Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Posts Tagged ‘Jack Marpaung

Satire dalam Lagu

with one comment

Dear friends,

Kali ini saya ingin mencoba melihat/membahas sisi lain dari sebuah lagu yang tercipta dari seorang penulis lagu. Seni memang adalah satu sifat yang universal, rata-rata seorang seniman/wati(harusnya aku harus sering menulis seperti ini:-)) mempunyai sifat yang halus dan berbeda dengan sifat sifat yang ada pada manusia biasa, pada umumnya:-(.

Jika kita mendengar sebuah lagu, baik notasi dan aliran syair yang terkandung didalamnya, biasanya kita hanya terpaku pada pengertian syair dan lekukan nada-nada yang diciptakan oleh penulis lagu itu sendiri, seolah lagu tersebut tak ada niatan yang hendak disampaikan.

Namun ini ada info, setelah diadakan sedikit pencarian informasi, ternyata banyak lagu terutama syairnya adalah berupa sindiran kepada pemerintah, kawan, lawan (mungkin dalam bahasa sastra indonesia disebut satire).

Satire ini terdiri dari 2 bentuk, bentuk yang pertama adalah secara langsung, itu berupa sindiran kepada pihak pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat dan langsung menyampaikannya dengan kalimat yang telak. Kemudian yang kedua adalah berupa tidak langsung (kiasan), seolah-olah syair itu tidak ditujukan untuk menyindir seseorang namun setelah ditelaah ternyata kandungan sindiran ada didalamnya, dan biasanya bentuk sindiran (kiasan) inipun terbagi dalam beberapa bentuk.

Dalam dunia seni lagu batak hal ini juga sangat terlihat jelas. Perbincangan tentang hal ini pernah ramai dalam lingkungan artis dan pencipta lagu batak itu sendiri, beberapa diantaranya seolah berlomba untuk saling membuat syair syair yang menyampaikan isi hati penulis kepada pihak lain, dan yang tidak kalah serunya adalah “lawan” tersebut berada dalam lingkungan sendiri yakni artis/pencipta lagu batak, seru!!.
Lebih menarik lagi adalah bahwa sindiran (satire) dalam syairnya disampaikan secara halus dan tidak akan tampak pada orang orang biasa yang tidak mengerti arah tujuan dari si pencipta itu sendiri.

Nama nama pencipta lagu batak yang menurut kami sering mempunyai makna ganda dalam lagu lagu ciptaannya, sebut saja : Dakka Hutagalung, Bunthora Situmorang, Tigor Gipsy Marpaung, Jack Marpaung, Mangara Manik, William Naibaho, Rober Marbun, Yamin Panjaitan, dan masih ada nama lainnya.

Nah, to the point!, bukan suatu rahasia umum lagi bahwa dalam dunia artis batak kita mengenal sosok artis/penyanyi batak yang namanya Trio Lasidos. Kebetulan dua dari personilnya adalah yang sangat produktif dan aktif untuk mencipta lagu, yakni Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung.
Juga mungkin sebahagian besar diluar artis batak telah mengetahui bahwa kefakuuman Trio Lasidos tidak memproduksi lagu batak dari tahun 80an oleh karena terjadinya suatu kesalah fahaman diantara kedua belah pihak ini, untunglah baru baru ini ada orang batak (D.L. Sitorus) yang memfasilitasi agar diantara mereka terjadi rekonsiliasi, bisa rukun dan bergabung lagi dalam bendera Trio Lasidos.

Saya memulainya sedikit demi sedikit,
Jika diantara kita masih ingat lagu “Dewi” karya cipta Bunthora Situmorang, kira kira syairnya begini : “Anggo hatam tu au ito, natua tua mi do namamaksa ho, asa oloan mu tu tinodo nai mangido maaf ho tu au”, (Kalau kau mengatakan bahwa orangtua mu yang memaksamu untuk dijodohkan kepada orang pilihannya dan engkau datang minta maaf padaku).

Disini jelas kita akan terpaku terhadap kalimat, bahwa pengertiannya adalah yang sebenarnya tentang kepiluan seorang lelaki yang ditinggal oleh pacarnya.
Namun Bunthora memulai dengan kata sindiran halus. Pada saat itu ada suatu perseteruan antara dia dengan Jack Marpaung atas ketidak selerasan hubungan mereka secara group Lasidos, muncul dugaan pada saat itu Jack Marpaung membelot ingin mencari popularitas yang lebih dibanding dirinya. Dahulu dia sudah mulai mencari partner untuk bernyanyi dalam album batak tanpa sepengetahuan Bunthora, dalam dunia artis batak perlakuan seperti ini sangat tidak lazim, dari saat itu bahwa Jack Marpaung lah yang memulainya terjadinya seringnya pergantian personil dalam suatu group trio batak, hingga terbawa sampai sekarang ini.

Yang lebih tanpak adalah dalam Reff. lagu tersebut : “O Ale Dewi hasian, tung so pola au sega bahenon mu, alai pargabuson mi do hasian nasai hutangisi”, (Oh Dewi kasih ku, saya tak akan menderita karena perbuatanmu tapi yang selalu kusesali adalah kebohongan mu), mengapa saya berani mengatakan dalam lagu ini adalah sindiran kepada Jack Marpaung?. Anak tertua dari Jack Marpaung adalah Dewi Marpaung, jika saya Bunthora karena saya tidak sedang sreg dengan Jack, saya tidak akan membuat lagu seperti ini membuat nama anak teman didalamnya jika tidak ada unsur lain. Dan itu pernah ditanyakan beberapa orang terhadap Bunthora, tetapi dengan sopan dan halus Artis Batak senior yang sangat dihargai ini menjawab dengan diplomasi batak yang santun, namun sesekali dia mengakuinya terhadap teman dekatnya.

Sebenarnya banyak lagu Bunthora yang sedikit dan banyak menyinggung perseteruan mereka pada saat itu, dan umumnya lagu tersebut dikenal masyarakat banyak. Tapi saya akan ambil contoh lain yang bisa dipercaya kebenarannya, kenapa??, karena yah… percaya deh!.

Pernah mendengar judul lagu “Dang Lepelmu Au Ito??” lagu ini dibawakan pertama kali oleh Simanjuntak Stars dan sepertinya Bunthora tidak puas, dia kembali menyanyikan lagu ini bersama group “optional”nya pada saat itu bernama 3 Bintang, bersama Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.
Syairnya kira-kira begini : “Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi…. Dang lepelmu au ito”, (oleh karena kemiskinan ku itulah penyebab saya tidak menyampaikan rasa cintaku padamu, aku menganggap bahwa aku bukan levelmu). Jika kita selidiki syair lagu ini, adalah seolah olah bahwa seorang pria akan merasa berkecil hati oleh karena kemiskinan yang membuat dia tidak mampu mengucapkan rasa cintanya kepada seorang wanita.

Kembali Bunthora memulainya dengan halus, untuk menyampaikan bahwa dia sudah merasa berlapang dada selama ini yang membuatnya tidak menyampaikan seluruh gundau hatinya kepada Jack. Tapi sebenarnya ada yang perlu disampaikannya kepada Jack, yaitu bahwa dia bukan “lawan” yang setimpal buat Bunthora (khusus arti Dang Lepel ini sengaja dibuat terbalik untuk menekankan apa yang ada dalam hatinya). Bahwa dirinya lebih mempunyai keistimewaan yang dapat diandalkan:-).

Dalam Reff lagu tersebut : “Hape parsatokkinan do ito tu au holong mi, marsapata ma ito holong hi dibahen ho, alai so jadi mandele au ito, hutanda do ito dirikki dang lepel mu au ito”, (Tapi hanya sekejap cintamu padaku, tapi kaulah yang menanggung akibatnya, saya cukup mengenal diriku, kau bukan level ku). Kembali pengulangan kalimat bahwa Engkau bukan Level saya.

Pernah sekali seseorang bertanya bahwa syair lagu “Dang Lepelmu Au Ito” itu adalah ungkapan bahwa pihak lain lebih tinggi dari kita, dengan demikian bahwa Bunthora itu berada dibawah lepel Jack Marpaung?, buru buru Bunthora dengan nada yang lain menjelaskan, oh.. bukan, coba jangan baca semua syairnya.. tapi hanya menyebut “Dang Lepelmu Au” apa kesannya?, disitu pengertian yang saya ambil, katanya!.

Tidak lengkap jika saya hanya menunjukkan lagu lagu ciptaan Bunthora Situmorang yang menyerang atau membuat sindiran terhadap Jack Marpaung, tetapi hal sebaliknya juga banyak berseliweran di lagu batak, lagu ciptaan Jack Marpaung banyak yang mengandung sindiran sebagai balasan terhadap lagu Bunthora.

Tapi ada baiknya saya lanjutkan kemudian hari:-)

Tuisema Anakhon Hi Manjou Oppung

leave a comment »

Special Edition & Jack Marpaung

Special Edition & Jack Marpaung


Tuisema Anakhon Hi Manjou Oppung<<<=klik untuk mendengar dari YouTube

Huingot do ale inang
Uju di ngolumi
Marumur ma au ditikki i
sappulu taon
Manetek ma da ilumi
Manetek tu bohi hi
Ilu mi ma dibahen ho paboahon
Hapogoson ta i

Reff:
Saonari pe ale inang
Nungnga gabe au
Pahompu mi mok-mok sude
Boru hi ma namanuman rupa mi

Sai maraburan ilu hi
Ai sosanga ditanda rupa mi inong
Tu ise ma anakhon hi
Manjou oppung ooo opung

Written by lagubatak

June 22, 2009 at 11:30 am

Simanjuntak Stars

leave a comment »

Anda pernah mendengar petinju bayaran?, mereka tidak butuh gelar juara dan atribut lainnya yang penting mereka bertinju, kalah menang ada bayaran!. Sepertinya saya melihat persamaan itu dalam group yang satu ini. Karena dua dari tiga personil group ini menjadi penghias beberapa cover/sampul kaset/vcd yang sedang beredar sekarang sekarang ini.

Simanjuntak Stars itu sendiri terbentuk tahun 1998, waktu itu terbentuk atas keperdulian seseorang yang bermarga Simanjuntak untuk menunjukka bahwa Simanjuntak itu juga ada penyanyi yang patut dipertimbangkan. Personil mereka waktu muncul pertama sekali adalah : Nikson Simanjuntak (sekarang personil Lamtama), Max Simanjuntak dan Santer Simanjuntak. Lagu mereka yang disenangi masyarakan adalah “Dang Lepelmu Ahu Ito” ciptaan Bunthora Situmorang. Dinilai dari segi vocal, bukan karena saya marga Simanjuntak, mereka pantas dihardik untuk lebih disiplin lagi dalam memilih pasangan agar menjadi penyanyi favourite, kelemahan mereka hanya pada tidak adanya keseriusan tekad, sungguh sayang olah vocal mereka yang begitu prima berlalu begitu saja detelan oleh waktu.

Pada saat kehadiran mereka pertama sekali, banyak kalangan yang memandang sebelah mata bahwa trio ini hanya sekedar penghias atau pelengkap penderita di komunitas artis batak. tapi ada juga yang menaruh harapan bahwa mereka sebenarnya mampu untuk berhak menyandang penyanyi favourite tadi. Ternyata Benar! setelah mereka mengeluarkan album pertamanya, 5.000pcs kaset dalam waktu 2 minggu tersebar ke seluruh nusantara, menurut produsernya tidak kurang dari 25.000pcs kaset mereka beredar selama itu, jumlah peredaran kaset diatas rata-rata. Dan lagunya menjadi trend dan berhasil memikat perhatian, lagu mereka memang jarang dinyanyikan oleh penyanyi yang mempunyai vocal ‘biasa biasa saja’, karena range kunci yang dibuat oleh penulis lagu itu sangat cukup. artinya… pada intro lagu ini dinyanyikan dengan datar oleh Max, dan tiba saat reff 1 disambut oleh vocal nixon yang lumayan gelegar, nah tiba tiba dalam reff klimaks nya barulah vocal yang klimaks dan cukup tinggi yang dimiliki Santer menyambar dengan menghentak nada tinggi.

Mereka dapat cepat mengambil perhatian pendengar musik/lagu batak, lagu Dang Lepelmu Ahu Ito menjadi salah satu lagu yang sering terdengar di cafe-cafe atas permintaan pengunjung. Namun penyanyi banyak yang sulit membawakan lagu ini seperti yang dibawakan oleh mereka dengan pertimbangan “range” tadi, dari nada rendah yang tiba tiba menukik nada klimaks. Mereka sempat menerbitkan 2 album batak dengan Simanjuntak Stars.
Tapi sayang pada tahun 2000 salah satu personil trio ini harus mengundurkan diri untuk sementara dengan masalah pribadi, Max harus bersedia menanggalkan dunia nyanyi, saat itu dia tidak sadar bahwa pendengar sedang menunggu kehadiran mereka pada album album berikutnya. Pada saat alpanya Simanjuntak Stars itulah muncul Trio Lamtama dengan lagu “Unang Bolokkon Tanda Hi”. yang juga beranggotakan Nikson Simanjuntak sebagai leader vocal juga.

Pada tahun 2005, kembali Max mencoba untuk menapakkan kakinya masuk dalam dunia penyanyi lagi dalam dunia rekaman, bermaksud muncul lagi dengan formasi personil yang berbeda, karena Nikson Simanjuntak sudah menjadi pusat perhatian penikmat lagu batak dengan baju Trio Lamtama dan telah dikontrak oleh salah satu produser lagu batak, tidak diperbolehkan untuk bernyanyi di group group lain untuk sarana kaset/vcd.

Kini Simanjuntak Stars muncul dengan formasi baru : Halim Simanjuntak, Max Simanjuntak dan Santer Simanjuntak dengan album volume 3, lagu “Pabagas Tanoman” ciptaan Soritua Manurung, album ini menarik dan mampu juga menandingi album album sebelumnya, namun karena lalulintas peredaran lagu batak dalam warna trio sangat sibuk (baca:padat), maka mereka sepertinya tidak terdengar, namun mereka dengan setia mengikuti trend.
Pada penampilan show mereka di cafe cafe jakarta menggantikan kehadiran Max dengan Budiman Simanjuntak, dan mereka merubah nama kalau show di cafe cafe jakara menjadi El-Junt Stars, nama ini diambil dari kedua group yang mereka ikuti. Nama group mereka lainnya adalah Eljunt Voice, dengan beranggotakan : Halim Simanjuntak, Ganda Simanjuntak dan Santer Simanjuntak, mereka mengambil jalur dengan membawa lagu kenangan pop Indonesia “Jangan Biarkan” ciptaan Hanny Tuheteru. mereka bergabung dengan Ganda Simanjuntak adalah salah satu perwira TNI yang sekarang sedang bertugas di Markas TNI Bukit Barisan Medan, sampai video clip mereka pun menyertakan TNI yang pintar menari. Mudah mudahan apa yang saya jelaskan sebagai penyanyi bayaran tadi bisa anda pahami dengan keterangan ini.

Belum selesai sampai disitu, Halim dan Santer juga pernah menjadi salah satu penyanyi yang dibayar jauh melebihi honor penyanyi batak umumnya, pada saat mereka membawakan lagu “Biar Biarlah Sedih” ciptaan Rinto Harahap dengan membawa bendera Trio Delta bersama Tony Pakpahan, album ini terangkat atas ketertarikan salah seorang batak yang berprofesi sebagai Hakim marga Sihombing, keranjingan dengan lagu “Rasa Cinta” yang juga terdapat dalam album tersebut dengan vocal bariton-nya, dia rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk pembuatan album ini yang akhirnya menjadi suatu preseden buruk bagi produser produser lain untuk kerjasama dengan pihak distributor Virgo Records saat itu.

Tampaknya belum puas juga, Halim dan Santer bersama Budiman Simanjuntak personil yang menemani mereka bernyanyi di cafe cafe jakarta, akhirnya mengeluarkan sebuah album batak lagi “Sipanganon Na Tabo” ciptaan Soritua Manurung, namun sayang album ini tidak bisa memuaskan pasar mereka seperti yang mereka lakukan dengan Simanjuntak Stars.

Simanjuntak Stars sendiri telah mengeluarkan beberapa album mereka lainnya dengan bendera Wahana Records, diantaranya “Album Special bersama Jack Marpaung” dengan lagu Tuisema Anakhonhi Manjou Oppung ciptaan Jack Marpaung, disusul dengan “The Best Juntak Stars” dengan mengambil hits “Tangis Di Pesta Natal” ciptaan Johannes Hutasoit dan “Tataring Parapian ciptaan Yamin Panjaitan.

Menurut informasi yang dipercaya, bahwa Simanjutak Stars telah melakukan pengisian vocal dengan pihak Wahana Records sebanyak 7 album, termasuk dengan lagu lagu rohani dan album volume 4 mereka yang belum dipasarkan. Kami sedang menuggu waktu yang tepat dan itu akan terjadi secepatnya, demikian produser Wahana Records menjawab ketika ditanya apa rencana selanjutnya dengan keberadaan Simanjuntak Stars.

##

Written by lagubatak

February 5, 2009 at 4:22 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers