Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Archive for the ‘BATAK’ Category

Angkola Voice

with 3 comments

Baru saja lahir era baru terhadap audio, musik dan visual untuk lagu tapsel (mandailing) yang membuat kita berdecak dan patut mensyukuri kehadiran teknologi untuk dunia seni suara. hal ini beralasan untuk dinyatakan karena baru baru ini sebuah group yang menamakan dirinya “Angkola Voice” menancapkan cita cita mereka untuk membangun jika berlebihan menyebutnya memperbaiki citra dan eksistensi musik tapsel di dunia rekaman.

Pada umumnya banyak dijumpai keunikan (perbedaan) dalam musik tapsel, artinya berbeda dengan musik puak batak lainnya : karo, toba, dan simalungun karena ketiga puak yang baru disebutkan ini terdapat kemandirian yang utuh atas musik daerah masing masing. Dalam musik karo kita akan menemukan kesendirian tanpa mengadopsi musik musik dari luar terlepas dari asal muasal mereka berada. sedangkan batak toba nyaris tak ada yang dapat menilai bahwa musik mereka didapatkan dalam musik musik etnis lainnya, kalaupun ada itu hanya modifikasi beberapa pelaku atau musisi yang ingin memoderenkan kehadiran musik batak itu sendiri yakni mencampurkan keragaman alat alat musik yang terdapat didunia luar. Sedangkan musik dan lagu tapsel, sungguh banyak bersinggungan dengan musik dan warna dari daerah daerah tetangga sekitar yang mempengaruhinya, sebut saja misalnya, minang dan melayu… Anda yang mendengar musik dan lagu tapsel saat ini, harus membutuhkan waktu sesaat untuk meyakinkan bahwa yang sedang anda dengar itu adalah lagu tapsel, dari kalimat dan jenis melantunkannya. Dahulu memang ada salah satu simbol yang menandakan bahwa musik tersebut datangnya dari tapsel (mandailing) karena mempunyai ciri khas tersendiri, itulah yang dinamakan “onang-onang”. sipelantun dapat menggabungkan beberapa kata dan kalimat dirangkai menjadi suatu syair namun bukan merupakan keutuhan dalam satu lagu (akan berbeda kalimat bila dilantunkan kemudian), hampir sama disandingkan dengan bentuk “mangandung” dalam batak toba.

Mungkin itulah yang dimaksud dengan era baru dan perbaikan yang ingin dibangkitkan oleh Angkola Voice, jatidiri lagu, musik dan pola penampilannya. dari segi musikalitas, walaupun memang tidak menghadirkan tradisi yang kolot, namun terlihat bahwa mereka ingin menyandingkan musik tapsel itu dapat menempuh batas batas daerah seperti musik batak toba yang sebelumnya telah dikenal luas diluar masyarakat batak sendiri.

Sebut saja contoh, salah satu lagu yang terdapat dalam album mereka adalah lagu “Kijom”, lagu ini adalah salah satu roh yang memikat siapapun pendengarnya, tidak peduli anda pernah mendengar lagu itu sebelumnya ataupun baru saja mendengar. si arranger/musisi ingin membuat “benchmark” yang tidak terdapat pada musik musik daerah lainnya namun utuh bahwa inilah yang disebut musik tapsel dengan menampilkan modernisasi didalamnya. Terlebih pula adalah cara mereka menyanyikannya, sipenata vocal nampaknya mengerti bahwa awal mula musik mandailing terdapat dalam ‘nafas’ onang-onang, maka dalam bait bait tertentu alunan onang-onangnya nampak nyata dalam beberapa ‘bar’ dari keseluruhan lagu.

Biasanya dalam hal revolusi (perubahan) dibutuhkan proses yang tidak mudah, termasuk dalam hal musik dan lagu, namun jika kita setuju bahwa revolusi itu selalu membawa nilai positif bagi penikmat dan seluruh pengguna. Walaupun kadang memang harus diyakini bahwa perubahan itu menjadi cemoohan terlebih dahulu namun akan diaminkan jika mayoritas menyetujuinya dengan baik. kira kira itu yang tersirat dari beberapa analisa atas album ini.

Namun secara nyata mereka dapat menyampaikannya dengan perbuatan atau pekerjaan yang telah mereka hasilkan, baik dari segi musikalitas, audio, visual dan artikulasi agak berbeda dari musik dan lagu tapsel yang pernah ada, dan perubahan itu diterima banyak pihak, karena menurut informasi setelah album mereka diluncurkan dalam waktu 1 (satu) minggu VCD yang mereka keluarkan sudah diatas rata-rata peredaran lagu tapsel lainnya, suatu hasil yang perlu dibanggakan dari segi pasar.

Ddalam album ini Angkola Voice menampilkan 12 buah lagu, 3 judul lagu diantaranya adalah lagu kenangan yang dimaksudkan sebagai tolok ukur darimana mereka beranjak untuk mensejajarkan sentuhan yang mereka lakukan. 9 buah lagu didalamnya adalah lagu ciptaan baru yang pantas untuk dinikmati.
1. Parjalang, 2. Batang Galoga, 3. Kecewa, 4. Marsak, 5. Rara, 6. Sangolu Sahamatean, 7. Tolu ari nai nama, 8. Supir Lintas, 9. Posma Roham, mayoritas lagu tersebut ciptaan Ali Rahmat Siregar, salah seorang pendatang baru yang pantas diperhitungkan untuk berkarya dalam lagu tapse. Sedangkan 3 judul lainnya adalah : 1. Sitogol (salah satu lagu tapsel yang selalu dinyanyikan oleh batak toba), 2. Kijom, 3. Bollo Bollo.

Saya tertarik untuk ingin membuktikan penjelasan diatas atas hasil kerja mereka, diantaranya adalah lagu Kijom yang dibawakan dengan baik dan tidak menghilangkan jatidiri lagu tapsel itu sendiri.

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 18, 2010 at 10:20 am

Sihumisik Parsiboras (Togama Trio)

with 45 comments

Sadia, sai sadia
Da leleng nai tu ambarita
Da leleng nai tu ambarita
Sadia leleng nai da inong
Da taonon hu menderita

Sihambir gabe gambir
Tandiang i ma gabe boras
Tandiang I ma gabe boras
Tudia pe au laos so tampil
Tu aha pe au laos so bolas

Sai tudia ma luluan da inong
Da sihumisik parsiboras

Boasa ma ale inang
Boasa ma ale amang
So dulo on mu anak mon
So dulo on mu pahompu mon

Hape massai leleng
Tar paima ima hami
Amang sodap nai
Molo huida ho di lambung hi

Written by lagubatak

February 16, 2010 at 11:43 pm

Laos So Margorak do Roham

with 4 comments

ini adalah ratapan dari seorang ibu yang sedih melihat menantu perempuannya yang ditinggal oleh anaknya pergi merantau, saya yakin hal ini terjadi pada kehidupan nyata dan dituangkan dalam sebuah lagu oleh penulis lagu Soritua Manurung.

ceritranya, setelah anak si ibu ini lama merantau tak memberi khabar apapun kepada istri dan anaknya, dia begitu tega melupakan ucapan anak kecilnya pada saat dia diberangkatkan ke perantauan di loket terminal bus bintang utara yang membawa dia pergi, kira kira begini kata kata anaknya kepadanya “cepat pulang ya pak?”.

si ibu meratapi kegalauan hati menantu perempuannya, dan menyampaikan pesan kepada anaknya “apakah tak tergerak hatimu melihat anakmu” yang selalu memanggil bapak?. si ibu tidak menyangka perubahan hati anaknya itu………

lagu ini dibawakan oleh trio batak pendatang baru dari pekanbaru, namanya trio togama

inilah lagunya :

Laos So Margorak Do Roham

Tung so hurippu do
Naikkon muba roha mi anakhon hu
Burju roha ni parumaen hi
Paborhat ho tu tano parjalangan mi
Hape laos so adong do baritam
Songon pasombu siohol ni pahompu hi

Hurippu do amang
Diingot ho iluni parumaen hi
Napataruhon ho naujui
Da tu terminal loket ni bintang utara i
Maradu mokkik okkik gelleng mi,
Didok tu ho…….(tibu ho mulak da bapa)

Holan marningot i pe ho nian
Da tung so tangis ho di parjalangan mi
Hape malano do roham amang
Lupa do ho diparumaen nang pahompu hi

Dang tarpaida ida au
Iluni parumaen hi alani ho amang
Bapa bapa on ma gelleng mi
Masihol mida ho amang
Laos so margorak do roham
Dijou jou ni akka pahompu hi

Written by lagubatak

February 14, 2010 at 9:11 pm

Bollo Bollo (Hery Matondang)

leave a comment »

Lagu Bollo Bollo adalah lagu yang tadinya dibuat untuk komedi dan yang pertama menyanyikannya adalah Dongan Silitonga, salah seorang artis senior batak yang terkenal dengan plesetan lagunya, hampir seluruh lagu bisa dia plesetkan dengan baik dan membuat orang bisa tertawa terpingkal pingkal, tidak peduli sesering apakah lagu itu dinyanyikannya.

Bollo Bollo ciptaan Fredy Tambunan seorang pencipta yang produktif sampai saat ini, thema lagu ini sebenarnya untuk memberi peringatan/pembelajaran kepada seorang gadis yang dianggap materialistis (matre, red). namun dengan lekukan suara dongan, pesan itu hilang dan menjadi bahan komedi yang segar dan enak dinikmati. pada tahun 2005 Trio Lamtama kembali mengangkat lagu ini dan mendapat tempat dalam tangga lagu batak.

Kali ini, ada yang mencoba lagu ini disadur dalam bahasa Tapsel dengan nilai komedi yang sama, bahkan untuk kali ini mempunyai khas yang terdapat di daerah tapsel itu sendiri yang juga dibawakan oleh Hery Matondang dalam album Angkola Voice, vocalnya bagus dan penyampaian pesan pun hampir dikatakan sempurna.

Bollo Bollo

Bollo ma bollo bollo da
Bollo ma bollo bollo da
Tung madung sega au anggi sega di roha
Tung madung teleng au anggi teleng sabola
Bollo Bollo

song 1
Waktu kenek motor au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

song 2
Waktu tukang tempel au
Ro do au mandapotkon ho
Napala hum, napala hum
Nimmu tu au

Reff. 1
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku kenek motor do
Manggoda ho

Reff.2
Anggo so sala da anggi
Parnidaan ku hasian
Dongan ku tukang sorong do
Manggandeng ho

song 3
Hape ndung jadi toke au
Ro ma ho mandapotkon au
Sattabi ma, sattabi ma
Jolo di ho.

Written by lagubatak

February 13, 2010 at 4:29 am

Sitogol (Hery Matondang)

with 4 comments

Saya kurang jelas mengetahui, apakah Nahum Situmorang mengerti bahasa Tapanuli Selatan, karena lagu Sitogol itu adalah berbahasa Tapsel walaupun tidak sekental kita mendengar orang tapsel dari sibuhuan berbicara sehari hari.

Lagu Sitogol adalah salah satu lagu legenda dari Tapanuli Selatan dan konon lagu ini adalah ciptaan Nahum Situmorang, yang mengherankan orang tapsel tidak pernah mengabadikannya dalam bentuk kaset/vcd, namun selalu dinyanyikan oleh Batak Toba, Kali ini terobosan baru datang, album yang menamakan dirinya Angkola Voice dengan bintang tamu Hery Matondang datang membuat sejarah baru dalam lagu tapanuli selatan.

Hery Matondang yang membawakan lagu Sitogol dalam album tersebut tampil dengan prima dengan olah vocal ala “rock” yang mempunyai suara khas serak serak memikat itu, beliau ingin memperkenalkan dan mengatakan bahwa lagu Sitogol itu adalah milik orang Tapanuli Selatan walaupun penciptanya adalah orang Toba.

Simak dan dengarlah lagu ini, secara pribadi jujur saya menilai bahwa seharusnya gaya dan penampilan sewaktu membawakan lagu ini adalah seperti yang dibawakan oleh Hery Matondang……. mari kita simak!!

Sitogol

Adong ende hu najeges dabo
Hu oban tingon mandailing godang do
Jeges lagu na boto on momo
Sitogol goar na sitogol dabo

Beha ma lak na lagu na dabo
Sarupa doi tu onang onang do
Atia margembira bo pe marsak ho
Marsitogol sitogol goar na dabo

Tingon mandailing godang do
Asal mula ni sitogol do
Marsak bo pe margambira ho
Marsitogol sitogol goar na dabo

Written by lagubatak

February 10, 2010 at 11:04 am

Kijom (Tapsel Madina)

leave a comment »

Lagu ini adalah salah satu lagu yang digunakan nenek moyang dari daratan tapanuli selatan pada saat peperangan dahulu untuk melawan musuh2. Lagu ini penuh dengan semangat perjuangan dan merupakan salah satu lagu yang memiliki ‘roh’ semangat akan mengingat betapa kayanya perbendaharaan khasanah budaya batak. Tidak percaya?? mari simak!

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 10, 2010 at 1:33 am

Marsada Band

with 84 comments

Horas……..

Jika anda pengunjung tetap blog ini, anda mungkin bertanya-tanya, mengapa begitu lama blog ini tidak pernah di update, dan jawabanya adalah : memang sengaja saya melakukannya agar kita semua sadar bahwa sekali2 perlu kita memberi appresiasi terhadap usaha yang dilakukan oleh rekan diseberang sana.

Sebelumnya saya sering menghimbau kepada para pengunjung agar memberikan kontribusi sedikit saja, misalnya hanya menulis komentar di tempat yg telah disediakan, dengan demikian blog ini akan bisa tersebar keseluruh penjuru dengan pertalian dari mesin pencari kata dari negara mana pengunjung melihat blog ini. namun himbauan itu tak pernah terpenuhi, terbukti jelas bahwa setiap hari pengunjung tidak kurang dari 500 orang dari seluruh negara, namun hanya sedikit yang memberi komentar, artinya…. bahwa kita masih ingin dilayani tanpa berusaha memberi penghargaan terhadap orang yang telah berusaha ‘memuaskan’ kita.

Namun sekarang saya kembali datang bukan untuk berusaha mencari perhatian pengunjung, namun ini saya lakukan hanya untuk diri saya sendiri, jadi saya tidak mempunyai beban apapun terhadap siapapun, dan mungkin suatu saat nanti blog inipun akan saya tutup dari pengunjung umum (khusus untuk diri sendiri) jika himbauan saya belum terpenuhi.

Anda sering bermain-main di youtube?, dan ingin mendengar lagubatak?, jika itu telah terjadi sekitar 5 tahun sebelum saat ini, maka anda akan pernah mendengar nama “marsada”, salah satu grup musisi dari pulo samosir, mereka adalah salah satu duta musik batak yang tak perlu memproklamirkan diri seperti layaknya orang yang mengatakan bahwa mereka telah banyak berbuat terhadap musik batak. namun mereka sadar talenta yang mereka miliki itu jika dapat dinikmati oleh orang banyak, sudah merupakan kepuasan tersendiri bagi mereka.

Dahulu mereka sering bernyanyi ke semenanjung eropah dengan bimbingan salah seorang pemuda (kala itu) batak yang peduli dengan lagubatak, sebutlah namanya Henry Manik, beliau tinggal menetap di Netherland dan sekali kali pulang ke bonapasogit, beliaulah yang menjembatani grup ini mampir dan berkiprah dinegeri orang dengan bantuan Mrs. Coop Hoper seorang wanita Inggris yang juga pemerhati musik tradisi dari seluruh belahan dunia.

Perkembangan piranti musik berkembang, baru baru ini mereka diabadikan dengan performance video clip (VCD), untuk konsumsi masyarakat luas, semoga menjadi pemikiran tersendiri bagi kaum muda batak untuk melihat dan menelaah betapa kayanya sebenarnya musik tradisi batak itu dan diterima oleh kuping masyarakat luas.

Saya sengaja meng-upload salah satu lagu terfavourite mereka yang telah akrab dikuping masyarakat luas, mudah2an dalam waktu dekat anda bisa menemukannya ditoko-toko langganan anda, namun JANGAN SALAH PILIH, saat ini juga ada nama grup yang sama “MARSADA” namun lagu dan performancenya berbeda.

Judul lagu mereka yang sudah termashyur itu adalah “Maria” cipt. Joe Harlen Simanjuntak (salah satu personil Trio Ambisi). mari kita simak, dan lestarikan musik batak…….. Horas!!!

sattabi molo adong hata nasala.

Maria

Nang pe naung muli ho ito hasian
Nang pe dao ho sian au
Anggo roha hu sai hot doi tu ho
Sahat rodi na lao mate au

Manghirim au diharorom hasian
Manghirim au dijanjimi
Nungnga martaon au paima ima ho
Surat sabikbik pe so ro

Sai holan na marsak au ito
Sipata sai ro do tu nipikku bohi mi
Maria taringot au naung salpui
Maria sega nai pikkiran hi marningot ho

Maria didia ho

Sai…………….

bonus track……… uning-uningan “sihutur sanggul”

Written by lagubatak

November 26, 2009 at 3:11 am

Minta Pendapat Pengunjung

with 2 comments

Simanjuntak Stars

Simanjuntak Stars

Maaf jika beberapa hari (minggu) ini saya alpa untuk meng-update blog ini, karena ada kesibukan lain yang harus menyita waktu saya, hingga belum sempat membuat pembaharuan yang selalu saya janjikan. Semoga tidak menjadi penghalang bagi para pengunjung untuk sekedar mengintip dan mengambil syair lagu yang ada di blog ini.

Seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, bahwa blog ini juga akan saya fungsikan untuk meminta pendapat dari para pengunjung tentang keberadaan lagu batak pada umumnya, namun saya akan mencoba mengkhususkan terhadap sebuah group (trio) yang sedang eksis saat ini.

Simanjuntak Stars (salah satu trio batak) sebenarnya telah merampungkan 7 (tujuh) album selama ini, namun yang telah release ke pasar masih sampai 5 (lima) album, sedangkan produsernya masih menganggap waktu yang belum tepat untuk me-release album album yang lainnya. Namun kesempatan ini dimanfaatkan untuk meminta pendapat para pengunjung (yang kami anggap telah dewasa untuk memilih dan menilai sebuah lagu).

Maka dalam kesempatan ini kami memohon penilaian sekaligus pendapat pengunjung kiranya memberi masukan kira-kira apa judul/hits yang cocok untuk album berikutnya ini. Sengaja kami memberi 2 pilihan judul lagu yang menurut kami pantas sebagai hits untuk album volume 4 ini, antara lain :

1. Tahuak Manuk Cipt. Harun Situmeang<<= klik mendengar dari YouTube

Tahuak manuk dope sogot manogot i
Da nungnga borhat ho inang tu parjajoan mi .. hei.. hei
Martaon ombun ho tahe inang ni gelleng hu
Lao mandiori ngolu-nglou siapari i

Mar hoi-hoi ho inang siganup ari i
Tung hir do hodok mi didadang las ni ari i
Sodisarihon ho bei loja ni daging mi
Asal ma dapot boras si satangkar i

Reff.
Hape martonga borngin pe inang
Da asa mulak ho… marsikkor daging mi tahe
Inang ni gelleng hu

So sanga be diabing ho boru ta siampudan i
Pasari sari ngolu ngolu siapari

Sotung mandele ho inang dihalojaon mi
Paima magodang sude gelleng ta i

2. Bornginon Cipt. Robert Marbun<<= klik mendengar dari YouTube

Bornginon nama ito
Parsirangan ni janji ta
Ai marsogot haduan
Naeng marbogas nama au

Ale hinaholongan
Tinggal ma ho hasian

Borngnion nama ito
Ilu ilu maraburan
Roha mi nang roha hon
Rap mabugang do ito

Na marsihaholongan
Ikkon marsirang nama

Reff.
Hasian…. boha bahenon
Nga hubaen lakka hu ito songonon
Arsak mi… nang rimas mi
Di-nipim ubatan hu doi haduan

Ingot ma…. sai ingot ma
Roha hu holong hu di ho
Sude hutading hon di ho

Dan sebagai bonus untuk anda, kami berikan sebuah lagu “Dainang” Cipt. Otto Hasibuan, SH yang juga terdapat pada album tersebut nantinya, disamping lagu lagu lainnya tentunya.

Atas pendapat dan masukannya kami haturkan terima kasih.

Written by lagubatak

July 25, 2009 at 1:55 pm

Buni Di Ate-ate

leave a comment »

Terdapat dalam Album “Aek Sibulbulon”

Buni Di Ate-ate<<== Klik mendengar dari YouTube

Naeng do ho sai hupasiding
Alai maniak ate ate
Lam dao ahu laho manadinghon ho
Lam ganda sitaonon

Naeng do ho sai hulupahon
Siholhi so boi hutaon
Nunga tung balga jala tung bagas
Holong ni rohaku

Reff.:
Bereng ma dison buni di ate-atehon
Simpan dope goarmu
Bereng ma dison peak di pusu-pusuhon
Simpan dope gambarmu

Ndang tarbahen ahu hape
Mangalaupahon ho
Ndang tarbahen ahu ndang tarbahen ahu
Laho pasidinghon ho

********

marappilaos syair nai ateh, sossok ma on tu na manigati halungunaon ni roha, ala na sai mardua roha tu nahinaholongan ni rohana, unang ito…. pittor pillit ma!! hehehehe.

Satire dalam Lagu

with one comment

Dear friends,

Kali ini saya ingin mencoba melihat/membahas sisi lain dari sebuah lagu yang tercipta dari seorang penulis lagu. Seni memang adalah satu sifat yang universal, rata-rata seorang seniman/wati(harusnya aku harus sering menulis seperti ini:-)) mempunyai sifat yang halus dan berbeda dengan sifat sifat yang ada pada manusia biasa, pada umumnya:-(.

Jika kita mendengar sebuah lagu, baik notasi dan aliran syair yang terkandung didalamnya, biasanya kita hanya terpaku pada pengertian syair dan lekukan nada-nada yang diciptakan oleh penulis lagu itu sendiri, seolah lagu tersebut tak ada niatan yang hendak disampaikan.

Namun ini ada info, setelah diadakan sedikit pencarian informasi, ternyata banyak lagu terutama syairnya adalah berupa sindiran kepada pemerintah, kawan, lawan (mungkin dalam bahasa sastra indonesia disebut satire).

Satire ini terdiri dari 2 bentuk, bentuk yang pertama adalah secara langsung, itu berupa sindiran kepada pihak pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat dan langsung menyampaikannya dengan kalimat yang telak. Kemudian yang kedua adalah berupa tidak langsung (kiasan), seolah-olah syair itu tidak ditujukan untuk menyindir seseorang namun setelah ditelaah ternyata kandungan sindiran ada didalamnya, dan biasanya bentuk sindiran (kiasan) inipun terbagi dalam beberapa bentuk.

Dalam dunia seni lagu batak hal ini juga sangat terlihat jelas. Perbincangan tentang hal ini pernah ramai dalam lingkungan artis dan pencipta lagu batak itu sendiri, beberapa diantaranya seolah berlomba untuk saling membuat syair syair yang menyampaikan isi hati penulis kepada pihak lain, dan yang tidak kalah serunya adalah “lawan” tersebut berada dalam lingkungan sendiri yakni artis/pencipta lagu batak, seru!!.
Lebih menarik lagi adalah bahwa sindiran (satire) dalam syairnya disampaikan secara halus dan tidak akan tampak pada orang orang biasa yang tidak mengerti arah tujuan dari si pencipta itu sendiri.

Nama nama pencipta lagu batak yang menurut kami sering mempunyai makna ganda dalam lagu lagu ciptaannya, sebut saja : Dakka Hutagalung, Bunthora Situmorang, Tigor Gipsy Marpaung, Jack Marpaung, Mangara Manik, William Naibaho, Rober Marbun, Yamin Panjaitan, dan masih ada nama lainnya.

Nah, to the point!, bukan suatu rahasia umum lagi bahwa dalam dunia artis batak kita mengenal sosok artis/penyanyi batak yang namanya Trio Lasidos. Kebetulan dua dari personilnya adalah yang sangat produktif dan aktif untuk mencipta lagu, yakni Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung.
Juga mungkin sebahagian besar diluar artis batak telah mengetahui bahwa kefakuuman Trio Lasidos tidak memproduksi lagu batak dari tahun 80an oleh karena terjadinya suatu kesalah fahaman diantara kedua belah pihak ini, untunglah baru baru ini ada orang batak (D.L. Sitorus) yang memfasilitasi agar diantara mereka terjadi rekonsiliasi, bisa rukun dan bergabung lagi dalam bendera Trio Lasidos.

Saya memulainya sedikit demi sedikit,
Jika diantara kita masih ingat lagu “Dewi” karya cipta Bunthora Situmorang, kira kira syairnya begini : “Anggo hatam tu au ito, natua tua mi do namamaksa ho, asa oloan mu tu tinodo nai mangido maaf ho tu au”, (Kalau kau mengatakan bahwa orangtua mu yang memaksamu untuk dijodohkan kepada orang pilihannya dan engkau datang minta maaf padaku).

Disini jelas kita akan terpaku terhadap kalimat, bahwa pengertiannya adalah yang sebenarnya tentang kepiluan seorang lelaki yang ditinggal oleh pacarnya.
Namun Bunthora memulai dengan kata sindiran halus. Pada saat itu ada suatu perseteruan antara dia dengan Jack Marpaung atas ketidak selerasan hubungan mereka secara group Lasidos, muncul dugaan pada saat itu Jack Marpaung membelot ingin mencari popularitas yang lebih dibanding dirinya. Dahulu dia sudah mulai mencari partner untuk bernyanyi dalam album batak tanpa sepengetahuan Bunthora, dalam dunia artis batak perlakuan seperti ini sangat tidak lazim, dari saat itu bahwa Jack Marpaung lah yang memulainya terjadinya seringnya pergantian personil dalam suatu group trio batak, hingga terbawa sampai sekarang ini.

Yang lebih tanpak adalah dalam Reff. lagu tersebut : “O Ale Dewi hasian, tung so pola au sega bahenon mu, alai pargabuson mi do hasian nasai hutangisi”, (Oh Dewi kasih ku, saya tak akan menderita karena perbuatanmu tapi yang selalu kusesali adalah kebohongan mu), mengapa saya berani mengatakan dalam lagu ini adalah sindiran kepada Jack Marpaung?. Anak tertua dari Jack Marpaung adalah Dewi Marpaung, jika saya Bunthora karena saya tidak sedang sreg dengan Jack, saya tidak akan membuat lagu seperti ini membuat nama anak teman didalamnya jika tidak ada unsur lain. Dan itu pernah ditanyakan beberapa orang terhadap Bunthora, tetapi dengan sopan dan halus Artis Batak senior yang sangat dihargai ini menjawab dengan diplomasi batak yang santun, namun sesekali dia mengakuinya terhadap teman dekatnya.

Sebenarnya banyak lagu Bunthora yang sedikit dan banyak menyinggung perseteruan mereka pada saat itu, dan umumnya lagu tersebut dikenal masyarakat banyak. Tapi saya akan ambil contoh lain yang bisa dipercaya kebenarannya, kenapa??, karena yah… percaya deh!.

Pernah mendengar judul lagu “Dang Lepelmu Au Ito??” lagu ini dibawakan pertama kali oleh Simanjuntak Stars dan sepertinya Bunthora tidak puas, dia kembali menyanyikan lagu ini bersama group “optional”nya pada saat itu bernama 3 Bintang, bersama Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.
Syairnya kira-kira begini : “Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi…. Dang lepelmu au ito”, (oleh karena kemiskinan ku itulah penyebab saya tidak menyampaikan rasa cintaku padamu, aku menganggap bahwa aku bukan levelmu). Jika kita selidiki syair lagu ini, adalah seolah olah bahwa seorang pria akan merasa berkecil hati oleh karena kemiskinan yang membuat dia tidak mampu mengucapkan rasa cintanya kepada seorang wanita.

Kembali Bunthora memulainya dengan halus, untuk menyampaikan bahwa dia sudah merasa berlapang dada selama ini yang membuatnya tidak menyampaikan seluruh gundau hatinya kepada Jack. Tapi sebenarnya ada yang perlu disampaikannya kepada Jack, yaitu bahwa dia bukan “lawan” yang setimpal buat Bunthora (khusus arti Dang Lepel ini sengaja dibuat terbalik untuk menekankan apa yang ada dalam hatinya). Bahwa dirinya lebih mempunyai keistimewaan yang dapat diandalkan:-).

Dalam Reff lagu tersebut : “Hape parsatokkinan do ito tu au holong mi, marsapata ma ito holong hi dibahen ho, alai so jadi mandele au ito, hutanda do ito dirikki dang lepel mu au ito”, (Tapi hanya sekejap cintamu padaku, tapi kaulah yang menanggung akibatnya, saya cukup mengenal diriku, kau bukan level ku). Kembali pengulangan kalimat bahwa Engkau bukan Level saya.

Pernah sekali seseorang bertanya bahwa syair lagu “Dang Lepelmu Au Ito” itu adalah ungkapan bahwa pihak lain lebih tinggi dari kita, dengan demikian bahwa Bunthora itu berada dibawah lepel Jack Marpaung?, buru buru Bunthora dengan nada yang lain menjelaskan, oh.. bukan, coba jangan baca semua syairnya.. tapi hanya menyebut “Dang Lepelmu Au” apa kesannya?, disitu pengertian yang saya ambil, katanya!.

Tidak lengkap jika saya hanya menunjukkan lagu lagu ciptaan Bunthora Situmorang yang menyerang atau membuat sindiran terhadap Jack Marpaung, tetapi hal sebaliknya juga banyak berseliweran di lagu batak, lagu ciptaan Jack Marpaung banyak yang mengandung sindiran sebagai balasan terhadap lagu Bunthora.

Tapi ada baiknya saya lanjutkan kemudian hari:-)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers