Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Archive for the ‘Politik’ Category

Mata Baru, Semangat Baru

leave a comment »

Tulisan ini di-unduh dari salah satu note seorang motivator St. Jansen Sinamo. Penting untuk dilihat karena mencakup beberapa sejarah yang ada di tanah batak. semoga beliau berkenan dengan pengu-unduhan secara sepihak, tanpa meminta persetujuan. Namun karena nilai yang terkandung didalamnya yang membuat saya berani melakukannya:)/

Pertengahan Juni 2007 yang lalu saya berkunjung lagi ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Saya bermaksud mengikuti puncak acara peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII, yang tewas di ujung bedil Belanda pada 17 Juni 1907. Sebagai Sekjen Yayasan Pencinta Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini berbeda. Dulu saya melihat daerah ini dengan mata ekologi dan geologi. Kali ini saya melihatnya dengan mata sejarah.

Dengan mata ekologi saya tak putus takjub dengan fenomena alam Danau Toba. Geologi menakrifkan danau ini terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu tatkala Gunung Toba purba meletus sambil menghamburkan 800 km kubik material ke angkasa. Bandingkan dengan Gunung St. Hellens, Pinatubo, dan Tambora yang masing-masing cuma melontarkan 0.2, 4, dan 20 km kubik saja. Letusan Gunung Toba adalah salah satu ledakan terdahsyat yang pernah terjadi di bumi, nyaris memusnahkan umat manusia. Kaldera yang ditinggalkannya itulah yang kemudian menjadi Danau Toba, 110 km panjangnya membujur miring dari barat laut ke tenggara.

Selama 10.000 tahun selanjutnya, magma terus mendorong—meski tak lagi sanggup bikin ledakan—lalu mendongkrak kulit bumi sehingga menggembung di atas muka danau: dan hatta, lahirlah pulau Samosir!

Ribuan tahun selanjutnya bekas-bekas ledakan kolosal itu hilang perlahan oleh tutupan vegetasi dan kemudian menghutan lalu berganti rupa menjadi situs ekologi yang biru dan hijau, subur dan cantik menawan, seperti yang dengan menggetarkan dikidungkan Nahum Situmorang.

Kemudian, di sekitar abad ke-14 atau 15, beberapa rombongan manusia merambah naik ke kawasan ini, bermukim di sana, lalu menjadi sebuah masyarakat yang kini disebut sebagai orang Batak. Saya tak putus-putus mensyukuri temuan alam para nenek moyang itu yang menjadi situs ekologis kelahiran jutaan putera-puteri Batak: banyak yang jenderal dan profesor, guru dan pendeta, politikus dan birokrat, seniman dan intelektual, pengusaha dan pengacara, sopir dan kondektur; termasuk dinasti Sisingamangaraja yang bertahta di Bakara, dan tentu: saya sendiri juga.

Dari ketinggian bukit makam resmi pahlawan itu saya memandangi Balige dan sekitarnya. Saya mengingat ulang kisah perjuangan Sisingamangaraja XII: khususnya episode pertempuran Bahal Batu yang pertama. Saya bayangkan ribuan pasukan Batak bertempur di pallagan Balige itu dengan bedil-bedil sederhana melawan pasukan Belanda yang telah bersenjata otomatis bahkan bermeriam. Dengan menunggang Sihapaspili, kuda putihnya, Raja Batak yang masih belia itu tampil gagah ke medan laga. Namun sungguh sial, bahu kirinya tertembak. Ia kalah, lalu mundur teratur. Namun sejak itu, selama 30 tahun ia terus melawan secara gerilya dari hutan-hutan kawasan barat daya Danau Toba. Tetapi, akhirnya ia tewas pada 1907 mempertahankan kebebasannya, kedaulatan negerinya, dan martabat bangsanya. Saat tafakur mengheningkan cipta di depan makam Soposurung itu, tanpa bisa dicegah air mata saya merembes deras: terharu, bersyukur, dan bangga sekaligus. ***

Dari ketinggian surga sana Allah melihat dunia. Ia menyaksikan derita manusia. Mata yang penuh belas kasihan itu tidak tahan lalu mengutus putera-Nya yang tunggal. Sang putera itu kemudian mengundang manusia: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”Begitulah mata Tuhan melihat Anda dan saya. Ia tahu derita dan sedih-pedih kita. Ia melihat dan menunggu kita. Mari datang dan berlabuh di haribaan-Nya. Ia tahu harapan dan rindu-cita kita. Ia melihat dan menunggu kita. Mari memandang, datang, dan berharap akan rahmat-Nya.

Mari memakai mata Tuhan sebagaimana Abraham melihat dengan mata Tuhan. Meski janji Tuhan tampak mustahil, namun Abraham tidak bimbang. Ia memutuskan melihat kondisi hidupnya sebagaimana Tuhan melihatnya. Ia percaya dan terus menanti penuh iman akan janji-Nya.

Mari memakai mata Tuhan sebagaimana Daud melihat dengan mata Tuhan. Meski jauh-jauh hari telah diurapi Samuel, namun prospek menjadi raja tampaknya justru mustahil sementara ia malah jadi buronan raja Saul yang makin tua makin menderita neurosis. Namun Daud tidak bimbang. Ia memutuskan melihat kondisi hidupnya sebagaimana Tuhan melihatnya. Ia percaya dan menanti penuh perjuangan akan janji-Nya.

Ketika saya melihat dan menghayati Danau Toba sebagai medan laga bagi pejuang-pejuang Batak melawan Belanda, maka Sisingamangaraja XII menjadi riil di hati saya. Saya rasakan ia begitu dekat, menghayati emosi dan pikirannya, dan terinspirasi olehnya. Karenanya, saya lebih mencintai Tanah Batak [dan Indonesia] yang diperjuangkannya.

Ketika saya melihat hidup saya dengan mata Tuhan sebagaimana Tuhan melihatnya: bahwa Ia sedang bekerja di dalam dan melalui diri saya, maka Tuhan begitu riil di hati saya, sehingga sukacita, keberanian, serta semangat baru melimpah ruah dari dalam jiwa saya.

Terimakasih Tuhan, Engkau sungguh baik, bisik saya mantap, dengan wajah sumringah!

Written by lagubatak

September 21, 2010 at 12:22 am

Sinaga Bersaudara

with one comment

Saya terusik dari beberapa email dan pesan dari beberapa pengunjung untuk menulis lagi artikel tentang trio trio batak yang sedang aktif sekarang ini bahkan yang pernah aktif sekedar meramaikan kancah dunia lagu batak hari hari sebelumnya. Dan kebetulan hari libur yang panjang ini membuat waktu saya cukup untuk memnulisnya dengan tujuan sekedar berbagi informasi yang ada pada saya yang mungkin perlu juga diketahui khalayak ramai.

Sinaga bersaudara disingkat dengan 7naga, yang dalam bunyi notasi nada ’7′ adalah ‘si’ maka tersebutlah 7naga untuk menabalkan nama dari Sinaga Bersaudara untuk ikut meramaikan kancah dunia lagu batak, group ini berdiri sejak tahun 1989 dengan beranggotakan Maruli Sinaga, (alm) A. Benny Sinaga dan Johan Sinaga. Jika anda adalah penggemar lengkingan power vocal yang mendayu dayu dipadu dengan vocal falset yang cukup tajam namun menyayat hati group ini adalah salah satu contoh yang memiliki perpaduan tersebut dan merupakan vocal yang nikmat didengar apabila lagu yang dipilih adalah berthema andung andung.

Ada beberapa keunggulan group ini yang lebih dominan, diantaranya adalah seperti yang saya telah sebutkan sebelumnya perpaduan lengkingan leader vocal yang dilakoni Maruli Sinaga dengan lapisan vocal falset dari Johan Sinaga yang dipercaya sebagai suara 3. Disamping itu juga dalam formasi suara 2 dipercayakan kepada sang pencipta lagu kawakan pada jamannya yakni (alm) A. Benny Sinaga yang terkenal dengan lagunya Lobi Sappulu Taon, bahkan dalam album pertama mereka lagu yang mereka bawakan seluruhnya adalah lagu hasil karya A. Benny Sinaga (termasuk didalamnya adalah Lobi Sappulu Taon).

Perjalanan karir mereka tidak banyak yang mengetahui selain dari orang-orang yang betul betul mengerti bagaimana bisnis kaset pada zamannya, karena disamping mereka tidak begitu aktif untuk mengikuti show-off pada acara acara tertentu seperti layaknya penyanyi penyanyi lainnya. Karena mereka lebih tertarik dalam bisnis diluar tarik suara bahkan lebih cenderung mengandalkan bahwa dunia tarik suara adalah sebagai penopang bisnis lainnya bahkan jika malu disebut sebagai sekedar untuk memuaskan hobby yang telah mengalir dalam tubu mereka.

Sebelum A. Benny Sinaga menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 2005 yang lalu, mereka sempat menerbitkan tidak kurang dari 3 album. 2 album dalam pop tapanuli dan 1 album kemudian diterbitkan dalam pop kenangan indonesia. Jika diantara anda ada yang mengenal sosok Abi Besok, seorang pengusaha taipan yang berdomisili di Tanjungbalai, maka mereka cenderung akrab, bahkan dalam beberapa klip album pop indonesia mereka, lokasi yang diambil adalah lokasi dimana rumah Abi Besok yang berada di Tanjungbalai, hal itu menandakan bahwa kehadiran mereka dalam kancah dunia tarik suara dapat menarik perhatian dari kalangan pengusaha taipan.

Pada tahun tahun dimana Sinaga Bersaudara sedang menerbitkan albumnya, Maruli Sinaga mencoba menapaki berbagai bisnis,t ermasuk didalamnya adalah sebagai Propotor Tinju Profesional yang bergabung dan bekerja sama dengan promotor tinju Turino Tidar di Jakarta, mereka sempat menerbitkan petinju petinju handal yang dapat bertanding di kancah dunia internasional. Namun saya kurang mengikuti perkembangannya setelah mereka membuka usaha baru diluar promotor tinju.

Bahkan belakangan Maruli Sinaga pernah mencoba ikut dalam kompetisi menjadi salah satu calon Bupati di Samosir dan kalah pada tahun 2005, dan khabarnya beliau juga ikut kembali dalam kancah pemilihan orang nomor satu dalam pemerintahan di kabupaten Samosir tersebut.

Sekarang ini mereka telah menekuni karir masing masing setelah A. Benny Sinaga tiada, sedangkan Johan Sinaga terlihat bersama Trio Sandos yang telah menerbitkan 2 album pop tapanuli.

Written by lagubatak

May 29, 2010 at 11:04 am

Cellphone/pulsa vs Kaset/VCD (dari sudut ekonomi)

with 2 comments


Hello, today is 3rd February 2010 isn’t it?

Rasanya agak asing kadang kadang melihat satu tulisan yang membahas tentang perekonomian dalam blog yang menamakan dirinya mengenai lagu batak, ibarat bensin dengan ban, sama sekali tidak ada hubungan, namun keduanya mempunyai peran yang mendasar terhadap lajunya kendaraan, jika bensin mobil anda kosong mustahil anda bisa mengendarainya dengan nyaman, demikian juga halnya dengan ban, maka tak terbayangkan jika keduanya tidak saling menopang satu dengan yang lainnya.

Bah, lagu batak dengan ekonomi apa hubungannya parlapo?, yah.. itulah yang ingin kita hubungkan sampai nampak benang merah dan putihnya agar orang lain bisa melihat dari sisi titik awam se awam awamnya, karena bahasan yang ingin saya sampaikan ini akan berusaha untuk mengupas dari titik ilmu yang rendah seperti yang saya miliki ini, mungkin jika elmu saya sudah tinggi blog ini pun tak perlu lagi dibuat, tinggal membuat papan nama besar2 di salah satu gedung bertingkat dibilangan jakarta selatan dan saya akan menamakan diri sebagai ‘konsultan’,:-)

Saya mengamati dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak sudah stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah nampaknya gagal diterapkan untuk mendongkrak daya saing ekonomi masyarakat indonesia dibanding dengan ekonomi rakyat negara negara berkembang lainnya, dari mulai padat karya, bantuan permodalan, bantuan ekonomi usaha kecil dan menengah yang jalan ditempat, bahkan dananya terus menggelembung tanpa mendapat hasil positif dari masyarakatnya terutama masyarakat kecil. masyarakat miskin kita tak pernah beranjak dari tempatnya menjadi ‘pengusaha’ dan mereka tetap berdiam ditempat mereka berada, apakah mereka tau dan mengerti, usaha yang dilakukan pempimpin itu adalah tujuannya untuk mensejaterakan mereka?, kalau tau mungkin mereka akan ikut berbondong bondong datang ke gedung kepah yang ada di senayan sana untuk menuntut agar penerapannya diberikan secara tunai dan langsung, hehehe mungkin akan ada yang mengusulkan agar dibuat system pemilu saja.:-) maksudnya pembagiannya terbuka, jujur dan adil.

Saya menganggap masing2 kita mengerti bahwa pemerintah itu adalah sebagai kontrol (penyeimbang) terhadap ekonomi yang berjalan di dalam negeri, misalnya pemerintah memberikan fasilitas infrastruktur (jalan, listrik, kenyamanan) agar masyarakat dapat lebih produktif, pemerintah membuat undang undang agar masyarakat tidak saling sikut menyikut melakukan aktifitasnya, pemerintah membuat peluang agar masyarakatnya tergoda (tergugah) untuk melaksanakan roda perekonomian, selebihnya itu diserahkan kepada masyarakat dan yang lebih penting, pemerintah tidak dapat memaksa agar masyarakatnya lebih giat lagi. namun masyarakat dapat serta merta meng-kalim pemerintah tidak bekerja dengan penuh untuk kehidupan perekonomian masyarakat.

Ketika krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997, pemerintah sudah barang tentu bekerja dengan keras agar ekonomi tidak melampau titik yang mengkhawatirkan, disamping krisis ekonomi, krisis kepercayaan terhadap pemimpin pun menggeliat dengan kerasnya, maka timbul perpaduan krisis tingkat tinggi, ekonomi, moral dan kepercayaan. ketiganya punya andil yang besar membuat bangsa ini terpuruk sampai titik yang terendah.

Namun adakah diantara kita yang pernah berfikir, bahwa sebenarnya yang membuat semua itu adalah masyarakat itu sendiri?, seperti yang saya jelaskan bahwa pemerintah adalah sebagai penyeimbang terhadap perlakuan ekonomi sedangkan pemeran utamanya adalah masyarakat.

Contoh, jika anda menabung uang anda dalam sebuah bank, pemerintah sama sekali tidak berhak dengan tabungan anda itu, bahkan berdasarkan undang undang maka pemerintah diwajibkan untuk menjamin tabungan anda itu aman dan jika terjadi ‘malapetaka’ dalam bank itu uang anda tetap akan dapat diambil tanpa berkurang sedikit pun. betapa baiknya sebenarnya pemerintah itu.

Contoh lain, jika anda ingin memiliki sesuatu barang mahal yang sebenarnya tidak harus anda miliki jika anda memiliki uang yang cukup membeli, pemerintah tidak pernah dapat mencegah anda untuk membelinya walaupun hal itu berpotensi untuk membuat kegaduhan dalam system perekonomian dalam negeri. misalnya jika anda ingin memiliki mobil mewah yang di import dari negara tertentu dengan harga yang tak masuk akal, oh ya… itu terlalu sulit dicerna, yang lebih umum adalah jika anda ingin memiliki telepon genggam merk “blackberry” tak pernah saya melihat pemerintah melarang masyarakat untuk mengurungkan niat membeli alat canggih itu, padahal…… menurut saya, itu potensi untuk membuat kegaduhan dalam perekonomian masyarakat.

Pada tahun 1993 sewaktu saya baru memiliki telepon genggam ber merk errickson yang bisa membuat kucing mati jika dilempar pakai benda itu, waktu itu saya membayangkan bahwa suatu saat akan ada salah satu perusahaan yang membuat heboh masyarakat indonesia dengan pasar sejenis ini, waktu itu saya sudah membayangkan bahwa seorang tukang becak, tukang kebun, tukang sayur akan leluasa ber hallo ria dengan temannya diseberang sana hanya menanyakan apakah dia sehat sehat saja disana. nah sekarang bayangan saya itu terbukti, tidak heran seorang penarik becak sibuk dengan fitur fitur telepon genggamnya mencet-mencet sms sampai dia lalai untuk bekerja.

Booming telepon genggam terjadi pada awal tahun 1996 saya tidak dapat memastikan bahwa sebenarnya ada hubungannya dengan keterpurukan ekonomi, tapi jika ada yang memusatkan fikiran untuk membuat analisa ini, saya yakin minimal 20% keberadaan telepon genggam lengkap dengan pulsa dan peralatannya adalah pemicu keterpurukan ekonomi masyarakat.

Alasannya apa parlapo?, dahulu sewaktu kita belum mengenal benda ini kita masih produktif dan masih dapat memberikan waktu kita untuk maksimal bekerja 80% dari nilai produktifitas kita, tiba tiba benda keramat itu telah menyita perhatian dan tenaga kita hampir 40%. tolong nanti diamat amati dengan keberadaan anda dengan telepon genggam anda sendiri, berapa kali anda memegang, mencet, menerima telepon, mengisi pulsa, itu adalah biaya langsung yang sadar atau tidak yang mengurangi isi kantung anda dan membuat pekerjaan anda terganggu. sangat jauh jika dibandingkan dengan sebelum benda asing itu ada.

Perlakuan itu sebenarnya akan sangat positif jika kita hubungkan dengan ‘echo-system’ ekonomi kita, artinya jika kita mengeluarkan uang yang besar, jika kita produktif maka kita akan mendapatkan juga nilai/hasil yang besar, dengan catatan jika itu semua dilakukan dan menjadi produk dalam negeri, namun akan lain hasilnya jika uang yang anda keluarkan itu akan dibawa oleh seseorang berkarung karung ke negaranya sana tanpa memberikan keuntungan bagi anda. maka kita telah terlena dan tergoda dengan ‘mainan’ yang mereka suguhkan tanpa memikirkan dampak yang timbul dikemudian hari.

Jika anda adalah pengguna salah satu merek terkenal ‘blackberry’, gaji anda sebulan dengan Rp.5jt menurut saya itu adalah suatu pemaksaan yang tidak perlu terjadi, dengan kata lain bahwa anda telah mengizinkan orang lain datang dengan karung besar dan menyuruh anda memasukkan uang anda dalam karung itu, dengan tenang dia membawa karung itu dari hadapan anda ke negaranya, tanpa menambah produktifitas anda atas barang tersebut. matilah kita!.

Saya tidak pernah mengambil referensi sudah berapa banyak sebenarnya jumlah telepon genggam di indonesia dan berapa harganya, berapa biaya pulsa setiap bulan dari kumulatif masyarakat, dibandingkan dengan nilai produktifitas kita keseluruhan, apakah masih seimbang?, menurut saya tidak…. dan jawabannya tidak berbanding lurus.

Lagu batak?, dahulu sewaktu penjualan pulsa telepon belum se-marak sekarang ini, penjualan kaset/vcd masih bisa dikatakan menarik dari segi perekonomian, karena rata rata produksi masih kembali modal (break even point), sekarang pulsa adalah musuh utama penjual kaset, ibu ibu dan anak muda akan mudah mengurungkan niatnya untuk membeli kaset jika dia melihat pulsa cellponnya sudah menipis. sedangkan menurut saya bahwa yang terkandung dalam kaset/lagu itu hampir 90% adalah muatan lokal yang sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat secara positif.

Padahal jika saya sebagai seorang produser berhasil mengambil uang dari kantong anda, tentu saya pada gilirinanya akan mengembalikannya lagi kepada anda dengan cara yang berbeda, misalnya : uang tersebut akan saya jadikan lagi proyek untuk membuat album yang lain, membayar artis, membayar pemusik, membayar pencipta, membayar honor lainnya, siapa tahu diantara yang saya sebutkan tadi adalah berhubungan dengan anda, maka terjadilah yang dinamakan ‘echo-system’ perekonomian yang positif dan dapat saling menopang satu dengan yang lainnya, maka terjadilah ekonomi masyarakat yang madani.

bah, nga mondok ondok be au hape……….. ai aha do hupandokkon sian nakkin???

modom ma jolo ate…, hehehehe

horas ma.

Written by lagubatak

February 3, 2010 at 4:54 pm

ATM – Amati, Tiru dan Modifikasi

leave a comment »

Politik……..

 

Kata ATM ini akhir akhir ini sering saya dengar dari beberapa teman maupun radio lokal, bagaimana kiranya kita bisa mengamati kehidupan orang lain dan jangan malu untuk menirunya, terlebih jika kita bisa memodifikasikannya sesuai dengan kemampuan kita. Maka terlintas beberapa pengalaman yang pernah saya jalani.

 

Dahulu, sekitar bulan September 2003 sewaktu saya masih berada di Seattle, Amerika. Saya pernah direkomendasikan teman satu kerja untuk bergabung mengikuti “program” ride atau lebih sedap disebut “demo”, yang diberi nama Immigrant Workers Freedom Ride, kemudian saya mengajak teman orang Indonesia yang sama sama tinggal di Seattle yaitu Solon Sihombing, karena kami datang dari belahan Amerika bagian selatan, tepatnya Washington, maka nama rombongan kami diberi nama Immigrant Workers Freedom Ride Washington.

 

Hampir dari seluruh Negara bagian di amerika serikat mengirimkan utusannya dengan menggunakan bus menuju New York, tempat nanti dimana para demonstran berkumpul mengeluarkan pendapatnya untuk menuntut kebebasan bekerja dan kemudahan menjadi warga Negara Amerika bagi para immigrant yang datang dari seluruh belahan dunia dan tinggal di Amerika.

 

Dari Seattle, Washington kami para immigran yang terdiri dari berbagai Negara antara lain dari eropa timur, afrika, philipina, thailand, peru, mexsiko,dan kami berdua dari Indonesia, ada sekitar 54 orang dengan menggunakan bus wisata dengan menempuh waktu 7 hari dan 7 malam menuju New York, namun disetiap kota kota besar yang kami lalui menuju New York, kami selalu disambut meriah oleh masyarakat terutama bagi kaum pendukung partai demokrat, sepertinya mereka telah terorganisir dengan rapi di setiap kota yang kami singgahi. Pada saat kami akan sampai pada kota kota tersebut ternyata sudah ribuan orang menunggu kedatangan kami lengkap dengan union2 (serikat pekerja) yang ada di daerah tersebut, kami sudah menjadi 2 bus setelah kami melewati Negara bagian Oregon. dalam hati saya mulai berpikir bahwa saya sudah dieksploitasi pada hal hal politik yang jauh dari pemikiran saya, tapi tak apalah hitung hitung saya bertamasya ke kota dambaan setiap manusia didunia dengan gratis dan menggunakan jalan darat, yang akhirnya saya tau diberi juga uang “saku” selama 2 minggu.

 

Sungguh sangat menarik, pada setiap persinggahan di kota kota besar seperti yang saya sebutkan tadi, kami selalu didaulat untuk menceritakan pengalaman kami masing masing bagaimana hidup di Amerika sebagai pekerja immigran, biasanya kami dibagi dalam 4 kelompok, setiap kelompok secara bergantian akan menceritakan pengalamannya kepada seluruh pengunjung, dan saya kebagian untuk menceritakan pengalaman saya sewaktu kami tiba di Negara bagian Nebraska, yaitu kota Omaha. lucu dan getir kalau saya mengingat apa yang saya ceritakan waktu itu, dapat membuat orang-orang terdiam dan bahkan ada yang menangis mendengar cerita saya (hahaha… atau mungkin mereka malah tidak mengerti cerita saya ya…) lebih menariknya lagi bahwa terang terangan kami dikomando supaya mengajak masyarakat agar jangan lagi memilih partai republik untuk memimpin Negara itu, saya juga kurang paham betul apa hubungannya partai demokrat dengan immigrant, mati aku!.

 

Begitulah seterusnya sampai nanti kami tiba di Washington DC, tempat singgahnya setiap peserta dari seluruh Negara bagian bertemu,  berkumpul di gedung putih dan menemui senator senator dari Negara bagian masing masing, untuk menyampaikan permohonan yang berhubungan dengan bagaimana mendapatkan kemudahan terhadap pekerja immigran. Termasuk diantaranya pemberian social security bagi yang belum memiliki, karena mereka tetap membayar pajak dari potongan pay slip (gaji) yang mereka terima, dihapuskannya diskriminasi dan banyak lagi yang saya lupa agendanya, tapi pada intinya adalah Justice for All.

 

Begitu juga dalam pertemuan dengan para senator ini, kami dibagi dalam 4 kelompok dan kelompok kami akan secara bergantian bertemu dengan 3 senator dari Negara bagian Washington saat itu, semua kami berkesempatan untuk bertemu kepada 3 senator dari Washington, saya kebagian giliran untuk untuk berkenalan dan menceritakan kegetiran seorang pekerja immigran kepada senator Maria Cantwell yang dikenal dengan wanita kaya dan dermawan itu, dia berjanji akan menyampaikan keluhan tersebut kepada rapat senator yang akan datang, dan mencoba untuk melihat perlu tidaknya merubah undang undang perburuhan di Negara tersebut. Saya tau itu adalah bahasa politik, tetapi paling tidak saya mempunyai  tambahan pengetahuan, seperti saya dulu waktu SD bertamasya ke kebun binatang bagaimana rasanya melihat gajah yang bisa disentuh dengan lembut.

 

Pada malam harinya panitia membuat daftar siapa siapa yang boleh ikut untuk tour kedalam gedung putihnya Amerika, sekedar melihat dari dekat bagaimana Negara tangguh seperti Amerika memelihara dan menghargai orang orang pendahulunya dengan membuat patung lilin setiap mantan presiden dan museum museum yang tertata rapi, diterangi dengan lampu kristal kelas wahid, serasa seperti surga dimalam hari :-) .

 

Eh, besoknya teman saya dari Seattle menelepon bahwa nama dan foto saya terpampang pada halam 1 di Seattle Times dengan judul “pahlawan pekerja immigrant sedang meminta simpati kepada para senator”, buat saya ini jauh dari yang saya harapkan.

 

Ke esokan harinya kembali dengan menggunakan bus yang kami bawa dari Seattle, kami menuju kota  New York, oh New York! Nga ro be au!, bus kami membelah kota new York yang terkenal itu dan berjalan diatas jembatan yang cukup panjang, wah… terus terang saya terharu dan menangis saat itu. Saya tidak dapat membayangkan alangkah beruntungnya saya  sempat menikmati keindahan kota New York dan bertemu dengan para saudagar saudagar negara ini.

 

Di suatu lapangan yang sangat besar kami berkumpul tumpah ruah dengan mengenakan kaos berwarna warni, dari pemberian setiap organisasi union, mirip seperti kampanye partai yang ada di Indonesia, lengkap dengan band dan pidato yang silih berganti dar anggota kongres Amerika yang mendukung perhelatan ini, kami memekikkan “yel  yel”  yang sudah dihafal sebelumnya oleh setiap peserta, hehehe saya tersenyum kalau saya mendengar istilah “Anda Bisa”, karena kalimat yang sama persis seperti pekikan kami peserta dari Seattle waktu itu, karena saya diminta panitia menterjemahkan ke bahasa Indonesia “Yes You Can!” maka kami menggunakan pekikan “Anda Bisa!” apabila rombongan dari Chicago memekikkan “Libertas” bahasa dari Mexiko, sebagai kata ganti “Liberty”.

 

Di Flusing Meadows, New York disanalah pusat acara ini dilaksanakan, dengan tidak kurang 125.000 orang gabungan dari union union Amerika bergabung dengan hamper 1000 orang para peserta yang datang dari seluruh penjuru Negara bagian Amerika menghadiri acara untuk menuntut hak kebebasan bekerja para kaum immigran, yang didasari dengan Justice for All.

 

Esok harinya kami pulang masing masing dengan menggunakan pesawat menuju Seattle setelah terlebih dahulu berjalan jalan di kota kota eksotis yang berada di new York.

—-

Inti cerita yang mau saya sampaikan diatas adalah untuk memberikan pandangan kepada para elite politik yang ada di negeri ini, apakah tidak mungkin pola yang diterapkan oleh sebahagian politikus Amerika?, berkampanye tertib dengan mengerahkan segala kekuatan dari seluruh pelosok tanah air dari 33 propinsi datang bersamaan ke Jakarta, pada puncak acaranya membuat acara yang begitu besar di senayan, untuk “menuntut” atau sekedar memperkenalkan dirinya agar dikenal oleh masyarakat luas.

 

Saya tidak begitu faham bagaimana cara pencarian dana untuk mengadakan acara yang saya ceritakan tersebut, namun terang terangan didalam bus, panitia kami sering mengumumkan bahwa panitia telah mendapat “pledge” dari seseorang yang kaya untuk diberikan sebagai biaya perjalanan kami, hal itu diumumkan setelah seseorang panitia yang duduk tidak jauh dari bangku saya baru menerima telepon dari seseorang.

 

Sedangkan yang saya ceritakan tadi bahwa pada akhirnya saya dapat uang saku dari pihak panitia untuk mengganti gaji saya selama 2 minggu karena mengambil cuti dari pekerjaan saya.

 

Written by lagubatak

January 9, 2009 at 2:45 am

Posted in BATAK, parbada, Politik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers