Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Archive for the ‘mandailing’ Category

Horas, Tabe dohot Holong

with 6 comments

Telah 5 (lima) bulan saya tidak pernah meng-update blog ini, maklum saya sedang menjalin hubungan kerja dengan salah satu usaha di daerah Kalimantan, sekali kali saya juga melihat perkembangan blog ini, apa yang terjadi pikirku…, ternyata cukup mencengangkan, blog yang tak pernah di update selama itu tetap tampil berkibar dan mampu menarik peminat rata rata 1000 pengunjung per hari.

Rasanya saya ingin berbuat lebih banyak terhadap perkembangan blog ini secepatnya, namun apa daya kesibukan sehari hari menyita sangat banyak energy dan hampir tak dapat berbuat banyak untuk hal lain.

Bagi pengunjung yang ingin menymbang saran dan memberi kontribusi untuk kelangsungan blog lagu batak saya menawarkan kesempatan ini agar dapat ‘berbuat’ agar wadah ini dapat dipergunakan untuk pengembangan ke hal yang lebih positif.

Mauliate.

Written by lagubatak

June 7, 2011 at 12:08 am

Dakwah Islam Di Tanah Batak

with 4 comments

Sebagai toleransi kepada saudara saudara batak yang menganut agama Islam kami ucapkan Selamat menjalankan ibadah Puasa, semoga ibadah dan usaha yang ditempuh berkenan dan mendapat ridho dari Allah.

Tulisan ini diturunkan dan diunduh dari salah satu makalah yang menurut saya cukup informatif, dapat menambah perbendaharaan dan pengetahuan kita terhadap keragaman kepercayaan bagi manusia di muka bumi ini termasuk batak yang majemuk itu.

DAKWAH ISLAM DI TANAH BATAK
Oleh : Samuel Hutagalung, S.Ag
“The dogs, pigs and monkeys eating stupid Bataks”
drs. M.D. Mansoer1

Bangsa yang Membuka Diri
Indonesia adalah negara yang berketuhanan yang Maha Esa, yaitu setiap
penduduknya diwajibkan untuk mengimani adanya suatu Kuasa Mutlak yang jauh berada
di atasnya yang kita sebut sebagai ‘Tuhan’. Kepercayaan ini bukanlah kepercayaan yang
‘diimport’ dari negara-negara asing karena memang nenek moyang Bangsa Indonesia,
termasuk Bangsa Batak adalah orang-orang yang beragama atau berke-Tuhan-an. Ketut
Wiradnyana seorang arekolog yang meneliti situs Bukit Kerang yang terletak 120 kilo
barat laut kota Medan menemukan kerangka-kerangka manusia yang berasal dari 5000 –
7000 tahun yang lalu. Situs ini tersebar antara wilayah Deli Serdang, Langkat di
Sumatera Utara hingga mencapai Aceh Tamiang. Dari cara penguburan kerangka ini
diketahui mereka tinggal di lingkungan yang beragama, karena beserta kerangka
ditemukan juga bekal kubur, hematite (batuan lembek berwarna kemerahan) dan letak
kerangka membujur utara – selatan. Kerangka ini adalah campuran ras Mongoloid dan
Austromelanesaid yang juga mirip dengan temuan manusia purba di Hoa Binh, Vietnam.2
Pada masa kuno pun telah terjadi persebaran dan percampuran antar ras manusia yang
melahirkan peradaban-peradaban baru. Hornell seorang peneliti khusus Indonesia
menemukan data bahwa nenek moyang bangsa Indonesia bahkan telah merantau sampai
ke Sailon (Srilanka), India Selatan dan Madagaskar. Hal ini diketahui dari digunakannya
perahu cadik yang merupakan khas Indonesia di daerah-daerah itu, adanya suku bangsa
Parawar dan Shanan yang perawakannya mirip orang Indonesia, diketahuinya pohon
kelapa di India berasal dari Indonesia dan bahasa Malagasi di Madagaskar termasuk ke
dalam rumpun bahasa-bahasa di Indonesia.3 Maka tidak usahlah kita merasa heran jika
sejak awalnya Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mulit-etnis, mulit-bahasa dan multi
agama serta selalu terbuka untuk saling mempengaruhi dalam interaksinya dengan
bangsa-bangsa lain. Itulah juga yang menjadi sifat orang Batak sebagai bagian dari
Bangsa Indonesia.
Suku Bangsa Batak yang juga sering disebut sebagai Bangsa Batak berdasarkan
pembagian menurut bahasa (linguistic) dapat dibagi menjadi :
1. Batak Toba
2. Batak Karo
3. Batak Simalungun
4. Batak Pakpak
5. Batak Angkola – Mandailing
Sebenarnya suku bangsa Batak sama seperti sebagian besar suku-suku bangsa lainnya di
Indonesia adalah kaum pendatang. Tidaklah heran jika Bangsa Batak masih satu rumpun
dengan suku-suku bangsa lainnya adalah kaum pendatang. Tidaklah heran jika bangsa
Batak masih satu rumpun dengan suku Toraja di Sulewesi Selatan dan dengan Suku
Karen di Mnyamar (Burma).4 Hubungan antara suku di Birma dan suku Batak juga
ditegaskan oleh pakar musik etnis Bung Irwansyah Harahap yang mengatakan alat musik
Taganing (sejenis gendang) dalam Gondang Batak Toba hanya ditemukan juga di
Uganda dan Birma.5 Walaupun kepercayaan tradisional Bangsa Batak mengatakan orang
Batak berasal dari Pusuk Bukit, keturunan si Raja Batak namun menurut penelitian
ilmiah orang Batak berasal dari beberapa kelompok yang beremigrasi ke tanah Batak
secara terpisah dalam kurun waktu yang berbeda.6 Dengan keanekaragaman daerah yang
ditempati oleh gelombang migrasi ini maka kebudayaan yang pada mulanya satu
bertumbuh dengan sendiri-sendiri karena terpisah oleh geografis, namun tetap sebagai
orang Batak, hal ini misalnya dibuktikan dengan abjad Batak yang hampir sama dalam
kelima sub-etnis Batak di atas.7 Kehidupan Bangsa Batak pun berlangsung secara alami
tanpa ada peninggalan tertulis.
Walaupun sampai kini belum ditemukan peninggalan tertulis sejarah Batak seperti
prasasti namun keberadaan daerah yang kita kenal sebagai Sumatera Utara saat ini sudah
dikenal sejak masa-masa awal Masehi. Ptolomeus yang hidup pada pertengahan abad kedua
Masehi di Kota Iskandariyah, Mesir menulis buku Geographia yang tetap jadi buku
pegangan hingga abad ke- 15 M menyinggung tentang Pulau Sumatera dan pelabuhan
Barus (Fansur) yang ia sebut dengan nama Barousai yang kira-kira terletak di Desa Lobu
Tua ( Labadiou).8 Dalam literature Hindu India, Pulau Sumatera disebut Karpuradwipa
yang berarti ‘Pulau Kapur (Barus)’ dengan pelabuhannya yang terkenal Baraukacha
(Barus).9 Barus dikenal terutama karena perdagangan kapur barus yang sangat popular
masa itu. Bagi sebagian orang hal ini dijadikan sebagai dasar bahwa agama Islam telah
masuk ke Tanah Bata melalui Barus sejak masa Nabi Muhammad masih hidup atau tidak
lama setelah beliau mangkat.10 Pendapat ini dianut oleh Haji Mohammad Said, Djasmun
Qoharuddin Nasution, Dada Mueraxa. HAMKA juga menganut teori bahwa agama
Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad I Hijriyah ( 600-an Masehi) langsung dari
Tanah Arab.11 Dugaan ini diambil dari catatan-catatan perjalanan Bangsa Arab maupun
Tiongkok. Thomas W Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam mengatakan sejak
abad ke-2 sebelum Masehi para pedagang Arab telah menguasai perdagangan di Timur,
dan walaupun tak ada bukti arkeologis dan tertulis diyakini Bangsa Arab ini tentu juga
telah membangun pos perdagangan di Indonesia. Tetapi barulah pada abad ke-9 Masehi
para ahli ilmu bumi Arab menyebut kepulauan Indonesia dalam tulisan mereka, tetapi
dalam Tarikh Tionkgok pada tahun 674 M terdapat catatan mengenai seorang pemimpin
Arab (Amir – Red.) dan rombongannya menetap di Pantai Barat Sumatera.12 HAMKA
menjelaskan sebuah catatan Tiongkok kuno lainnya secara lebih rinci. Dalam catatan
Tiongkok ini disebut mengenai Kerajaan Holing ( Kalingga ) yang diperintah oleh Sima (
Ratu Sima ) yang memeluk Agama Buddha. Karena kemamuran dan keamanannya
negeri ini terkenal sampai ke berbagai penjuru dunia hingga Bangsa Ta-Cheh (Arab)
datang ke Kerajaan Holing sekitar tahun 674 – 675 M (sekitar 12 tahun setelah Nabi
Muhammad wafat). Dengan jelas HAMKA menyamakan orang Arab ini sebagai orang
Islam, “Orang Arab atau orang Islam itu, masuk tetap meramaikan pelayaran dan
perniagaan…” tulisnya.13
Pengaruh Arab
Bangsa Arab dalam sejarah kuno sudah diakui sebagai salah satu bangsa yang
mengenal perdagangan dan saling berinteraksi dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain
melalui jalur perdagangan ini, kota dagang Petra da Mekah adalah contohnya. Jadi
tidaklah heran bila baik sejarah Yahudi, Kristen maupun Islam misalnya telah mencatat
keberadaan orang-orang Yahudi dan berbagai penganut agama lain di tanah Arab. Dalam
Kitab Kisah Para Rasul dikatakan sejak hari Pentakosta dimana Roh Kudus dicurahkan
bagi umat manusia Injil telah diberitakan dalam bahasa dan budaya Arab (Kisah Para
Rasul 2:12), bahkan Rasul Paulus sempat memperdalam ilmu agama Kristen di tanah
Arab (Galatia 1:17-18). Salah satu suku Arab yang menjadi Kristen berhasil mendirikan
sebuah kerajaan Kristen yang disegani yang dikenal sebagai Kerajaan Ghasanid yang
terdiri dari Bani Ghasanid yang menganut Kristen Orthodox Syria.14 Pada umumnya
orang-orang Arab yang beragama Kristen adalah orang-orang terdidik baik sebagai
pemimpin agama, ilmuan, negarawan dan pedagang serta kedokteran. Pengaruh
Byzantium (Romawi Timur) waktu itu sangat terasa di sebagian wilayah Arab.
Kemudian muncullah Agama Islam. Walaupun banyak orang berusaha membentuk opini
bahwa agama Islam disiarkan secara damai namun fakta sejarah membeberkan Agama
Islam baru bisa berkembang di Asia termasuk Arab, Afrika dan Eropa setelah didahului
oleh penaklukan-penaklukan ( baca : penjajahan ) pasukan Arab Islam. Sejarawan
Muslim klasik, Ibnu Khaldun ( 1332 – 1406 M ) melukiskan keadaan sejarah awal
berhasilnya Bangsa Arab Islam menaklukkan musuh-musuh kafirnya, “Apabila Bangsa
Arab menaklukkan suatu negeri, maka kehancuran segera menimpa negeri itu… sebab
tujuan mereka yang pokok ialah mendapatkan uang dengan perampokan atau penarikan
denda (jizyah). Sekali tujuan ini sudah tercapai maka mereka sedikitpun tidak menaruh
perhatian untuk mencegah kejahatan, atau untuk memperbaiki keadaan rakyat atau
meninggikan kesejahteraan mereka.”15 Ibnu Khaldun dengan jeli telah melihat bahwa
politik Byzantium beda dengan politik Islam. Dalam tradisi Byzantium motivasi
melakukan penyerbuan ke tempat lain semata-mata karena dasar politis dan ekonomis,
agama tidak begitu menonjol. Maka Ibnu Khaldun menulis, “… ajaran agama lain…
tidak memaksakan kekuasaannya kepada mereka, karena agama itu tidak menuntut dari
mereka supaya menguasai orang lain, sebagaimana halnya dengan Islam melainkan
hanya menegakkan kepercayaan mereka diantara mereka sendiri.” Tetapi Islam adalah
sebuah agama kaffah (holistic) sehingga “… berusaha mengislamkan seluruh umat
manusia dengan ajakan atau kekerasan, maka jihad terhadap orang-orang kafir adalah
wajib.”16 Karena Islam adalah agama kaffah (holistic) yang meliputi din wa daulah (
agama dan politik) maka intrik-intrik politik juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah
Islam, termasuk masalah seks, uang dan kekuasaan atau yang sering disebut juga sebagai
harta, takhta, wanita.
Kepada umat non-Muslim hanya diberikan tiga pilihan yaitu :
1. Masuk Islam
2. Bayar pajak sebagai warga negara kelas dua yang dikenal sebagai dhimi/ dzimi
3. Diperangi atau dimusnahkan17
Ternyata banyak yang mengambil pilihan pertama dan kedua, sedangkan Byzantium
yang memilih untuk mempertahankan kemerdekaannya tidak mampu menghempang
serangan pasukan Islam.18 Meskipun begitu tidak serta merta bangsa-bangsa Arab dan
lainnya yang telah takluk di bawah kekuasaan Islam menjadi murtad dari agama mereka
dan masuk Islam. Karena kurangnya tenaga ahli dari Bangsa Arab maka mau tidak mau
para penguasa Arab Muslim tetap memakai orang-orang kafir sebagai pegawai-pegawai
mereka, karena orang-orang Arab yang baru berkuasa ini masih awam dalam ilmu
kedokteran, tata negara, pembukuan dan lainnya. Sejarah mencatat Khalifah Umar II (
717 – 720 ) memiliki seorang dokter (tabib) terbaik di zamannya yang adalah seorang
Kristen bernama Tayadzuq.19 Pada masa Khalifah al-Mu’tasim (834 – 842), Saimujah
seorang Kristen menjadi pejabat penting negara yang berhak mensahkan dokumendokumen
negara, Ibrahim seorang Kristen yang lain adalah Bendahara Negara. Pada
masa al-Mu’tadil ( 892-902M) Umar bin Yusuf, Gubernur Anbar adalah seorang Kristen.
Adud al-Dawlah (949-952) dari Dinasti Buwaihid memiliki Perdana Menteri yang
beragama Kristen yaitu Nasr bin Harun. Sebelumnya pada masa Kahlifah Mua’awiah
(661-680 M) banyak juga orang Kristen memegang posisi kunci dalam pemerintahan.20
Bahkan sewaktu pemerintahan Islam masih menjajah Spanyol (Cordova) pernah muncul
Subh, seorang wanita Kristen yang sangat berpengaruh untuk menentukan jalannya
pemerintahan.21 Secara perlahan namun pasti posisi orang-orang Kristen ini digeser
begitu umat Islam sudah menguasai ilmu-ilmu dari pemilik kebudayaan yang mereka
taklukkan, dan ini terjadi sebelum masa Perang Salib yang dilancarkan Barat sebagai
reaksi atas aksi jihad fisabilillah umat Muslim.22 Bahkan nasib orang-orang taklukan
sering tidak mendapatkan perlindungan hukum. Banyak anggota keluarga yang
dipisahkan paksa dan dijadikan budak, termasuk para gadis yang mengalami kawin paksa
dan pelecehan seksual lainnya. Wanita-wanita budak ini tetap boleh menganut agama
mereka tapi anak-anaknya yang lahir harus dididik secara Islam. Bahkan ssalah seorang
istri Nabi Muhammad yang bernama Shofiyah adalah hasil rampasan perang.23 Sumber
lain mengatakan Mariyah al-Qibtibiyah (Maria orang Kristen Koptik Mesir) yang
dihadiahkan Gubernur Mesir, Mawqaqis (yang adalah seorang Orthodox Yunani) juga
adalah seorang budak (sahaya) Nabi.24 Baik Kitab Suci umat Muslim yaitu Al-Qur’an
maupun Nabi Muhammad tidak melarang praktek perbudakan terhadap umat non-
Muslim ini, mudah terkesan memberi legalitas. Qur’an maupun hadits, yang adalah
sumber riwayat Nabi Muhammad dan sumber teladan bagi seluruh umat Muslim
mencatat :
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu
benci. Bolah jadi kamu membenci sesuatu padahal sesuatu itu amat baik bagimu.” (Al
Baqarah 2:216)
“Perangilah orang-orang… yang diberikan Alkitab kepada mereka, sampai mereka
membayar jizyah (= pajak ketundukan kepada tuan Arab Muslim) dengan patuh sedang
mereka dalam keadaan tunduk (hina).” (QS At Taubah 9:29).25
“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak
yang kamu miliki…” (QS An Nisa’a 4:24).
“Nabi Muhammad bersabda, “Berperang kalian, kalian akan dapat ghanimah (harta
rampasan perang) gadis-gadis Romawi.”26
Nabi Muhammad bersabda, “Setiap ummat itu mempunyai waktu rekreasi dan rekreasi
ummatku adalah jihad fisabilillah (berperang)”27
Nabi Muhammad bersabda, “Aku diperintahkan memerangi manusia sampai mereka
bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku (Nabi Muhammad) utusan Allah,
menegakkan sholat, membayar zakat” (HR Bukhari dan Muslim).28
Selain itu penggunaan materi untuk mengajak orang masuk Islam dilegalkan dalam
sistem zakat, “Sesungguhnya zakat-zakat itujhanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya…” (QS at-
Tabah 9: 60).
Selain mendapatkan kekuasaan politik bagi agama Islam dan budak-budak wanita
yang bisa digunakan untuk kawin paksa maka kekayaan materi juga merupakan salah
satu alasan bagi para da’I (pendakwah/misionaris) Muslim untuk menyebarkan agama
Islam. Dalam QS Al Fath (48): 18-21 dapat diketahui bahwa, “… Allah mengetahui apa
yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberikan
balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat serta harta rampasan yang
banyak yang dapat mereka ambil… Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan
yang banyak, yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini
untukmu… Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas
negeri-negeri) yang belum dapat menguasainya…”. Perhatikanlah bahwa ternyata para
mujahidin (pejuang Muslim) sangat terpikat oleh motivasi duniawi hingga Allah
membujuk mereka dengan berbagai jenis harta hasil rompakan/jarahan. Para penerus
Nabi mewarisi semangat yang sama. Khalifah Abu Bakr menulis surat kepada orangorang
Mekah, Taif, Yaman dan semua orang Arab29 di Nejed dan Hijaz, yang berisi
seruan untuk ikut dalam jihad fisabilillah (perang suci/perang di jalan Allah) dan
memperoleh rampasan perang dari orang-orang Yunani.”
Terdesaknya orang-orang non Muslim akibat serangan pasukan Arab Muslim
mengakibatkan orang-orang non Muslim terutama Kristen mencari alternative di luar
daerah-daerah jajahan Islam. Sejak lama orang-orang Kristen dan orang-orang Arab non
Muslim (termasuk Arab Kristen) dan orang-orang Timur Tengah lainnya telah memiliki
keahlian berlayar dan berdagang. Keahlian berlayar belum dimiliki oleh penduduk
Mekah dan Madinah tempat dimana agama Islam lahir dan tumbuh karena daerah itu
bukan daerah maritim.30 Selain itu dalam daerah yang telah ditaklukkan Islam ada
larangan bagi umat non-Muslim untuk berdakwah pada umat Muslim, tapi umat Muslim
sebagai penakluk bebas berdakwah pada umat non Muslim. Hal ini mengakibatkan mau
tidak mau para misionaris Kristen yang masih terisisa di Timur Tengah bergerak keluar
dari Darul Islam (daerah yang dikuasai Islam dengan berlakunya Syari’at Islam) dan
bermisi di luar Darul Islam. Penduduk non Muslim dalam Darul Islam dalam berbagai
cara mendapatkan tekanan bahan terkadang paksaan untuk murtad dan masuk Islam.31
Tekanan berupa pajak yang tinggi tapi mendapat status yang rendah dalam hukum,
penghalangan dari partisipasi politik dan ekonomi membuat banyak orang lebih memilih
untuk masuk Islam dan murtad dari agama lamanya. Di Bukhara misalnya, kekuasaan
agama Buddha dihancurkan dengan memberi kemudahan financial (keuangan) bagi yang
mau masuk Islam dan menghancurkan rumah-rumah ibdah non Muslim.32 Namun
bahkan sebelum agama Islam menekan agama Kristen, misi Kristen telah dijalankan
sampai ke Asia bahkan ke Indonesia.
Seorang penulis sejarah yaitu Syekh Abu Salih al-Armini menulis mengenai
gereja-gereja di benua Asia dan Afrikamengatakan bahwa agama Kristen telah masuk ke
pulau Sumatera, khususnya di pantai barat Sumatera Utara sejak abad ke-7 Masehi. Pada
masa itu para pedagang Arab, Persia dan India yang Kristen sering juga membawa para
rahib dalam pelayaran dagang mereka. Al-Armini menulis, “Fanshur (Barus) adalah
kota yang terkenal karena kapur barus yang berasal dari sana… Di sana terdapat banyak
gereja, salah satunya adalah Gereja Saidat al-Adhara al Thaharat Martamiryam ( Santa
Maria Perawan yang Murni).33 Jadi HAMKA memang terlalu buru-buru dalam
menyimpulkan bahwa agama Islam pasti telah masuk sejak abad pertama Hijriah di
Indonesia karena sudah ada orang Arab yang hadir di Indonesia. Pertama Arab waktu itu
masih banyak dihuni oleh orang Kristen Arab, kedua : umat Muslim pada abad pertama
belumlah menjadi pedagang tangguh yang melintasi lautan menuju ke luar negeri.
Armada laut Muslim baru ada sejak pemerintahan Yazid – 1 dari Dinasti Muawiyah.34
Namun harus diingat bahwa orang-orang Kristen Arab waktu itu masih sangat
berpengaruh dalam politik, ekonomi Arab Muslim. Umat Muslim lahir dari daerah non
Maritim, justru pedagang-pedagang Arab Kristenlah yang lebih banyak bergerak waktu
itu. Jadi sebelum mesjid berdiri di Sumatera Utara, Gerejalah yang yang sudah ada lebih
dahulu.
Batak di Barus
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Ptolomeus adalah orang pertama yang
kita ketahui mencatat tentang penduduk di Sumatera Utara pada pertengahan abad ke dua
Masehi. Dalam catatannya itu Ptolomeus mencatat adanya praktek kanibalisme di Barus.
Sumber-sumber Arab, India dan Eropa juga menegaskan adanya praktek kanibalisme di
Sumatera, juga Marco Polo membenarkannya. Pada tahun 1430, Nicola de Conti
menjadi orang Eropa pertama yang menggunakan kata “Batak” (Batech) untuk menyebut
suku kanibal di Sumatera. Dalam catatan-catatan Tiongkok kuno seperti catatan Chau
Ju-Kua (1226 M) ditemukan kata Bo-ta yang dihubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya.
Sedang dalam catatan Dinasti Yuan (Mongol) dikatakan bahwa Kerajaan Samudra Pasai
dan Ma-da (Ba-ta) memberikan upeti pada Kaisar Tiongkok pada tahun 285-1286
Masehi. Tome Pires seorang penjelajah menulis di tahun 1515, “Kerajaan Bata
berbatasan dengan Kerajaan Pase dan Kerajaan Aru (Daruu). Raja negeri ini bergelar
Raja Tomjano (Timor Raja?). Dia seorang prajurit Muslim. Ia sering berlayar untuk
merampas (ghonimah). Dia adalah menantu Raja Aru.” Raja Tomjano ini juga mungkin
merupakan orang yang sama atau keturunannya yang ditemui oleh seorang penjelajah
Eropa lain yang bernama Mandes Pinto di tahun 1540 M. Pinto Tome Pire menyatakan
Kerajaan Batak ini menguasai daerah Tamiang – Perlak yang memiliki sumber bahan
bakar minyak. Di daerah ini dari Langkat sampai Ramiang terdapat situs-situs bukti
kerang yang menjadi salah satu bukti asal leluhur penduduk di Sumatera, mungkin
termasuk orang Batak dan Aceh saat ini. Mungkin ini juga berhubungan dengan
kepercayaan orang Batak Toba bahwa leluhur orang Batak punya tiga orang keturunan.
Yang satu pergi ke Aceh, yang satu pergi ke Padang (Minangkabau) dan yang satu lagi
tetap tinggal di Tanah Batak. Namun bagi penjelajah Mendes Pinto, Kerajaan Bata yang
mungkin merupakan campuran Batak Karo dengan etnis lain ini bukanlah kerajaan
kanibal. “Kehormatan” kanibal ini diberikan Pinto pada penduduk pantai barat (west
coast) di atas Singkil, yang sekarang merupakan bagian dari Aceh. Pada masa penulisan
Pinto ditahun 1639-1640 ini Kerajaan Aceh yang Muslim memang telah melakukan jihad
fisabilillah dan menguasai kerajaan-kerajaan kecil lainnya di Sumatera Utara,
sebagaimana yang dicatat dalam sumber-sumber sejarah Aceh dan Turki. Pada masa
Pinto ini Kerajaan Batak yang non Muslim dipertentangkan dengan Kerajaan Aceh yang
Muslim yang terus berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Sumatera. Pinto
menggambarkan Kerajaan Batak yang bertahan dari invasi Islam ini beribukotadi Panaju,
pada pantai barat (west coast) sekitar 50 km dari Guatemgin (Pinto tidak menulis nama
lokal kota ini). Namun mungkin ini adalah salah satu sungai di pantai barat di selbelah
selatan Singkil sebagai jalur memperoleh kapur (barus) dan kemenyan (camphor and
benzoin) dari daerah sekitar Danau Toba. Ibu kota Panaju dari Kerajaan Batak ini adalah
sisa dari Kerajaan Pano (Pao – Barus) yang pada masa itu telah takluk kepada Islam.
Pada akhirnya Raja Batak ini terpaksa mengikat janji dengan Sultan Aceh setelah tidak
mampu bertahan dari invasi yang terus menerus. Namun Sultan Aceh mengkhianati Raja
Batak dan membunuh keluarganya. Raja Batak dengan bantuan pemimpin lokal berjuang
melawan penjajahan Aceh, tetapi rezim Aceh yang dibeking imperium ( kekhalifahan )
Turki yang adalah negara super power (adi daya) waktu itu jelas terlalu kuat bagi Bangsa
Batak. Bangsa Batak mengungsi ke pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan
internasionalnya dikuasai pasukan pendudukan Aceh dengan dukungan Turki, mirip
seperti rezim Irak yang dilindungi AS saat ini.
Sejak saat itu orang Aceh dengan memandang hina menyebut semua orang-orang
yang tidak mau dipaksa masuk Islam dan tunduk pada penjajahan Aceh sebagai ‘Batak’.
Teks Aceh yang ditulis pada abad ke-17 yang berjudul “Hikayat Aceh” menyebut etnis
Batak sebagai orang-orang non Muslim. Arona Diego Barros (1824-1907) professor
geografi dari Amerika Latin menggambarkan kondisi pulau Sumatera yang dihuni oleh
dua golongan, Muslim dan non Muslim. Orang Muslim adalah kaum pendatang yang
berkembang melebihi penduduk asli yang dulunya tidak mengenal hubungan
internasional seperti pendatang Muslim ini. Akibatnya penduduk asli tersingkir dan para
pendatang menjadi tuan-tuan dan penguasa-penguasa baru. Penduduk yang tersingkir ini
dipandang tidak berbudaya dan kenibal yang disebut sebagai Batak. Belakangan ketika
orang-orang Tionghoa dan Minahasa masuk ke Sumatera mereka disebut sebagai ‘Batak’
karena tidak memeluk Islam.35
Kampak Belah Kayu
Karena posisinya yang stragegis, Barus mengalami berbagai serangan dari luar
untuk dikuasai. Salah satu serangan itu berasal dari Kerajaan Chola di tahun 1025 M dari
India yang berhasil menaklukan Barus dan Aceh yang waktu itu merupakan kerajaan
bawahan Sriwijaya.36 Koloni pedagang India di Lobu sekitar satu kilo dari Barus muncul
sebagai hasil dari serangan kerajaan dari Raja Chola itu. Pada tahun 1872 ditemukan
prasasti di Lobu yang isinya, “Pada tahun 1088 ada 1500 orang Tamil dari India Selatan
bertempat tinggal di Barus. Mereka mendirikan kongsi dagang bagi para pedagang kapur
barus dan kemenyaan.”37 Menarik untuk kita ketahui bahwa India Selatan berisi bukan
saja penduduk yang beragama Hindu, namun juga beragama Kristen yang dikenal sebagai
Kristen Mar Thoma, mereka disebut juga sebagai Kristen Malabar.38
Meskipun begitu candi-candi Buddha Tantrayana – lah yang justru masuk jauh
sampai ke dalam Sumatera Utara, yakni di Padang Lawas dimana Kerajaan Portibi,
Tapanuli Selatan yang berasal dari bahasa sansekerta pertiwi berdiri dan meninggalkan
kompleks candi Bahal. Candi-candi ini berasal dari tahun 1042 Masehi.39 Jadi sezaman
juga dengan masa serangan Kerajaan Chola dari India. Para peneliti seperti Harry
Parkins menemukan adanya pengaruh India setidaknya dalam budaya Batak Karo dan
Toba, namun dalam budaya Batak Toba pengaruh Hindu itu tidak sampai meresap.
Sedangkan situasi dunia waktu itu Islam sedang mengalami masa-masa kejayaannya
sebagai kekuatan super power dunia yang dapat bertindak sewenang-wenang demi
kepentingannya, mirip seperti Amerika Serikat saat ini. Sebagian benua Eropa,
khususnya Eropa Timur termasuk Spanyol dan Portugis masih berada dalam penjajahan
Islam. Misalnya Spanyol dijajah selama 781 tahun (711-1491 M), Portugis dijajah Islam
selama 533 tahun (716-1249M).40 Di India pasukan Arab telah menginvasi daerah yang
kini kita kenal sebagai Afghanistan sejak abad ke-10 Masehi dan menghilangkan Agama
Buddha di sana dan terus masuk secara perlahan namun pasti ke India dan memunculkan
dinasti-dinasti Muslim di India.41 Kesultanan Delhi (1206-1526) pada umumnya
bersikap ekslusif dan menolak keterlibatan non-Muslim (kafir).42 Kekhalifahan Turki
Seljuk dan Usmaniyah yang dasarnya sudah dimulais ejak 1071 M dan berkembang
menjadi ‘polisi dunia’ waktu itu memberikan hadiah bagi orang-orang Kristen yang mau
murtad ke Islam dengan menggunakan jizyah dari orang-orang yang tetap setia pada iman
Kristen. Bahkan pada abad ke-13 rezim Turki menindas orang Kristen dan menutup
gereja-gereja, rumah sakit- rumah sakit Kristen, sekolah, pasnti asuhan bagi anak-anak
Kristen dan menyitanya. Anak-anak Kristen dirampas paksa dan dijadikan sebagai budak
militer. Tetapi karena di Balkan kekuasaan Turki tidak sekuat di Asia Kecil maka
terpaksa diberikan toleransi bagi umat Kristen.43 Dalam masa dan kondisi seperti inilah
Aceh membuka hubungan politik dengan Turki. Sama seperti rezim-rezim yang berkuasa
saat ini membutuhkan dukungan dari negara super power untuk mempertahankan
rezimnya, pada zaman dulu juga situasinya sama. Misalnya Sultan Agung setelah
menerima gelar Sultan dari Mekah yang merupakan bagian dari kekhalifahan Turki di
tahun 1641 M maka ia segera melakukan ekspansi-ekspansi. Ekspansi ini dilakukan baik
terhadap kerajaan-kerajaan Islam lainnya maupun kerajaan-kerajaan Hindu. Para
tawanan non Muslim atau penduduk taklukkan dipaksa masuk Islam, sesuai dengan
syariat Islam dan adab jihad fisabilillah.44 Di sisi lain pada masa ini juga sebagian daerah
jajahan Islam seperti Portugis berhasil merdeka dan kini mereka harus berjuang untuk
melemahkan kekhalifahan Turki agar mereka tidak diancam oleh penjajahan Turki lagi.
Salah satu cara adalah dengan mencari sumber rempah-rempah yang waktu itu sangat
dibutuhkan bangsa-bangsa Eropa. Selama ini para pedagang Muslim mendapatkan
keuntungan yang besar dengan menjadi pedangan perantara. Dan keuntungan itu secara
tidak langsung juga memperkuat kekhalifahan Turki yang adalah ancaman bagi
kemerdekaan dunia waktu itu.45 Para pedagang perantara ini memang mengambil
keuntungan yang berlipat ganda dan jauh lebih tinggi daripada para petani Indonesia yang
menghasilkan rempah-rempah itu. Misalnya 112 pound cengkeh dijual seharga dua
dukkat oleh pedagang Indonesia pribumi pada para pedagang Muslim dari Jawa dan
lainnya, tiba di Malaka harganya telah menjadi 10 dukkat oleh pedagang Muslim, dan
diteruskan ke pedagang Arab Muslim sehingga kita bisa bayangkan berapa kali lipat
harganya ketika tiba di Eropa.46 Aneh kalau hanya dikatakan orang Eropa Kristen yang
menindas Bangsa Indonesia ketika orang yang menyebut diri sebagai ‘saudara-saudara
Muslim’ (ikhwan) juga tidak kalah serakahnya. Inilah kapitalisme zaman klasik, dimana
pedagang Muslim dari Gujarat, Jawa dan mungkin Tiongkok menindas atau menipu
orang-orang Muslim baru di Tarnate dan Tidore. Maka kedatangan Bangsa Portugis
disambut baik oleh Sultan Tarnate dan Tidore yang berebut mengundang Portugis untuk
mendirikan kongsi dagang mereka agar penghasilan Sultan bertambah. Keserakahan
Portugis dan penindasan Sultan Hairun dari Tarnate terhadap ummat Kristen akhirnya
merusak hubungan ini.47
Dengan menyadari dan mengetahui kondisi ini tidaklah mudah bagi kita untuk
melihat sejarah secara ‘hitam-putih’. Kita tahu tidaklah benar bahwa bangsa-bangsa Barat
adalah para penjahat sedangkan kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dibantu oleh orangorang
Muslim adalah orang baik-baik yang dijadikan korban oleh bangsa Barat. Sebelum
bangsa Barat datang Kerajaan-Kerajaan di Indonesia sudah berperang satu sama lainnya,
kedatangan Islam tidak meredakan hal ini malah menambah jumlah dan intensitas
konflik, bahkan terhadap sesama kerajaan Islam seperti Aceh, Johor dan Demak.48
Bahkan Kerajaan Aceh ini juga yang menghancurkan Kerajaan Islam pendahulunya yaitu
Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai dengan raja yang berpangkat Al Malikush
Shalih (Seorang Raja Yang Taat Beragama/Saleh) mendapat pengaruh dari raja
Damasukus yang bernama Al-Malikush Shaleh Ismail (memerintah 1237-1238) atau Al
Malikush Nadjmuddin Ayubi yang merebut Yerusalem dari Tentara Perang Salib.49
Kesultanan Aceh dengan bantuan pasukan dan persenjataan Turki dan Muslim Ethiopia
(Abbysina) berjihad dan berhasil menguasai kota-kota pelabuhan penting di Sumatera,
bahkan pada pertengahan abad ke enam belas berhasil menyerbu dan mengislamkan
Minangkabau yang masih Hindu waktu itu.50 Dan penguasaan ekonomi melalui
peperangan (jihad fisabilillah) adalah sesuatu yang dibenarkan dalam agama Islam dan
tidak asing untuk dilakukan.51 Sedangkan bangsa Barat yang datang lebih mementingkan
dagang (untung) daripada agama. Persatuan Dagang Inggris bahkan memiliki rencana
untuk memberikan seorang wanita terpelajar Inggris untuk menjadi salah satu isteri
Sultan Aceh dengan berkata, “Agama tidak menjadi soal.”52 Jadi pendapat Profesor
Ahmad Mansur Suryanegara yang meneruskan opini bahwa penjajah Kristen datang ke
Indonesia dengan motivasi gold, glory, Gospel (eman – kekayaan, kemuliaan dan
penginjilan), serta memaksa pribumi Islam melepaskan agamanya untuk masuk agama
penjajah dapat ditinjau kembali.53
Para penulis dan sejarawan Muslim berusaha merevisi jalannya dakwah Islam di
Indonesia, “… sejarah negeri Aru (Haru/Karo)… sebagai masa peralihan antara sistem ke
Hinduan kepada sistem Islam…, jelaslah bagi kita bahwa penyiaran Agama Islam itu
berlangsung di kerajaan yang bersifat Hindu dengan aman dan damai.”54 Memang
Indonesia pada dasarnya memiliki penduduk yang bersikap terbuka terhadap pendatang
asing, maka dalam masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha dengan
sekolah Buddha yang terkenal di Sumatera kita melihat, “di Bandar Kalah ditemui
berbagai penduduk: Muslim, Hindu dan Parsia” menurut laporan Abu’l-Fida. Sedang di
dekat Bandar Kalah ada juga Zobog dimana seorang pedagang Arab menjual burung
kakaktua yang mampu berbicara Arab, Persia, Hindu dan Yunani.55 Kerajaan-kerajaan
Hindu Melayu menjadikan orang-orang Muslim sebagai penasehat Raja Hindu.56
Patutlah diingat pada masa Kerajaan Sriwijaya ini, kekuasaan Byzantium yang Kristen
masih kuat sehingga adanya pedagang Arab yang menjual burung kakaktua yang bisa
berbahasa Yunani menandakan adanya juga kehadiran orang-orang Yunani atau
Byzantium yang beragama Kristen di Indonesia. Namun begitu pengaruh Islam kuat
maka hilanglah semangat toleransi dan pluralisme ini. Misalnya pelabuhan Barus yang
dulu dikuasai bangsa India Hindu akhirnya dikuasai oleh kekuasaan kaum Muslim dan
mendesak para pendahulu mereka ke pedalaman Pakpak, Karo dan lainnya.
Terbentuklah marga-marga Karo dari India seperti Sembiring dan Lingga.57 Sayang
sekali keterbukaan Hindu – Buddha tidak begitu dilanjutkan oleh para penguasa Muslim
yang baru. Berbeda dengan pengakuan penulis Muslim bahwa Islam masuk secara damai
di kerajaan Hindu, sejarawan lain mencatat Haru (Karo) diislamkan dengan paksa oleh
Aceh melalui jihad fisabilillah. Alas, Gayo, Singkil yang dulunya termasuk wilayah
Haru (Batak Karo) semuanya mengalami islamisasi paksa antara 1539 – 1564. Dalam
pertempuran ini kesultanan Aceh dibantu oleh mujahiddin (tentara) asing Muslim dari
Turki dan Gujarat. Dengan menggunakan meriam-meriam yang sebelumnya digunakan
untuk membantai orang-orang Kristen di Konstantinopel yang menamatkan riwayat
Byzantium maka penduduk dan pejuang-pejuang Hindu Karo pun mengalami
pembantaian yang sama. Mendez Pinto adalah seorang saksi mata pertentangan antara
orang-orang Batak Karo Hindu melawan agresi militer Aceh Muslim. Orang-orang Karo
memintabantuan Portugis dan berhasil membantai tentara Aceh termasuk tentara asing
(koalisi internasional Islam) Muslim dari Turki, Arab, Malabar dan Ethiopia.
Kemenangan ini tidak lama dinikmati karena kelak Sultan Iskandar Muda berhasil
menembus Kerajaan Hindu dan masuk ke Minangkabau yang juga masih Hindu waktu itu
dan memaksa semua penduduk untuk murtad dan masuk Islam.58 Agama Islam dijadikan
alat politi untuk seragamkan dan tundukkan penduduk. Para pendongeng Muslim awal
mencoba menghapus ingatan ini dengan menjadikan Bangsa Portugis sebagai kambing
hitam. Dalam versi mereka Putri Hijau beru Sembiring diperkosa beramai-ramai oleh
tentara Portugis dan tubuhnya diledakkan dengan meriam.59 Sedangkan sejarah justru
mencatat bahwa orang-orang Muslim dari Acehlah yang membantai Putri Hijau bre
Sembiring Meliala dalam jihad fisabilillah mereka. Putri Hijau sebenarnya justru
mendapat bantuan dari Portugis untuk melawan agresi militer Aceh.60 Setelah masuk
Islam maka orang-orang Batak Karo dilepaskan dari budaya aslinya dan dijadikan
sebagai orang Melayu.61 Dengan kemenangan Sultan Aceh ini maka ia secara sepihak
menyebut dirinya sendiri sebagai ; Sultan Alauddin Riayisah al Kahhar Raja Barus, Raja
Negeri Pedir dan Pasai, Maharaja Batak, Pangeran Lumbung Emas Minangkabau dan
Penakluk Haru.62 Sejak itu juga kesultanan Aceh makin memonopoli perdagangan yang
melintasi Pulau Sumatera. Aceh menguasai sumber-sumber merica yang sangat tinggi
harganya waktu itu. Motivasi agama, dan dagang (ekonomi) menjadi satu dalam invasi
Aceh ini.63 Diakui bahwa Sultan Iskandar Muda memerangi orang Batak dalam rangka
jihad fisabilillah demi :
1. Mengikis habis pengaruh Portugis
2. Menyebarkan agama Islam pada orang Batak (Karo)
3. Menguasai perdagangan merica yang sangat strategis dan menggiurkan waktu itu
Berkali-kali para pejuang Batak melawan penindasan Aceh namun berhasil ditumpas.64
Proses de-Batakisasi ini bukan dialami oleh orang Batak Karo saja tetapi juga
orang Batak lainnya. Sejarawan dan budayawan Melayu Muslim, Tengku Luckman
Sinar mengakui, “di kalangan suku-suku Karo, Simalungun dan Perdambanan, Islamisasi
itu sekaligus dilaksanakan dengan proses’melayunisasi’. Sekali sudah masuk Melayu (
masuk Islam ) maka marga-marga tidak dipakai lagi, bahasa Melayu dipakai sehari-hari,
begitu juga cara berpakaian dan adat Melayu.”65 Ia melanjutkan, “orang-orang
Mandailing, Sipirok bahkan orang-orang Toba yang Islam, telah mencatatkan diri sebagai
‘Melayu’ ketika akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah masa itu.”66 Hasilnya
sangat efektif. Orang Batak melupakan identitas sendiri, Batak Pardembanan malah
punah dan jadi Melau sehingga muncul istilah Kampak belah kayu, Batak jadi Melayu.67
Sewaktu Belanda masuk maka sultan-sultan Melayu asal Btak ini merampas tanah
penduduk yang tidak mau murtad dan masuk Islam dan menyerahkan tanah itu untuk
perkebunan-perkebunan asing. Orang-orang Batak terutama suku Batak Karo didesak
untuk mendiami lahan lahan yang tidak baik.68.
Islamisasi Tanah Batak
Islamisasi yang dilakukan oleh Kesultanan Aceh mengakibatkan orang Batak
kehilangan jati dirinya sebagai Batak dan menjadi Melayu, mirip dengan dampak kuatnya
pengaruh Barat saat ini yang membuat orang menjadi kebarat-baratan. Hilangnya jati diri
seseorang atau suatu masyarakat dapat dikarenakan :
1. Dominasi budaya lain yang lebih kuat dan lebih berpengaruh dari budaya lokal
2. Rasa malu denagn jati diri sendiri, dan
3. Dengan mengambil budaya dominan diharapkan dapat ikut ambil bagian dalam
kekuasaannya juga
Selain itu juga didorong oleh adanya pengaruh dari luar seperti manipulasi data dan
pemutarbalikan fakta. Lance Castle mencatat marga Hasibuan pada abad ke-19 Masehi
sempat mengira diri mereka adalah keturunan Raja Iskandar Zulkarnaen (Iskandar
Agung).69 Besar kemungkinan keyakinan tidak berdasar ini muncul akibat serangan dan
Islamisasi kaum Padri dari Minangkabau ke Tanah Batak. Sebelumnya Minangkabau
sendiri mengalami serbuan Aceh yang mengislamkan mereka. Kesultanan Aceh memang
meyakini bahwa Sultan Aceh adalah keturunan dari Iskandar Zulkarnaen (Iskandar
Agung).70 Dan Aceh sendiri didukung oleh kekhalifahan Turi dengan memberi gelar
“Serambi Mekah” pada Aceh. Maka Aceh berperang dengan orang Kristen dan Hindu
yang ada di Indonesia demi menyebarkan dakwah Islam ini. 71 Tidaklah heran jika
kedatangan nilai-nilai baru mengancam kedudukan nilai-nilai lama dalam masyarakat
terutama jika masyarakat melihat nilai-nilai baru itu dibawa oleh suatu bangsa yang lebih
kuat. Dewasa ini sering pula para alim ulama mengeluhkan apa yang disebut sebagai
sikap kebarat-baratan. Pada zaman dahulu penjajahan budaa itu adalah sifat kearabaraban
atau kemelayuan. Misalnya Bangsa Pakistan saat ini tidak bangga akan nenek
moyang mereka yang meninggalkan peradaban agung di Mohenjo-Daro, melainkan lebih
membanggakan budaya Arab yang sangat dominan dalam masyarakat mereka.72
Penyelewengan tafsir histories ini juga dilakukan di Indonesia. Kaum revisionis (orang
yang merubah penulisan sejarah) membuat opini bahwa di Minangkabau perselisihan
antara kaum adat dan kaum Muslim terjadi karena adu domba Belanda, walau faktanya
Belanda baru turun tangan kerena diundang oleh kaum Adat Minangkabau. Belanda
sendiri enggan perang waktu itu karena masih harus menghadapi Perang Diponegoro.73
Para penulis Muslim saat ini suka mengutip pendapat yang mengatakan :
1. Ada hubungan baik antara para saudagar (pedagang) Islam dengan penduduk
lokal
2. Orang-orang Islam menampakkan perilaku yang bersih dan sehat (dari Pribumi)
3. Orang-orang Islam itu memberi teladan untuk menyelamatkan diri sendiri,
keluarga dan masyarakat
4. Persamaan derajad manusia yang tertanam dalam pandangan hidup mereka.74
Menurut HAMKA para pedagang yang berpengaruh menyebarkan agama Islam di
Indonesia adalah para pedagang Arab.75 Sayangnya para pedagang Muslim dari Arab ini
tidak sebaik yang dceritakan oleh para penulis Muslim masa kini, termasuk HAMKA.
Ibnu Khaldun, sejarawan besar Muslim mengakui mental para pedagang Muslim Arab
sebagai berikut, “Tingkah laku pedangan lebih rendah dibandingkan dengan tingkah laku
orang-orang yang memegang pemerintahan, dan jauh lebih rendah daripada keprawiraan
dan kejujuran.”76 Dengan kata lain hubungan antara para pedagang dan penduduk
setempat memang dilandasi oleh cinta akan uang, maka para pedagang akan menikahi
putri-putri orang yang berpengaruh, bukan putrid dari rakyat jelata.77 Bagi orang yang
mau masuk Islam akan diberi kemudahan dan fasilitas untuk berdagang demi mencari
keuntungan.78 Perintah untuk menjadikan seks, terutama melalui perkawinan sebagai alat
dakwah Islam berasal dari Nabi Muhammad sendiri, “Aku memerintahkan berperang
dengan asma (nama) Allah di jalan Allah ( jihad fisabilillah ). Bunuhlah siapa yang kafir
kepada Alllah… kalau mereka menyambut seruanmu maka kawinilah putri raja (Arab =
Amir – pemimpin)nya.” 79 Karena Islam mengizinkan poligami maka para pedagang
Arab dapat memiliki istri di beberapa tempat. Namun tetap saja bangsa-bangsa bukan
Arab walaupun telah memeluk agama Islam dipandang rendah oleh Arab Muslim.80
Orang-orang Arab Muslim sangat tidak senang ketika orang-orang Muslim dari bangsabangsa
lain mendapat posisi yang setara dengan orang Arab, dan orang Arab Muslim ini
menghina dan meremehkan Muslim non Arab.81 Di Indonesia sampai saat ini sifat
kesombongan ini masih terus dilakukan oleh banyak orang Arab yang merasa menikah
dengan orang Indonesia pribumi berarti menikah dengan orang yang tidak sederajad.82
Pendapat kedua yang mengatakan umat Muslim lebih bersih dari kaum pribumi
juga tidak diminati oleh drs. Mansoer. Beliau mempertanyakan pendapat yang
mengatakan bahwa penduduk pribumi jorok terutama orang Batak yang membiarkan
jenazah sampai bertahun-tahun sebelum dikuburkan. Secara salah drs. Mansoer
menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris, the dogs, pigs and monkeys eating stupid
Bataks padahal yang dimaksudnya adalah orang Batak makan daging anjing, babi dan
monyet/kera. Namun bangsa-bangsa lain dengan peradaban yang sangat maju juga
makan daging babi dan itu tidak membuat mereka kotor secara lahiriah atau bodoh secara
lahiriah.83 Jelaslah sekedar kebersihan secara relijius tidak kuat untuk menjadikan orang
berduyun-duyun masuk Islam. Alasan ketiga bahwa orang Islam menjadi teladan karena
membela kepentingan diri sendiri, keluarga dan masyarakat juga terasa aneh, karena hal
ini juga dilakukan oleh orang-orang non-Muslim. Jadi alasan ketiga bukanlah alasan
yang baik. Dan alasan keempat bahwa agama Islam menjanjikan persamaan derajad juga
tidaklah sepenuhnya benar. Kita telah mengetahui bahwa orang-orang Muslim Arab
memandang rendah terhadap orang Muslim non Arab. Maka ada kemungkinan lain
Islam dapat berkembang, dan ini diakui oleh para penulis Muslim awal walau disangkal
oleh penulis-penulis Muslim masa kini. Cara itu adalah jihad fisabilillah.
Fakta bahwa Islam masuk ke tanah Batak khsusunya Batak Mandailing, Angkola
dan Toba mula-mula dengan kekerasan berusaha disangkal oleh para apologet Muslim,
sama sepeti sejarawan Muslim di Pakistan menyangkal bahwa orang Arablah yang mulamula
menyerbu Sind (India). Kedatangan kaum Padri, menurut revisionis (orang yang
menulis ulang sejarah) adalah semata-mata untuk berdagang, tapi rombongan pedagang
padri ini diserang oleh orang Batak hingga timbullah peperangan.84 Mengingat wialah
kekuasaan suku-suku Batak waktu itu tidak dipersatukan dalam bentuk kerajaan seperti
Kerajaan Aceh melainkan merupakan suku-suku dan negeri-negeri yang independent
maka dari argumen di atas dapat kita ambil kesimpulan :
1. sungguh jahat orang-orang Batak ini karena tanpa ada komando dari pusat maka
setiap rombongan padri yang masuk ke tanah Batak diserang – mulai dari
Tapanuli Selatan sampai ke Bakkara (Bakti Raja)
2. sungguh gigih para pedagang padri ini yang walau ditolak tapi memaksa terus
untuk berdagang bahkan dengan cara membantai Raja Sisingamangaraja X
Tapi kita semua tahu Pasukan Padri masuk ke tanah Batak bukan untuk berdagang secara
baik-baik. Adapun kedatangan pasukan penjajah Padri Muslim ke Tanah Batak adalah
untuk membawa misi 3 G yaitu Gold, Glory dan Glorious Qur’an atau dengan kata lain
untuk mencari harta (ghanimah – rampasan perang), kekuasaan politik atas darul harbi
(daerah perang karena belum diislamkan) dan membawa Al-Qur’anul karim (kitab suci
Al-Qur’an yang mulia) agar orang Batak masuk Islam.85 Diperkirakan setidkanya
200.000 (dua ratus ribu) orang Batak menjadi korban jihad fisabilillah Mujahiddin Padri
ini, sebuah jumlah yang sangat luar biasa mengingat populasi waktu itu tidak sebesar saat
ini.86 Di daerah Silindung – Pahae – Hutagalung diambil kanak-kanak yang setelah
diislamkan bernama Tuan Syekh Basyir Simorangkir oleh Pasukan Padri. Setelah
kembali dari Minang, ia berusaha mengislamkan orang-orang Batak. Dari Hutagalung
muncul Abid Hutagalung yang juga dididik dan dibesarkan di Minangkabau. Abid
membuang marganya dan menjadi Melayu yang bernama Tuan Syekh Arsyad gelar Tuan
Faqih.87 Sementara itu kelak di Kerajaan Serdang, para sultan juga melakukan politik
yang sama dengan Mujahidin Padri, yakni mengambil putra-putra tokoh Batak untuk
dimurtadkan ke Islam.88 Praktek keji seperti ini bukanlah hal yang asing dalam sejarah
Islam Internasional. Thomas W Arnold dalam The Preaching of Islam sudah
menyinggung praktek ini dan Daniel Pipes dalam Slave Soldiers and Islam membahas
dengan lebih dalam lagi.89 Anak-anak diculik, diasingkan dari budayanya, dibesarkan
dalam budaya dan agama si penjajah dan penculik kemudian dijadikan sebagai alat untuk
menindas bangsa sendiri. Kalau kita menyangka ini adalah praktek masa lampau maka
kita salah. Saat ini misalnya praktek ini masih dilakukan di Sudan yang dijajah Arab dan
yang berhasil memecah penduduk Sudan ke dalam dua bagian yaitu Muslim dan non-
Muslim.90 Anak-anak Kristen Katolik di Timor Leste juga banyak diculik dan
dimurtadkan di pesantren-pesantren Indonesia untuk kelak dikirim kembali ke Timor
Leste demi merusak budaya Timor Leste. Alangkah biadabnya perbuatan ini.91 Dengan
cuci otak seperti ini maka tidaklah heran Parlindungan dalam “Tuanku Rao” mengakui
bahwa diantara kaum penjajah Padri yang menyerbu Tanah Batak dan membantai orangorang
Batak banyak terdapat mujahid Batak (orang Batak yang telah dimurtadkan
menjadi Islam). Orang-orang ini telah dididik untuk membenci kekafiran yaitu agama
apapun di luar Islam. Dalam QS Al – Baqarah 2:23, “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu (menjadi) pemimpinpemimpinmu,
jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan (Islam) dan
siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, maka mereka itulah
orang-orang yang dholim (zalim).” Dalam riwayat lain diceritakan mengenai Abi
‘Ubaidah bin al-Jarrah yang membunuh bapak kandungnya sendiri dalam Perang Badar.
Anak ini bukanlah anak durhaka tapi malah menjadi sahabat Nabi Muhammad karena
dipandang lebih setia pada agama daripada pada darah dagingnya sendiri.92 Begitulah
sejarah juga mencatat orang Batak yang masuk Islam menjadi malu dengan kebatakannya
dan menolak mengakui diri mereka sebagai Batak. Bagi orang Melayu waktu itu kata
‘Batak’ jarang diartikan sebagai suku atau etnis melainkan “ petualang, pengembara,
gelandangan, perampok, penyamun, merampas” seperti yang masih dapat kita lihat pada
Kamus Poerwadarminta maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun revisionis
Muslim saat ini menulis, “Aibat dari propaganda Belanda, timbul anggapan umum bahwa
setiap yang bermarga Batak dianggap beragama Kristen. Sehingga bila ada suku Batak
yang memasuki agama Islam, tidak mau membubuhi marganya lagi.”93 Alangkah
menyesatkannya dusta-dusta mereka.
Malim dan Muslim
Haji Mohammad Said di tahun 1960-an membuat sebuah teori baru yang
mengatakan Raja Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Opini ini kini dijadikan
sebagai fakta oleh Profesor Ahmad Mansur Suryanegara seorang sejarawan Muslim.
Pada masa itu Adniel Lumbantobing, seorang Kristen dan teman-temannya yang
mengakui Raja Sisingamangaraja XII sebagai penganut agama tradisional Batak sedang
gencar-gencarnya memperjuangkan pengakuan nasional terhadap kepahlawanan
Sisingamangaraja XII. Perjuangan ini berhasil dengan diakuinya Raja Sisingamangaraja
XII menjadi Pahlawan Nasional pertama di luar Pulau Jawa. Adniel Lumbantobing juga
merancang dan membangun tugu Sisingamangaraja. Meskipun begitu memang ada
kepercayaan yang muncul belakangan diantara orang Melayu di Barus Hilir sebagaimana
yang diangkat oleh Jane Drakard bahwa Sultan Ibrahim, Sultan pertama Barus Hilir
mengajak orang Batak masuk Islam taip orang Batak menolak. Sultan Ibrahim kemudian
pergi setelah mendapatkan anak dari seorang putri Batak yang kelak menjadi Raja
Sisingamangaraja I. Karena Barus berhubungan dengan Aceh, maka memori tentang
Aceh juga masuk ke tengah orang Batak Toba yang akhirnya membuat bendera
Sisingamangaraja XII dan stempel pribadinya mendapat pengaruh Aceh.94 Sebenarnya
ada kemungkinan lain, yaitu pada mulanya orang-orang Batak saling berhubungan.
Namun sejak sebagian Kerajaan Batak dikuasai Aceh dan Gayo, Alas, Singkel, Tamiang
bahkan sampai ke Barus berhasil ditaklukkan dan diislamkan Aceh melalui jihad
fisabilillah sehingga terjadilah pemutusan hubungan antara orang Batak yang
dimelayukan atau diacehkan dengan orang Batak yang masih setia dengan budayanya.
Namun orang-orang Batak yang masih memegang teguh adat istiadatnya ini, khususnya
Batak Toba memiliki memori tersamar akan hubungan mereka dengan saudarasaudaranya
di Barus atau dareah lainnya yang telah diislamkan. Islam tidak berhasil
masuk ke Tanah Batak jika tidak didahului oleh serangan jihad fisabilillah, baik dari
Aceh maupun Minangkabau. Setelah Tanah Batak diduduki baru bisa dilakukan proses
Islamisasi. Maka orang Batak di Bakara yang berasal dari kelompok (keturunan) Sumba
maupun orang Batak yang berasal (keturunan) dari Borbor sama sekali tidak memiliki
memori seperti di Barus Hilir, bahwa Sisingamangaraja I berasal dari keturunan Sultan
Ibrahim. Berarti kemungkinan besar cerita Barus Hilir itu hanyalah dongeng untuk
melegalkan kekuasaan Barus Hilir yang telah memeluk Islam atas Tanah Batak yang
masih merdeka.95
Kerjasama antara Raja Sisingamangaraja XII dengan Aceh tidak membuktikan
bahwa ia telah beragama Islam karena Sisingamangaraja XII adalah Raja yang
menghargai semua raja-raja lain sebagai sederajad, bukan dalam relasi raja taklukan
dengan sultan penakluknya. Penggunaan huruf Arab melayu dalam stempel Raja
Sisingamangaraja XII juga merupakan bukti dari pendapat diatas. Pengguna bahasa
Inggris tidak membuktikan bahwa ia warga negara Inggris dan beragama Kristen, begitu
juga huruf Arab Melayu waktu itu adalah semacam bahasa internasional di Nusantara.
Maka penggunaan huruf itu menunjukkan adanya kesadaran yang luas untuk saling
berinteraksi antar bangsa dengan asas kesetaraan. Maka hal stempel ini juga tidak dapat
dijadikan bukti mengatakan Sisingamangaraja XII telah masuk Islam. Sedangkan
argumen lain mengatakan bahwa Sisingamangaraja XII berwarna hijau – warna Islam
dan bukannya warna Batak : merah – putih – hitam, pendapat ini tidak mendapat bukti
histories apapun. Alasannya karena tidak pernah ada yang bisa memperlihatkan benderah
hijau itu, yang kedua adalah dengan logika berpikir ini kita juga bisa mengatakan Adolf
Hitler itu pasti orang Batak, ‘bukti’nya bendera Nazi berwarana : merah – putih –
hitam.96 Para misionaris yang menduga Sisingamangaraja XII masuk Islam juga tidak
pernah bisa memberikan bukti selain dari ‘katanya’ (kabar angin). Bukannya
memerintahkan rakyatnya untuk masuk Islam dan melawan Belanda, Raja
Sisingamangaraja XII malah akhirnya minta agar Zending Kristen jangan diganggu.
Pendekatan penginjilan Nommensen yang lemah lembut memang jauh beda dengan
metode dakwah yang disampaikan oleh Pasukan Padri.97 Menurut Bapak Naipospos
wakil dari Agama Permalim dalam Seminar Gugurnya Sisingamangaraja XII Juni 2007
lalu di Hotel Danau Toba Internasional, Raja Sisingamangaraja XII malah menegur Guru
Somalaing Pardede, yang juga seorang yang dipercayakan melanjutkan agama Permalim,
karena membawa-bawa nama Raja Rum ( Kekhalifahan Turki yang menguasai dan
berpusat di Romawi Timur) dalam doanya.98 Raja Sisingamangaraja XII menegaskan
keindependennya dengan memberikan surat pengangkatan raja (Parbaringin) Bius
Laguboti yaitu Raja Mulia Naipospos.99 Dengan adanya kebanggaan ini maka Agama
Permalim ini masih kuat hingga saat ini karena mereka tahu Raja Sisingamangaraja
sebagai Malim (pemimpin agama) mereka tidak pernah menjadi Muslim, maka dengan
bangga mereka tetap menyebut diri mereka sebagai Permalim dan melakukan ibadah
yang sama sekali tidak mirip dengan ibadah umat Muslim. Belakangan muncul cerita
bahwa Guru Patimpus, pendiri desa (kini kota) Medan adalah keturunan Raja
Sisingamangaraja juga, namun hal ini engan tegas dibantah oleh Keturunan Raja
Sisingamangaraja yang mengatakan dalam silisilah marga mereka, yaitu Sinambela tidak
dikenal keberadaaan Guru Patimpus yang bermarga Sembiring Pelawi, walau saat ini ada
juga penulis Muslim yang memaksakan marga ‘Sinambela’ pada pendiri kota Medan
ini.100
Al-Ghazwul Fikri
“Misi Kristiani Pisahkan Budaya Tapanuli” begitu artikel dalam majalah Islami
Sabili No.12 Tahun XIV 28 Desember 2006/ Dzulhijjah 1407, halaman 56. Sub judul
selanjutnya menambahkan, “Identitas ini terbentuk karena proses Kristenisasi, pemisahan
budaya dan politik dari saudaranya di Selatan” yakni Mandailing. Jelaslah ini berita
bohong karena kita tahu justru Islamisasilah yang pertama-tama menghancurkan budaya
Batak yang disebut Sabili sebagai ‘Budaya Tapanuli’. Jihad fisabilillah Aceh telah
membuat Batak mengalami statelessness (ketiadaan akan negara) tulis Antony Reid.
Selanjutnya serangan jihad fisabilillah Padri membuat orang Batak Mandailing
kehilangan jatidirinya sebagai Batak menurut Lance Castles. Lantas mengapa para juru
dakwah Muslim ini menjadikan umat Kriten sebagai terdakwa perusak kebersamaan
orang Batak? Hal ini tidak dapat dilepaskan dari al-ghazwu’l fikri atau “serangan
pemikiran”. Istilah ini dipopulerkan oleh penulis-penulis Muslim. Al-ghazwu’l fikri
mempunyai unsure kekerasan atau pemaksaan kehendak kepada pihak lain yang hendak
ditaklukkan. Sebagai serangan non fisik, ia mempunyai pemahaman yang dekat dengan
cuci otak atau dengan istilah-istilah lain: kontrol pemikiran, reformasi ideologi.101 Adian
Husaini menyebutnya dengan “penyesatan opini”.102 Melalui penyesatan opini di mass
media misalnya, orang digiring untuk meyakini opini (pendapat yang belum terbukti)
yang ditulis oleh penulis sebagai fakta (peristiwa yang benar-benar terjadi), maka
hilanglah kesempatan untuk melihat satu peristiwa dari berbagai sudut pandang yang
berbeda dan menganalisanya secara kritis. Artikel ringkas “Dakwah Islam di Tanah
Batak” atau yang bisa disebut juga dengan “Islamisasi Tanah Batak” ini hadir untuk
menjadi pembanding dan penyeimbang atas berbagai opini yang beredar luas di media
massa. Tampaknya ada pihak-pihak yang berusaha merevisi sejarah dengan menonjolkan
kekurangan pihak lain sambil menyembunyikan kesalahan sama atau yang lebih parah
yang telah dilakukan oleh pihaknya sendiri. Inilah yang kita kenal sebagai “standar
ganda”.
Ahmad Arief Rangkuti, ketua Majelis Ulama dearah Pematang Siantar menulis,
“colonial Belanda memaksakan Kristen kepada penduduk… Jadi colonial Belanda di
Indonesia, selain menjajah negeri ini adalah menjajah keyakinan dan agama Bangsa
Indonesia.” Tentu Rangkuty melupakan penjajahan Aceh dengan dukungan
Kekhalifahan Turki dan pasukan-pasukan Muslim asing atas Tanah Batak dan
memaksakan Islam pada penduduk, langkah yang sama dilakukan juga oleh Pasukan
Padri ratusan tahun kemudian pada orang Batak. Selanjutnya Rangkuty menulis
mengenai Raja Siantar, Sang Nualuh Damanik yang dicopot karena masuk Islam. Konon
Belanda takut karena agama Islam mengajarkan “anti penjajahan sesaman manusia”.103
Rangkuty juga abaikan fakta bahwa sewaktu pasukan Aceh menyerbu Kerajaan (Batak)
Haru maka, “Raja Mbelin-Raja Mbelin Karo yang tetap mempertahankan agama nenek
moyangnya Perbegu, seperti Sibayak Namo Surou, dicopto kekuasaannya… Sibayak Lau
Cih/Kabanjahe tetap taat menjalankan agama nenek moyangnya, maka wilayahnya yang
di Karo Jahe dicopot , dan didudukkan Guru Mbelin Pa Timpus Sembiring Pelawi…”104
Lance Castles yang sama sekali tidak bersimpati pada Zending Kristen dengan berusaha
menunjukkan kerjasama antara Zending dan Belanda justru melihat adanya fakta bahwa
di Tapanulis Selatan, “agama tradisional dihancur leburkan kaum Padri… Di Mandailing,
penduduk kelihatan tidak bangga dengan kebatakannya, bahkan sebagaimana akan kita
lihat, menyangkalnya sekeras-kerasnya… Bahkan orang Batak Toba yang merantau ke
Medan boleh jadi terpaksa masuk Islam dan berasimilasi dengan budaya Melayu yang
dominan secepat mungkin.”105 Bahkan dengan dukungan kekuatan ekonomi yang
mereka miliki orang Mandailing berusaha menghancurkan identitas kebatakan pada
orang-orang Batak Muslim.106
Lucu sekali fakta-fakta ini tidak mau diperhatikan oleh Sabili yang hanya
mengutip pendapat Castle mengenai Belanda yang peralat agama Kristen sebagai
penyebab terpecahnya orang Batak, tapi mengabaikan bahwa Islamlah yang pertama kali
secara besar-besaran dan vulgar berusaha hancurkan kebatakan (habatahon). Justru
Gereja Methodist dan bukan yang lain yang pertma-tama memberikan harga diri bagi
orang Batak perantauan untuk menunjukkan kebatakannya dengan mengadakan
kebaktian dalam Bahasa Batak di Batavia (Jakarta).107 Bahkan sampai masa modern
adapt Batak (terutama Batak Toba) dipandang sebagai penghambat laju agama Islam
diantara orang Batak.108 Siasat yang dipakaipun adalah strategi yang sama dengan yang
digunakan oleh para juru dakwah (da’i) Islam di masa Kolonial Belanda. Pada masa
Kolonial Belanda, para pegawai pemerintah yang beragama Islam masuk sebagai kaki
tangan kolonialisme Belanda di Tanah Batak. Tapi mereka juga sekaligus memanfaatkan
dukungan Belanda berupa fasilitas, gaji, transportasi dan lainnya untuk melakukan
Islamisasi diantara orang Batak.109 Sampai saat ini siasat itu masih dilakukan, Seminar
Dakwah Islam yang diadakan di Medan tahun 1983 merekomendasikan agar pemerintah
mengirim pegawai-pegawai negeri yang Muslim ke Tanah Batak Toba untuk melakukan
Islamisasi.110
Di Humbahas yang 90% penduduknya beragama Kristen tetap saja dipaksakan
pengangkatan pejabat Departemen Agama yang beragama Islam tanpa perduli dengan
lingkungan dan perasaan masyarakat daerah setempat.111 Di Tapanuli Utara, pejabat
Kejasaan Negeri Tarutung yang Muslim mulai mengadakan kegiatan Islami di kantor
pemerintahan.112 Di Desa Buntu Pane Asahan, camatnya drs Romihi Hasbi
menghentikan pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) yang
didirikan di tengah kebun coklat milik orang Kristen.113 Sebelumnya camat Labuhan
Deli, drs Azwan Supradi menyuruh bulldozer untuk menggusur Gereja Pentakosta di
Indonesia (GPdI) di Jl. Veteran Pasar V Desa Manunggal.114 Dalam wacana
pembentukan Propinasi Tapanuli (Protap), Yusnan Pasaribu dari DPRD Sibolga
mengatakan Tim Pemrakarsa Protap mengingini sebuah propinsi Kristen. Ketua
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sibolga, Nadzar juga mengkhawatirkan umat Islam
jadi minoritas di propinsi Kristen.115 Juga ada nama-nama lain seperti Syukran Tanjung
dari Fraksi Golkar, Haji Raden M. Syafei dari Partai Bintang Reformasi, Haji Banuaran
Ritonga dari DPRD-SU yang mengaitkan Protap dengan SARA (Suku, Agama, Ras,
Antar golongan), misalnya Haji Syafei mengatakan umat Muslim Tapanuli tidak
mendukung Protap.116 Statement (pernyataan) yang tidak bijak ini menimbulkan reasi
dari umat Muslim di Tapanuli yang mendukung Protap sehingga mereka tampil di barisan
depan. Tapi hal ini ditafsir berbeda oleh Komandan Banser GP Ansor, Raidir
Sigalingging. Raidir yang juga merupakan ketua umum DPP Persatuan Pemuda Pelajar
Mahasiswa Batak Islam (P3MBI) menyatakan agar : khusus umat Islam dihimbau
menguatkan barisan menghadapi kemungkinan terburuk, terutama kecendrungan
kelompok Protap menjadikan oknum beragama Islam sebagai tameng.”117 Anehnya
mereka lupa atau mungkin sengaja mengabaikan sejarah mencatat justru umat Kristen
yang sangat toleran pada umat Muslim. Waktu Bupati Nias yang 90% pendudukanya
Kristen dijabat oleh Haji Zakaria Lafau tak ada orang Kristen yang protes atau menuduh
islamisasi. Waktu daerah-daerah dimekarkan dan perda (peraturan daerah) berbau
Syariat Islam seperti di Bulukumba diterapkan umat Kristen dan non Muslim lainnya bisa
menghargainya. Saat ini saja menurut laporan yang diterbitkan oleh group Jawa Pos,
sudah ada 22 daerah yang menetapkan Perda bernuansa Syari’at Islam.118 Lantas
mengapa jika ada keinginan dari orang Batak Toba yang sebenarnya pluralis ini untuk
membentuk Protap dicegat karena motif kebencian terhadap agama Kristen? Umat
Kristen di Tanah Batak dipaksa untuk terbuka pada umat Islam tapi umat Islam menolak
untuk terbuka, hidup sederajad dan saling menghargai dengan orang lain. HAMKA
misalnya memuji orang-orang Muslim yang merantau ke daerah Kristen, kawin dan
mengislamkan gadis-gadis Kristen dan membuka mesjid, tapi mencela orang Batak yang
menikahi gadis Minang di Gereja.119 Sungguh suatu standar ganda! Hal ini tetap
meracuni pemikiran ‘intelektual’ Muslim, seperti yang dapat kita baca dalam buku
karangan Ronidin, dosen Universitas Andalas Padang dan diterbitkan oleh Andalas
University Press. “Intelektual” ini menulis, “para misionaris berupaya meracuni mental
generasi muda Islam melalui narkoba, miras, trend, mode, pergaulan bebas, serta
penyusupan pemikir-pemikir Kristen ke tengah-tengah masyarakat dengan berbagai
cara.”120 Lupalah ‘intelektual’ kita ini bahwa budaya free sex dalam Islam dihalalkan
melalui kawin cerai dan bahkan perbudakan; juga penghasil opium terbesar di dunia
adalah Afghanistan yang merupakan negara Islam dengan penduduk Muslim yang sangat
fanatic. Mengapa umat Muslim kalau mayoritas tak mau terbuka pada umat lain, tapi
jika umat Islam minoritas maka dengan berbagai cara minta agar orang lain harus
menghargai dan menuruti keinginan mereka? Penulis ingat peristiwa yang dicatat dalam
Kitab Hakim-Hakim pasal 9 mengenai Abimelekh seorang tiran yang haus darah, penuh
nafsu untuk membunuh dan dikuasai angkara murka. Mula-mula ia masuk dan
mempengaruhi orang-orang untuk mendukung dia dengan alasan persaudaraan
(hubungan darah dan kekerabatan). Setelah ia berkuasa maka orang-orang menyesal tapi
tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Maka kita juga dituntut untuk bersikap arif agar dapat
saling menghargai dalam kehidupan beragama dan melakukan syiar agama.
Medan, 25 Juni 2007
1 Risalah Seminar Sedjarah Masuknja Islam ke Indonesia. Panita Seminar Sedjarah Masuknja Islam ke
Indonesia, Medan, 1963, h.69 (selanjutnya disingkat SMI)
2 Andi Riza Hidayat, “Ketut dan Misteri Bukit Kerang” Kompas 30 Mei 2007
3 R. Soemono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia-1. Kanisius, Yogyakarta, 1994, h.79-82
4 Bisuk Siahaan, Kehidupan di Balik Tembok Bambu. Kempala Foundation, Jakarta, 2005, h. 4-11.
Namun Siiahaan meragukan bahwa suku Batak berhubungan dengan suku Karen.
5 Irwansya Harahap,dalam Seminar 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII. 27 Mei 2007 (
selanjutnya disebut Seminar SMR XII) di Deli Room, Hotel Danau Toba Internasional, Medan.
6 M.A. Marbun & I.M.T. Hutapea, Kamus Budaya Batak Toba. Balai Pustaka, Jakarta, 1987, h.27-28
7 Robert Sibarani, “Pelegalitas Surat Sisingamangaraja XII dan Aksara Batak”. Seminar SMR XII, h.5
8 Marbun – Hutapea, 1987, h.27; SMI, 1963,h. 128
9 SMI, 193, h.62
10 SMI, 1963, h.221,228,241-242.272; Sejarah Da’wah Islamiyah dan Perkembangannya di Sumatera
Utara. Manjelis Ulama Daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Utara, Medan, 1981 (dibukukan 1983), h. 72
(selanjutnya disingkat: DIPSU).
11 DIPSU, 1983, h.109
12 Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam. Widjaya, Jakarta, 1985, h.317-318. Para penulis dalam
SMI maupun DIPSU sering mengacu pada karya Arnold ini; HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama.
Pustaka, Kuala Lumpur, 1981, h.3
13 HAMKA, 1981, h. 1-3
14 Massadul Hasan, History of Islam – 1. Adam Publisher, Delhi, 1998, 39
15 Ibnu Khaldun, Filsafat Islam Tentang Sejarah. Tintamas, Jakarta, 1976, h. 75-76
16 Khaldun, 1976, h. 187-188
17 HAMKA, Tafsir Al-Azhar –Juzu III. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1983, h.25; Adil Muhyid din al Allusi,
Arab Islam di Indonesia dan India. GIP, Jakarta, 1992, h.18; Ibnu Taimiyah, Siyasah Syari’ah. Risalah
Gusti, Surabaya, 1999, h.112,119
18 Phillip K. Hitti, History of the Arabs. Serambi, Jakarta, 2005, h. 174-179, 186
19 Hitti, 2005, h. 16, 274-275
20 Arnold, 1985, h. 44, 46, 50-51, 58-63
21 Fatima Mernissi, Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan. Mizan, Bandung, (halaman tahun penerbitan
sobek), h.80-81
22 bnd. Hitti, 2005, h. 271, 318-320; Ahmad Amir, Fajar Islam. CV Forum, tanpa tempat, tanpa tahun
penerbitan, h. 174-177
23 bnd. Hitti, 2005, h. 426-428; Mernissi, h. 80-81; Khalil Abdul Karim, Historisitas Syariat Islam.
Pustaka Alif, Yogyakarta, 2003, h.53, 102-105, 126, 148-149; Amir, h. 121
24 Cholil Uman, Asbabun Nuzul. Citra Umbara, Bandung, 1995, h. 597-598
25 menurut tafsir (terjemah) Mahmud Yunus
26 Uman, 1995,h. 302
27 Taimiyah, 1999, h. 116
28 “Berdakwah dengan Kekuasan” Sabili 19 Juni2003,h. 12-13
29 Hitti, 2005, h. 180
30 bnd. Hitti, 2005, h.428
31 Samuel H Moffat, A History of Christianity in Asia-1. Harper San Francisco, Ny, 1992, pp.337-340,
357-361; Karim, 2003, h. 142-143
32 Hitti, 2005, h.274, 262-263, 277. Thomas W Arnold dalam The Preaching of Islam juga memberi
banyak contoh-contoh lainnya.
33 Kursus Kader Katolik, Sedjarah Geredja Katolik di Indonesia. CLC, Djakarta, 1971, h.19; A. Heuken,
Ensiklopedi Gereja V. CLC, Jakarta, 1995, h.169
34 SMI, 1963, h. 77-78
35 seluruh bagian ini berasal dari Anthony Reid, Is there a Batak History? Asia Research Institute –
Working Paper Series no. 78, November 2006
36 DIPSU, 1983, h.71
37 Marbun – Hutapea,1987, h.70-71
38 E.A. Livingstone, The Concise Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford Universtity Press,
NY, 1992, p.317
39 R. Soetarno, Aneka Candi Kuno di Indonesia. Dahara Prize, Semarang, 1993, h. 161
40 Hasbullah Bakry, “Pandangan Islam tentang Kristen di Indonesia” dalam Peninjau Thn XI, 1&2, 1984,
h.197
41 Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam 1&2. Rajawali Press, Jakarta, 2000,h. 673; SMI, 1963, h.
222-223
42 Lapidus, 2000, h. 677
43 Lapidus, 2000, h. 470-471, 476-477
44 H.J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram. Grafiti Press, Jakarta, 1986, h. 105-107
45 B. Schrieve, Indonesian Sociological Studies. W.van Hoeve, Ltd – The Hague, Bandung, 1955, pp.42-
44; B.H.M Vlekke, Nusantara A History of Indonesia. P.T. Soeroengan, Djakarta, 1961, p.91
46 Vlekke, 1961, p. 90
47 Vlekke, 1961, pp.87, 95-96
48 Schrieve, 1955, p.42’ Brian Harrison, Asia Tenggara Suatu Sejarah Ringkas. Kementrian Pelajaran
Malaysia, K.L.,1966, h.115
49 SMI, 1963, h.79; Brahma Putro, Karo dari Zaman ke Zaman. Ulih Saber, Medan,1979, h.170
50 Schrieve, 1955, p. 44; Vlekke, 1961, p.93
51 Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Rajawali Press, Jakarta, 2004, h. 30,-
38-39,41
52 Harrison, 1966, h.114-115
53 Ahmad Mansur Suryanegara, “Gereja Mendukung Penjajahan” Sabili 7 Mei 2004, h.96
54 DIPSU, 1983, h. 117
55 SMI, 1963, h. 216-215
56 Lapidus, 2000, h.721
57 Putro, 1979, h. 164-165
58 Putro, 1979, h. 13, 101, 136-137, 139, 170
59 Putro, 1979, h. 224
60 Putro, 1979, h. 224, 138, 143
61 Putro, 1979, h. 43, 142-145; DIPSU, 1983, h.92-95
62 Putro, 1979, h. 141
63 Vlekke, 1961, p.93
64 DIPSU, 1983, h.93; Schieve, 1955, p.43
65 DIPSU, 1983, h.95
66 DIPSU, 1983, h.98
67 DIPSU, 1983, h. 177
68 Brahma Putro, Sejarah Karo dari Zaman ke Zaman-3. Ulih Saber, Medan, 1995, h.90
69 Lance Castle. Tapanuli 1915-1940. KPG, Jakarta, 2001, h.139
70 Dada Meuraxa, Sejarah Kebudayaan Sumatera. Firma Hasma, Medan, 1974, h. 134-135; Vlekke,
1961, h. 93
71 HAMKA, Sedjarah Umat Islam-4. NV Nusantara, Bukittinggi, 1961, h. 114; Vlekke, 1961, h.93
72 V.S. Naipaul, Among The Believers. Penguin Books, London, 1988, p.106, 125-126.133
73 bnd. “Bercermin Pada Ulama Salaf”. Panji Masyarakat No.25 Thn III Oktober 1999, h. 96
74 DIPSU, 1983, h. 112-113
75 SMI, 1963, h. 77dst
76 Ibnu Khaldun, 1976, h.95
77 DIPSU, 1983, h. 96
78 DIPSU, 1983, h. 97
79 Abdul Aziz Ghonim, Perang dan Damai Rasulullah. GIP, Jakarta, tanpa tahun penerbitan, h 83. Juga
Islamisasi melalui perbudakan dan kawin paksa: Amir, ttp, h. 124-125, 129
80 Amir, ttp.h. 122-123; Pilihan bagi bangsa Arab non Muslim hanya masuk Islam atau dimusnahkan
sedang bagi bangsa non Arab masih diperkenankan jizyah, h. 120
81 Karim, 2003, h. 62-64
82 Eko Prasetyo, Pembela Agama Tuhan. Insist Press, 2002, h. 106-107
83 SMI, 1963, h. 68-69
84 DIPSU, 1983, h. 156
85 Umat Muslim berusaha menghilangkan fakta ini. Dalam bahasa Indonesia hanya ada satu buku yang
menceritakan penjajahan Padri di tanah Batak yaitu karangan : Mangaradja Onggang Parlindungan,
Tuanku Rao : Teror Agama Islam Mahzab Hambali di Tanah Batak 1816 – 1833. Tanjdung
Pengharapan, Djakarta, 196(4) atau 1965
86 Bungaran Antonius Simanjutak, Struktrur Kekuasaan dan Sistem Politik Batak Toba Hingga Tahun
1945. Obor, Jakarta, 2006, h.44-45
87 DIPSU, 1983, h. 158
88 DIPSU, 1983, h. 98
89 Daniel Pipes, Tentara Budak dan Islam. Pustaka Firdaus, Jakarta, 1986
90 “Anak-Anak Sudan Diculik, Digunakan dalam Perang dan Seks” Analisa 10 Juni 2007
91 “Timor’s Lost Boys” Time, December 23, 2002, pp. 22-24
92 Uman, 1995, h. 568-569
93 DIPSU, 1983, h. 177 bnd. H. 96-97 yang mencatat penolakan orang-orang Batak yang menjadi Muslim
terhadap budayanya sendiri telah terjadi sebelum atau pada masa awal Perang Sisingamangaraja XII.
94 Reid, 2006
95 bnd. Sitor Situmorang, Toba Na Sae. Sinar Harapan, Jakarta, 1993, h.182-183
96 bnd. Subanindyo Hadiluwih, “Ahu Sisingamangaraja” Analisa 17 Juni 2007
97 Marusaha Lumban Toruan, “Memaknai Perjuangan Sisingamangaraja XII”, Sib 16 Juli 2007
98 bnd. Juga Castle, 2001, h.61
99 Gens G Malau, Dolok Pusuk Buhit. Balai Pustaka, Jakarta, 1994, h. 77-78
100 Putro, 1995, h.21
101 Rifayal Ka’bah, Islam dan Serangan Pemikiran. Granada Nadia, Jakarta, 1994, h.11
102 lihat. Adian Husaini, Penyesatan Opini. GIP, Jakarta, 2002
103 DIPSU, 1983, h. 129-130
104 Putro, 1979, h. 143
105 Castle, 2001, h. 81, 136-137
106 Castle, 2001, h. 140-141
107 Castle, 2001, h.137
108 DIPSU, 1983, h. 182
109 DIPSU, 1983, h.162; Castle, 2001, h.18
110 DIPSU, 1983, h.183
111 “Masyarakat Humbahas Datangi Kanwil Depag Sumut” Sib 18 September 2006
112 “MUI dan Masyarakat Taput Salut atas Inisiatif Kajari Tarutung” Sib 31 November 2006
113 “Camat Stop Pembangunan Gereja GKPS Desa Buntu Pane Asahan” Sib 22 Mei 2007
114 “GAMKI dan Tokoh Umat Kristen Tebing Tinggi Sesalkan Sikap Arogansi Camat Labuhan Deli Ingin
Bongkar Gereja GPDI” Sib 1 Februari 2006
115 “Kristen Tapanuli Rancang Propinsi Baru” Sabili No. 11, 14 Desember 2006, h. 52-55
116 “Pansus Propinsi Tapanuli Konsultasi ke Depdagri” dan “Jangan Bentur-Benturkan Agama Dengan
Pembentukan Propinsi Tapanuli” Sib 12 April 2007
117 Isvan Wahyudi, “Aksi Pendukung Protap Pemaksaan Kehendak” Global 27 April 2007
118 “Diskriminasi Membuncah di Tanah Rencong” Gloria Minggu III Juni 2007, h. 29
119 HAMKA, Umat Islam Menghadapi Tantangan Kristenisasi dan Sekulerisasi. Pustaka Panjimas,
Jakart, 2003, h. 37-37
120 Ronidin, Minangkabau di Mata Anak Muda. Andalas University Press, Yogyakarta,2006, h.126

Written by lagubatak

August 11, 2010 at 3:12 am

Posted in BATAK, mandailing

Angkola Voice

with 3 comments

Baru saja lahir era baru terhadap audio, musik dan visual untuk lagu tapsel (mandailing) yang membuat kita berdecak dan patut mensyukuri kehadiran teknologi untuk dunia seni suara. hal ini beralasan untuk dinyatakan karena baru baru ini sebuah group yang menamakan dirinya “Angkola Voice” menancapkan cita cita mereka untuk membangun jika berlebihan menyebutnya memperbaiki citra dan eksistensi musik tapsel di dunia rekaman.

Pada umumnya banyak dijumpai keunikan (perbedaan) dalam musik tapsel, artinya berbeda dengan musik puak batak lainnya : karo, toba, dan simalungun karena ketiga puak yang baru disebutkan ini terdapat kemandirian yang utuh atas musik daerah masing masing. Dalam musik karo kita akan menemukan kesendirian tanpa mengadopsi musik musik dari luar terlepas dari asal muasal mereka berada. sedangkan batak toba nyaris tak ada yang dapat menilai bahwa musik mereka didapatkan dalam musik musik etnis lainnya, kalaupun ada itu hanya modifikasi beberapa pelaku atau musisi yang ingin memoderenkan kehadiran musik batak itu sendiri yakni mencampurkan keragaman alat alat musik yang terdapat didunia luar. Sedangkan musik dan lagu tapsel, sungguh banyak bersinggungan dengan musik dan warna dari daerah daerah tetangga sekitar yang mempengaruhinya, sebut saja misalnya, minang dan melayu… Anda yang mendengar musik dan lagu tapsel saat ini, harus membutuhkan waktu sesaat untuk meyakinkan bahwa yang sedang anda dengar itu adalah lagu tapsel, dari kalimat dan jenis melantunkannya. Dahulu memang ada salah satu simbol yang menandakan bahwa musik tersebut datangnya dari tapsel (mandailing) karena mempunyai ciri khas tersendiri, itulah yang dinamakan “onang-onang”. sipelantun dapat menggabungkan beberapa kata dan kalimat dirangkai menjadi suatu syair namun bukan merupakan keutuhan dalam satu lagu (akan berbeda kalimat bila dilantunkan kemudian), hampir sama disandingkan dengan bentuk “mangandung” dalam batak toba.

Mungkin itulah yang dimaksud dengan era baru dan perbaikan yang ingin dibangkitkan oleh Angkola Voice, jatidiri lagu, musik dan pola penampilannya. dari segi musikalitas, walaupun memang tidak menghadirkan tradisi yang kolot, namun terlihat bahwa mereka ingin menyandingkan musik tapsel itu dapat menempuh batas batas daerah seperti musik batak toba yang sebelumnya telah dikenal luas diluar masyarakat batak sendiri.

Sebut saja contoh, salah satu lagu yang terdapat dalam album mereka adalah lagu “Kijom”, lagu ini adalah salah satu roh yang memikat siapapun pendengarnya, tidak peduli anda pernah mendengar lagu itu sebelumnya ataupun baru saja mendengar. si arranger/musisi ingin membuat “benchmark” yang tidak terdapat pada musik musik daerah lainnya namun utuh bahwa inilah yang disebut musik tapsel dengan menampilkan modernisasi didalamnya. Terlebih pula adalah cara mereka menyanyikannya, sipenata vocal nampaknya mengerti bahwa awal mula musik mandailing terdapat dalam ‘nafas’ onang-onang, maka dalam bait bait tertentu alunan onang-onangnya nampak nyata dalam beberapa ‘bar’ dari keseluruhan lagu.

Biasanya dalam hal revolusi (perubahan) dibutuhkan proses yang tidak mudah, termasuk dalam hal musik dan lagu, namun jika kita setuju bahwa revolusi itu selalu membawa nilai positif bagi penikmat dan seluruh pengguna. Walaupun kadang memang harus diyakini bahwa perubahan itu menjadi cemoohan terlebih dahulu namun akan diaminkan jika mayoritas menyetujuinya dengan baik. kira kira itu yang tersirat dari beberapa analisa atas album ini.

Namun secara nyata mereka dapat menyampaikannya dengan perbuatan atau pekerjaan yang telah mereka hasilkan, baik dari segi musikalitas, audio, visual dan artikulasi agak berbeda dari musik dan lagu tapsel yang pernah ada, dan perubahan itu diterima banyak pihak, karena menurut informasi setelah album mereka diluncurkan dalam waktu 1 (satu) minggu VCD yang mereka keluarkan sudah diatas rata-rata peredaran lagu tapsel lainnya, suatu hasil yang perlu dibanggakan dari segi pasar.

Ddalam album ini Angkola Voice menampilkan 12 buah lagu, 3 judul lagu diantaranya adalah lagu kenangan yang dimaksudkan sebagai tolok ukur darimana mereka beranjak untuk mensejajarkan sentuhan yang mereka lakukan. 9 buah lagu didalamnya adalah lagu ciptaan baru yang pantas untuk dinikmati.
1. Parjalang, 2. Batang Galoga, 3. Kecewa, 4. Marsak, 5. Rara, 6. Sangolu Sahamatean, 7. Tolu ari nai nama, 8. Supir Lintas, 9. Posma Roham, mayoritas lagu tersebut ciptaan Ali Rahmat Siregar, salah seorang pendatang baru yang pantas diperhitungkan untuk berkarya dalam lagu tapse. Sedangkan 3 judul lainnya adalah : 1. Sitogol (salah satu lagu tapsel yang selalu dinyanyikan oleh batak toba), 2. Kijom, 3. Bollo Bollo.

Saya tertarik untuk ingin membuktikan penjelasan diatas atas hasil kerja mereka, diantaranya adalah lagu Kijom yang dibawakan dengan baik dan tidak menghilangkan jatidiri lagu tapsel itu sendiri.

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 18, 2010 at 10:20 am

Bollo Bollo (Hery Matondang)

leave a comment »

Lagu Bollo Bollo adalah lagu yang tadinya dibuat untuk komedi dan yang pertama menyanyikannya adalah Dongan Silitonga, salah seorang artis senior batak yang terkenal dengan plesetan lagunya, hampir seluruh lagu bisa dia plesetkan dengan baik dan membuat orang bisa tertawa terpingkal pingkal, tidak peduli sesering apakah lagu itu dinyanyikannya.

Bollo Bollo ciptaan Fredy Tambunan seorang pencipta yang produktif sampai saat ini, thema lagu ini sebenarnya untuk memberi peringatan/pembelajaran kepada seorang gadis yang dianggap materialistis (matre, red). namun dengan lekukan suara dongan, pesan itu hilang dan menjadi bahan komedi yang segar dan enak dinikmati. pada tahun 2005 Trio Lamtama kembali mengangkat lagu ini dan mendapat tempat dalam tangga lagu batak.

Kali ini, ada yang mencoba lagu ini disadur dalam bahasa Tapsel dengan nilai komedi yang sama, bahkan untuk kali ini mempunyai khas yang terdapat di daerah tapsel itu sendiri yang juga dibawakan oleh Hery Matondang dalam album Angkola Voice, vocalnya bagus dan penyampaian pesan pun hampir dikatakan sempurna.

Bollo Bollo

Bollo ma bollo bollo da
Bollo ma bollo bollo da
Tung madung sega au anggi sega di roha
Tung madung teleng au anggi teleng sabola
Bollo Bollo

song 1
Waktu kenek motor au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

song 2
Waktu tukang tempel au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

Reff. 1
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku kenek motor do
Manggoda ho

Reff.2
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku tukang sorong do
Manggandeng ho

song 3
Hape ndung jadi toke au
Ro ma ho mandapotkon au
Sattabi ma, sattabi ma
Jolo di ho.

Written by lagubatak

February 13, 2010 at 4:29 am

Sitogol (Hery Matondang)

with 4 comments

Saya kurang jelas mengetahui, apakah Nahum Situmorang mengerti bahasa Tapanuli Selatan, karena lagu Sitogol itu adalah berbahasa Tapsel walaupun tidak sekental kita mendengar orang tapsel dari sibuhuan berbicara sehari hari.

Lagu Sitogol adalah salah satu lagu legenda dari Tapanuli Selatan dan konon lagu ini adalah ciptaan Nahum Situmorang, yang mengherankan orang tapsel tidak pernah mengabadikannya dalam bentuk kaset/vcd, namun selalu dinyanyikan oleh Batak Toba, Kali ini terobosan baru datang, album yang menamakan dirinya Angkola Voice dengan bintang tamu Hery Matondang datang membuat sejarah baru dalam lagu tapanuli selatan.

Hery Matondang yang membawakan lagu Sitogol dalam album tersebut tampil dengan prima dengan olah vocal ala “rock” yang mempunyai suara khas serak serak memikat itu, beliau ingin memperkenalkan dan mengatakan bahwa lagu Sitogol itu adalah milik orang Tapanuli Selatan walaupun penciptanya adalah orang Toba.

Simak dan dengarlah lagu ini, secara pribadi jujur saya menilai bahwa seharusnya gaya dan penampilan sewaktu membawakan lagu ini adalah seperti yang dibawakan oleh Hery Matondang……. mari kita simak!!

Sitogol

Adong ende hu najeges dabo
Hu oban tingon mandailing godang do
Jeges lagu na boto on momo
Sitogol goar na sitogol dabo

Beha ma lak na lagu na dabo
Sarupa doi tu onang onang do
Atia margembira bo pe marsak ho
Marsitogol sitogol goar na dabo

Tingon mandailing godang do
Asal mula ni sitogol do
Marsak bo pe margambira ho
Marsitogol sitogol goar na dabo

Written by lagubatak

February 10, 2010 at 11:04 am

Kijom (Tapsel Madina)

leave a comment »

Lagu ini adalah salah satu lagu yang digunakan nenek moyang dari daratan tapanuli selatan pada saat peperangan dahulu untuk melawan musuh2. Lagu ini penuh dengan semangat perjuangan dan merupakan salah satu lagu yang memiliki ‘roh’ semangat akan mengingat betapa kayanya perbendaharaan khasanah budaya batak. Tidak percaya?? mari simak!

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 10, 2010 at 1:33 am

Orang Mandailing Bukan Batak (apa benar?)

with 16 comments

parlapo  : dibutuhkan kedewasaan anda untuk membaca artikel ini, saya tertarik untuk mem-post-kan artikel ini sekedar tambahan perbendaharaan mengenal sub-etnis yang ada dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience).

Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Oleh : Abdur Razaq Lubis

NAMA Mandailing sudah diketahui sejak abad ke 14, dan ini menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing, yang barangkali telah muncul sebelum abad itu lagi. Nama Mandailing tersebut dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Batak tidak disebut sekalipun dalam kitab tersebut.

Nama Batak itu sendiri tidak diketahui dengan pasti asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun. Tapi orang pedalaman sendiri tidak membahasakan diri mereka, Batak. Kemudian panggilan ini dipetik oleh pengembara seperti Marco Polo, Ibnu Batutah, dan diambil oleh Portugis dan orang-orang dari atas angin dan bawah angin, hinggalah ke ini hari.

Bila Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, sekaligus mereka juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Persepsi Belanda terhadap orang-orang pedalaman termasuk terhadap bangsa/umat Mandailing dipengaruhi oleh persepsi kesultanan-kesultanan Melayu dan Minang, dan orang-orang pesisir, yang mereka dului berinteraksi.

Lama-kelamaan memBatakkan bangsa/umat Mandailing membudaya dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda hinggakan sesetengah orang Mandailing sendiri mulai melihat diri mereka dari persepsi penjajah yang melihat dari kacamata Melayu. Bangsa/umat Mandailing dikatogerikan bersama-sama dengan bangsa Toba, Pak-pak, Dairi, Simalungun dan Karo untuk tujuan administratif umum di samping menjadi sasaran zending/Kristenisasi.

Pandangan berikut dari sarjana-sarjana Barat seperti Lance Castles adalah tipikal :

“The use of ‘Batak’ as a common label for these groups (Toba, Mandailing dan Simalungun) as well as the Karo and Dairi has a chequered career. Linguists and ethnologists have always found the term necessary because of the strong common elements in all these societies. At some periods, however, those who were converted to Islam, especially Mandailings, have sought to repudiate any association with the non-Muslim Tobas by rejecting the Batak label altogether. This tendency has been strongest among Mandailing migrants to the East Coast of Sumatra and Peninsular Malaysia.”

(Pengunaan istilah ‘Batak’ sebagai label yang umum untuk kelompok-kelompok ini (Toba, Mandailing dan Simalungun) sebagaimana juga dengan Karo dan Dairi mempunyai sejarah yang berpetak-petak. Ahli-ahli bahasa dan etnologi senantiasa mendapati bahwa istilah ini merupakan istilah yang diperlukan dikarenakan adanya elemen umum yang kuat di dalam tiap-tiap kelompok ini. Pada periode tertentu, mereka yang kemudian memeluk Islam, terutama orang Mandailing telah berusaha untuk tidak dihubungkan sama sekali – hubungan dengan non-Muslim Toba dengan menolak label Batak secara keseluruhan. Kecenderungan ini telah terjadi terkuat di antara orang Mandailing perantauan di Pantai Timur Sumatra dan Semenanjung Malaysia).

Sementara sarjana Barat seperti Susan Rogers Siregar, agak peka dan mengerti sedikit.

“Much of the Western literature asserts that there are six major Batak cultures: Toba, Karo, Dairi-Pakpak, Simalungun, Angkola, and Mandailing. This division into ethnic units is somewhat misleading, however, since villagers often have little use for such general words as ‘Angkola’ and identitfy themselves in much more local terms as members of a ceremonial league or a group of village clusters. The sixfold ethnic division may reflect relatively new ethnic designations as members of different homeland groups come into contact and competition with each other”.

(Kebanyakan literatur Barat menegaskan bahwa ada enam budaya Budaya yang utama: Toba, Karo, Dairi, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing. Pembagian ke dalam beberapa kelompok-kelompok etnik ini, menyesatkan, lantaran penduduk desa umum tidak banyak menggunakan perkataan seperti ‘Angkola’ dan mengidentifikasikan diri mereka dalam istilah yang lebih lokal sebagai ‘anggota dari perhimpunan adat’ atau sebuah kelompok perkampungan. Pembagian enam etnik tersebut mencerminkan secara relatif penunjuk-penunjuk etnik baru sebagai bagian dari kelompok-kelompok pribumi yang berbeda yang belakangan bertemu dan bersaing satu sama lain)

Belakangan, sarjana-sarjana Indonesia (Indonesianists) dan antropolog terus memakai istilah Batak dengan alasan “useful” (berguna) dan “necessary” (perlu). Pada akhirnya, sarjana-sarjana yang kononnya, menyelidik secara netral dan objektif, sebetulnya bertanggungjawab mencipta identitas Batak dan memperkuat identitas Batak. Malah ciptaan mereka itu, mencorak dan mewarnai garis-garis besar ilmu mereka sendiri. Maka pemisahan Batak-Melayu itu berkepanjangan hingga hari ini.

Bangsa Mandailing dimelayukan Inggris

Kalau penjajah Belanda melabelkan orang Mandailing sebagai Batak, penjajah Inggeris melabelkan orang Mandailing sebagai “foreign Malays” (Melayu dagang). Di satu pihak, orang Mandailing disebut Batak Mandailng, dan di pihak yang lain, disebut Melayu Mandailing.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience). Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Meskipun berabad-abad orang-orang Batak sudah ‘masuk Melayu’, pemisahan Batak-Melayu terus kekal. Proses memelayukan orang-orang Batak termasuk bangsa/umat Mandailing yang dikategorikan sebagai sub-Batak itu, berkelanjutan hingga kini. Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa lain di Sumatra Utara supaya bertuankan Batak? Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa Nusantara yang kedapatan di Semenanjung supaya bertuankan Melayu ?

Bermula dengan rekayasa sosial engineering kolonial Belanda dan British, disusuli proses Malayanisasi (kemudian Malaysianisasi) dan Indonesianisasi yang berlaku sejak dari abad ke 19 sampai sekarang menerusi pendidikan nasional, polisi kebudayaan nasional dan nasionalisme Melayu dan Indonesia. Ciri-ciri khusus kebangsaan bangsa/umat Mandailing seperti bahasa dan aksara, digugat dan kemudian terhapus sama sekali atas nama asabiah (fanatik perkauman) pembangunan nasional, identitas nasional dan kesatuan nasional.

Rumusan
Pada tahun 1920an, alim ulamak dan pemuka-pemuka Mandailing telah memprotes percobaan orang-orang Batak-Islam termasuk orang Mandailing yang mengaku Batak, untuk dikuburkan di tanah perkuburan Sungai Mati. Alim ulama dan tokoh-tokoh Mandailing berhujah bahwa wakaf tanah perkuburan Sungai Mati hanyalah untuk jenazah-jenazah orang-orang Mandailing saja. Orang-orang Batak khusus Angkola termasuk Mandailing yang mengaku Batak, tidak pantas dikuburkan di pekuburan itu.

Pejuang-pejuang kebangsaan bangsa Mandailing membawa kasus/kes ke mahkamah syariah Sultan Deli dengan keterangan bahwa tanah perkuburan bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan, adalah semata-mata untuk bangsa Mandailing. Mereka yang berbangsa selain Mandailing, tidak boleh dikuburkan di situ. Mahkamah syariah Sultan Deli mendeklarsi bahwa bangsa Mandailing terpisah dan berdiri sendiri dari bangsa Batak. Kemudian bangsa Batak membawa kasus tersebut di mahkamah sibil di Batavia, Jawa. Mahkamah tersebut, mahkamah tertinggi di Hindia Belanda mendeklarasikan bahwa bangsa Mandailing bukan Batak.

Kasus jati diri tersebut dibukukan oleh Mangaradja Ihoetan dalam buku Asal-Oesoelnja Bangsa Mandailing (Pewarta Deli, Medan, 1926). Dalam pengantarnya kepada buku itu, Mangaradja Ihoetan menjelaskan maksud buku itu disusun “…hanjalah kadar djadi peringatan di-belakang hari kepada toeroen-toeroenan bangsa Mandailing itoe, soepaja mereka tahoe bagaimana djerih pajah bapa-bapa serta nenek mojangnya mempertahankan atas berdirinja kebangsaan Mandailing itoe. Dengan djalan begitoe diharap tiadalah kiranja mereka itoe akan sia-siakan lagi kebangsaanja dengan moedah maoe mehapoeskannja dengan djalan memasoekkan diri pada bangsa lain jang tidak melebihkan martabatnya”.

link artikel :

http://tobadreams.wordpress.com/2008/04/22/orang-mandailing-bukan-batak/

http://bumibebas.blogspot.com/2007/06/bangsa-mandailing-tidak-batak-dan-bukan.html

Written by lagubatak

January 5, 2009 at 1:33 pm

Posted in BATAK, humor, mandailing, parbada

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers