Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Archive for the ‘humor’ Category

Bollo Bollo (Hery Matondang)

leave a comment »

Lagu Bollo Bollo adalah lagu yang tadinya dibuat untuk komedi dan yang pertama menyanyikannya adalah Dongan Silitonga, salah seorang artis senior batak yang terkenal dengan plesetan lagunya, hampir seluruh lagu bisa dia plesetkan dengan baik dan membuat orang bisa tertawa terpingkal pingkal, tidak peduli sesering apakah lagu itu dinyanyikannya.

Bollo Bollo ciptaan Fredy Tambunan seorang pencipta yang produktif sampai saat ini, thema lagu ini sebenarnya untuk memberi peringatan/pembelajaran kepada seorang gadis yang dianggap materialistis (matre, red). namun dengan lekukan suara dongan, pesan itu hilang dan menjadi bahan komedi yang segar dan enak dinikmati. pada tahun 2005 Trio Lamtama kembali mengangkat lagu ini dan mendapat tempat dalam tangga lagu batak.

Kali ini, ada yang mencoba lagu ini disadur dalam bahasa Tapsel dengan nilai komedi yang sama, bahkan untuk kali ini mempunyai khas yang terdapat di daerah tapsel itu sendiri yang juga dibawakan oleh Hery Matondang dalam album Angkola Voice, vocalnya bagus dan penyampaian pesan pun hampir dikatakan sempurna.

Bollo Bollo

Bollo ma bollo bollo da
Bollo ma bollo bollo da
Tung madung sega au anggi sega di roha
Tung madung teleng au anggi teleng sabola
Bollo Bollo

song 1
Waktu kenek motor au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

song 2
Waktu tukang tempel au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

Reff. 1
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku kenek motor do
Manggoda ho

Reff.2
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku tukang sorong do
Manggandeng ho

song 3
Hape ndung jadi toke au
Ro ma ho mandapotkon au
Sattabi ma, sattabi ma
Jolo di ho.

Written by lagubatak

February 13, 2010 at 4:29 am

Cellphone/pulsa vs Kaset/VCD (dari sudut ekonomi)

with 2 comments


Hello, today is 3rd February 2010 isn’t it?

Rasanya agak asing kadang kadang melihat satu tulisan yang membahas tentang perekonomian dalam blog yang menamakan dirinya mengenai lagu batak, ibarat bensin dengan ban, sama sekali tidak ada hubungan, namun keduanya mempunyai peran yang mendasar terhadap lajunya kendaraan, jika bensin mobil anda kosong mustahil anda bisa mengendarainya dengan nyaman, demikian juga halnya dengan ban, maka tak terbayangkan jika keduanya tidak saling menopang satu dengan yang lainnya.

Bah, lagu batak dengan ekonomi apa hubungannya parlapo?, yah.. itulah yang ingin kita hubungkan sampai nampak benang merah dan putihnya agar orang lain bisa melihat dari sisi titik awam se awam awamnya, karena bahasan yang ingin saya sampaikan ini akan berusaha untuk mengupas dari titik ilmu yang rendah seperti yang saya miliki ini, mungkin jika elmu saya sudah tinggi blog ini pun tak perlu lagi dibuat, tinggal membuat papan nama besar2 di salah satu gedung bertingkat dibilangan jakarta selatan dan saya akan menamakan diri sebagai ‘konsultan’,:-)

Saya mengamati dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak sudah stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah nampaknya gagal diterapkan untuk mendongkrak daya saing ekonomi masyarakat indonesia dibanding dengan ekonomi rakyat negara negara berkembang lainnya, dari mulai padat karya, bantuan permodalan, bantuan ekonomi usaha kecil dan menengah yang jalan ditempat, bahkan dananya terus menggelembung tanpa mendapat hasil positif dari masyarakatnya terutama masyarakat kecil. masyarakat miskin kita tak pernah beranjak dari tempatnya menjadi ‘pengusaha’ dan mereka tetap berdiam ditempat mereka berada, apakah mereka tau dan mengerti, usaha yang dilakukan pempimpin itu adalah tujuannya untuk mensejaterakan mereka?, kalau tau mungkin mereka akan ikut berbondong bondong datang ke gedung kepah yang ada di senayan sana untuk menuntut agar penerapannya diberikan secara tunai dan langsung, hehehe mungkin akan ada yang mengusulkan agar dibuat system pemilu saja.:-) maksudnya pembagiannya terbuka, jujur dan adil.

Saya menganggap masing2 kita mengerti bahwa pemerintah itu adalah sebagai kontrol (penyeimbang) terhadap ekonomi yang berjalan di dalam negeri, misalnya pemerintah memberikan fasilitas infrastruktur (jalan, listrik, kenyamanan) agar masyarakat dapat lebih produktif, pemerintah membuat undang undang agar masyarakat tidak saling sikut menyikut melakukan aktifitasnya, pemerintah membuat peluang agar masyarakatnya tergoda (tergugah) untuk melaksanakan roda perekonomian, selebihnya itu diserahkan kepada masyarakat dan yang lebih penting, pemerintah tidak dapat memaksa agar masyarakatnya lebih giat lagi. namun masyarakat dapat serta merta meng-kalim pemerintah tidak bekerja dengan penuh untuk kehidupan perekonomian masyarakat.

Ketika krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997, pemerintah sudah barang tentu bekerja dengan keras agar ekonomi tidak melampau titik yang mengkhawatirkan, disamping krisis ekonomi, krisis kepercayaan terhadap pemimpin pun menggeliat dengan kerasnya, maka timbul perpaduan krisis tingkat tinggi, ekonomi, moral dan kepercayaan. ketiganya punya andil yang besar membuat bangsa ini terpuruk sampai titik yang terendah.

Namun adakah diantara kita yang pernah berfikir, bahwa sebenarnya yang membuat semua itu adalah masyarakat itu sendiri?, seperti yang saya jelaskan bahwa pemerintah adalah sebagai penyeimbang terhadap perlakuan ekonomi sedangkan pemeran utamanya adalah masyarakat.

Contoh, jika anda menabung uang anda dalam sebuah bank, pemerintah sama sekali tidak berhak dengan tabungan anda itu, bahkan berdasarkan undang undang maka pemerintah diwajibkan untuk menjamin tabungan anda itu aman dan jika terjadi ‘malapetaka’ dalam bank itu uang anda tetap akan dapat diambil tanpa berkurang sedikit pun. betapa baiknya sebenarnya pemerintah itu.

Contoh lain, jika anda ingin memiliki sesuatu barang mahal yang sebenarnya tidak harus anda miliki jika anda memiliki uang yang cukup membeli, pemerintah tidak pernah dapat mencegah anda untuk membelinya walaupun hal itu berpotensi untuk membuat kegaduhan dalam system perekonomian dalam negeri. misalnya jika anda ingin memiliki mobil mewah yang di import dari negara tertentu dengan harga yang tak masuk akal, oh ya… itu terlalu sulit dicerna, yang lebih umum adalah jika anda ingin memiliki telepon genggam merk “blackberry” tak pernah saya melihat pemerintah melarang masyarakat untuk mengurungkan niat membeli alat canggih itu, padahal…… menurut saya, itu potensi untuk membuat kegaduhan dalam perekonomian masyarakat.

Pada tahun 1993 sewaktu saya baru memiliki telepon genggam ber merk errickson yang bisa membuat kucing mati jika dilempar pakai benda itu, waktu itu saya membayangkan bahwa suatu saat akan ada salah satu perusahaan yang membuat heboh masyarakat indonesia dengan pasar sejenis ini, waktu itu saya sudah membayangkan bahwa seorang tukang becak, tukang kebun, tukang sayur akan leluasa ber hallo ria dengan temannya diseberang sana hanya menanyakan apakah dia sehat sehat saja disana. nah sekarang bayangan saya itu terbukti, tidak heran seorang penarik becak sibuk dengan fitur fitur telepon genggamnya mencet-mencet sms sampai dia lalai untuk bekerja.

Booming telepon genggam terjadi pada awal tahun 1996 saya tidak dapat memastikan bahwa sebenarnya ada hubungannya dengan keterpurukan ekonomi, tapi jika ada yang memusatkan fikiran untuk membuat analisa ini, saya yakin minimal 20% keberadaan telepon genggam lengkap dengan pulsa dan peralatannya adalah pemicu keterpurukan ekonomi masyarakat.

Alasannya apa parlapo?, dahulu sewaktu kita belum mengenal benda ini kita masih produktif dan masih dapat memberikan waktu kita untuk maksimal bekerja 80% dari nilai produktifitas kita, tiba tiba benda keramat itu telah menyita perhatian dan tenaga kita hampir 40%. tolong nanti diamat amati dengan keberadaan anda dengan telepon genggam anda sendiri, berapa kali anda memegang, mencet, menerima telepon, mengisi pulsa, itu adalah biaya langsung yang sadar atau tidak yang mengurangi isi kantung anda dan membuat pekerjaan anda terganggu. sangat jauh jika dibandingkan dengan sebelum benda asing itu ada.

Perlakuan itu sebenarnya akan sangat positif jika kita hubungkan dengan ‘echo-system’ ekonomi kita, artinya jika kita mengeluarkan uang yang besar, jika kita produktif maka kita akan mendapatkan juga nilai/hasil yang besar, dengan catatan jika itu semua dilakukan dan menjadi produk dalam negeri, namun akan lain hasilnya jika uang yang anda keluarkan itu akan dibawa oleh seseorang berkarung karung ke negaranya sana tanpa memberikan keuntungan bagi anda. maka kita telah terlena dan tergoda dengan ‘mainan’ yang mereka suguhkan tanpa memikirkan dampak yang timbul dikemudian hari.

Jika anda adalah pengguna salah satu merek terkenal ‘blackberry’, gaji anda sebulan dengan Rp.5jt menurut saya itu adalah suatu pemaksaan yang tidak perlu terjadi, dengan kata lain bahwa anda telah mengizinkan orang lain datang dengan karung besar dan menyuruh anda memasukkan uang anda dalam karung itu, dengan tenang dia membawa karung itu dari hadapan anda ke negaranya, tanpa menambah produktifitas anda atas barang tersebut. matilah kita!.

Saya tidak pernah mengambil referensi sudah berapa banyak sebenarnya jumlah telepon genggam di indonesia dan berapa harganya, berapa biaya pulsa setiap bulan dari kumulatif masyarakat, dibandingkan dengan nilai produktifitas kita keseluruhan, apakah masih seimbang?, menurut saya tidak…. dan jawabannya tidak berbanding lurus.

Lagu batak?, dahulu sewaktu penjualan pulsa telepon belum se-marak sekarang ini, penjualan kaset/vcd masih bisa dikatakan menarik dari segi perekonomian, karena rata rata produksi masih kembali modal (break even point), sekarang pulsa adalah musuh utama penjual kaset, ibu ibu dan anak muda akan mudah mengurungkan niatnya untuk membeli kaset jika dia melihat pulsa cellponnya sudah menipis. sedangkan menurut saya bahwa yang terkandung dalam kaset/lagu itu hampir 90% adalah muatan lokal yang sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat secara positif.

Padahal jika saya sebagai seorang produser berhasil mengambil uang dari kantong anda, tentu saya pada gilirinanya akan mengembalikannya lagi kepada anda dengan cara yang berbeda, misalnya : uang tersebut akan saya jadikan lagi proyek untuk membuat album yang lain, membayar artis, membayar pemusik, membayar pencipta, membayar honor lainnya, siapa tahu diantara yang saya sebutkan tadi adalah berhubungan dengan anda, maka terjadilah yang dinamakan ‘echo-system’ perekonomian yang positif dan dapat saling menopang satu dengan yang lainnya, maka terjadilah ekonomi masyarakat yang madani.

bah, nga mondok ondok be au hape……….. ai aha do hupandokkon sian nakkin???

modom ma jolo ate…, hehehehe

horas ma.

Written by lagubatak

February 3, 2010 at 4:54 pm

Andung Ni Pejabat

with one comment

Inang ni sibutet
Peresiden nungnga margatti
Berantasonna ma korupsi beha ma i
Nungnga godang naung diperiksa
Nungnga godang naung dipenjara dongan-donganhi

(inanta)
Amang ni sibutet
Tokkin nai giliranta
Auditonna ma sude artanta
Ukkitonna do muse sinamot i
Sitaonna ma sude

(inanta)
Villa na di Puncak i
Hotel na di Medan i
Showroom mobil dohot pabrik na di Batam i
Jualonna nama i lelangonna nama i
Hepengna i masuk do i tu kas negara

(amanta)
Amang simatua mobil na hulean i
Hasil ni korupsi do i
Sotung leas roham marnida ahu helam on
Molo gabe masuk penjara ahu

…Mulak tu: Amang ni sibutet…d.u.

====

thanks untuk Rio Simanjuntak, sebagai kontributor lirik.

Written by lagubatak

June 29, 2009 at 6:32 am

Sursar (Habang Birrit Birrit)

leave a comment »

Special Edition & Jack Marpaung

Special Edition & Jack Marpaung


Sursar (Habang Birrit Birrit <<<klik untuk mendengar dari YouTube

Ai di usehon do mudarni da bangsoi
Habang birrit
Habang birrit
Sattabi loloan on
Dipatakkas dipatilik
Dipatakkas dipatilik
Bohi nagurapon on

Sik sing sibatubmaikkam ni surle surle
Boha parhoda boban damarsipatu da huling huling
Boha pogos ni damanag ikkon alusan do namakkuling

On dope huboto ito da
Turi turi pakko pakko
Pangeol ni napulang maho
Pweeeeeeeee

Diwaktu malam teraang bulan
Kau ada duduk disamping ku
Siapa suka suka itoda
Diambar kami banyak limbat
Ulu ni limbat didoltuk
Ulu ni pisang dibondut

Lalalala
Lalalalala
Lalalalalala
Lalalalalalala

Diwaktu malam bulan purnama
Cincin kuterima
Tanda nya cinta 2x

Paulak cincin hi da ito
Paulak cincin hi da ito
Hutekken namai da ito
Disuka relai

Redi koman da ito
Sipussu ni hotang
Roma ho tuson da ito
Si boru ni tulang
Ai molo olo ho di au

Ikkon do ripe sonang
Sian dia dalan ni au on ripe sonang
Kopi susu manogot
Sikkola potang potang

Layang layang sursar inang, were uerre
Mangakkat si assimun inang were uerre

Targantung di siboga
Sitolu halaki
Dua do mandur jawa
Sada do sinai
Sude siboga julu
Sude marnidai
Ai disusehon do mudarni bangsoi

Hella hella la
Mauli… mauli hella la
Suri kadongdong ponggol loting
Suri kadongdong tonga borngin

Sursar inang talipolang inang
Manjua inang tu na sonang inang
Magodang magodang magodang
O inang baju
Di akkat biang tarallalam

Tano suksuk tano kanan
Timbaho mi timbahon bakkal
Dialsiphon doi lae sangalsip be
Sangalsip be asa risbe

Rodi Sadarion

leave a comment »

Rodi Sadarion

Denggan do hupaborhat ho inang

Ditikki pamasu masuon mi

Hugokkon do sude dongan sahuta i

Lao mangadopi parbogason mi

 

Nunganga massai leleng au tarpaima

Pahompu panggoaran sian ho

Sahat rodi sadarion manghirim roha hi

Sai tarpaima ima amang mon

 

Reff. Ooo…. Nungnga adong mar pitu taon

Naung sohot ho inang tu hela hi

Andigan nama au da boru hu

Tarsongon dongan i,

mangabing abing pahompu na i

 

*** lagu ini tentang permohonan seorang tua yang sudah sangat rindu menimang cucu dari putrinya. setelah sekian lama (7 tahun) dinikahkan namun belum bisa menimang cucu seperti teman2 yang lainnya…:-(( sodioh……

Written by lagubatak

January 14, 2009 at 3:53 am

Orang Mandailing Bukan Batak (apa benar?)

with 13 comments

parlapo  : dibutuhkan kedewasaan anda untuk membaca artikel ini, saya tertarik untuk mem-post-kan artikel ini sekedar tambahan perbendaharaan mengenal sub-etnis yang ada dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience).

Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Oleh : Abdur Razaq Lubis

NAMA Mandailing sudah diketahui sejak abad ke 14, dan ini menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing, yang barangkali telah muncul sebelum abad itu lagi. Nama Mandailing tersebut dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Batak tidak disebut sekalipun dalam kitab tersebut.

Nama Batak itu sendiri tidak diketahui dengan pasti asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun. Tapi orang pedalaman sendiri tidak membahasakan diri mereka, Batak. Kemudian panggilan ini dipetik oleh pengembara seperti Marco Polo, Ibnu Batutah, dan diambil oleh Portugis dan orang-orang dari atas angin dan bawah angin, hinggalah ke ini hari.

Bila Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, sekaligus mereka juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Persepsi Belanda terhadap orang-orang pedalaman termasuk terhadap bangsa/umat Mandailing dipengaruhi oleh persepsi kesultanan-kesultanan Melayu dan Minang, dan orang-orang pesisir, yang mereka dului berinteraksi.

Lama-kelamaan memBatakkan bangsa/umat Mandailing membudaya dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda hinggakan sesetengah orang Mandailing sendiri mulai melihat diri mereka dari persepsi penjajah yang melihat dari kacamata Melayu. Bangsa/umat Mandailing dikatogerikan bersama-sama dengan bangsa Toba, Pak-pak, Dairi, Simalungun dan Karo untuk tujuan administratif umum di samping menjadi sasaran zending/Kristenisasi.

Pandangan berikut dari sarjana-sarjana Barat seperti Lance Castles adalah tipikal :

“The use of ‘Batak’ as a common label for these groups (Toba, Mandailing dan Simalungun) as well as the Karo and Dairi has a chequered career. Linguists and ethnologists have always found the term necessary because of the strong common elements in all these societies. At some periods, however, those who were converted to Islam, especially Mandailings, have sought to repudiate any association with the non-Muslim Tobas by rejecting the Batak label altogether. This tendency has been strongest among Mandailing migrants to the East Coast of Sumatra and Peninsular Malaysia.”

(Pengunaan istilah ‘Batak’ sebagai label yang umum untuk kelompok-kelompok ini (Toba, Mandailing dan Simalungun) sebagaimana juga dengan Karo dan Dairi mempunyai sejarah yang berpetak-petak. Ahli-ahli bahasa dan etnologi senantiasa mendapati bahwa istilah ini merupakan istilah yang diperlukan dikarenakan adanya elemen umum yang kuat di dalam tiap-tiap kelompok ini. Pada periode tertentu, mereka yang kemudian memeluk Islam, terutama orang Mandailing telah berusaha untuk tidak dihubungkan sama sekali – hubungan dengan non-Muslim Toba dengan menolak label Batak secara keseluruhan. Kecenderungan ini telah terjadi terkuat di antara orang Mandailing perantauan di Pantai Timur Sumatra dan Semenanjung Malaysia).

Sementara sarjana Barat seperti Susan Rogers Siregar, agak peka dan mengerti sedikit.

“Much of the Western literature asserts that there are six major Batak cultures: Toba, Karo, Dairi-Pakpak, Simalungun, Angkola, and Mandailing. This division into ethnic units is somewhat misleading, however, since villagers often have little use for such general words as ‘Angkola’ and identitfy themselves in much more local terms as members of a ceremonial league or a group of village clusters. The sixfold ethnic division may reflect relatively new ethnic designations as members of different homeland groups come into contact and competition with each other”.

(Kebanyakan literatur Barat menegaskan bahwa ada enam budaya Budaya yang utama: Toba, Karo, Dairi, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing. Pembagian ke dalam beberapa kelompok-kelompok etnik ini, menyesatkan, lantaran penduduk desa umum tidak banyak menggunakan perkataan seperti ‘Angkola’ dan mengidentifikasikan diri mereka dalam istilah yang lebih lokal sebagai ‘anggota dari perhimpunan adat’ atau sebuah kelompok perkampungan. Pembagian enam etnik tersebut mencerminkan secara relatif penunjuk-penunjuk etnik baru sebagai bagian dari kelompok-kelompok pribumi yang berbeda yang belakangan bertemu dan bersaing satu sama lain)

Belakangan, sarjana-sarjana Indonesia (Indonesianists) dan antropolog terus memakai istilah Batak dengan alasan “useful” (berguna) dan “necessary” (perlu). Pada akhirnya, sarjana-sarjana yang kononnya, menyelidik secara netral dan objektif, sebetulnya bertanggungjawab mencipta identitas Batak dan memperkuat identitas Batak. Malah ciptaan mereka itu, mencorak dan mewarnai garis-garis besar ilmu mereka sendiri. Maka pemisahan Batak-Melayu itu berkepanjangan hingga hari ini.

Bangsa Mandailing dimelayukan Inggris

Kalau penjajah Belanda melabelkan orang Mandailing sebagai Batak, penjajah Inggeris melabelkan orang Mandailing sebagai “foreign Malays” (Melayu dagang). Di satu pihak, orang Mandailing disebut Batak Mandailng, dan di pihak yang lain, disebut Melayu Mandailing.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience). Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Meskipun berabad-abad orang-orang Batak sudah ‘masuk Melayu’, pemisahan Batak-Melayu terus kekal. Proses memelayukan orang-orang Batak termasuk bangsa/umat Mandailing yang dikategorikan sebagai sub-Batak itu, berkelanjutan hingga kini. Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa lain di Sumatra Utara supaya bertuankan Batak? Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa Nusantara yang kedapatan di Semenanjung supaya bertuankan Melayu ?

Bermula dengan rekayasa sosial engineering kolonial Belanda dan British, disusuli proses Malayanisasi (kemudian Malaysianisasi) dan Indonesianisasi yang berlaku sejak dari abad ke 19 sampai sekarang menerusi pendidikan nasional, polisi kebudayaan nasional dan nasionalisme Melayu dan Indonesia. Ciri-ciri khusus kebangsaan bangsa/umat Mandailing seperti bahasa dan aksara, digugat dan kemudian terhapus sama sekali atas nama asabiah (fanatik perkauman) pembangunan nasional, identitas nasional dan kesatuan nasional.

Rumusan
Pada tahun 1920an, alim ulamak dan pemuka-pemuka Mandailing telah memprotes percobaan orang-orang Batak-Islam termasuk orang Mandailing yang mengaku Batak, untuk dikuburkan di tanah perkuburan Sungai Mati. Alim ulama dan tokoh-tokoh Mandailing berhujah bahwa wakaf tanah perkuburan Sungai Mati hanyalah untuk jenazah-jenazah orang-orang Mandailing saja. Orang-orang Batak khusus Angkola termasuk Mandailing yang mengaku Batak, tidak pantas dikuburkan di pekuburan itu.

Pejuang-pejuang kebangsaan bangsa Mandailing membawa kasus/kes ke mahkamah syariah Sultan Deli dengan keterangan bahwa tanah perkuburan bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan, adalah semata-mata untuk bangsa Mandailing. Mereka yang berbangsa selain Mandailing, tidak boleh dikuburkan di situ. Mahkamah syariah Sultan Deli mendeklarsi bahwa bangsa Mandailing terpisah dan berdiri sendiri dari bangsa Batak. Kemudian bangsa Batak membawa kasus tersebut di mahkamah sibil di Batavia, Jawa. Mahkamah tersebut, mahkamah tertinggi di Hindia Belanda mendeklarasikan bahwa bangsa Mandailing bukan Batak.

Kasus jati diri tersebut dibukukan oleh Mangaradja Ihoetan dalam buku Asal-Oesoelnja Bangsa Mandailing (Pewarta Deli, Medan, 1926). Dalam pengantarnya kepada buku itu, Mangaradja Ihoetan menjelaskan maksud buku itu disusun “…hanjalah kadar djadi peringatan di-belakang hari kepada toeroen-toeroenan bangsa Mandailing itoe, soepaja mereka tahoe bagaimana djerih pajah bapa-bapa serta nenek mojangnya mempertahankan atas berdirinja kebangsaan Mandailing itoe. Dengan djalan begitoe diharap tiadalah kiranja mereka itoe akan sia-siakan lagi kebangsaanja dengan moedah maoe mehapoeskannja dengan djalan memasoekkan diri pada bangsa lain jang tidak melebihkan martabatnya”.

link artikel :

http://tobadreams.wordpress.com/2008/04/22/orang-mandailing-bukan-batak/

http://bumibebas.blogspot.com/2007/06/bangsa-mandailing-tidak-batak-dan-bukan.html

Written by lagubatak

January 5, 2009 at 1:33 pm

Posted in BATAK, humor, mandailing, parbada

Keluar Kau..!!

leave a comment »

Sebutlah namanya si Tigor, pemuda Batak yang punya kesempatan untuk menimba ilmu Tehnik Elektro di negeri Jerman dengan bea siswa dari pemerintah. Setelah menamatkan sekolah di Jerman pulanglah si Tigor ke kampung halaman.

 

Seperti si doel yang sudah tamat sekolah insinyur dia diselamatin … begitu juga si Tigor ini karena rasa bersyukur, bapaknya Tigor mengundang semua kerabat dan saudara, ompung, tulang, namboru, dsb. dsb. diundangnya untuk selamatan bahwa si Tigor sudah insinyur dari Jerman pulak.

 

Setelah selesai acara keluarga, kilang padi (rice mill) bapaknya si Tigor mogok (maklum mesin tua..). sambil berlari ngos-ngosan kenek kilang datang menghampiri Bapaknya si Tigor.

 

 

Kenek          : Toke.. kilang kita mogok tidak bisa menggiling padi orang .. harus diperbaiki segera!

 

 

Bapaknya Tigor : Ah… dasar mesin tua .. mogok terus! tapi…. (tiba-tiba dia ter-henyak .. oh.. anakku sudah insinyur pasti dia bisa perbaiki pikirnya), maka dipanggilnya keras-keras si Tigor supaya semua orang tahu bahwa si Insinyur Tigor akan disuruh untuk memperbaiki mesin tua kilang Bapaknya.

 

 

Bapaknya Tigor : Tigor !! sini kau

Tigor          : ada apa pa’

Bapaknya Tigor : Ayo dulu sebentar ke kilang … katanya mesinnya mogok, supaya kau perbaiki dulu.

 

 

Seperti kerbau dicucuk hidungnya si Tigor menurut tanpa bisa ba..bi..bu, sampai dikilang, sitigor disuguhi mesin tua tadi untuk diperbaiki, tentu saja dia kelimpungan blepotan oli/solar tanpa bisa memperbaiki apapun.

 

Tentulah Bapaknya melihat hal ini aneh. dan langsung bertanya.

 

 

Bapaknya Tigor : Katanya kau insinyur lulusan jerman tapi hanya memperbaiki mesin tua aja tidak bisa.. Insinyur apa itu!! (mulai kesal dia).

 

Tigor          : Bukan begitu pa’ khan bagian-bagiannya lain yang ini namanya Mekanik sedangkan yang kupelajari itu Elektro.

 

 

Bapaknya Tigor : Ah.. sae dodak, cobalah kau ceritakan dulu apa saja yang kau lihat di Jerman sana.

 

 

Tigor          : Kalau di Jerman pa’ semua sudah serba canggih tak ada lagi mesin seperti ini, contohnya : aku jalan-jalan di suatu pabrik, buah-buahan masuk dari pintu sana. nah… keluar dari sana sudah jadi kaleng, namanya buah kaleng!! (bapaknya agak tertegun!), terus aku lihat lagi masuk tepung…. eh… keluar keluar sudah kaleng, itu Roti kaleng! (bapaknya mulai gusar!). pokoknya serba kaleng lah, masuk ini, masuk itu – nanti keluar sudah jadi kaleeeng!.

 

Bapaknya Tigor : bangkit dari tempat duduknya, sambil menunjuk ke arah Tigor, Hei… tigor, kau jangan bikin aku marah yaaa!! jauh-jauh kau disekolahkan pemerintah ke Jerman sana. hanya melihat seperti itu sudah kau bilang canggih.

 

 

Dikampung ini… dirumah… sebentar saja ini masuk… (sambil menunjuk ke bawah perutnya yang buncit itu) ketempatnya bersarang ….. KELUAR KAU!.

 

Si Tigor ???!.

Written by lagubatak

December 31, 2008 at 7:22 am

Posted in BATAK, humor

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers