Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Angkola Voice

with 3 comments

Baru saja lahir era baru terhadap audio, musik dan visual untuk lagu tapsel (mandailing) yang membuat kita berdecak dan patut mensyukuri kehadiran teknologi untuk dunia seni suara. hal ini beralasan untuk dinyatakan karena baru baru ini sebuah group yang menamakan dirinya “Angkola Voice” menancapkan cita cita mereka untuk membangun jika berlebihan menyebutnya memperbaiki citra dan eksistensi musik tapsel di dunia rekaman.

Pada umumnya banyak dijumpai keunikan (perbedaan) dalam musik tapsel, artinya berbeda dengan musik puak batak lainnya : karo, toba, dan simalungun karena ketiga puak yang baru disebutkan ini terdapat kemandirian yang utuh atas musik daerah masing masing. Dalam musik karo kita akan menemukan kesendirian tanpa mengadopsi musik musik dari luar terlepas dari asal muasal mereka berada. sedangkan batak toba nyaris tak ada yang dapat menilai bahwa musik mereka didapatkan dalam musik musik etnis lainnya, kalaupun ada itu hanya modifikasi beberapa pelaku atau musisi yang ingin memoderenkan kehadiran musik batak itu sendiri yakni mencampurkan keragaman alat alat musik yang terdapat didunia luar. Sedangkan musik dan lagu tapsel, sungguh banyak bersinggungan dengan musik dan warna dari daerah daerah tetangga sekitar yang mempengaruhinya, sebut saja misalnya, minang dan melayu… Anda yang mendengar musik dan lagu tapsel saat ini, harus membutuhkan waktu sesaat untuk meyakinkan bahwa yang sedang anda dengar itu adalah lagu tapsel, dari kalimat dan jenis melantunkannya. Dahulu memang ada salah satu simbol yang menandakan bahwa musik tersebut datangnya dari tapsel (mandailing) karena mempunyai ciri khas tersendiri, itulah yang dinamakan “onang-onang”. sipelantun dapat menggabungkan beberapa kata dan kalimat dirangkai menjadi suatu syair namun bukan merupakan keutuhan dalam satu lagu (akan berbeda kalimat bila dilantunkan kemudian), hampir sama disandingkan dengan bentuk “mangandung” dalam batak toba.

Mungkin itulah yang dimaksud dengan era baru dan perbaikan yang ingin dibangkitkan oleh Angkola Voice, jatidiri lagu, musik dan pola penampilannya. dari segi musikalitas, walaupun memang tidak menghadirkan tradisi yang kolot, namun terlihat bahwa mereka ingin menyandingkan musik tapsel itu dapat menempuh batas batas daerah seperti musik batak toba yang sebelumnya telah dikenal luas diluar masyarakat batak sendiri.

Sebut saja contoh, salah satu lagu yang terdapat dalam album mereka adalah lagu “Kijom”, lagu ini adalah salah satu roh yang memikat siapapun pendengarnya, tidak peduli anda pernah mendengar lagu itu sebelumnya ataupun baru saja mendengar. si arranger/musisi ingin membuat “benchmark” yang tidak terdapat pada musik musik daerah lainnya namun utuh bahwa inilah yang disebut musik tapsel dengan menampilkan modernisasi didalamnya. Terlebih pula adalah cara mereka menyanyikannya, sipenata vocal nampaknya mengerti bahwa awal mula musik mandailing terdapat dalam ‘nafas’ onang-onang, maka dalam bait bait tertentu alunan onang-onangnya nampak nyata dalam beberapa ‘bar’ dari keseluruhan lagu.

Biasanya dalam hal revolusi (perubahan) dibutuhkan proses yang tidak mudah, termasuk dalam hal musik dan lagu, namun jika kita setuju bahwa revolusi itu selalu membawa nilai positif bagi penikmat dan seluruh pengguna. Walaupun kadang memang harus diyakini bahwa perubahan itu menjadi cemoohan terlebih dahulu namun akan diaminkan jika mayoritas menyetujuinya dengan baik. kira kira itu yang tersirat dari beberapa analisa atas album ini.

Namun secara nyata mereka dapat menyampaikannya dengan perbuatan atau pekerjaan yang telah mereka hasilkan, baik dari segi musikalitas, audio, visual dan artikulasi agak berbeda dari musik dan lagu tapsel yang pernah ada, dan perubahan itu diterima banyak pihak, karena menurut informasi setelah album mereka diluncurkan dalam waktu 1 (satu) minggu VCD yang mereka keluarkan sudah diatas rata-rata peredaran lagu tapsel lainnya, suatu hasil yang perlu dibanggakan dari segi pasar.

Ddalam album ini Angkola Voice menampilkan 12 buah lagu, 3 judul lagu diantaranya adalah lagu kenangan yang dimaksudkan sebagai tolok ukur darimana mereka beranjak untuk mensejajarkan sentuhan yang mereka lakukan. 9 buah lagu didalamnya adalah lagu ciptaan baru yang pantas untuk dinikmati.
1. Parjalang, 2. Batang Galoga, 3. Kecewa, 4. Marsak, 5. Rara, 6. Sangolu Sahamatean, 7. Tolu ari nai nama, 8. Supir Lintas, 9. Posma Roham, mayoritas lagu tersebut ciptaan Ali Rahmat Siregar, salah seorang pendatang baru yang pantas diperhitungkan untuk berkarya dalam lagu tapse. Sedangkan 3 judul lainnya adalah : 1. Sitogol (salah satu lagu tapsel yang selalu dinyanyikan oleh batak toba), 2. Kijom, 3. Bollo Bollo.

Saya tertarik untuk ingin membuktikan penjelasan diatas atas hasil kerja mereka, diantaranya adalah lagu Kijom yang dibawakan dengan baik dan tidak menghilangkan jatidiri lagu tapsel itu sendiri.

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 18, 2010 at 10:20 am

Sihumisik Parsiboras (Togama Trio)

with 45 comments

Sadia, sai sadia
Da leleng nai tu ambarita
Da leleng nai tu ambarita
Sadia leleng nai da inong
Da taonon hu menderita

Sihambir gabe gambir
Tandiang i ma gabe boras
Tandiang I ma gabe boras
Tudia pe au laos so tampil
Tu aha pe au laos so bolas

Sai tudia ma luluan da inong
Da sihumisik parsiboras

Boasa ma ale inang
Boasa ma ale amang
So dulo on mu anak mon
So dulo on mu pahompu mon

Hape massai leleng
Tar paima ima hami
Amang sodap nai
Molo huida ho di lambung hi

Written by lagubatak

February 16, 2010 at 11:43 pm

Laos So Margorak do Roham

with 4 comments

ini adalah ratapan dari seorang ibu yang sedih melihat menantu perempuannya yang ditinggal oleh anaknya pergi merantau, saya yakin hal ini terjadi pada kehidupan nyata dan dituangkan dalam sebuah lagu oleh penulis lagu Soritua Manurung.

ceritranya, setelah anak si ibu ini lama merantau tak memberi khabar apapun kepada istri dan anaknya, dia begitu tega melupakan ucapan anak kecilnya pada saat dia diberangkatkan ke perantauan di loket terminal bus bintang utara yang membawa dia pergi, kira kira begini kata kata anaknya kepadanya “cepat pulang ya pak?”.

si ibu meratapi kegalauan hati menantu perempuannya, dan menyampaikan pesan kepada anaknya “apakah tak tergerak hatimu melihat anakmu” yang selalu memanggil bapak?. si ibu tidak menyangka perubahan hati anaknya itu………

lagu ini dibawakan oleh trio batak pendatang baru dari pekanbaru, namanya trio togama

inilah lagunya :

Laos So Margorak Do Roham

Tung so hurippu do
Naikkon muba roha mi anakhon hu
Burju roha ni parumaen hi
Paborhat ho tu tano parjalangan mi
Hape laos so adong do baritam
Songon pasombu siohol ni pahompu hi

Hurippu do amang
Diingot ho iluni parumaen hi
Napataruhon ho naujui
Da tu terminal loket ni bintang utara i
Maradu mokkik okkik gelleng mi,
Didok tu ho…….(tibu ho mulak da bapa)

Holan marningot i pe ho nian
Da tung so tangis ho di parjalangan mi
Hape malano do roham amang
Lupa do ho diparumaen nang pahompu hi

Dang tarpaida ida au
Iluni parumaen hi alani ho amang
Bapa bapa on ma gelleng mi
Masihol mida ho amang
Laos so margorak do roham
Dijou jou ni akka pahompu hi

Written by lagubatak

February 14, 2010 at 9:11 pm

Bollo Bollo (Hery Matondang)

leave a comment »

Lagu Bollo Bollo adalah lagu yang tadinya dibuat untuk komedi dan yang pertama menyanyikannya adalah Dongan Silitonga, salah seorang artis senior batak yang terkenal dengan plesetan lagunya, hampir seluruh lagu bisa dia plesetkan dengan baik dan membuat orang bisa tertawa terpingkal pingkal, tidak peduli sesering apakah lagu itu dinyanyikannya.

Bollo Bollo ciptaan Fredy Tambunan seorang pencipta yang produktif sampai saat ini, thema lagu ini sebenarnya untuk memberi peringatan/pembelajaran kepada seorang gadis yang dianggap materialistis (matre, red). namun dengan lekukan suara dongan, pesan itu hilang dan menjadi bahan komedi yang segar dan enak dinikmati. pada tahun 2005 Trio Lamtama kembali mengangkat lagu ini dan mendapat tempat dalam tangga lagu batak.

Kali ini, ada yang mencoba lagu ini disadur dalam bahasa Tapsel dengan nilai komedi yang sama, bahkan untuk kali ini mempunyai khas yang terdapat di daerah tapsel itu sendiri yang juga dibawakan oleh Hery Matondang dalam album Angkola Voice, vocalnya bagus dan penyampaian pesan pun hampir dikatakan sempurna.

Bollo Bollo

Bollo ma bollo bollo da
Bollo ma bollo bollo da
Tung madung sega au anggi sega di roha
Tung madung teleng au anggi teleng sabola
Bollo Bollo

song 1
Waktu kenek motor au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

song 2
Waktu tukang tempel au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

Reff. 1
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku kenek motor do
Manggoda ho

Reff.2
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku tukang sorong do
Manggandeng ho

song 3
Hape ndung jadi toke au
Ro ma ho mandapotkon au
Sattabi ma, sattabi ma
Jolo di ho.

Written by lagubatak

February 13, 2010 at 4:29 am

Sitogol (Hery Matondang)

with 4 comments

Saya kurang jelas mengetahui, apakah Nahum Situmorang mengerti bahasa Tapanuli Selatan, karena lagu Sitogol itu adalah berbahasa Tapsel walaupun tidak sekental kita mendengar orang tapsel dari sibuhuan berbicara sehari hari.

Lagu Sitogol adalah salah satu lagu legenda dari Tapanuli Selatan dan konon lagu ini adalah ciptaan Nahum Situmorang, yang mengherankan orang tapsel tidak pernah mengabadikannya dalam bentuk kaset/vcd, namun selalu dinyanyikan oleh Batak Toba, Kali ini terobosan baru datang, album yang menamakan dirinya Angkola Voice dengan bintang tamu Hery Matondang datang membuat sejarah baru dalam lagu tapanuli selatan.

Hery Matondang yang membawakan lagu Sitogol dalam album tersebut tampil dengan prima dengan olah vocal ala “rock” yang mempunyai suara khas serak serak memikat itu, beliau ingin memperkenalkan dan mengatakan bahwa lagu Sitogol itu adalah milik orang Tapanuli Selatan walaupun penciptanya adalah orang Toba.

Simak dan dengarlah lagu ini, secara pribadi jujur saya menilai bahwa seharusnya gaya dan penampilan sewaktu membawakan lagu ini adalah seperti yang dibawakan oleh Hery Matondang……. mari kita simak!!

Sitogol

Adong ende hu najeges dabo
Hu oban tingon mandailing godang do
Jeges lagu na boto on momo
Sitogol goar na sitogol dabo

Beha ma lak na lagu na dabo
Sarupa doi tu onang onang do
Atia margembira bo pe marsak ho
Marsitogol sitogol goar na dabo

Tingon mandailing godang do
Asal mula ni sitogol do
Marsak bo pe margambira ho
Marsitogol sitogol goar na dabo

Written by lagubatak

February 10, 2010 at 11:04 am

Kijom (Tapsel Madina)

leave a comment »

Lagu ini adalah salah satu lagu yang digunakan nenek moyang dari daratan tapanuli selatan pada saat peperangan dahulu untuk melawan musuh2. Lagu ini penuh dengan semangat perjuangan dan merupakan salah satu lagu yang memiliki ‘roh’ semangat akan mengingat betapa kayanya perbendaharaan khasanah budaya batak. Tidak percaya?? mari simak!

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 10, 2010 at 1:33 am

Cellphone/pulsa vs Kaset/VCD (dari sudut ekonomi)

with 2 comments


Hello, today is 3rd February 2010 isn’t it?

Rasanya agak asing kadang kadang melihat satu tulisan yang membahas tentang perekonomian dalam blog yang menamakan dirinya mengenai lagu batak, ibarat bensin dengan ban, sama sekali tidak ada hubungan, namun keduanya mempunyai peran yang mendasar terhadap lajunya kendaraan, jika bensin mobil anda kosong mustahil anda bisa mengendarainya dengan nyaman, demikian juga halnya dengan ban, maka tak terbayangkan jika keduanya tidak saling menopang satu dengan yang lainnya.

Bah, lagu batak dengan ekonomi apa hubungannya parlapo?, yah.. itulah yang ingin kita hubungkan sampai nampak benang merah dan putihnya agar orang lain bisa melihat dari sisi titik awam se awam awamnya, karena bahasan yang ingin saya sampaikan ini akan berusaha untuk mengupas dari titik ilmu yang rendah seperti yang saya miliki ini, mungkin jika elmu saya sudah tinggi blog ini pun tak perlu lagi dibuat, tinggal membuat papan nama besar2 di salah satu gedung bertingkat dibilangan jakarta selatan dan saya akan menamakan diri sebagai ‘konsultan’,:-)

Saya mengamati dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak sudah stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah nampaknya gagal diterapkan untuk mendongkrak daya saing ekonomi masyarakat indonesia dibanding dengan ekonomi rakyat negara negara berkembang lainnya, dari mulai padat karya, bantuan permodalan, bantuan ekonomi usaha kecil dan menengah yang jalan ditempat, bahkan dananya terus menggelembung tanpa mendapat hasil positif dari masyarakatnya terutama masyarakat kecil. masyarakat miskin kita tak pernah beranjak dari tempatnya menjadi ‘pengusaha’ dan mereka tetap berdiam ditempat mereka berada, apakah mereka tau dan mengerti, usaha yang dilakukan pempimpin itu adalah tujuannya untuk mensejaterakan mereka?, kalau tau mungkin mereka akan ikut berbondong bondong datang ke gedung kepah yang ada di senayan sana untuk menuntut agar penerapannya diberikan secara tunai dan langsung, hehehe mungkin akan ada yang mengusulkan agar dibuat system pemilu saja.:-) maksudnya pembagiannya terbuka, jujur dan adil.

Saya menganggap masing2 kita mengerti bahwa pemerintah itu adalah sebagai kontrol (penyeimbang) terhadap ekonomi yang berjalan di dalam negeri, misalnya pemerintah memberikan fasilitas infrastruktur (jalan, listrik, kenyamanan) agar masyarakat dapat lebih produktif, pemerintah membuat undang undang agar masyarakat tidak saling sikut menyikut melakukan aktifitasnya, pemerintah membuat peluang agar masyarakatnya tergoda (tergugah) untuk melaksanakan roda perekonomian, selebihnya itu diserahkan kepada masyarakat dan yang lebih penting, pemerintah tidak dapat memaksa agar masyarakatnya lebih giat lagi. namun masyarakat dapat serta merta meng-kalim pemerintah tidak bekerja dengan penuh untuk kehidupan perekonomian masyarakat.

Ketika krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997, pemerintah sudah barang tentu bekerja dengan keras agar ekonomi tidak melampau titik yang mengkhawatirkan, disamping krisis ekonomi, krisis kepercayaan terhadap pemimpin pun menggeliat dengan kerasnya, maka timbul perpaduan krisis tingkat tinggi, ekonomi, moral dan kepercayaan. ketiganya punya andil yang besar membuat bangsa ini terpuruk sampai titik yang terendah.

Namun adakah diantara kita yang pernah berfikir, bahwa sebenarnya yang membuat semua itu adalah masyarakat itu sendiri?, seperti yang saya jelaskan bahwa pemerintah adalah sebagai penyeimbang terhadap perlakuan ekonomi sedangkan pemeran utamanya adalah masyarakat.

Contoh, jika anda menabung uang anda dalam sebuah bank, pemerintah sama sekali tidak berhak dengan tabungan anda itu, bahkan berdasarkan undang undang maka pemerintah diwajibkan untuk menjamin tabungan anda itu aman dan jika terjadi ‘malapetaka’ dalam bank itu uang anda tetap akan dapat diambil tanpa berkurang sedikit pun. betapa baiknya sebenarnya pemerintah itu.

Contoh lain, jika anda ingin memiliki sesuatu barang mahal yang sebenarnya tidak harus anda miliki jika anda memiliki uang yang cukup membeli, pemerintah tidak pernah dapat mencegah anda untuk membelinya walaupun hal itu berpotensi untuk membuat kegaduhan dalam system perekonomian dalam negeri. misalnya jika anda ingin memiliki mobil mewah yang di import dari negara tertentu dengan harga yang tak masuk akal, oh ya… itu terlalu sulit dicerna, yang lebih umum adalah jika anda ingin memiliki telepon genggam merk “blackberry” tak pernah saya melihat pemerintah melarang masyarakat untuk mengurungkan niat membeli alat canggih itu, padahal…… menurut saya, itu potensi untuk membuat kegaduhan dalam perekonomian masyarakat.

Pada tahun 1993 sewaktu saya baru memiliki telepon genggam ber merk errickson yang bisa membuat kucing mati jika dilempar pakai benda itu, waktu itu saya membayangkan bahwa suatu saat akan ada salah satu perusahaan yang membuat heboh masyarakat indonesia dengan pasar sejenis ini, waktu itu saya sudah membayangkan bahwa seorang tukang becak, tukang kebun, tukang sayur akan leluasa ber hallo ria dengan temannya diseberang sana hanya menanyakan apakah dia sehat sehat saja disana. nah sekarang bayangan saya itu terbukti, tidak heran seorang penarik becak sibuk dengan fitur fitur telepon genggamnya mencet-mencet sms sampai dia lalai untuk bekerja.

Booming telepon genggam terjadi pada awal tahun 1996 saya tidak dapat memastikan bahwa sebenarnya ada hubungannya dengan keterpurukan ekonomi, tapi jika ada yang memusatkan fikiran untuk membuat analisa ini, saya yakin minimal 20% keberadaan telepon genggam lengkap dengan pulsa dan peralatannya adalah pemicu keterpurukan ekonomi masyarakat.

Alasannya apa parlapo?, dahulu sewaktu kita belum mengenal benda ini kita masih produktif dan masih dapat memberikan waktu kita untuk maksimal bekerja 80% dari nilai produktifitas kita, tiba tiba benda keramat itu telah menyita perhatian dan tenaga kita hampir 40%. tolong nanti diamat amati dengan keberadaan anda dengan telepon genggam anda sendiri, berapa kali anda memegang, mencet, menerima telepon, mengisi pulsa, itu adalah biaya langsung yang sadar atau tidak yang mengurangi isi kantung anda dan membuat pekerjaan anda terganggu. sangat jauh jika dibandingkan dengan sebelum benda asing itu ada.

Perlakuan itu sebenarnya akan sangat positif jika kita hubungkan dengan ‘echo-system’ ekonomi kita, artinya jika kita mengeluarkan uang yang besar, jika kita produktif maka kita akan mendapatkan juga nilai/hasil yang besar, dengan catatan jika itu semua dilakukan dan menjadi produk dalam negeri, namun akan lain hasilnya jika uang yang anda keluarkan itu akan dibawa oleh seseorang berkarung karung ke negaranya sana tanpa memberikan keuntungan bagi anda. maka kita telah terlena dan tergoda dengan ‘mainan’ yang mereka suguhkan tanpa memikirkan dampak yang timbul dikemudian hari.

Jika anda adalah pengguna salah satu merek terkenal ‘blackberry’, gaji anda sebulan dengan Rp.5jt menurut saya itu adalah suatu pemaksaan yang tidak perlu terjadi, dengan kata lain bahwa anda telah mengizinkan orang lain datang dengan karung besar dan menyuruh anda memasukkan uang anda dalam karung itu, dengan tenang dia membawa karung itu dari hadapan anda ke negaranya, tanpa menambah produktifitas anda atas barang tersebut. matilah kita!.

Saya tidak pernah mengambil referensi sudah berapa banyak sebenarnya jumlah telepon genggam di indonesia dan berapa harganya, berapa biaya pulsa setiap bulan dari kumulatif masyarakat, dibandingkan dengan nilai produktifitas kita keseluruhan, apakah masih seimbang?, menurut saya tidak…. dan jawabannya tidak berbanding lurus.

Lagu batak?, dahulu sewaktu penjualan pulsa telepon belum se-marak sekarang ini, penjualan kaset/vcd masih bisa dikatakan menarik dari segi perekonomian, karena rata rata produksi masih kembali modal (break even point), sekarang pulsa adalah musuh utama penjual kaset, ibu ibu dan anak muda akan mudah mengurungkan niatnya untuk membeli kaset jika dia melihat pulsa cellponnya sudah menipis. sedangkan menurut saya bahwa yang terkandung dalam kaset/lagu itu hampir 90% adalah muatan lokal yang sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat secara positif.

Padahal jika saya sebagai seorang produser berhasil mengambil uang dari kantong anda, tentu saya pada gilirinanya akan mengembalikannya lagi kepada anda dengan cara yang berbeda, misalnya : uang tersebut akan saya jadikan lagi proyek untuk membuat album yang lain, membayar artis, membayar pemusik, membayar pencipta, membayar honor lainnya, siapa tahu diantara yang saya sebutkan tadi adalah berhubungan dengan anda, maka terjadilah yang dinamakan ‘echo-system’ perekonomian yang positif dan dapat saling menopang satu dengan yang lainnya, maka terjadilah ekonomi masyarakat yang madani.

bah, nga mondok ondok be au hape……….. ai aha do hupandokkon sian nakkin???

modom ma jolo ate…, hehehehe

horas ma.

Written by lagubatak

February 3, 2010 at 4:54 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers