Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Archive for the ‘LAGU BATAK’ Category

SARUNE NI PARDISURGO by RETTA SITORUS

leave a comment »

SARUNE NI PARDISURGO

LAM SOL SOL HUHILA

ALAI TONG TONG AU MANGIDO

AI SIAN GINJANG DO RO

SALPU HON MA HAHOLOMON

RO MA PANONDANG TIUR

SAI JALAHI HADAMEON

DUNGI SONANG SALUHUT

ARPASAI HULULUI

HUJALAHI TUHAN HU

TARPAIMA DI HO

LAS NI ROHA MA RO

SAI RO MA HO

RO MA HO SAI PALUA

DAO HOLSO HI

LAS NI ROHA MA RO

Written by lagubatak

November 17, 2013 at 5:35 pm

Dung Sonang Rohakku – ANUGERAH

with one comment

Dung sonang ruha hu

dibahen Jesus i

porsuk pe hutaon di son

Na pos do roha hu

di Tuhan ta i

Dipasonang tong tong roha hon

Sonang do, sonang do,

dipasonang tongtong roha hon

Nang dihaliangi sibolis pe au

naeng agohonon na muse

naung mate Tuhan hu, mangolu ma au

Utang hi nuangnga sae sasude.

Sonang do, sonang do,

dipasonang tongtong roha hon

Diporsan Tuhan hu

sandok dosa hi

bolong tu na dao do dibaen

Nang sada naso jujuron na bei

na martua tondi hu nuaeng

Sonang do, sonang do,

dipasonang tong tong roha hon

Written by lagubatak

October 12, 2013 at 4:11 pm

Pamora Mora Agen

with one comment

Sambil anda membacanya, nikmati pula rangkaian lagu yang ada disini http://www.youtube.com/user/lagubatak1 [klik kanan>>pilih>Open Link In New Tab]

Peredaran lagu batak tidak seindah peredaran lagu pop Indonesia atau lainnya. Banyak hal yang mejadikan peredaran lagu batak menjadi unik, dan mungkin tak dapat diurut satu persatu dalam penjelasan ini. Namun yang pasti adalah setelah salah satu distributor lagu batak yang berdarah tionghoa (colombia record) mengundurkan diri dari dunia distributor kaset, maka dunia recording lagu batak bagaikan arus air yang tak mempunyai poros yang kokoh, walaupun arusnya deras namun tak ada yang menjadi tumpuan sebagai sentra peredaran yang menjadi hal utama dalam penjualan kaset/vcd.

Maka thn. 2003 ada bermunculan beberapa pemain pemain baru yang mencoba melakukan cara cara tersendiri, baik itu melakukan pemasaran dengan menumpangkan lagu batak dengan peredaran vcd bajakan untuk didistribusikan ke daerah dimana vcd bajakan yang muncul bagaikan jamur saat itu, maupun pemain pemain yang berusaha sendiri melakukan “hantar bola” kepada para agen agen untuk daerah, biasanya dalam dunia retail disebut “kanvas”.

Yang saya mau coba jelaskan keunikannya adalah terutama pemain yang memilih secara kanvas. Pada saat mereka melakukan secara “direct selling”, mereka menemui beberapa kesulitan di lapangan, tidak semudah perhitungan diatas kertas yang mengatakan bahwa setiap agen minimal akan menerima 500pcs setiap kali perjalanan. Namun karena pelaku “direct selling” yang menawarkan kepada para agen maka para agen juga merasa terganggu dari segi waktu dan financial, maka mereka merasa tidak perlu melakukan pembelian dengan partai besar, karena mereka berfikiran toh bulan depan mereka akan datang lagi, jadi mereka mengurangi kuantitas pembelian.

Pada saat agen sudah mulai mengurangi jumlah pembelian dan tentu secara langsung mengurangi omzet penjualan bagi distributor yang biasanya juga sebagai produser. Maka timbullah pola baru untuk mensiasati omset penjualan tersebut, maka produser akan menawarkan kepada agen untuk melakukan transaksi “titip jual” (konsinyasi). Produser akan meninggalkan misalnya 1000pcs produksi kepada salah satu agen dan penagihannya dapat dilakukan satu bulan kemudian pada saat jadwal penjualan berikutnya. Hal ini bagaikan angin segar bagi agen, karena tanpa merasa mengeluarkan modal namun berkesempatan untuk memiliki barang yang dapat dijual kepada para pengecer. Demikianlah peredaran kaset batak yang tadinya barang yang dianggap cukup mahal menjadi barang dagangan “murah” dan tidak perlu mengeluarkan modal bagi para agen.

Nah, inilah senjata yang menjadi bumerang bagi produser/distributor. Tanpa disadari ada saja orang yang memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan secara sepihak dengan cepat. Muncullah beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai “Agen” pada daerah daerah tertentu, mereka cukup menghubungi produser dan menuntun mereka untuk datang ke tempat tinggal mereka dan meminta beberapa jumlah barang untuk dititipkan, nanti mereka akan “membantu” produser untuk menjual kepada para pengecer dimana mereka tinggal. Pihak produser/distributor dalam hal ini melakukan ilmu ekonomi, dimana ada permintaan mereka siap untuk supply. Bulan pertama dan kedua kelihatannya cukup lancar dan beberapa produsder/distributor tertarik untuk memberikan produksi masing masing kepada sang “agen” yang saya sebutkan tadi. Namun setelah sang “agen” merasa cukup atau mungkin bukan sesungguhnya berniat sebagai agen, setelah “mengumpulkan” tagihan dari beberapa produser/distributor, dia mulai mengendurkan komunikasi kepada produser/distributor dan bahkan pindah tempat dan melakukan penggelapan terhadap barang yang sudah diterima dari produser/distributor. Anda bisa membayangkan jika 3 – 4 produser/distributor masing masing memberikan barang 3 – 5 ribu pcs barang, maka sudah berapa nilai rupiah yang mereka dapat dengan mudah dan cepat?, dan menurut catatan tidak kurang dari 10 “agen” yang melakukan praktek seperti ini. Saya tidak ingin membahas kemana uang kaset tersebut digunakan.

Jadi apabila ada seseorang yang menghubungi produser/distributor yang mengatakan siap menjadi “agen” pada daerah daerah tertentu, maka saya membayangkan produser tersebut hanya tersenyum dan membayangkan bahwa orang ini berniat untuk melakukan tipu muslihat terhadapnya.

Maka bagi seseorang yang betul betul mempunyai niat untuk membangun usaha dibidang distribusi ini, lakukan hal yang lebih masuk akal, tawarkan kepada mereka untuk kerja sama yang menguntungkan, misalnya : berikan uang dimuka sebagai jaminan dan berikan kesan anda tidak akan melakukan pendekatan semu agar anda tidak masuk dalam kategori “pamora mora agen” yang ada dalam benak produser/distributor.

Written by lagubatak

August 11, 2013 at 3:51 am

Quo Vadis Produser Lagu Batak?

leave a comment »

Sambil anda membacanya, nikmati pula rangkaian lagu yang ada disini http://www.youtube.com/user/lagubatak1 [klik kanan>>pilih>Open Link In New Tab]

Malam ini adalah akhir dari bulan Ramadhan bagi umat mulsim, dan tidak banyak yang dapat saya perbuat, sambil mendengar bunyi takbiran dari beberapa mesjid dekat rumah saya, maka saya mencoba memperbanyak perbendaharaan blog saya lagu batak.

Kemarin siang saya mempunyai kesempatan untuk datang berkunjung ke salah satu studio rekaman batak di Jakarta, dengan maksud untuk mengamati dan menikmati rekaman lagu batak sambil bersenda gurau dengan rekan rekan artis artis batak yang sedang berada di studio tersebut. Inilah salah satu kenikmatan yang tidak bisa saya beli dengan bentuk uang, diantaranya melihat kegigihan dan ketekunan rekan untuk tetap setia melakukan tugas masing masing karena menurut saya mereka inilah yang betul betul menaruh perhatian penuh terhadap kesinambungan dan kelangsungan lagu lagu batak itu sendiri.

Dalam kesempatan tersebut beberapa diantara kami sedang serius membicarakan hal hal yang mendasar atau umum bagaimana tetap eksis untuk melakukan produksi dalam lagu batak yang sebenarnya “tidak menguntungkan secara financial”. Namun karena sudah terlanjur cinta dan separuh badan sudah keburu diserahkan, maka apapun yang terjadi sungguh sulit rasanya untuk meninggalkannya.

Disamping mereka yang bekerja di dalam 2 studio rekaman tersebut, kami memilih untuk duduk sambil menyeruput kopi yang nikmat dan sesekali menikmati rokok sore hari itu dengan pembicaraan yang menurut saya sudah mulai agak membosankan. Tiba tiba salah satu musisi senior lagu batak melontarkan pertanyaan kepada salah satu rekan produser lagu batak yang senior pula, yakni yang sudah memberikan jiwa raganya untuk memproduksi lagu lagu batak sejak 25 tahun lalu, selayaknya orang orang yang terjun dalam dunia produser lagu batak bahwa beliau adalah salah seorang pengusaha muda yang sukses pada masanya dan entah apa yang membuat dia berkenalan dengan dunia musik batak yang serba mystery itu.

“Ai boha nama lagu batak on lae?” itulah kira kira pertanyaan sang musisi kepada rekan produser tadi, dengan datar sang produser sambil mengusap usap telapak tangannya, mendesah sambil menjawab kalimat seadanya, “ai boha be bahenon?, tapaihut ihut ma”, katanya. Saya terkejut mendengar jawaban tersebut, karena saya sebenarnya bukan mengharapkan jawaban itu karena saya tau bagaimana dia yang menguasai betul seluk beluk tentang produksi lagu batak, khusus jawaban ini saya merasa bahwa dalam jawaban tersebut terdapat nada “pasrah” dan sepertinya tidak ada lagi yang dapat diharapkan.

Saya langsung membayangkan pikirannya terhadap bagaimana musik batak sekarang ini yang tidak dapat dikontrol lagi, tidak mempunyai jati diri, dan tidak mempunyai pegangan dan pendirian seperti layaknya jenis usaha yang sama dalam pop indonesia dan lainnya. Betul saja dia kontan menyambungnya bahwa “ai so siulaon be on molo adong dope usaha na asing” (ini tidak layak dilanjutkan lagi sebagai usaha jika masih ada pekerjaan lain yang tersedia). Setelah dia mengungkapkan kalimat tersebut, dengan waktu yang bersamaan seorang pencipta lagu senior bergabung dalam diskusi kami yang baru tiba di tempat tersebut.

Rekan produser tadi melanjutkan bahwa di lingkungan produser Batak saat ini sudah tidak mengindahkan etika usaha yang sebenarnya harus dipahami, karena apa yang terjadi saat ini setiap orang sudah dapat dengan mudah ikut terjun memproduksi tanpa mengetahui bahkan tidak perlu belajar seperti apa yang pernah dilakukannya sebelumnya. Bahwa produser lagu batak tidak mempunyai jati diri lagi karena semua orang dapat berlomba lomba untuk melakukan produksi, dengan kiasan mati satu tumbuh seratus. Lihatlah bahwa jadwal studio kita disini terdapat 2 studio dengan kondisi 2 shift perhari tapi tidak pernah kosong. Kita selalu melihat orang orang yang berbeda dan semua dapat dengan serba cepat melakukan pencetakan dan pendistribusian tanpa melakukan tindakan tindakan yang legal.

Saya mencoba untuk melakukan pemancingan apa sebenarnya yang ada dalam benaknya, “sebenarnya, itu bisa dicegah dengan menggunakan peraturan dan undang-undang dari pemerintah, sanggahku. Langsung saja dengan wajah serius dan dengan nada yang agak tinggi mengatakan bahwa negara kita ini menganut kebebasan berkreasi dan tidak akan ada payung pemerintah yang sanggup melakukan untuk mengekang pertumbuhan tersebut, walaupun sebenarnya bisa ditempuh tapi masih banyak hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pejabat pejabatnya. Sebenarnya secara legal kita sudah membuat bentuk undang undang yang sudah disepakati bersama antara beberapa departemen terkait dalam pemerintahan, dan undang undang tersebut telah diajukan kepada DPR untuk disikapi dan dirapatkan guna mendapat dukungan dan persetujuan untuk dikumandangkan sebagai undang undang.

Pada tahun 2005 kebangkitan musik batak mulai bergerak, walaupun maraknya bajakan yang ada saat itu namun para pelaku musik batak dapat mengambil terobosan baru untuk membuat vcd batak dengan harga ekonomis (tidak jauh berbeda dengan vcd bajakan) maka para pembajak mengurungkan niat untuk melakukan pembajakan karena tidak menguntungkan baginya. Keadaan itu bisa berlanjut sampai akhir tahun 2007, dan ada beberapa produser yang diuntungkan pada posisi tersebut. Namun awal tahun 2008 ada exodus besar besaran dari masyarakat batak untuk melakukan usaha ini karena ingin menikmati karena mengira bahwa usaha rekaman seperti ini sangat menjanjikan, disamping dia melakukan usaha rekaman bahkan dia dapat dengan cepat terkenal dilingkungan orang batak, karena nama dan gambar visual dia dapat dimasukkan dalam video lagu batak yang dia produksi. Disamping itu mereka tergiur melihat beberapa produser yang kelihatannya sangat berhasil dibidang ini.

Antara tahun 2008 dan 2010 banyak produser batak yang merugi, namun tidak menjadikan efek jera kepada orang lain, seolah olah orang yang telah menyerah tersebut bukan menjadi suatu pelajaran. Disamping banyaknya penyanyi batak yang berhasil membujuk seseorang untuk dijadikan sebagai “bapak angkat” sekedar untuk membuat album lagu batak mereka, ini berlanjut terus sampai saat ini. Yang lebih parahnya bahwa mulai tahun 2011 ada beberapa penyanyi yang sudah melek dengan tehnologi rekaman, tidak sedikit yang begitu berani melakukan produksi layaknya “home production” dan melakukannya dengan sesuka hati, dia dapat mencipta lagu, kemudian belajar untuk program musik, lalu melakukan take vocal dan sampai pada pembuatan video clip. Tidak berhenti disitu saja, bahkan dia melakukan pendistribusian hasil karya tersebut. Mungkin inilah yang dibayangkan oleh rekan produser tadi yang mengatakan bahwa semua orang batak sekarang sudah mampu mengatakan dirinya sebagai seorang produser lagu batak, tidak mempunyai jati diri, tidak ada lagi standard dan semua bebas berekspresi yang tidak dapat dibendung oleh siapapun.

Sebenarnya ada titik kontrol yang perlu dilakukan seseorang agar dia dapat melakukan usaha ini, yakni harus memiliki badan usaha dan izin produksi agar dapat mememperbanyak (cetak) produksi tersebut dipabrik. Namun dengan mudah mereka dapat mencari produser lain yang sudah memiliki izin dan menjalin kerja sama dengan pemilik usaha tersebut agar dapat melakukan memperbanyak (cetak) ke pihak pabrikan, maka keluhan tadi benarlah sudah.

Dalam peraturan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah, bahwa setiap penjualan barang haruslah mempunyai pajak penjualan atau pajak pertambahan nilai layaknya seperti penjualan rokok haruslah memiliki bandrol cukai yang akan dipungut oleh pemerintah, maka untuk vcd lagu batak pajak pertambahan nilai (PPN) bukan lagi menjadi persoalan, karena vcd dapat dijual kepasaran tanpa menggunakan PPN dengan alasan harga ekonomis. Maka begitulah persoalan yang muncul hari demi hari, bahwa produser batak sebenarnya tidak lagi melakukan “self control” atas usahanya seperti yang diinginkan oleh pemerintah, dia sudah melakukannya tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku.

Diam diam dalam diskusi tersebut saya merasa bersalah, awalnya tahun 2008 saya pernah memberikan petunjuk kepada beberapa rekan yang merasa kesulitan pengetahuan dan berkeinginan untuk melakukan produksi sendiri> namun karena menurut hemat saya mereka dapat melakukan pekerjaan ini dengan benar dan dapat mengindahkan kaidah kaidah etika bisnis, saya pernah mengajarkan bagaimana agar mereka dapat meningkatkan yang tadinya usaha bidang “editing” video clip batak agar dapat menjadi “produser”. Saat itu saya menyarankan agar dia dapat melakukan produksi tanpa harus terlibat untuk mengurus surat izin produksi dan lainnya, dan apabila nantinya produksinya telah selesai maka dia dapat mencari produser yang telah memiliki izin agar dapat digandakan ke pabrik. Dan akhirnya dia melakukannya dengan baik, akhirnya pada tahun berikutnya dia juga mengurus izin izin usah yang dibutuhkan karena menurutnya dia sudah pantas untuk melakukannya dengan serius. Apakah ini awal dari malapetaka tersebut pikirku, dan dalam blog ini pun saya pernah memberi arahan kepada masyarakat luas untuk melakukan produksi dengan ketentuan yang sama.

Dalam kesempatan ini saya perlu jelaskan, bahwa penjelasan saya tersebut telah dilakukan oleh pihak pihak lain melebihi penjelasan yang telah saya berikan, “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. bahwa 50% (bahkan lebih) produser batak sekarang ini tidak memiliki izin izin yang dibutuhkan namun dapat melakukan produksi dan penggandaan namun melakukan logo dan menggunakan “NN records”. Mereka dengan leluasa dapat melakukan penggandaan dengan bekerja sama dengan produser yang memiliki izin produksi, lihat tulisan saya sebelumnya di blog ini : http://lagubatak.wordpress.com/produser/anda-tertarik-menjadi-produser-rekaman/ namun yang saya maksud dalam tulisan tersebut hanya sampai pada bidang produksi, bukan hal pendistribusian.

Inilah yang dimaksud oleh rekan produser tadi bahwa usaha ini sudah tidak layak lagi ditekuni jika ada pekerjaan lain yang mampu dilakukan diluar memproduksi lagu batak.

Sedangkan si pencipta lagu yang saya sebutkan tadi dengan tenang menyampaikan, bahwa sebenarnya yang perlu dilakukan saat ini adalah tetap pada bagian masing masing, antara penyanyi, pencipta lagu, pemusik dan produser. Maka akan tercipta usaha yang sehat. Sebenarnya dalam hati saya berpikir situasi ini ikut menguntungkannya karena semakin banyak produser yang melakukan produksi maka kesempatan dia untuk menjual lagunya semakin besar termasuk pemusik.

Menurut saya bukan pada kesalahan bagaimana produksi itu, betul setiap orang berhak untuk berkreasi, namun yang perlu dicermati bahwa setiap insan yang terlibat dalam produksi lagu batak harus memperhatikan etika usaha. Dengan demikian peredaran lagu batak dapat dikontrol baik dari segi produksi dan harga, bukan seperti yang terjadi saat ini, tidak ada lagi keseimbangan karena semua merasa berhak untuk melakukan apa saja, mencipta lagu, penyanyi, produser, juga distributor hal tersebut sangat sulit dilakukan dengan bersamaan.

Written by lagubatak

August 7, 2013 at 5:17 pm

Wahana Records

leave a comment »

Cukup lama saya memutuskan bahwa, apakah saya ingin memperlihatkan siapa dibalik pengelola blog ini?, selama ini saya berfikiran suatu hal yang tidak sopan untuk membawa bawa nama suatu produksi untuk menyenangkan hati para pembaca, kemudian saya berfikiran lagi bahwa hal itu tidak salah untuk dilakukan, toh… tidak ada yang dirugikan juga.

Selama ini anda dapat menikmati keberadaan blog ini tidak lain adalah karena salah satu produser lagu batak yang diberi nama “Wahana Records”, merk dagang ini layaknya dengan merk dagang lainnya ingin memberikan yang terbaik dari apa ide ide dan pemikirannya bagaimana agar lagu batak itu jauh lebih baik lagi. Tentu itu juga tergantung kepada penikmat lagu itu sendiri, karena jika terjadi perputaran ekonomi yang sehat, sangat dimungkinkan mendapatkan kepuasan dalam bidang produksi.

Baru baru ini Wahana Records kembali mencoba untuk menyuguhkan produksi yang sudah lama digadang gadang dengan niatan suatu saat bisa menjadi icon lagu batak.

 

apabila anda ingin mendengar beberapa produksi Wahana Records, silahkan berkunjung ke account “youtube” yang sudah disediakan secara gratis. inilah tautannya http://www.youtube.com/user/lagubatak1

Written by lagubatak

July 28, 2013 at 1:48 am

Trio Interna

with 2 comments

“ini medan kawan!”.

Kemajuan tehnologi rekaman membawa keberuntungan bagi trio trio batak, termasuk dengan kehadiran trio yang satu ini, tanpa kemajuan tehnologi tersebut mungkin trio ini akan memilih tinggal di Jakarta dibanding dengan Medan, seperti terjadi beberapa tahun sebelumnya, trio trio yang berada di Jakarta saat ini adalah umumnya berasal dari Kota Medan, biasanya mereka mengasah kemampuan dahulu di kota Medan, setelah mereka menganggap sudah mampu untuk meniti karir dalam tarik suara, mereka akan memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk dapat meningkatkan karir dalam dunia rekaman.

Interna Trio beranggotakan Sungkono Gultom, Edward Manullang dan Erick Manullang, sebelumnya mereka adalah anggota dari 2 trio yang ada di Kota Medan, namun seperti lazimnya trio yang eksis walaupun mereka membawa 2 bendera yang berbeda, tapi sesekali mereka juga bertemu untuk bekerja bersama dalam suatu perhelatan untuk bernyanyi, istilahnya seseorang dapat di’cabut’ dari trio yang lain untuk mengisi salah satu acara, jika kita berpikiran positif hal ini kadan ada baiknya juga dilakukan oleh trio yang ada, hanya sekedar menguji perpaduan suara dan kekompakan.

Asal muasal mereka membentuk Interna Trio ini cukup unik dan perlu menjadi perhatian bagi trio lainnya, sebutlah seorang produser sedang mencari trio dengan vocal yang diharapkan untuk mengisi beberapa lagu yang akan dimasukkan dalam album bentuk kompilasi, sebelumnya produser telah merapungkan 3 (tiga) lagu dengan trio yang berbeda, namun bentuk dan ciri yang diharapkan belumlah sesuai dengan harapan, namun pada waktu yang bersamaan Erick Manullang bertemu dengan sang produser, setelah produser mengutarakan niat untuk mencari bentuk vocal yang diinginkan, Erick Manullang tersenyum sambil menceritakan bahwa memang dia sedang memikirkan untuk membawa rekannya Sungkono Gultom untuk diperkenalkan yg sebenarnya bukan satu group dengannnya, akhir cerita Sungkono Gultom telah tiba di studio untuk mengikuti tahap pengenalan vocal yang dimaksud, dan Edward Manullang yang sebelumnya memang 1 group dengan Erick MAnullang telah distudio sebelumnya.

Setelah “take vocal” dilakukan, produser sekaligus yang bertindak menata mereka pada saat take vocal terkagum kagum atas ciri khas perpaduan vocal dari ketiga orang tersebut, menurut pengakuannya lagu yang mereka bawakan sangat memenuhi karakter lagu yang telah disediakan. tidak ayal lagi setelah selesai pengisian vocal satu lagu [Sulangan Mangan cipt. Robert Marbun] sang produser langsung memerintahkan untuk pengambilan vocal untuk lagu kedua [Cinta Hian cipt. William Naibaho], dan seterusnya untuk lagu ke 3 [Saputangan Namarsulam Goar Mi cipt. Jack Marpaung], maka praktis pengisian vocal untuk album kompilasi yang dimaksud sebanyak 3 lagu dirampungkan dalam waktu yang relatif singkat, tidak lebih dari 8 [delapan] jam. Suatu prestasi yang mengagumkan bagi trio yang belum pernah masuk dalam dapur rekaman.

Setelah merampungkan pengisian vocal tersebut, sang produser melakukan pembicaraan singkat bagaimana dan apa tujuan album ini, dan mencari kesepakatan apakah trio ini memiliki ikatan dalam bentuk pribadi atau group dengan orang lain, jika tidak maka ditawarkan untuk bergabung dalam wadah yang sama dengan nama baru, ketiga personil ini dengan segera mengisyarakan persetujuannya, maka pada saat itu juga diadakan ‘gentlement agreement’ pembentukan dengan nama baru yang akan ditabalkan kemudian. Pada saat itu juga produser meminta ketiga personil untuk meluangkan waktu mereka besok paginya untuk mencari dan membeli kostum/pakaian guna untuk diadakan pengambilan visual [shooting klip] dan kemudan sore hari akan berangkat ke lokasi shooting. Sang produser ternyata sudah mempersiapkan ini dengan cepat. Setelah selesai pengambilan visual, mereka juga menyampaikan niatan bahwa mulai saat ini mereka akan bergabung dan merasa cocok untuk group baru, maka sang produser memberi nama baru “Interna Trio’.

Hasil dari semua cerita diatas anda bisa temui dalam album yang disebut “BPK” [Batak Populer Kompilasi] terdiri dari 4 trio batak, diantaranya Persada Trio, Rajumi Trio, Interna Trio dan Simanjuntak Stars. Album ini cukup dipandang dan dapat dikatakan sukses dalam penjualan kaset diera lesunya peredaran VCD batak saat ini.

Setelah sukses dalam album bentuk kompilasi, maka produser kembali membuat suatu rancangan untuk membentuk mereka dalam satu album penuh, 3 bulan berikutnya maka mereka telah melakukan pengisian vocal untuk satu album penuh dengan lagu lagu yang telah dipersiapkan oleh produser. Kabarnya album tersebut juga cukup diterima di keramaian pasar. Terlebih dalam Album Vol.1 yang mereka terbitkan baru baru ini disamping lagu lagu baru yang mereka bawakan adalah dari pencipta papan atas, dan vocal mereka cukup prima mengimbangi kekayaan notasi dalam lagu tersebut.

Sang produser mencium dan melihat harapan yang terdapat dalam trio ini, maka untuk meyakinkan kedua belah pihak, maka diadakan pembicaraan bahwa trio ini akan diadakan ikatan kontrak untuk pertama kali dalam masa waktu 3 [tiga] tahun, hal tersebut diterima dan disepakati dengan baik oleh ketiga personil dan produser.

Jika kita bisa menilai satu trio dengan oplah VCD yang beredar, saya sangat berkepentingan menyampaikan bahwa Interna Trio sudah mendapat tempat dihati para penikmat lagu batak, dengan bukti tidak kurang dari 50.000 keping VCD [album kompilasi dan album vol.1] dalam waktu relatif singkat mereka telah memiliki pasarnya, dan merekalah salah satu trio yang dipertimbangkan saat ini di Kota Medan.

Written by lagubatak

September 29, 2012 at 7:02 pm

Malala

with 2 comments

Malala
Cipt. William Naibaho
 
Sadihari SMS mu dang hubalos
Sadihari telepon mu dang maralus
Unang ma sitau monang mu
Sai maos curiga ho
Molo mailbox handphone hi
 
So hea saleleng on ho hugabusi
So hea dope nian au ingkar janji
Ro hatam sumolsol bagi
Na sala pillit nimmu ho
Tu au na ujui
 
Ise mandok hon au selingkuh
Molo dao sian lambung mu
Hata ni halak do diparhatutu ho
Laos dohot ho pabagas tanoman hu
 
Kecewa kecewa au tu ho
Hape satonga mate au humokhop ho
Malala malala roha hi
Marisuang do kesetiaan hi tu ho

Written by lagubatak

September 10, 2012 at 3:35 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers