereka yang paling bungsu yaitu si Lau Raja dia berangkat ke sebelah timur menuju Pulau Samosir, demikian juga si Sagala Raja di perkampungan disana yaitu daerah Negeri Sagala yang sekarang.

Pada mulanya Limbong Mulana juga ikut membuka perkampungan di daerah Sianjur Mula-mula yang perkampungannya sekarang disebut Bagas Limbong, tetapi kemudian Limbong Mulana meninggalkan daerah bagas Limbong, dia kembali menempati daerah perkampungan orangtuanya yaitu daerah Parik Sabungan, disanalah Limbong Mulana tinggal menetap, kemudian membuat nama daerah itu daerah Limbong. Maka di negeri Limbong inilah tempat semua yang kita sebut di atas, PINTU HALONGANGAN, OPAT BATU TOLU AEK, (Tujuh Keanehan, Empat Batu Tiga Air).

Yaitu :
1. Mula Ni Guru Tatea Bulan atau Aek Boras
2. Mual Ni Boru Pareme
3. Batu Parhusipan
4. Batu Pargasipan
5. Batu Nanggar
6. Batu Hobon
7. Mual Pansur Sipitu Dai

Mual Pansur Sipitu Dai (Pancuran Tujuh Rasa) adalah satu air dengan tujuh buah pancuran yang masing-masing, pancuran mempunyai tujuh sumber mata air, yang masing-masing mengalir sehingga bergabung menjadi satu aliran dalam satu bak yang panjang, kemudian dari bak yang panjang itu dibuat pancuran yang tujuh itu menjadi tujuh macam pula seperti pada sumber mata airnya padahal telah bergabung dalam bak yang panjang.

Air ini disebut “PANSUR SIPITU DAI” (Pansur Tujuh Rasa), karena pancuran yang tujuh itu mempunyai tujuh macam rasa, ketujuh pancuran ini, dibagi menurut status masyarakat yang ada di Limbong yaitu :

1. Pansuran ni dakdanak yaitu tempat mandi bayi yang masih belum ada giginya
2. Pancuran ni sibaso yaitu tempat mandi para ibu yang telah tua, yaitu yang tidak melahirkan lagi
3. Pansuran ni ina-ina yaitu tempat mandi para ibu yang masih dapat melahirkan
4. Pansur ni namarbaju yaitu tempat mandi gadis-gadis
5. Pansur ni pangulu yaitu tempat mandi para raja-raja
6. Pansur ni doli yaitu tempat mandi para lelaki
7. Pansur Hela yaitu tempat mandi para menantu laki-laki yaitu semua marga yang mengawini putri marga Limbong

KEANEHANNYA :
1. Dari tujuh macam rasa yang dari pancuran itu tidak ada satupun seperti rasa air biasa
2. tujuh macam rasa bersumber dari tujuh mata air telah bergabung dalam satu Labuan (Bak Panjang) tetapi anehnya rasa air yang tujuh macam itu, dapat terpisah kembali, sehingga rasa air yang mengalir melalui pancuran yang tujuh itu menjadi tujuh macam rasanya.
3. selama bergabung dalam labuan (bak panjang), rasa lainnya hanya satu macam saja, walaupun sumbernya tujuh macam dan keluarnya tujuh macam
4. apabila air ini diambil dan dibawa ke tempat jauh dan tidak direstui oleh penghuni alam yang ada di tempat itu, maka airnya akan menjadi tawar seperti air biasa.
5. Mandi di pancuran ini, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
6. apabila ada orang jatuh saat mandi di Pancuran ini, kalau pada saat jatuh kepalanya ke arah hulu, maka ia akan jatuh sakit, tetapi kalau kepalanya ke arah hilir, maka ia akan meninggal dunia.
7. di pancuran ini, orang dapat berdoa kepada Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Mah Esa) memohon kesembuhan, memohon agar murah rejeki dan memohon bermacam keinginan lainnya, dan ternyata sudah banyak orang yang telah berhasil memperolehnya.

Part II
Pancur Tujuh Rasa adalah melambangkan angka sakti atau bilangan sakti, karena bilangan tujuh itu adalah bilangan sakti dalam kehidupan ritual bagi suku Batak, dan juga melambangkan beberapa macam keadaan suku Batak.

Adapun berbagai macam keadaan yang dilambangkan Pancur Tujuh Rasa ini ialah :
1. menurut ahli perbintangan Batak, bahwa dunia ini beserta isinya, di ciptakan oleh Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) dalam tujuh hari yaitu mulai dari artia hingga samirasa yaitu hari pertama hingga hari ke tujuh, menurut penanggalan Batak jumlah hari penciptaan yang tujuh inilah yang merupakan dasar untuk dikembangkan menjadi nama-nama hari yang tigapuluh untuk mengikuti peredaran bulan mengelilingi bumi selama satu bulan. Jumlah hari yang tujuh itu, sama dengan jumlah hari yang pergunakan kalender Internasional, yang lazim disebut dengan istilah seminggu, namun perbedaan antara kalender Internasional dengan kalender penanggalan Batak ialah : kalender Internasional berpedoman kepada siang, yakni berdasarkan peredaran matahari, yang dimulai dari tengah malam yaitu jam 0.00 sampai dengan yakni jam 0.00. Tetapi penanggalan Batak berpedoman kepada malam yang berdasarkan peredaran bulan yaitu dimulai dengan jam 18.00 (jam 6.00 menjelang malam) sampai dengan jam 18.00.

Adapun nama-nama hari yang tujuh itu, kemudian dikembangkan menjadi tiga puluh, mengikuti peredaran bulan dalam satu bulan, adalah sebagai berikut :
Artia (hari pertama, senin), suma (hari kedua selasa), anggara (hari ketiga rabu), muda (hari keempat kamis), boras pati (hari kelima Jumat), singkora (hari keenam sabtu), samisara (hari ketujuh minggu), artian ni aek, suma ni mangodap, anggara sampulu, muda ni mangodap, boraspati ni tangkop, singkora purnama, samisara purnama, tula, suma ni holom, anggara ni holom, nada ni holom, singkora mora turunan, samisara mora turunan, artian ni angga, suma ni mate, anggara ni begu, muda ni mate, boras pati na gok, singkora duduk, samisara bulan mate, hurung, ringkar.

Kalender Internasional menghitung hari 356 hari atau 12 bulan dalam setahun, tetapi penanggalan batak menghitung hanya 355 hari atau 12 bulan namun sekali 3 (tiga) tahun, ada bulan ke-13 yang disebut bulan lamadu.

Dalam kehidupan suku Batak ada ahli perbintangan yang namanya disebut “Datu Siboto Ari”. Datu Siboto Ari ini dapat mengetahui dan menentukan, hari yang baik, hari yang sial, hari yang naas, hari yang subur dan hari-hari lainnya. Datu Siboto Ari (ahli perbintangan Orang Batak) yang dapat mengetahui dan menentukan mana hari baik dan mana hari sial, bukanlah ilmu ramal-meramal tetapi sesuai dengan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai maka mereka dapat membaca dan mengartikan situasi yang akan terjadi pada saat-saat tertentu, atau hari-hari tertentu sesuai dengan pengaruh dan hubungan letak dan posisi bulan pada garis edarnya dan akibatnya terhadap manusia.

Jadi jelaslah bahwa ilmu perbintangan Batak itu bukanlah ilmu ramal meramal, melainkan adalah ilmu pengetahuan alam atau ilmu hukum alam. Menurut ilmu perbintangan batak bahwa manusia itu sangat erat kaintannya dengan alam semensta, sehingga letak dan posisi bulan pada garis edarnya, ini sangat berpengaruh dan mempunyai akibat tertentu, terhadap kehidupan manusia maka oleh karena itu untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu, harus dipilih hari yang baik. Para Datu Siboto Ari (Ahli Perbintangan Batak), pada umumnya mereka menuliskan ilmu pengetahuan perbintangan itu pada sepotong bambu yang disebut “Bulu Parhalaan”.

Didalam bulu parhalaan ini dituliskan daftar hari baik dan hari sial serta hari-hari lainnya, sesuai dengan pengaruh dan akibat letak posisi bulan pada garis edarnya terhadap manusia yang berhubungan dengan bentuk pekerjaan yang akan dikerjakan dan juga disesuaikan dengan tingkatan status orang yang akan mengerjakan pekerjaan itu. Hanya sayang Bulu parhalaan itu, sangat sederhana sekali, jadi masih memerlukan usaha kita sekarang untuk menyempurnakannya, sehingga menjadi ilmu yang sangat bermanfaat luas dalam kehidupan manusia.

2. Pansur Sipitu Dai (Pancur Tujuh Rasa) juga melambangkan bahwa penguasa Alam Semesta, bersemayam pada tingkatan langit yang Ketujuh, dan pada lapisan awan yang ketujuh. Hal ini dapat kita lihat dalam Tonggo-tonggo si Raja Batak (Doa Siraja Batak) sewaktu si Raja Batak mengadakan upacara persembahan menyembah Debata Mulajadi Na Bolon di Puncak Dolok Pusuk Buhit, dengan Tonggo-tonggo (Doa sebagai berikut) :
“Hutonggo hupio hupangalu alui ma hamu ompung, Debata Mula Jadi Nabolon, dohot tamu ompung Debata Natolu, natolu suhu natolu harajaon, namanggomgomi langit dohot tano, dohot jolma manisia”. (Aku berdoa, menyebutkan dan berseru padamu Tuhan, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan dengan Tiga nama Tuhan dengan kekuasaan, tiga kerajaan, yang menguasai langit bumi serta segenap isinya).

Mula ni dungdang mula ni sahala, Siutung-untung nabolon, silaeng laeng mandi, Siraja inda-inda, siraja indapati. (Awal dari “dungdang” awal dari kharisma, Siuntung-untung na bolon, burung layang-layang, Siraja inda-inda, Siraja idapati).

Napajungjung pinggan, dihos ni mataniari, Nahinsa-hinsa suruon, nagirgir mangalapi, nasintak sumunde-sunde, nauja manotari, siboto unung-unung, nauja manangi-nangi. (Yang menjingjing piring di tengah teriknya matahari, yang gampang disuruh, dan mudah jemput, yang maha tau apa yang dibicarakan, serta yang peka).

Napabuka-buka pintu, napadung-dang dungdang ari, napasorop-sorop ombun, di gorjok-gorjok ni ari, parambe-rambe nasumurung, sitapi manjalahi, napatorus-torus somba, tu ompunta Mulajadi. (Yang membuka pintu, yang menentukan hari, yang meneduhkan hari, diatas teriknya panas mata hari, menenangkan yang panas hati, dan menunjukkan jalan yang baik, yang meneruskan doa kepada Tuhan).

Tuat ma hamu ompung, sian ginjang ni ginjangan, sian langit ni langitan, sian toding banua ginjang, sian langit na pitu tingka, sianombun na pitu lampis, sian bintang na marjombut, tu lape-lape bulu duri, sian mual situdu langit, tu gala-gala napul-pulan, hariara sangka mandeha, baringin tumbur jati, disi do partungkoan ni ompunta Mulajadi. (Datanglah Engkau ya Tuhan, dari tempat yang Maha Tinggi dari atas langit, serta alam semesta. Dari langit yang ketujuh dan dari awan yang ketujuh lapis, “sian bintang najorbut, tu lape-lape bulu duri”. Dari mata air menuju langit, tu gala-gala napulpulan. Hariara sangka mendeha, baringin tumbur jati, disitulah bersemayam, Allah Bapak maha Pencipta langit dan bumi).

Jadi dalam tonggo-tonggo ini, jelas kita mengetahui bahwa Allah Pencipta alam, bersemayam di langit yang ke tujuh.

3. Pansur si Pitu Dai (Pancuran tujuh rasa), juga melambangkan bahwa ramuan obat-obatan tradisionil Batak, banyak yang harus bersyarat tujuh misalnya : harus tujuh macam, harus tujuh kali, harus tujuh buah, harus tujuh lembar, atau harus tujuh potong.

4. Pansur sipitu Dai (Pancur tujuh rasa), juga melambangkan tata tertib acara margondang (acara Gendang Batak). Pada acara margondang, acara harus dimulai dengan Gondang si Pitu Ombas (tujuh buah irama lagu Gendang dimainkan secara non stop tanpa di ikuti dengan tarian). Setelah gendang sipitu Ombas selesai, maka dimulailah acara menari, tetapi acara ini, harus dimulai dengan “Pitu Hali Mangaliat” (Arak-arakan tujuh kali keliling lapangan menari) dan untuk menutupi acara margondang ini, harus dimulai dengan acara Pitu hali mangaliat.

5. Pansur Sipitu Dai (Pancuran tujuh rasa) juga melambangkan “partuturan” (panggilan) dalam stuktur atau susunan Tarombo (silsilah) karena hanya tujuh Generasi yang mempunyai Pertutuan (panggilan) dalam satu garis keturunan yaiut :
1. Ompu : Nenek moyang yaitu semua genarasi mulai dari tiga generasi diatas kita.
2. Ompung : Kakek, yaitu orang yang dua generasi diatas kita
3. Amang : Ayah, yaitu yang satu generasi diatas kita
4. Haha Anggi : Abang Adik yaitu orang yang segenerasi dengan kita
5. Anak : Anak yaitu orang yang saatu generasi di bawah kita
6. Pahompu : Cucu, yaitu orang yang dua generasi di bawah kita.
7. Nini : Cicit yitu orang yang mulai tiga generasi di bawah kita.

6. Pansur Sipitu Dai (Pancur Tujuh rasa0 juga melambangkan bahwa dari sepuluh orang keturunan Guru Tatea Bulan, hanya tujuh orang yang mempunyai keturunan langsung, karena tiga orang dari mereka menjadi orang sakti :.

Adapun orang yang menjadi sakti ialah :
1. Raja Uti Sakti dan tinggal di udara, di darat dan di laut.
2. Boru Biding laut (boru Tunghau), sakti dan tinggal di hutan atau darat
3. Nan tinjo Sakti dan tinggal di Danau Toba atau laut.

Adapun yang mempunyai keturunan langsung sebanyak tujuh orang yaitu :
1. Saribu Raja
2. Limbong Mulana
3. Sagala Raja
4. Silau Raja
5. Boru Pareme
6. Bunga Haomasan
7. Anting Haomasan

Nama yang tujuh ini di gabung menjadi satu ikatan yang dinamakan “Sipitu Tali’ (tujuh satu ikatan), dan nama yang tujuh ini jugalah yang menjadi pedoman untuk pembagian negeri limbong menjadi Pitu Turpuk (tujuh daerah perkampungan), kemudian sipitu tali atau sipitu turpuk ini juga yang menjadi dasar tata pelaksanaan hukum adat di negeri limbong, baik secara pribadi, maupun secara kelompok.

Pemerintahan Limbong dilaksanakan oleh kumpulan dari utusan dari tiap kelompok atau turpuk, yang disebut dengan nama Raja Bius (Raja Wilayah) atau dengan istilah Raja Ni Sipitu Tali. Demikian juga dalam acara kebudayaan ritual, misalnya mengadakan pesta Horbo Bius atau horbo lae-lae, maka raja Bius atau raja ni Sipitu tali inilah yang paling banyak berperan dengan raja-raja yang lain yaitu :

‘Jonggi Manaor” dari turpuk Sidauruk
“Raja Sori” dari turpuk Borsak Nilaingan
“Raja Paradum” dari turpuk Nasiapulu
“Manontang Laut” dari turpuk Sihole
“Raja Paor” dari turpuk habeahan

Bersamaan dengan itu, lahirlah Sisingamangaraja dari marga Sinambela dan juga Palti Raja dari marga Sinaga. Kesaktian Jonggi Manaor ialah Batara Guru Doli bertempat tinggal di Limbong. Kesaktian Sisingamangaraja ialah dari Bala Sori bertempat tinggal di Bakkara, dan kesaktian Palti Raja ialah Bane Bulan bertempat tinggal di Palipi.

Jonggi Manaor beserta dan Raja Sori, Raja Paradum, Manontang Laut dan Raja Paor, mereka inilah pelaksana utama dalam upacara “Hoda Somba” yaitu upacara persembahan, mempersembahkan kuda kepada Debata Mulajadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Esa). Kuda ini dipersembahkan melalui perantaraan Raja Uti, “Raja Hatorusan natorus marpangidoan tu Debata” (yang biasa atau yang bisa langsung bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa). Upacara Hoda Somba ini diadakan terutama kalau terjadi kemarau panjang di seluruh wilayah Samosir.

Maka Hoda Somba (Kuda Persembahan) disediakan oleh keturunan Lontung dari Samosir, kemudian kuda ini diantarkan ke Limbong yang Upacara penyerahan ini dipimpin oleh marga Situmorang, kemudian di Limbong diadakan upacara memohon turunnya hujan mereka pergi ke Simanggurguri dengan membawa seperangkat Gendang di Simanggurguri Jonggi Manaor Martonggo (berdoa) memohon turunnya Hujan, dan pada saat itu juga pasti datang hujan sehingga semua peserta upacara itu harus basah kuyup di Limbong di Guyur air Hujan.

Hoda Somba (Kuda Persembahan) ini dipotong kemudian dikuliti, semua dagingnya dibagi dan dimakan menurut tata cara hak (Parjambaron)menurut status dan kelompok masing-masing kepada semua peserta upacara. Hoda Somba (Kuda Persembahan).

Kemudian kulit Kuda itu, diantarkan kepada Raja Uti di Barus dan yang mengatarkannya ialah Jonggi Manaor, Raja Sori, Raja Paradum, Manontang Laut dan Raja Paon, mereka berjalan kaki dari negeri Limbong melewati Hutan belantara menuju Barus.

Tetapi … setelah mereka berjumpa dengan Raja Uti di Barus, kulit Kuda yang mereka bawa dari Limbong itu menjelma menjadi Kuda yang hidup sebagaimana Kuda itu sebelum dipotong.

Pansur Sipitu Dai (Pancuran tujuh rasa) ini juga mempunyai kisah tersendiri dari si Boru Pareme, karena di Pansur Sipitu dai inilah si Raja Lontung bertemu dengan si Boru Pareme, yang kemudian mereka kawin. Hingga sekarang, apabila ada orang yang kesurupan si Boru Pareme, maka orang itu selalu meminta manortor (Menari) di Pansur Sipitu Dai. Siboru Pareme dengan Raja Lontung mempunyai 7 (tujuh) keturunan yaitu : Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar.

Dari anak Lontung yang tujuh orang ini, anak yang paling bungsu yaitu Marga “Siregar”, adalah menantu kesayangan bagi marga Limbong. Hal itu dapat dibuktikan kalau pansur Ni Hela salah satu Pancuran dari yang tujuh yang di khususkan untuk tempat mandi semua menantu (yang mengawani putri Limbong), kalau pansur Hela ini russak, maka hanya marga Siregarlah yang berkewajiban dan berhak untuk memperbaiki Pancuran itu.

Demikianlah Kisah Pitu Halongangan Opat Batu Tolu Aek, (Tujuh keajaiban Empat Batu Tiga Air), yang terletak di Kaki Dolok Pusut Buhit Kecamatan Sianjur Mula-mula, semoga bukti-bukti sejarah yang masih mempunyai keanehan ini, dapat dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi penerus Bangsa Indonesia karena kebudayaan yang ada di Sianjur Mula-mula adalah milik seluruh BANGSA INDONESIA HORAS.

Written by lagubatak

June 24, 2009 at 11:48 am

Si Boru Tumbaga

leave a comment »


ParLapo : Cerita ini disadur dari silaban.net, dengan maksud agar seluruh bangso batak dapat mengetahui cerita/legenda orang orang batak sebelumnya. Kami mohon maaf jika maksud ini satu sisi melanggar hak dan ketentraman pemilik website tersebut. Dan kami akan bersedia menghapus cerita/tulisan ini jika yang bersangkutan tidak berkenan. Selamat membaca!

Cerita Siboru Tombaga adalah kisah lama yang dikenal oleh rakyat Tapanuli karena cerita ini menggambarkan bagaimana seseorang yang tidak mempunyai anak laki-laki dianggap kurang terhormat. Anak laki-laki lebih tinggi derajatnya karena anak laki-laki adalah penerus marga dan keturunan. Keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, warisannya jatuh ke tangan paman, yaitu saudara laki-laki dari pihak ayah.

Cerita ini menggambarkan, bagaimana seorang ayah yang tidak mempunyai anak laki-laki, tidak dihargai oleh saudara-saudaranya berusaha merampas harta kekayaannya dari tangan putri-putrinya sehingga putri-putrinya terpaksa melarikan diri ke hutan.

Cerita Ende Siboru Tombaga ini akan kami publish menjadi 4 bagian. Selamat menikmati dan silahkan ber-apresiasi dengan memberikan komentar Anda. Parhobas [SB]

Hata Huhuasi :
Umbahen huharingkothon manurathon ende (sidedeng) Siboru Tombaga on, ala dapot deba botoon sian i :

Songon dia rumang ni adat batak hian taringot tu bagian ni boru di barang tean-teanan.
Hamaloon ni halak Batak paboahon barita marhite ende (sidedeng)
Sian najolo pe, na tarbarita hian do ende (sidedeng) Siboru Tombaga, hinorhon ni :
i. Rapi ni hata ni ende i
ii. Dangol dohot parir ni partinaonan ni Siboru Tombaga maralohon si solhotna na so marpanarian i, ia so holan naeng manean barang ni uarisna.
iii. Todos dohot habisuhon ni Siboru Tombaga pasauthon sangkapna, na tau anian na tau tudosan i.
Anggiat ma marhite sian barita i, lam ganda panarihon ni roha ni bangso batak maniroi na ringkot maradophon angka boru, nang dohot patomu-tomu hata ni ende (sidedeng) angka na uli.
Tutu ndang tardok impas dope na husurathon dison, ala ni i rade do ahu manjalo turgas dohot poda sian angka dongan na olo padengganhon sijahaon on.

Sian panurat,
Mangaradja Pandapotan
Tarutung, Maret 1936

Ende Siboru Tombaga I

1.
Topik-topik ni pinggan,
Binahen tu para-para,
Adong ma na saingan,
Na margoar si Tombaga.

Boru ni na sumurung,
Jala boru ni raja,
Partompa na mamunjung,
Na ganjang jambulanna.

Rimpur jari-jarina,
Togos nang pamatangna,
Pangeal ni gontingna,
Soada anianna.

Goar ni natorasna,
Ima Raja Ompu Gulasa,
Sian tano Suga-suga,
Dolok ni Tano Bakkara.

Disi ma ingananna,
Huta hatubuanna,
Di tano ni ompuna,
Jala tano ni amana.

Tano Suga-suga i,
Diingani Raja Horja;
Raja Ompu Gulasa i,
Tardok do i raja na mora.

2
Godang dohot ringgitna,
Torop do nang horbona,
Lombuna nang hodana,
Dohot hadumaonna.

Marluga ma Simamora,
Marluga marsada-sada,
Tutu do nian na mora,
Alai anakna ma soada.

Na punu do ibana,
Mate tuan baruna,
Ndang tumadingkon anak,
Holan dua do boruna.

Boru ni Ompu Gulasa,
Sidua sabutuha,
Sihahaan si Tombaga,
Si Buntulan anggina.

Pamaheon ni boruna,
Sada mas di hambirangna,
Alai so ada ibotona,
Ndang mar-mas di siamunna.

Mago ni si Tombaga,
Na so adong ibotona,
Aut adong ma ibotona,
Mas dohot di siamunna.

Marpingkir ma si Tombaga,
Nang si Buntulan anggina,
Mangkuling ma nasida,
Mandok hata tu amana.

Ai marbabo namarbaju,
Ba mangula doli-doli,
Amang na sumuan ahu,
Ua laho damang mangoli !

3
Dung dibege natorasna,
Hata ni siubeonna,
Dialusi ma tangkas,
Didok ma tu nasida.

Na marunggali lombu,
Laho tu pudi ruma,
Mangoli ahu nimmu,
Dagingku nungga matua.

Jolo sampulu pitu,
Jumadi sampulu ualu,
Mangoli ahu nimmu,
Nungga sabur dohot ubanhu.

Ise be olo tu ahu,
Pamatang naung matua,
Ninna Ompu Gulasa,
Mangalusi boruna.

Ianggo i ale amang,
Amang na sumuan ahu,
Adong do sibahen hata,
Ima bao domu-domu.

Mangalap manaruhon,
Ulaon ni domu-domu,
Pangoli ni naung matua,
Pagodang damang sinamotmu.

Huhut ma usungonmu,
Dorma sipanogu-nogu,
Mandasdas sian jabu,
Manogihon laho tu toru.

Topik-topik ni pinggan,
Binaen tu para-para,
Mandok i do si Tombaga,
Marsahit ma Ompu Gulasa.

4
Ianggo sahit na i,
Ima parro hamateanna,
Mamipis butuhana,
Barobuni do goarna.

Diinum pe angka ubat,
So ada tarhilala,
Huhut do morong-orong,
Posa do pangkilalaanna.

Tingki di tonga arian,
Di jou ma si Tombaga,
Na paboahon sahitna,
Hansit ni pangkilalaanna.

Dung diboto nasida,
Tangis ma si Tombaga,
Na sumarihon amana,
Iboto na pe soada.

Adong pe paribotoanna,
Tubu ni amang udana,
Diingot ma i sogot,
Na so boi hasurutanna.

Sai ambal lagu ni jolma,
Na so dongan sarurutna,
Huhut tangis si Tombaga,
Morong-orong nang amana.

Tinangishon ni si Tombaga,
Siteanon do amana,
Ai nang pe adong ugasanna,
Uarisna nampunasa.

Dipingkir ma sasudena,
Pangalaho ni uarisna,
Na so mangharingkothon,
Parsahiton ni amana.

5
Niorongkon ni Ompu Gulasa,
Lam hansit pangkilalaanna,
Nungga masuk dohot sigurbak,
Tarida di angkulana.

Sipu-sipu huat-huat,
Mintop di haba-haba,
Ai digogo pe marubat,
So adong na tarhilala.

Habang sitinda ulok,
Ngiak-ngiak anak ni lali,
Marpingkir si Tombaga,
Marsuru jou pangubati.

Anggi, boru Buntulan,
Hatop pariban maringkati,
Manjou datu na sumurung,
I ma Raja Partungkot Bosi.

Ima datu na sumurung,
Na ummalo mangubati,
Anggiat adong labanta,
Malum sahit ni amanta.

Dung dibege si Buntulan,
Hata suru ni hahana,
Hehe ma antong ibana,
Disungkun ma si Tombaga.

Mardemban parnapuran,
Marisap ma partimbaho,
Hahang boru Tombaga,
Tu huta dia ahu laho ?

Doras do pardalan ni hoda,
Nanget do pardalan ni horbo,
Tu huta dia ahu laho,
Dalan pe so na huboto.

6
Nda bolat ni rosu,
Nonang padua-dua,
Laho ma anggikku,
Togihon donganmu borua.

Ia huta ni datu i,
Di Tano Lintong ni Huta,
Laho ma hamu tusi,
Rap ma hamu na dua.

Hatop ma hamu mardalan,
Unang ahu ngolngolan,
Ndang lilu iba mardalan,
Molo singungkun-sungkunan.

Pidong siruba-ruba,
Habang tu Silalahi,
Inang dohon tu borua,
Amang tu lahi-lahi.

Mardalan ma nasida,
Mardalan padua-dua,
Ianggo donganna i,
Ima dakdanak borua.

Pardalan ni si Buntulan,
Songon pardalan ni baoa,
Saroal marbaju-baju,
Segar di simajujungna.

Ulos ma di hambirangna,
Ba, tungkot di siamunna,
Unang diambat halak,
Dipajingar pambahenna.

Dung i por ma udan i,
Sian dolok ni Silalahi,
Dung ditongan dalan i,
Pajumpang dohot lahi-lahi.

7
Amang lahi-lahi,
Sian dia dalan nami
Laho manjou datu,
Mangubati amantahami.

Datu sijouon nami,
Ima Raja Partungkot bosi
Dingkan dia inganan na
Asa huboto hami.

Na marluga parsolu,
Solu parsidua-dua,
Sian siamun on ma da,
Dalan tu Lintong ni Huta.

Ai disi do diingani,
Raja Partungkot bosi,
Datu na sumurung,
Jala datu na lumobi.

Digogo ma mardalan,
Jadi sahat ma nasida,
Tu huta ni Partungkot bosi
Di luat Lintong ni Huta,

Didapot ma datu i,
Hundul do jolo ruma,
Sahat si Buntulan,
Dipahombar tu lambungna.

Marluga ma datu i,
Solu parsidua tali,
Hamu ale amang datu,
Beta hamu tu hutanami.

Asa hamu mambahen ubat
Di sahit ni amantahami,
Poso do nuaeng sahitna,
Asi ma roham di hami.

8
Didapot datu i,
Toho do mambarbar hudali,
Anggo di intean ni datu,
I ma siunang na manundati.

Sombangku da amang datu,
Beta ma tu hutanami,
Sai asi ma rohamu.
Mangubati amantahami.

Hamu do ninna datu,
Na ummalo mangubati,
Pandokmu di upamu,
Asal hipas amantahanmi.

Manang horbo manang mas,
Dohot ringgit tabilangi,
Saguru tu pandokmu,
Manang dia buaton nami.

Dung dibege datu i,
Hata janji tu ibana,
Pintor las ma nang rohana,
Mingot balga ni upana.

Na marluga solu,
Solu marlima lima,
Marhobas datu i,
Mardalan ma nasida.

Diboan ma taoarna,
Dibagasan guri-gurina.
Nunga pangkiahiaon,
Di uli sijaloonna,

Sipusuk ni bulu,
Pusuk ni arsam na tata,
Sahat ma antong nasida,
Tu huta ni Ompu Gulasa.

9
Dung diida si Tombaga,
Humalaput ma ibana,
Laho pahembang amak,
Dingkan jabu tonga-tonga,

Hundul ma datu i,
Dohot na tinogihonna,
Marsalin si Buntulan,
Gabe marpahean borua.

Dung diida datu i,
Marbuluk do taroktokna,
Ai dirimpu lahi-lahi,
Hape pungu holan borua.

Marhobas si Buntulan,
Pature ingkau nasida,
Dung masak sipanganon,
Jadi mangan ma nasida.

Dung sae marsipanganon.
Marnapuran ma nasida,
Maungkun ma disi,
Halak Siboru Tombaga.

Pusuk ni rugi-rugi
Tu pusuk ni antalada
Disungkun ma datu i
Taringot tu sahit ni amana.

Na marluga solu
Marluga marsiadu,
Sahit ni damang on,
Beha boi do ubatanmu?

Anggo boi ubatanmu
Jalo parhangkunganmu.
Manang sadia pandokmu,
Asa huboto lehononku!

10
Mangkuling ma datu i
Mangalusi si Tombaga
Siala sungkun sungkun i.
Pandokna songon on ma:

Jurangkat mandondoni,
Tula-tula manjombai.
Inang boru Tombaga.
Anggiat ada tua nami.

Sahit ni amanta on,
Angiat boi ubatan nami,
Malum bahenon ni ubat,
I ma na huboto hami!

Tapangido asi ni roha.
Sian Ompunta Mulajadi.
Ubat na huboto on.
Sahat diparbadiai.

Taho ma i amang datu,
Sai sahat ma i tutu,
Alai beha do rohamu,
Bege ma jolo hatangku.

Ale amang datu,
Unang bahen sialangalang,
Lao sumungkun sombaon,
Dohot pardebataon.

Asa tatilik ma nian.
Marhite manuk di ampang.
Anggiat laba manaem,
Malum sahit ni damang.

Boru Buntulan,
Jou amanta Silitonga,
Mangangkupi datu on,
Ai tumangkas binotona

11
Sian aek dalan ni solu
Sian tur dalan ni hoda,
Ai nunga sambor nipinta,
Na so adong on ibotonta.

Habang sitinda ulok,
Ngiak-ngiak anak ni lali,
Ummoto na barua,
Sai umbisuk lahi-lahi.

Marluga ma parsolu,
Marluga marsada-sada,
Manang dia didok datu,
Naeng diboto alusanna.

Mardalan si Buntulan,
Manjou mamlohon,
Amana Silitonga,
Huhut ma diarahon.

Amang Silitonga,
Beta hita tu lumban nami,
Disi nuaeng amanta datu,
Mangubati amantahami

Naeng hamu angkupna,
Donganna mangkatai,
Ai hami na borua,
Hamu do anak lahi-lahi.

Na marluga solu,
Marluga baen dalanku
Laho ma ho ito,
Ai dapong dape lolangku.

Songon ia ma i didok,
Amana silitonga,
So adong na diansuhon
Ringkot ni panjauonna.

12
Marjojor martordingan,
Songon tangga ni balatuk,
Ibana tangkas angina,
Boasa langkana so tur!?

Sian tur dalan ni hoda,
Sian aek dalan ni solu,
Ndang boi ho mandok lola,
Ise ma sijouongku

So ada hami lahi-lahi
Duo do holan na boru,
Umbahen hamu hujou,
Ala so ada ibotongku,

Sibahut na ni durung
Pora pora niusehon,
Nang pe songon i ringkotna.
Ndada olo parosehon.

Tung laho ma ho ito,
Hudok godang dope lolangku
Ndang pola ho ajaranku
Manang ise ma sijouonmu.

Marsak si buntulan
Mingot sahit ni amana.
Ala so adong jouonna,
Lahi-lahi mangadopisa.

Jadi diulahi ma mandok
Hata elehelekna
Tu amana silitonga
Anggiat melok rohana.

Tonggi tabo ale amang,
Songon aek ni holi-holi,
Ise ma na olo alapanku,
Haru hamu so mangoloi.

13
Na marluga solu.
Solu marsada-sada,
Sinamot ni damang i,
Laho hamu do nampunasa.

Nunga sambor nipini
Ndang adong anak ni amanta
Aut ulang ala ni i
Ndang pasombuonna hami loja.

Naung bangko ni adat,
Di jolma sibirong mata,
Molo so ada anakna,
Siteaonon pinungkana.

Manang sinamot ni angina,
Manang sinamot ni hahana,
Molo so ada anakna,
Uarisna nampunasa.

Hamu ndada uaris,
Tangkas tinodohon ni amanta.
Jadi ala ni i !
Ndang boi ho mandok lola.

Haru laho ma ho ito.
Unang dison be ho marhata,
Mabiar si Buntulan,
Jadi laho ma ibana.

Handis ni Barumun,
Sirohot ni Banua tonga,
Hata ni amana Silitonga i,
Ndada na tartaonsa.

Hata ni amana i,
Dipaboa tu hahana,
Tangis si Buntulan,
Marabur ilu sian matana.

14
Boasa tangis ho anggi,
Ninna Siboru Tombaga,
Huhut do marsuap-suap
Ilu sian simalolongna.

Mangukuling si Buntulan,
Paboahon binalungunna.
Tu hahana si Tombaga,
Naung huhut marsak rohana.

Aha ma so tangis iba,
Ai ndang olo amanta,
Hata i do hupaboa,
Gabe ahu hona laga.

Sinamot ni damang i
Laho ibana nampunasa:
Hape holan uli i,
Do huroha ni ongopna.

Habang ma haluang
Sian dolok ni Pagarbatu
Mangkuling si Buntulan
Dompak amanta Datu,

Beha amang datu,
Songon dia pardalanna,
Amanguda pe so olo,
Ibotongku pe so ada.

Ia tole parmanuhon,
Ise sialusi hata,
Iba on do na borua,
Ndang binoto pardalanna.

Huhut do morong-orong,
Posa sahit ni amanta,
So ada na maniop uluna,
So ada na manjama patna.

15
Tole ma parmanuhon,
Ise pature haseana,
Hansit ma na borua.
Molo so ada na baoa.

Ibotoniba so adong,
Ba ise sialusi hata,
Ba, unang tun jais nami do.
Tapungka ma siulaonta.

Tangan do tutu botohon,
Punsuna jari-jari,
Hahuaon ma i amang datu,
Hamu ma mangajar-ajari.

Tangkas ma paboa hamu,
Manang dia buaton nami;
Asa hupatupa hami,
Olat ni na huboto hami.

Tano ni huta Tinggi,
Tano ni Ompu Taradu,
Dung didok sisongon I,
Mangkuling ma amanta datu,

Ue boru ni rajanami,
Hamu nunga marsintuhu,
Molo patindang parmanuhon,
Patimak hasea na pitu.

Hasea na pitu i,
Paboa damang ma goarna,
Ninna Siboru Tombaga,
Asa diboto buatonna.

Golang-golang paiduana.
Mas do sihahaanna,
Patimak ma dohot bunti,
Nang dohot parasomanna.

16
I ma pandok ni datu i,
Tu Siboru Tombaga,
Jala pajojor muse,
Debanari haseana.

Buat ma bunga-bunga,
Patipak dohot baja;
Buat nang pinggan na hot,
Dohot ulos hajojahanna.

Dohot hujur na sindak,
Dohot pardupaanna,
Taringot hasea na pitu,
I ma pulung-pulunganna.

Nunga tonggi tabo,
Songon aek ni holi-holi,
Jou ma panintingi,
Dohot amanta panamboli.

Oh he ale amang datu,
Ba, ise ma si juongku
So adong na mangoloi,
Ninna si Tombaga mangalusi.

Ai husuru do anggikku,
Mulak ibana mangalapi;
Manjou damang Silitonga,
So na olo mangalusi.

Hamu do na asi roha,
Jala na giot basa;
Di siulaonta on,
Manang beha ma pardalanna.

Ai ulos lobu-lobu,
So ada dipulosi,
Disuru na manjou,
Ndang olo mangalusi.

17
Molo i ma hape inang,
Ndang labana diulahi,
Si Buntulan ma paningtingi,
Ba, hamu ma pamboli.

Ba, songon i ma molo boti,
Ninna si boru Buntulan,
Mangalusi datu i,
Raja Partungkot Bosi.

Songon i ma ajar muna,
Songon i ma huoloi,
Horas ma amanta on,
Sai dialusi tondi.

Nunga di ginjang panintipan,
Di toru pambarbaran,
Nunga pandokkon ni tondi,
Pangoloi ni sibaran.

Dua hami holan borua,
Ndang adong anak ni damang.
Dohot na so hea ni ula,
Nunga pinarsiajaran.

Ndang hea nian borua,
Mangadopi manuk di ampang,
Ba, ulaon nama i,
Asal ma horas damang.

Masisungkunan ma hita,
Asa marsintuhu siulaon,
Sumungkun Debata,
Dohot naga-naga ni sombaon.

Manuk di ampang on,
Sai torang ma on idaon,
Marboa-boa tu na uli,
Asa adong parharoanon.

18
Tano Aji-bata,
Tu tano Parpiloan,
Manumpak ma Debata,
Sai dioloi pangidoan.

Ipe hamu ale inang,
Masisungkunan ma hita,
Nunga tipak hasea na pitu,
Dohot buntibuntina.

Masisungkunan ma amang,
Hata maniar bahen hita,
Ninna Siboru Tombaga,
Dohot si Buntulan angina.

Naung sampulu pitu,
Jumadi sampulu ualu
Nunga tipak parmanuhon
Martonggo ma amanta datu.

Ale sumangot ni ompunami! Sumangot ni ompu-boru, sumangot ni ompu doli:
Paisada, paidua, paitolu, paiopat, pailima, paionom, na papitu parsadaan, sibaso na bolon.
Pangulubalang suan-suanan, debata idup marorot.
Ia nunga rade dison parmanuhon siaji nangka piring, nai boru sinomba ni poda inang sinumba ni parmanuhon.
Horas do Raja i, paboa ma dison!

Manat alu-alum,
Tangkas robo-robom,
Paboa hahipason,
Di sahit ni Raja on.

Diungkap sitapangi
Tarisa ma dengkena,
Diungkap ma ampang i,
Parose parturena.

19
Dung dibuat manuk i,
Jadi marhata ma nasida,
Di jaha-jahaani I,
i ma sipatorangonna.

Topik-topik ni pinggan.
Binaen tupara-para,
Marhata ma nasida,
Dipaboa ulpuhanna.

Beha amang datu,
Ninna Siboru Tombaga,
Unang da mauhom hamu,
Dok hamu do ulpuhanna.

Tangkas paboa hamu,
Manang dia ginoarna,
Parulian do na ro?
Asa binuat haroanna.

“Turtu” ninna anduhur,
Songgop di dangka-dangka,
Saguru tu pandokmu,
Manang sadia pe balgana.

Olo boti ma da, inang.
Hudok ma jaha-jahana,
Ninna amanta datu i,
Tu Siboru Tombaga.

Tano Sigompulon,
Tu tano Lobu-lobu,
Ianggo ulpuhan ni on,
Didokkon do manggallang lombu.

Paluon godang sabangunan,
Peleon sormagot ni ompu,
Manumpak ompunta Debata,
Sai leleng hita mangolu.

20
Manjangkit gompang batu,
Tu hau antahasi,
Asal pinasahat i amang datu,
Hipas do amantahami?

Songon i ma sungkun-sungkun,
Ni si boru Buntulan,
manungkun amanta datu,
manang na boi hangkungonna.

Tonggi na hona pijor,
Dohot pinggan harungguan,
Sandok horas amanta i,
Jalo ma pasu-pasuan.

Manumpak ma Debata,
Dioloi pangidoan,
Sahat patupaonta,
Las ni roha marharoan.

Umbege i boru Tombaga,
Las do nian rohana,
Ala ibana na borua,
Ndang pintor mangundukhon.

Ba, unang ho tarngongong,
Naeng sigop ma marharoan,
Ninna datu pangabang-abang,
Tu si boru buntulan.

Pahinsa pangalahom,
Unang ahu sai ngolngolan,
Inang boru Buntulan,
Dohot boru Tombaga.

Na marluga solu
Marluga marduadua
Ulpuhan mangan lombu.
I ma na huhasusa.

21
Ise manjou pargansi.
Ise ma manogu lombu.
So ada hami lahi-lahi.
Pungu do holan na boru.

Sahit ni amanta on.
Parpungu ni hinamagongku;
Tulus pe pingkiranku.
Dokdok anggo di pamanganku.

Nunga tu jolo tu pudi,
Songon pardalan ni horbo:
Ise ma manogu lombu,
Ise ma martonggo-tonggo.

Ahu na borua,
So sadia na huboto,
Aut na olo amanguda,
Nunga i martonggo-tonggo.

Dipaula so diida,
Dipaula so diboto,
Holan na marnida uli
Do nasida na gumogo.

Sinuru do manjou
So na olo mangalusi:
Nang pe iba na boru
Bang ingkon sinauti,

Topik-topik ni pinggan,
Binahen tu para-para
Ala soada ibotona,
Martonggo Siboru Tombaga,

Ditompihon do ulosna
Ditiop pinggan partonggoanna.
Martonggo ma ibana,
Laos dibege angka Raja.

22
Mulak do panjouna.
Di tinodohon ni amana,
Umbahen ibana martonggo.
Paboahon saritana

E, amang Raja,
Unang bahen ahu tu hata,
Ibotongku soadong,
Umbahen ahu marhata

Nungga landit porhot,
Gota ni simargala-gala
Nungga hansit ngotngot,
Posa sahit ni amanta

Ulpuhan mangan lombu,
I ma ninna parhorasanna,
Umbahen hu suru manjou
Halak damang Silitonga

So na olo mangalusi,
Gabe anggiku hona laga,
Sinamot ni damang on,
Laho nasida nampunasa.

Asa ditangihon na torop,
Ditangihon angka Raja.
Ndatung ahu na lupa,
Hupaboa pardalananna.

Dung didok hatana i,
Manortor Siboru Tombaga,
Utang na so tarjua,
Ro ilu sian matana

Ai manortor si Tombaga,
Dipuhung do tanganna,
Ndada pola mangurdot,
Tungki simanjujungna

23
Donda pangalahona.
Hurang hinsa pardalananna,
Naung margorak do huroha,
Di parmate ni amana.

Naung sampulu pitu,
Manjadi sampulu ualu,
Manortor si Tombaga,
Mate amana di jabu.

Maringkat do angina.
Naeng mangalu-alu,
Dihusiphon tu hahana,
Mate amana di jabu.

Tu jolo tu pudi,
Songon pardalan ni horbo,
Nang pe dihusiphon angina,
Dipaula so diboto.

Na marluga solu,
Marluga marsiadu,
Panggual pargonsi,
Hubuat jolo napuranku.

Manang ise namanortor,
Nangkok ahu jolo tu jabu,
Mambuat napuranku.
Asa adongdo panganonku.

Mardalan si Tombaga,
Nangkok ibana tu jabu;
Di dapot do amana,
Naung tangkas mate di jabu.

Diida dohot patna,
Nunga dingatngati asu,
Nang pe songoni parirna,
Sip ibana mardabu-dabu.

24
Hundul si Tombaga,
Mardemban marhusari,
Suman jolma na mangolu,
Amana i dibulusani.

Parugasananna i,
Tangkas ma disiga-sigati,
Jolo di hinsu pintu i,
Asa lomona manjamai.

Unang adong halak marmida.
Unang adong na manotnoti:
Dipapungu singgit mas,
Sude sian bagasan sondi.

Dionjat tu bagasan hirang,
Dibahen sirabun mandondoni;
Unang adong halak marnida,
Lehononna tu angina.

Marbisuk Siboru Tombaga.
Diboto pangalahona;
Siteanon do amana,
Ala soada ibotona.

Pur alogo hurling,
Masuak dangka ni baja,
Dihusiphon tu angina,
Unang di bege angka raja.

Tua jolo tu pudi,
Songon pangambe ni paronan;
Boru Buntulan,
Taruhon on tu pargadongan.

25
Si Boru Buntulan,
Na pintor lao hapogan;
Ditaruhon tu pargadongan,
Mambahen tu pananoman.

Topik-topik ni pinggan,
Binahen tu para-para;
Dung dibahen songoni,
Tangis ma Siboru Tombaga.

Umbege tangisna i,
Tarsonggot ma angka Raja:
Mansohot ma pargonsi,
Dipaso ula-ulana.

Maringkat datu i,
Diluahon parhankunganna,
Malua lombu i,
Dipalua angka raja

Naung pitu hali hansit,
Di halak Siboru Tombaga,
Nungga suda rugirugina,
Mate muse dohot amana.

Hinamago ni si Tombaga,
Dang adong tarandunghonsa
Di parmate ni amana,
Tamba hancit hinadangolna.

Dipambahen ni amana,
I ma amana Silitonga,
Jolma naso maruhum,
Na so sioli di jolma.

Na so olo marnarugi,
Holan uli ginopgopna,
Nanggo pala mangurupi,
Pasauthon ulhupanna.

26
Sian aek dalan ni solu,
Sian tur dalan ni hoda,
Hinamago ni si Tombaga,
Paima jolo hu paboa.

Dung mate Ompu Gulasa.
Ro ma angina Silitonga,
Lao manggulut sinamot,
Na lao siteanonna.

Asa songon i ma hape,
Roa ni deba jolma.
Molo so di ingot uhum,
Nang pet u sisolhotna.

Ia tu ulaon loja,
Dokdohan do rohana,
Ia manean uli,
Maringkat do ibana.

Si bulung ni bulu,
Si dangka ni antalada,
Sip ma ho jolo ito,
Ito boru Tombaga.

Ninna amana i,
Amana Silitonga,
Na girgiran di uli,
Barang i pasinohonna.

Ba aha ma di ahu,
Amang Silitonga,
Nuaeng ho ro tu jabu,
Nantuari ho so ro.

Nungga tonggi tabo;
Songon aek ni holi-holi,
Na hudok ale ito,
Adong ma da na hu usoi.

27
Nungga tonggi tabo,
Songon dai ni pora-pora.
Na huusoi ale ito,
Tardok ma on Raja na mora

Mas dohot ringgit na,
Nda lehet papunguonta?
Patudu ma tu ahu ito,
Asa ahu pajophonsa!

Oi ale daba amang,
Ninna Siboru Tombaga,
Mangalusi sungkun2,
Ni amana Silitonga.

Na marluga solu,
Solu maradu-adu,
Umbege hatami,
Tung longang do rohangku.

Habang si tinda ulok.
Sian parsonggopan ni lali,
Ringgit dohot mas.
Ndang hupasari-sari.

Damang na mate on do,
Nahuandungi hami,
Ringgit mas nidokmi,
Unang pausoi tu hami.

Laho manean sinamot i,
Maringkati ho tu jabu.
Nialapan ho amang,
So olo ho mangalusi datu.

Ndang na so olo ahu,
Hudok godang si ulaonku,
Unang sarita ahu,
Ianggo alani lolangku,

28
Habang si tinda ulok,
Sioksiok anak ni lali,
Sinamot ni dahahang i,
Ingkon lehon saonari.

Marlojong ma horbo.
Habang anak ni lali,
Molo so di lehon ho.
Ho bobohon dohot tali.

Marluga ma parsolu,
Solu parsada-sada.
Lagami ale amang,
Paboaonku i tu raja.

Ndada na hupangan,
Sinamot ni amanta.
Sombangku da amang,
Unang tu ahu ho marlaga.

Ramba na so tinoto,
Ndang huboto ulaonku,
Dibahen na so huboto,
Ndang huboto paboanku.

Molo manuntun ho marlaga,
Nda na lupa ho marboru?
Aut ro ma ho di ngolu ni amanta.
Nda tangkas i boto onmu?

Sibulung ni bulu:
Sidangka ni antalada.
Tung paboa ma tu ahu
Ito boru Tombaga.

Jurangkat mandondoni,
Tula-tula manjombai,
Tangkas do i diboto ho.
Ai ho do manigati.

29
Ringgit ni dahahang i,
Ingkon lehon saonari.
Molo so dilehon ho i.
Jabuon surbuon tu api.

Tutu do ndang diboto,
Siboru Tombaga ingananna.
Ai anggina si Buntulan do,
Na manabunihonsa.

Hau sian jolo sopo,
Dibahen tu pudi ruma.
Dibahen na so huboto,
Horas do au marsumpa.

Ndang adong huboto,
Ndang huida ingananna,
Sombangku da amang
Unang ho marlaga-laga.

Topik-topik ni pinggan,
Binahen tu para-para,
Dung so tarida ringgit i.
Tu beangan si Tombaga.

Ro ma pasi gadong,
Sian porlak sibun-buni.
Boru Buntulan,
Laho dainang martabuni.

Molo diida ho anon.
Dohot muse ho dirahuti;
Asa pahatop ma mardalan,
Lao ma ne ho martabuni.

Laho si buntulan,
Humatop maringkati,
Unang sanga diida,
Asa sanga martabuni.

30
Pat ni si Tombaga tu beangan,
Tangan na i dibobok tali,
Rohana so marhasonangan,
Luhutna di pasari-sari.

Habang ma ambaroba,
Mangangkat di atas batu,
Oh amang Silitonga,
Tanggal beangan sian pat hu.

Ia so ditanggal ho,
Ingkon hona sapatanghu,
Ai so adong huboto.
Tu ho hasalaanku.

Sinamot ni hahami,
Ndang haoraan au;
Pahumpuonmu sian toru,
Papungu dohot sian jabu.

Na so huboto i,
Unang i pausoi tu ahu,
Oh amang Silitonga,
Tanggal beangan sian pat hu,

Tangis Siboru Tombaga,
Mangandung ibana manungki,
Amana Silitonga,
Suda sinamot di tarui.

Tu beangan si Tombaga,
Si Buntulan pe martabuni.
Mangangguhi si Tombaga,
So adong na mangalusi.

Mata Ompu Gulasa,
Boruna di pukpuhi,
Sai dibagasan mara,
Nang pe laho martabuni.

31
Sian aek dalan ni solu,
Sian tur dalan ni hoda,
Mangandung si Tombaga,
Paboahon hi namagona.

Diparmate ni amana,
Na so ada ibotona,
Sinamot ni amana,
Dibuat amana Silitonga,

Marsiak bagi si Tombaga,
Ndang adong nahinongkopna,
Hinamago ni si Tombaga,
Na so ada tudosanna.

Si dua satutuha,
Aik anak ma i nian sada
Ndang songoni dangolna,
Dipambahen ni udana.

Sai gumogo ma baoa,
Mamboanhon i tu raja,
Umbahen uhum roha-roha,
Pambahenan ni udana.

Adat nahurang ture,
Dijolma si birong mata,
Holan anak do panean,
Di sinamot ni amana.

Anggo boru so rajumon
Marduahon pinungkana,
Umbahen so boi raja,
Mangampini si Tombaga.

Soluk ma amangudana,
Maringanan di jabuna,
Marsapata si Tombaga,
Tu amana Silitonga.

32
Na so siol i di boru.
Sahat ro di pinomparna.
Luhut do hita jolma,
Mamursikhon ibana.

Na so uhum na so paho,
Binahenna tu si Tombaga,
Ala so tarida ringgit,
Tu beangan si Tombaga.

Dung tar barita i,
Tu pinggol ni angka Raja.
Marlojongi ma nasida,
Paluahon si Tombaga

Dung suda sinamot i,
Dibuat amana Silitonga.
Dipalaho si Tombaga,
Manang tudia topotonna.

Songon lampak ni pinang,
Longkang dung mahiang,
Siboru Tombaga i,
Laho tu harangan na bidang.

Mandapothon si Buntulan,
Na monggop di liang-liang,
Disi ma nasida na dua,
Tangis martutungkian.

So tampil be tu huta,
Liang nama ingannanna.
Dipingkir hinamagona,
Na so ada tudosanna.

Si Tombaga sihahaan,
Si Buntulon Sianggian,
Hinamabo ni nasida,
Lompo do turi-turian.

33
Dihatahon na jumolo,
Ditorsahon na dipudian.
Diaonlaon ni ari,
Songon turi-turian.

Adong ma sada halak,
Isi ni luat parbotihan.
Laho marburu hije,
Tu harangan na bidang.

Toho dapot langkana,
Jolma di liangliang,
Di rimpu begu so jolma,
Bodil di tangan hambirang.

Naeng ma bodilhononna.
Dompak jolma na diliang,
Hape pintor marsuara,
Angguk na marsirainan.

Jadi roma baoa i,
Na sian Parbotihan,
Dipatangkas ma diida,
Dua boru masiabingan.

Dipajonok ma diida,
Asa tangkas masisiean,
Pajumpang ma nasida,
Dapot ma sipangkulingan.

Mangkuling ma baoa i,
Na sian Parbotihan,
Boan na ginjang na bolon,
Goarna Aman Tornaginjang.

Na tinitip sanggar,
Bahen huruhuruan,
Jolo siningkun marga,
Asa binoto partuturan.

34
Inang boru-boru,
Dia marga ni dainang,
Tama do na manise,
Lehet masisungkunan.

Na mangkuling imbo,
Sian atas ni sidulang,
Atik beha na mariboto,
Manang marboru ni tulang.

Na marluga solu,
Marluga marsiadu;
Amang doli-doli,
Ndada huboto margakku.

Tu jolo tu pudi,
Songon pardalan ni horbo,
Dainang so na hutanda,
Damang pe so na huboto.

Unang longang ho amang,
Ndatung ahu na mamorso,
Ba, laos timbang roham,
Hami pe mian dison do.

Pusuk niramba poso,
Sipusuk ni arsam natata,
Tanda ni na so mamorso,
Horas do ahu nang marsumpa.

Ia molo songon i,
Boru ni Raja nami,
Songon hodong songon pahou,
Songon i do ho, songon i ahu.

Margam pe so diboto ho,
Ahu pe ndang huboto margakku;
Dia ma dohononku tu ho,
Pariban nama di rohangku.

35
Ro ahu tu Toba on,
Sian jau harorongku,
Sian ladang do ahu ro,
Jabu pe so ada ingananku.

Songon i ma i didok,
Paserephon rohana;
Laho mambuat roha,
Ni Siboru Tombaga.

Na marluga solu,
Solu marsada-sada;
Pajumpang hita inonge,
Ba beha pangalohana ?

Sada dua tolu,
Songon nidok ni pamilangi,
Boru ni Raja nami,
Donganku ho marpadi-padi.

Hinorhon ni sitaonon,
Pajumpang hita be;
Asi roha ni Tuhan,
Anggiat ma hita gabe.

Olo tubuan laklak,
Jala tubuan singkoru,
Olo tubuan anak,
Jala tubuan boru.

Olo tubuan laklak,
Di dolok ni Purbatua;
Olo tubuan anak,
Dongan sarimatua.

Poltak ma bulan i,
Dohot bintang sihapu-hapu;
Ndang boi ahu di ho,
Ai so ada panggulmitangku.

36
Damang pe so hutanda,
So na huboto margakku;
Ahu pe boru ni Toba,
Ba hamu pe anak ni jau.

Hita on na mian di ladang,
Ndada na domu di jabu;
Beha ma partupana.
Hita marjabu-jabu.

Ianggo siala i,
Ndada tu hata bahenonku,
Asa tung hot hata i,
Gana dia tolononku.

Ima sidohononku,
Hata siingotonmu.
Paboa na so oseonku,
Padan sibahenonmu.

Nungga balintang pagabe,
Tumandanghon sitadoan,
Nungga arinta gabe,
Molo masipaoloan.

Topik-topik ni pinggan,
Binahen tu para-para,
Molo domu hita doli,
Ba, ise sipadomu hata.

Nungga tonggi tabo,
Songon dai ni pora-pora.
Boru ni Raja nami,
Ba, ise ma sijuonta.

Inanta pe soada,
Sae pambahenan ni rohanta,
Dua do hita di son,
Jala patolu anggitta.

37
Tombak do ingananta on,
Ndang adong jolma ni ida,
Domu pe hita dison,
Holan panjou ni tonditta.

Hudapot pe hamu dison,
Ndada jolo huida,
Tung i ma partupana,
Pandokkon ni parsorionta.

Dung songon i be hata i,
Marpadan ma nasida,
Marhata sigabe-gabe,
Masiommaan ma nasida.

Topik-topik ni pinggan,
Binahen tu para-para,
Taringot tu si Tombaga,
Songon i ma pardalananna.

Halak Siboru Tombaga,
Sahat tu huta ma nasida,
Ia dung sahat tu huta,
Digondangi do nasida.

Aman Tornaginjang,
Harajaan ni si Tombaga,
Anggi ni Aman Tornaginjang,
Ima Aman Dolok Maria.

Si Buntulan angina,
Gabe di Aman Dolok Maria,
Songon i ma didok barita i,
Gabe mamora do nasida.

Ai boi do dialap,
Ringgit mas na tinanomna,
Jolo margelleng do nasida,
Asa dibuat sibunianna.

38
Laos dipatorang-torang,
Diparmate ni amana,
Dohot na hansit ditaon,
Di pambahen ni udana.

Ditumpak Debata,
Maulibulung do nasida,
Gabe tubuan anak,
Angkupna sarimatua.

Ujung ni si Tombaga,
Songon i ma pardalananna,
Ndatung na huida,
Ahu pe na umbege hata.

Marende na jumolo,
Songon i ma pardalanna,
Hurang lobi sian i,
Ndang huboto baritana.

Dia ma poda sian i;
Di angka Tuan-tuan panjaha,
Ganup ma marpinkir,
Na tumbuk tu rohana.

Na dapot hupingkir,
Ima na hupaboa,
Dijaha tuan pamasa,
Songon na tarsurat di toru on ma:

Na todos do hape,
Halak Siboru Tombaga,
Mangulahon binoto na,
Nang pasangaphon amana.

Ndang adong dihabiari,
Manang dia pe marana,
Naung lompo do dipingkir,
Pambahen ni amanguda na

39
Olat ni na masa i,
Marpingkir ma angka raja,
Di langka ni siteanon,
Dohot ma boru nampunasa.

Marguna ma hape.
Partinaonan ni si Tombaga,
Gabe mambahen turgas,
Tu angka raja-raja.

Sai adong hata ingoton,
Barita ni si Tombaga,
Na lompo do turi-turian,
Di jolma sibirong mata.

Songon i ma na huboto,
Hamu tuan-tuan panjaha,
Ditumpak Debata ma
Sai horas hita sudena.

Horas !

Written by lagubatak

June 10, 2009 at 6:37 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers