Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Author Archive

Buni Di Ate-ate

leave a comment »

Terdapat dalam Album “Aek Sibulbulon”

Buni Di Ate-ate<<== Klik mendengar dari YouTube

Naeng do ho sai hupasiding
Alai maniak ate ate
Lam dao ahu laho manadinghon ho
Lam ganda sitaonon

Naeng do ho sai hulupahon
Siholhi so boi hutaon
Nunga tung balga jala tung bagas
Holong ni rohaku

Reff.:
Bereng ma dison buni di ate-atehon
Simpan dope goarmu
Bereng ma dison peak di pusu-pusuhon
Simpan dope gambarmu

Ndang tarbahen ahu hape
Mangalaupahon ho
Ndang tarbahen ahu ndang tarbahen ahu
Laho pasidinghon ho

********

marappilaos syair nai ateh, sossok ma on tu na manigati halungunaon ni roha, ala na sai mardua roha tu nahinaholongan ni rohana, unang ito…. pittor pillit ma!! hehehehe.

Seandainya betul Michael Jackson tidak betul meninggal…

with one comment

Hari ini, sebelum saya membuka account wordpress saya, ada sebuah diskusi di salah satu account wordpress, yang mengatakan bahwa Michael Jackson diragukan kebenarannya meninggal:, bah… bari tuak on ateh??.. hehehe.

Dalam diskusi beberapa orang yang memberi tanggapan itu, ada saja yang memberi analisa bahwa bisa saja terjadi berita itu hanya sekedar hoax, alias berita yang membuat orang tertipu dengan keadaan yang sebenarnya. Dari diskusi mereka hanya sedikit yang menyatakan “kepasrahan” bahwa memang Michael Jackson itu adalah seorang Legenda dan biarlah dia tenang dialam baka sana, dan jangan membuat berita itu berkembang lagi. “Lakukan lah perkejaan yang lain yang lebih positif tanpa menduga duga orang yang sudah meninggal membuat suatu berita yang sangat sensasional..” kata salah satu orang yang berkomentar!.

Ada juga salah satu orang yang lebih seram komentarnya, bahwa Michael Jackson meniru perbuatan salah seorang artis terkenal lainnya juga dari Amerika yakni Elvis Presley. Bah… baru tau saya, bahwa ada berita EP juga mengganti namanya setelah bosan menjadi Elvis Presley dan hidup sebagai masyarakat biasa, hahahaha. sungguh yang dapat menggerakkan mata untuk dibaca. walaupun kemungkinan besar justru inilah berita yang hoax.

Nah, khabarnya Michael Jackson adalah salah satu artis yang brilian dan sangat mungkin membuat hal seperti itu menjadi kenyataan, karena dia pernah juga membuat berita sensasional yang lainnya, tidak begitu ingat lagi entah apa contoh yang pernah dibuat MJ yang dipaparkannya itu.

Lalu, sembari minum soyabotol dingin kesukaanku sore ini.. saya jadi tergoda untuk berpikir apa alasan seorang MJ melakukan hal ini jika benar benar ini terjadi.

MJ adalah entertainer yang belum tertandingi dari segi kemampuan dan inteligensi dalam karir bernyanyi sampai saat ini, tapi dilain pihak semua sudah mengetahui sekarang, bahwa dia juga menumpuk hutang di bank dengan pola hidup yang membuat dia jadi terjebak dalam kungkungan hutang itu. seseorang bisa berbuat apa saja karena terdesak dengan situasinya.
Sebelum berita meninggalnya Michael Jackson, dia telah menanda tangani kontrak untuk mengadakan konser tunggalnya di London bulan Juli ini, tapi kemungkinan besar dia tidak mendapat uang yang banyak dari konser itu, bahkan dia akan menjadi sapi perahan kepada bank tersebut.

Lalu apa untungnya dia melakukan itu parlapo???, yah… pertama, karena sudah tidak mungkin lagi mengulagi debut ketenaran pada usia 50an seperti sekarang ini untuk membangkitkan semangat fansnya, karena nama dan kondisi dia sudah tertelan beberapa lama, ditambah banyaknya artis penyanyi pendatang baru yang bisa menggantikan kehadirannya.
Dia melakukan itu dengan pikiran, jika semua mengatakan dia meninggal, ternyata suatu hari 6 bulan atau 1 tahun kelak, dia muncul dengan sensasi itu dengan mengeluarkan album baru katakan lah dengan judul “bangkit dari kubur”, jelas semua fans dan orang orang baru yang belum pernah mengenal Jacko secara dekat akan penasaran untuk membeli kasetnya. Maka album yang “bangkit dari kubur” mampu mencapai oplah dua kali lipat dari album album sebelumnya. Maka dia akan menjadi kaya raya kembali dan dengan cepat dia akan membayar hutang hutangnya. dan menikmati lagi kehidupannya yang glamour itu.

Lalu, apa alasannya kepada fans nya nanti jika itu betul???… hayoooo…, kalau mau mencari cari alasan aja sih, bisa aja begini jawabnya “dulu saya pergi ke Hungaria dengan menggunakan jet pribadi saya, tapi saya tidak sadarkan diri sampai beberapa hari karena kelebihan dosis makan obat (kalau tidak salah, dia ada izin untuk mengkonsumsi “obat obatan”), jadi saya tidak tahu apa yang terjadi pada masyarakat dunia. Setelah itu saya berencana lagi untuk meyakinkan dunia bahwa saya masih hidup”…. hahaha.

Hukuman apa yang akan dijalani?, menurut saya tidak ada hukuman… cuma ada beban moral yang harus ditanggungnya kepada dunia bahwa dia sudah berbohong kepada publik. Yang sebenarnya tidak perlu lah malu lagi karena memang tujuannya untuk meraup keuntungan yang besar.

Akh…. alai hatakku mai, anggap lah dulu ini sebagai bacaan iseng yang tidak perlu mencari kebenarannya. Karena memang secara jujur, saya pun belum setuju bahwa Jacko itu sudah meninggal, dan kalau pun dia berbuat seperti itu, tetap saya juga mendukung tindakan itu. Alasannya adalah, jika dia nanti menerbitkan album “bangkit dari kubur”, pasti semua orang akan gila membeli kasetnya, dan mungkin saja saya kecipratan sedikit atas hasil banyaknya orang membeli kaset, maka kaset saya pun ikut terbeli.

Karena penelitian kecil-kecilan yang pernah saya lakukan, jika ada “boom” penjualan kaset baik itu Indonesia dan Barat, maka orang yang “tidak” pernah membeli kaset di toko kaset akan membeli kaset, dan biasanya jika sudah sampai di toko kaset, mereka ini tidak hanya membeli kaset yang betul betul direncanakannya, dia juga akan melirik kaset-kaset yang lainnya. Dan mudah-mudahan yang membeli itu kebanyakan orang batak pula, hahahaha.

Sae majolo ateh… horas, jala selamat bermalam minggu ma dihita!. (gait-gait hu doi amang Jacko…)

Written by lagubatak

July 4, 2009 at 1:06 pm

Satire dalam Lagu

with one comment

Dear friends,

Kali ini saya ingin mencoba melihat/membahas sisi lain dari sebuah lagu yang tercipta dari seorang penulis lagu. Seni memang adalah satu sifat yang universal, rata-rata seorang seniman/wati(harusnya aku harus sering menulis seperti ini:-)) mempunyai sifat yang halus dan berbeda dengan sifat sifat yang ada pada manusia biasa, pada umumnya:-(.

Jika kita mendengar sebuah lagu, baik notasi dan aliran syair yang terkandung didalamnya, biasanya kita hanya terpaku pada pengertian syair dan lekukan nada-nada yang diciptakan oleh penulis lagu itu sendiri, seolah lagu tersebut tak ada niatan yang hendak disampaikan.

Namun ini ada info, setelah diadakan sedikit pencarian informasi, ternyata banyak lagu terutama syairnya adalah berupa sindiran kepada pemerintah, kawan, lawan (mungkin dalam bahasa sastra indonesia disebut satire).

Satire ini terdiri dari 2 bentuk, bentuk yang pertama adalah secara langsung, itu berupa sindiran kepada pihak pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat dan langsung menyampaikannya dengan kalimat yang telak. Kemudian yang kedua adalah berupa tidak langsung (kiasan), seolah-olah syair itu tidak ditujukan untuk menyindir seseorang namun setelah ditelaah ternyata kandungan sindiran ada didalamnya, dan biasanya bentuk sindiran (kiasan) inipun terbagi dalam beberapa bentuk.

Dalam dunia seni lagu batak hal ini juga sangat terlihat jelas. Perbincangan tentang hal ini pernah ramai dalam lingkungan artis dan pencipta lagu batak itu sendiri, beberapa diantaranya seolah berlomba untuk saling membuat syair syair yang menyampaikan isi hati penulis kepada pihak lain, dan yang tidak kalah serunya adalah “lawan” tersebut berada dalam lingkungan sendiri yakni artis/pencipta lagu batak, seru!!.
Lebih menarik lagi adalah bahwa sindiran (satire) dalam syairnya disampaikan secara halus dan tidak akan tampak pada orang orang biasa yang tidak mengerti arah tujuan dari si pencipta itu sendiri.

Nama nama pencipta lagu batak yang menurut kami sering mempunyai makna ganda dalam lagu lagu ciptaannya, sebut saja : Dakka Hutagalung, Bunthora Situmorang, Tigor Gipsy Marpaung, Jack Marpaung, Mangara Manik, William Naibaho, Rober Marbun, Yamin Panjaitan, dan masih ada nama lainnya.

Nah, to the point!, bukan suatu rahasia umum lagi bahwa dalam dunia artis batak kita mengenal sosok artis/penyanyi batak yang namanya Trio Lasidos. Kebetulan dua dari personilnya adalah yang sangat produktif dan aktif untuk mencipta lagu, yakni Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung.
Juga mungkin sebahagian besar diluar artis batak telah mengetahui bahwa kefakuuman Trio Lasidos tidak memproduksi lagu batak dari tahun 80an oleh karena terjadinya suatu kesalah fahaman diantara kedua belah pihak ini, untunglah baru baru ini ada orang batak (D.L. Sitorus) yang memfasilitasi agar diantara mereka terjadi rekonsiliasi, bisa rukun dan bergabung lagi dalam bendera Trio Lasidos.

Saya memulainya sedikit demi sedikit,
Jika diantara kita masih ingat lagu “Dewi” karya cipta Bunthora Situmorang, kira kira syairnya begini : “Anggo hatam tu au ito, natua tua mi do namamaksa ho, asa oloan mu tu tinodo nai mangido maaf ho tu au”, (Kalau kau mengatakan bahwa orangtua mu yang memaksamu untuk dijodohkan kepada orang pilihannya dan engkau datang minta maaf padaku).

Disini jelas kita akan terpaku terhadap kalimat, bahwa pengertiannya adalah yang sebenarnya tentang kepiluan seorang lelaki yang ditinggal oleh pacarnya.
Namun Bunthora memulai dengan kata sindiran halus. Pada saat itu ada suatu perseteruan antara dia dengan Jack Marpaung atas ketidak selerasan hubungan mereka secara group Lasidos, muncul dugaan pada saat itu Jack Marpaung membelot ingin mencari popularitas yang lebih dibanding dirinya. Dahulu dia sudah mulai mencari partner untuk bernyanyi dalam album batak tanpa sepengetahuan Bunthora, dalam dunia artis batak perlakuan seperti ini sangat tidak lazim, dari saat itu bahwa Jack Marpaung lah yang memulainya terjadinya seringnya pergantian personil dalam suatu group trio batak, hingga terbawa sampai sekarang ini.

Yang lebih tanpak adalah dalam Reff. lagu tersebut : “O Ale Dewi hasian, tung so pola au sega bahenon mu, alai pargabuson mi do hasian nasai hutangisi”, (Oh Dewi kasih ku, saya tak akan menderita karena perbuatanmu tapi yang selalu kusesali adalah kebohongan mu), mengapa saya berani mengatakan dalam lagu ini adalah sindiran kepada Jack Marpaung?. Anak tertua dari Jack Marpaung adalah Dewi Marpaung, jika saya Bunthora karena saya tidak sedang sreg dengan Jack, saya tidak akan membuat lagu seperti ini membuat nama anak teman didalamnya jika tidak ada unsur lain. Dan itu pernah ditanyakan beberapa orang terhadap Bunthora, tetapi dengan sopan dan halus Artis Batak senior yang sangat dihargai ini menjawab dengan diplomasi batak yang santun, namun sesekali dia mengakuinya terhadap teman dekatnya.

Sebenarnya banyak lagu Bunthora yang sedikit dan banyak menyinggung perseteruan mereka pada saat itu, dan umumnya lagu tersebut dikenal masyarakat banyak. Tapi saya akan ambil contoh lain yang bisa dipercaya kebenarannya, kenapa??, karena yah… percaya deh!.

Pernah mendengar judul lagu “Dang Lepelmu Au Ito??” lagu ini dibawakan pertama kali oleh Simanjuntak Stars dan sepertinya Bunthora tidak puas, dia kembali menyanyikan lagu ini bersama group “optional”nya pada saat itu bernama 3 Bintang, bersama Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.
Syairnya kira-kira begini : “Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi…. Dang lepelmu au ito”, (oleh karena kemiskinan ku itulah penyebab saya tidak menyampaikan rasa cintaku padamu, aku menganggap bahwa aku bukan levelmu). Jika kita selidiki syair lagu ini, adalah seolah olah bahwa seorang pria akan merasa berkecil hati oleh karena kemiskinan yang membuat dia tidak mampu mengucapkan rasa cintanya kepada seorang wanita.

Kembali Bunthora memulainya dengan halus, untuk menyampaikan bahwa dia sudah merasa berlapang dada selama ini yang membuatnya tidak menyampaikan seluruh gundau hatinya kepada Jack. Tapi sebenarnya ada yang perlu disampaikannya kepada Jack, yaitu bahwa dia bukan “lawan” yang setimpal buat Bunthora (khusus arti Dang Lepel ini sengaja dibuat terbalik untuk menekankan apa yang ada dalam hatinya). Bahwa dirinya lebih mempunyai keistimewaan yang dapat diandalkan:-).

Dalam Reff lagu tersebut : “Hape parsatokkinan do ito tu au holong mi, marsapata ma ito holong hi dibahen ho, alai so jadi mandele au ito, hutanda do ito dirikki dang lepel mu au ito”, (Tapi hanya sekejap cintamu padaku, tapi kaulah yang menanggung akibatnya, saya cukup mengenal diriku, kau bukan level ku). Kembali pengulangan kalimat bahwa Engkau bukan Level saya.

Pernah sekali seseorang bertanya bahwa syair lagu “Dang Lepelmu Au Ito” itu adalah ungkapan bahwa pihak lain lebih tinggi dari kita, dengan demikian bahwa Bunthora itu berada dibawah lepel Jack Marpaung?, buru buru Bunthora dengan nada yang lain menjelaskan, oh.. bukan, coba jangan baca semua syairnya.. tapi hanya menyebut “Dang Lepelmu Au” apa kesannya?, disitu pengertian yang saya ambil, katanya!.

Tidak lengkap jika saya hanya menunjukkan lagu lagu ciptaan Bunthora Situmorang yang menyerang atau membuat sindiran terhadap Jack Marpaung, tetapi hal sebaliknya juga banyak berseliweran di lagu batak, lagu ciptaan Jack Marpaung banyak yang mengandung sindiran sebagai balasan terhadap lagu Bunthora.

Tapi ada baiknya saya lanjutkan kemudian hari:-)

Berpikir Sejenak

with one comment

Maaf, 2 hari ini saya diserang virus flu yang cukup berat, maka saya memutuskan untuk tinggal dirumah daripada harus pergi ke kantor, kasihan mereka yang dikantor bisa mengalami penularannya nanti, tapi setidaknya perasaan sekarang sudah mulai membaik.

Dan tulisan saya buat yang kedua kalinya, semalam saya sudah menulisnya dengan rapih dan baik, ternyata ada kesalahan teknis, sebelum saya mem-publishnya, kursor saya agak nakal dan lelet, saya curiga jangan jangan nanti laptopnya bisa hang-off, saya buru-buru select-all tulisan yang saya buat maksudnya mau mengcopy supaya nanti bisa ter-cover dari ulah komputer. Pada saat saya mau pilih copy, yang saya takutkan benar benar terjadi dan malah lebih buruk:-( dengan kecepatan “hantu” dan saya tidak merasa menekan “paste”, blassss…. semua tulisan hilang dan tidak bisa di-undo. Maka mudah mudahan apa yang sudah tertulis semalam bisa saya gali lagi saat ini.

Okay, kembali ke topik masalah, saya ingin mengajak anda berfikir sejenak. Karena kita berada di blog lagu batak maka tentu yang kita bicarakan adalah tentang lagu batak, lagu batak yang mati suri, lagu batak yang sudah terpolusi, lagu batak yang tak bernyali, lagu batak yang serampangan, lagu batak yang masih banyak segi negatif yang perlu kita kikis dan benahi. Tapi yang saya mau coba ungkapkan sekarang ini adalah bagaimana lagu batak itu menjadi suatu pembelajaran kepada generasi batak berikutnya. Dengan kata lain syair lagu batak itu dapat memberi gambaran kepada generasi selanjutnya bagaimana kehidupan bangso batak pada saat lagu itu tercipta. huh!

Nanti saya akan kasih contoh yang lebih konkrit, agar anda tau maksud dan tujuan saya, karena kadang kadang saya sangat miris jika melihat lagu batak itu menjadi bulan bulanan orang lain, namun kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

Sekarang saya mea memberi contoh. Kita semua tau dan mungkin hafal judul lagu “Butet”, Butet dipangungsian do amang mu ale butet….., coba sedikit membayangkan arti liriknya (Butet, sekarang ayah mu sedang berada dipengungsian) Damargurilla damar darurat ale butet (Bergerilya dan serba darurat hai anak ku)…. Bagaimana kita membayangkan seorang ayah dari bayi perempuan yang membutuhkan dekapan ternyata ayahnya sedang berada di hutan belantara yang mungkin belum pernah dijamah oleh manusia. Hanya untuk mempertahankan atau ingin merebut kemerdekaan dari orang orang yang serakah ingin memiliki harta yang bukan miliknya, kalau kita sebut sekarang itu adalah perampok.

Saya belum lahir pada saat lagu ini dibuat atau tercipta bahkan puluhan tahun setelahnya, tapi saya bisa membayangkan sipencipta telah melihat kehidupan nenek moyang saya yang meninggalkan keluarga untuk pergi ke hutan belantara untuk bersembunyi dan mengintip musuh saat itu, dan bisa terbayang bahwa semua kaum lelaki melakukannya dengan sukarela.
Dan jujur saya katakan, jika saya mendengar syair lagu ini, pikiran saya langsung melompat ke salah satu negara yang simbol benderanya 3 warna yang hanya disobek warna birunya maka jadilah bendera republik Indonesia. Saya bisa membayangkan bolanda itu menghardik hardik nenek moyang saya karena tidak melakukan perintah mereka untuk menggali harta kekayaan alam ini. Kejam mereka kejam, saya pernah berniat untuk membuat pernyataan kepada pemerintah mereka agar mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membayar segala kesalahan mereka kepada nenek moyang saya waktu lampau. Apa pun alasannya mereka telah melakukan kesalahan besar.

Maksud saya itu adalah kekuatan dari sebuah lagu, dia bisa memberi pelajaran dan membangkitkan semangat apabila disampaikan dengan benar.

Kembali saya ambil contoh lagu yang lain, judulnya “Mampar Manarus”, lagu ini tercipta tahun 70an dan penciptanya adalah seniman yang betul betul mengerti dan mungkin melihat kenyataan hidup pada saat itu, namun dia bisa dengan jelas memberitahu kepada orang bahwa ada kehidupan yang seperti ini. Penciptanya adalah Parihutan Manik, seorang pencipta lagu batak yang lagunya saat ini sering dinyanyikan. Inilah copy-an lirik nya (thanks to Rio Simanjuntak) :

“Mampar Manarus” (yang tidak mengerti, ambil kamus… hehe – tak ada ibu yang menyusui)

Unang sai tangis ho butet
Boru hasianhu
Boto do lungun borungku
Na so marina i

Ai ompungmi do da butet
Na gabe loja i
Mandior panarusanmi
Tu dongan huta i

Nang tonga borngin da butet
Diompa ompungmi do ho
Manuntuk jabu panarusanmi
Tu na marasi roha i

Marganti soring da butet
Laho panarusanmi
Dihalojahon ompungmi
Holan humokhop ho

…Mulak tu: Nang tonga borngin…d. u.

Mampar manarus ho butet
tu dongan huta i
Dihalojahon ompungmi
Holan humokhop ho
Sai maraburan ilungki
Marnida dangolmi

Tau kah anda, arti lagu tersebut sangat dalam dan sangat menggugah hati siapun yang mendengar dengan syarat dia mengerti dengan baik bahasa batak. Saya tuntun anda untuk bisa mengerti, Ada seorang bayi yang usia entah beberapa hari telah menjadi piatu (ibunya meninggal), si nenek bayi inilah yang berusaha untuk mencari ibu-ibu yang lain (yang baru melahirkan juga), agar sibayi bisa menyusui atau diberi ASI, pada saat tengah malam Jangan bayangkan dulu saat itu ada susu formula yang siap saji bisa diberi kepada bayi.

Nah, kembali dalam lagu ini kita bisa mengerti dan membayangkan kehidupan orang tua sebelum generasi sekarang. Saya sangat mengerti lagu ini dan saya bisa membayangkan apa yang terjadi dengan sibayi pada saat dia malam hari layaknya seperti bayi-bayi lainnya yang kehausan.

Contoh diatas, keduanya adalah lagu yang tercipta pada masa dimana kita mungkin tidak mengalamnya lagi, namun saya akan coba untuk memberikan contoh lagu yang betul betul ada di era sekarang, dimana kita hidup dan mendengar dan melihat lakon lakon yang terdapat pada lagu tersebut. Lagunya adalah “Andung Ni Pejabat”, ini syairnya (thanks to Rio Simanjuntak) :

Inang ni sibutet
Peresiden nungnga margatti
Berantasonna ma korupsi beha ma i
Nungnga godang naung diperiksa
Nungnga godang naung dipenjara dongan-donganhi

(inanta)
Amang ni sibutet
Tokkin nai giliranta
Auditonna ma sude artanta
Ukkitonna do muse sinamot i
Sitaonna ma sude

(inanta)
Villa na di Puncak i
Hotel na di Medan i
Showroom mobil dohot pabrik na di Batam i
Jualonna nama i lelangonna nama i
Hepengna i masuk do i tu kas negara

(amanta)
Amang simatua mobil na hulean i
Hasil ni korupsi do i
Sotung leas roham marnida ahu helam on
Molo gabe masuk penjara ahu

…Mulak tu: Amang ni sibutet…d.u.

Lagu ini bukan lah didramatisir, diperbesar besar, agar menjadi perhatian pendengar. Bukan, ini adalah contoh nyata yang ada pada kehidupan manusia sekarang ini, si pencipta telah melihat dan menonton, bahkan saya yakin kita setuju apa yang terkandung dalam syair lagu tersebut. Presiden telah berganti, Team Pemberantasan Korupsi, Sita, Mobil diberikan ke Mertua tapi hasil korupsi, Harta semua akan kembali ke Kas Negara. Itu nyata, dan kronologisnya bisa saja seperti itu.

Nah lagu ini akan menjadi pembelajaran kelak mungkin setelah 50 tahun kedepan, bahwa nenek moyang mereka pernah mengalami yang namanya jaman korupsi, bisa saja mereka menertawai sikap kita sekarang ini, namun apa yang saya sampaikan bahwa mereka telah bisa membayangkan perasaan nenek moyang mereka puluhan tahun sebelumnya, hanya karena sebuah syair lagu.

“Lha, buku sejarah, kan ada juga Lae?”, apa…. lae bilang Sejarah?, yeap betul saya yakin sejarah akan mencatat apa saja yang terjadi pada zaman sekarang untuk bisa diketahui pada yang akan datang. Tapi nilai historisnya mungkin ada bedanya, jika saya membaca buku sejarah Sisingamangaraja dibanding dengan lagunya, berbeda jauh!. Dan perlu juga lae tau, bahwa tidak semua orang suka dan sempat untuk membaca buku. Ngerti lah laek.

Saya juga ingin menuliskan bagaiman lagu yang sekarang ini menjadi kenangan yang tidak perlu dilakonkan lagi pada 50 tahun yang akan datang. Tapi karena flu saya semakin berat, saya akan tulis lagi kemudian… tapi datang ya lae, lihat nanti……..(oh iya, tulisan ku yang semalam lebih bagus ternyata, sayang hilang).

horas,
bj

Written by lagubatak

June 30, 2009 at 3:51 am

Andung Ni Pejabat

with one comment

Inang ni sibutet
Peresiden nungnga margatti
Berantasonna ma korupsi beha ma i
Nungnga godang naung diperiksa
Nungnga godang naung dipenjara dongan-donganhi

(inanta)
Amang ni sibutet
Tokkin nai giliranta
Auditonna ma sude artanta
Ukkitonna do muse sinamot i
Sitaonna ma sude

(inanta)
Villa na di Puncak i
Hotel na di Medan i
Showroom mobil dohot pabrik na di Batam i
Jualonna nama i lelangonna nama i
Hepengna i masuk do i tu kas negara

(amanta)
Amang simatua mobil na hulean i
Hasil ni korupsi do i
Sotung leas roham marnida ahu helam on
Molo gabe masuk penjara ahu

…Mulak tu: Amang ni sibutet…d.u.

====

thanks untuk Rio Simanjuntak, sebagai kontributor lirik.

Written by lagubatak

June 29, 2009 at 6:32 am

Nungnga marujung ngolu si Michael Jackson

with 2 comments

Michael Jackson

Michael Jackson

Loloan,
nasogot manogoti tibu dung dungo sian podoman hu, hutikkir laptop hu, songon nasomal naeng majaha barita ma nian nienet sian tulang “google”, hape pittor balga tarsurat songon na soppol layar ni laptop i “nungnga marujung ngolu “king of pop” ninna. tarsonggot pola tarhatotong jolo satokkin, longang ala so hea tarbege marsahit, jala barita na hea tarjaha naeng konser dope ibana di London hira hira bulan juli on.

Alai ido namangolu, ikkon tu hamatean do ujung ni sude na manggulmit ditano on, alai marsijoloi songon bitis ni pat na mardalan digadu-gadu ni juma.

Bah, boasa pola dohot hamu ParLapo mangihut ihut songon dekke na mangihut tu topi tao toba??, “ido peom na, ninna akka natua tua, tarida do daina sian parbuena… ala naung nihagiot hon namambege akka lagu on, sai muba do surung na molo adong akka namasa tu dongan na berkecimpung di parendeon”, aut sugari ra di toba hian ibana, gabe “Trio Jackson” hian do ra goar na.

Jala on ma sada penghormatan sian pengelola blog on tu si Jacko, “daging mu do malakke, alai molo suara mi sai na marsaringar do to tongtong tu namambegesa”. dang tolap au mandok, sai dijalo Tuhan i ma ho disiamun na, alai marposni roha ma hita akka namangolu dope, sai jalo on ta do na suman hombar tu pambahenan ta, manang didia pe hita muse.

on ma barita na :

Singer Michael Jackson dead at 50

Legendary pop star had been preparing for London comeback tour Michael Jackson, the sensationally gifted “King of Pop” who emerged from childhood superstardom to become the entertainment world’s most influential singer and dancer before his life and career deteriorated in a freakish series of scandals, died Thursday. He was 50.

The circumstances of his death were not immediately clear. Jackson was not breathing when Los Angeles Fire Department paramedics responded to a call at his Los Angeles home about 12:30 p.m., Capt. Steve Ruda told the Los Angeles Times. The paramedics performed CPR and took him to UCLA Medical Center, Ruda told the newspaper.

Jackson’s death brought a tragic end to a long, bizarre, sometimes farcical decline from his peak in the 1980s, when he was popular music’s premier all-around performer, a uniter of black and white music who shattered the race barrier on MTV, dominated the charts and dazzled even more on stage.
He was perhaps the most exciting performer of his generation, known for his feverish, crotch-grabbing dance moves and his high-pitched voice punctuated with squeals and titters. As years went by, he became an increasingly freakish figure — a middle-aged man-child weirdly out of touch with grown-up life. His skin became lighter and his nose narrower.

He surrounded himself with children at his Neverland Ranch, often wore a germ mask while traveling and kept a pet chimpanzee named Bubbles as one of his closest companions. In 2005, he was cleared of charges he molested a 13-year-old cancer survivor at Neverland in 2003. He had been accused of plying the boy with alcohol and groping him.

The case took a fearsome toll on his career and image, and he fell into serious financial trouble. Jackson was preparing for what was to be his greatest comeback: He was scheduled for an unprecedented 50 shows at a London arena, with the first set for July 13. He was in rehearsals in Los Angeles for the concert, an extravaganza that was to capture the classic Jackson magic: showstopping dance moves, elaborate staging and throbbing dance beats. Hundreds of people gathered outside the hospital as word of his death spread.

The emergency entrance at the UCLA Medical Center, which is near Jackson’s rented home, was roped off with police tape. “Ladies and gentlemen, Michael Jackson has just died,” a woman boarding a Manhattan bus called out shortly after the news was announced. Immediately many riders reached for their cell phones. In New York’s Times Square, a low groan went up in the crowd when a screen flashed that Jackson had died, and people began relaying the news to friends by cell phone.

———–

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Mega bintang Michael Jackson dilaporkan meninggal dunia setelah dilarikan ke sebuah rumah sakit di Los Angeles, Kamis (25/6). Laporan tersebut dikeluarkan oleh Los Angeles Times dan Associated Press, sementara jaringan televisi CNN belum memastikan laporan kematian bintang berusia 50 tahun itu.

Menurut sumber CNN, Jackson berada dalam kondisi kritis. Brian Oxman, pengacara keluarga Jakson, menjelaskan, mendapatkan informasi dari kakak Michael Jaskcon, Randy Jackson, bahwa megabintang itu tidak sadarkan diri setelah menderita cardiac arrest atau mendadak terhentinya kerja jantung di kediamannya di Los Angeles barat.

Jackson dilarikan ke UCLA Medical Center setelah petugas pemadam kebakaran Los Angeles menerima laporan itu dari jalur telepon permohonan bantuan darurat 911. Menurut Kapten Steve Ruda dari Dinas Pemadam Kebakaran Los Angeles, permohonan bantuan itu diajukan dari sebuah kediaman di Los Angeles barat pada pukul 12.21 waktu Los Angeles atau Jumat (26/6) pukul 02.30 WIB.

Mega bintang yang berasal dari Gary, Indiana, ini dikenal dengan julukan “King of Pop”. Jakson merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari sebuah keluarga musisi yang terkenal.

Saat ini, setiap pintu masuk menuju fasilitas gawat darurat UCLA Medical Center dijaga ketat oleh personel keamanan. Bahkan, tidak semua staf rumah sakit mendapatkan akses masuk ke ruang itu. Beberapa orang yang tampak berada di ruang tunggu sekitar fasilitas gawat darurat UCLA Medical Center tak kuasa menahan haru dan larut dalam kondisi duka dengan saling bertangis-tangisan.

Written by lagubatak

June 26, 2009 at 3:57 pm

Porlak Siulaon

with one comment

hamu akka dongan,

molo niparrohahon saonari on, adong do hamajuon ni ekonomi dohot investasi na ro
sian akka luat na asing, isarana molo dihita an, godang do ro akka namora naeng
baen lalap-lalap pangulaan di huta.

nungnga marsibukkus abitna be nasida naeng ro manombang tu huta ta on, naeng
mangalului akka nasuman diroha nasida be, pos roha hira-hira 3 bulan nai molo so
adong akka sitaonon natarlobi, berengon ta ma akka marlewatan akka halak na
asing, naso hea tabereng hian, ia haroroni nasida laho padiri dohot pahot hon
parhundul na ditonga-tonga ta.

lobina muse, diharoro ni nasida i ikkon porlu do nasida dongan marsitukkar
pikkiran manang halak nalobi mangantusi luat/lingkungan ni luat ta on, jadi
porlu do hita mamparsiaphon diri ta be, molo adong songgot ro manukkun tu hita
atik adong sian hita naboi mangurupi.

molo adong do rohamu naeng siap-siap gabe parsidohot tu situasi na songon on,
porlu di bahenon informasi didia do nasida biasa na minum hutut mangalului
dongan karejo na.

on ma lapo nasida :
——————-

Executive Search:
Executive Search companies specialize in recruiting Board Level requirements.
The executive search receives a fee for conducting a thorough search based on
investigative market research and networking. No advertisements are placed nor
is there a reliance on a database as due diligence is stressed in finding a
candidate. The typical fee structure for this type of recruitment is a fixed fee
with payments of 33% on position being issued, 33% on delivery of a shortlist of
candidates and 33%.

Amrop Hever Tel: +62 21 526-707 http://www.amrophever.com
Boyden International Tel: + 62 21 5140 1519 http://www.boyden.com
Egon Zehnder International Tel: +62 21 526 6318 http://www.egonzehnder.com
Executive Search Nusantara Tel: +62 21 7782 7531 http://www.esn-jakarta.com
Korn-Ferry International Tel: +62 21 573-9933 http://www.kornferry.co.id

Contingency Search / Executive Selection:
Typically these agencies concentrate on Senior Management positions (say
Assistant Vice President and above) and specialist recruitment. Contingency
Search companies in Indonesia rely on advertising, research, professional
networks and databases to locate candidates. These companies match candidates to
the clients need and supply them on a success based fee structure. Some
companies may charge administration charges or deposits but more often than not
you will only pay a fee if you hire somebody. The typical fee structure is to
charge 20% of the first years total annual gross income.

John Clements Tel: +62 21 252-1266 http://www.johnclements.com
Monroe Consulting Group Tel: +62 21 719 0770 http://www.monroeconsulting.com
PeopleSource Tel: +62 21 570 1493 http://www.peoplesource-solutions.com
Potentia HR Tel: +62 21 5790 3976 http://www.potentiahr.com
Verity HR http://www.recruitment-indonesia.com
VERITY HR Human Resources and Recruitment Specialists
Plaza Bisnis Kemang, Building 2, 1st Floor, Room 105
Jl. Kemang Raya No. 2 Jakarta Indonesia +62 21 7199 210

Commercial Recruitment
Commercial agencies work assignments that range from entry level through to
Junior Management (Typically under Rp. 10.000.000pm jobs). They rely heavily on
advertising and internal databases and work on a contingency basis. The typical
fee structure is to charge 15-20% of the first years annual gross income.

Auditsi Tel. +62 21 56964366 http://www.auditsi.com
HITSS Tel: +62 21 724 6261 http://www.hitss.co.id
FirstAsia Consultants Tel: +62 21 532 5757 http://www.firstasiaconsultants.com
JAC International Tel: +62 21 315 9504 http://www.jacindonesia.com

Outsourcing Recruitment
Outsourcing companies specialize in supplying large volumes of contract staff
(white or blue collar). Typically outsourcing agencies will gather applicants
from advertising, job fairs and walk in interviews. The salaries in this area
will range from Rp 1.000.000 through to Rp. 5.000.000 per month for supervisor
level. Fee structures vary greatly (between 8% and 15%) depending on staffing
numbers and level of service required.

Advanced Career Indonesia Tel: +62 21 719 3370 http://www.advcareer.co.id
Perdana Perkasa Elastindo Tel: +62 21 391 1324 http://www.persaels.co.id
Outsourcing Indonesia Tel: +62 21 789 1837 http://www.outsourcing.co.id
Supraco Indonesia Tel: +62 21 719 1070 http://www.supraco.com

———–

tambahan informasi, unang pola maila hamu patandahon dirimu, alana godang do
akka dongan ta disi (halak hita), tarlumobi akka posisi-posisi na senior.

selamat ma ate,
bj

Written by lagubatak

June 25, 2009 at 4:34 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

Tujuh Keajaiban, Empat Batu dan Tiga Air

with 5 comments

Sumber : http://yonroy.multiply.com

Part I.
Gondang Saparangguan (Seperangkat Gendang Batak), Pagar (Ramuan penangkal penyakit), hujur sumba baho (tombak bertuah), piso solom Debata (pedang bertuah), pungga Haomasan (Batu Gosok Emas), tintin Sipajadi-jadi (Cincin Ajaib), tawar Sipagabang-abang, Sipagubung-ubung, Sipangolu na Mate, Siparata Naung Busuk (Obat yang mampu menghidupkan yang sudah mati, serta menyegarkan kembali yang telah busuk). Pagar, Hujur Sumba Baho, Piso Solom Debata, Pungga Haomasan, Tintin Sipanjadi-jadi dan Tawar, semua dibungkus dengan buku lak-lak atau buku Pustaha, yaitu Buku Ilmu Pengetahuan tentang kebudayaan Batak, yang di tulis dengan aksara Batak. Peti Batu tempat penyimpanan harta pusaka inilah yang disebut Batu Hobon (Peti Batu) karena Hobon artinya Peti.

Keanehannya, Sudah tiga kali orang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini namun ketiga-tiganya gagal, dan orang yang berusaha membuka itupun serta merta mendapat bala dan meninggal dunia.

Pertama :
Pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang pejabat Pemerintah Belanda dari Pangururan, berusaha untuk membuka batu Hobon, dia berangkat membawa dinamit dan peralatan lain, serta beberapa orang personil. Pada saat mereka mempersiapkan alat-alat untuk meledakkan Batu Hobon itu dengan tiba-tiba datanglah hujan panas yang sangat lebat, disertai angin yang sangat kencang, serta petir dan guntur yang sambung menyambung, dan tiba-tiba mereka melihat ditempat itu ada ular yang sangat besar dan pada saat itu juga ada berkas cahaya (sinar) seperti tembakan sinar laser dari langit tepat keatas Batu Hobon itu, maka orang Belanda itu tiba-tiba pingsan, sehingga dia harus di tandu ke Pangururan, dan setelah sampai Pangururan dia pun meninggal dunia.

Kedua :
Pada masa pemberotakan PRRI, ada seorang tentara yang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini, menembaki Batu Hobon itu dengan senapan, tetapi sampai habis persediaan pelurunya Batu Hobon itu tidak mengalami kerusakan apa-apa, bahkan si Tentara itu menjadi gila dan dia menjadi ketakutan dia berjalan sambil berputar-putar, serta menembaki sekelilingnya, walaupun peluru senapannya sudah kosong, dan tidak berapa lama, si Tentara itupun meninggal dunia.

Ketiga :
Pernah juga ada orang yang tinggalnya di daerah Sumatera Timur, berambisi untuk mengambil Harta Pusaka yang ada dalam Batu Hobon ini, sehingga mereka berangkat kesana dengan beberapa orang personil, membawa peralatan untuk membuka dan memecahkan batu. Mereka sempat membuka tutup lapisan yang paling atas, tetapi dengan tiba-tiba mereka melihat ular yang sangat besar di Batu Hobon itu sehingga mereka lari terbirit-birit dan gagallah usaha mereka untuk membuka Batu Hobon itu dan tidak berapa lama pimpinan rombongan itupun meninggal dunia dan anggota rombongan itupun banyak yang mendapat bala.

Tutup Batu Hobon yang terbuka itu, sempat mengundang keresahan bagi tokoh masyarakat Tapanuli Utara sehingga datanglah ratusan murid-murid Perguruan HKI dari Tarutung yang dipimpin oleh Bapak Mangantar Lumbantobing, untuk memasang kembali tutup Batu Hobon yang sempat terbuka itu. Pada mulanya tutup batu itu tidak dapat diangkat, walaupun telah ratusan orang sekaligus mengangkatnya, tetapi barulah setelah diadakan Upacara memohon restu penghuni alam yang ada di tempat itu yang dipimpin oleh salah seorang pengetua adat dari limbong, maka dengan mudah, tutup batu itu dapat diangkat dan dipasang kembali ketempat semula.

Demikianlah setelah Saribu Raja selesai memasukkan/menyimpan harta Pusaka ke dalam Batu Hobon, maka berangkatlah dia bersama si Boru Parese, mengembara ke hutan rimba raya hingga mereka sampai di Ulu Darat dan disanalah si Boru Pareme tinggal, hingga lahir anaknya yang diberi nama Raja Lontung.

Setelah si Sariburaja berangkat mengembara ke hutan rimba, maka abang mereka pun yaitu Raja Uti (mempunyai kesaktian) dan karena kesaktiannya terbang ke Pusuk Buhit dan dari Pusuk buhit terbang ke Barus dan Aceh, demikian juga adik mereka yang paling bungsu yaitu si Lau Raja dia berangkat ke sebelah timur menuju Pulau Samosir, demikian juga si Sagala Raja di perkampungan disana yaitu daerah Negeri Sagala yang sekarang.

Pada mulanya Limbong Mulana juga ikut membuka perkampungan di daerah Sianjur Mula-mula yang perkampungannya sekarang disebut Bagas Limbong, tetapi kemudian Limbong Mulana meninggalkan daerah bagas Limbong, dia kembali menempati daerah perkampungan orangtuanya yaitu daerah Parik Sabungan, disanalah Limbong Mulana tinggal menetap, kemudian membuat nama daerah itu daerah Limbong. Maka di negeri Limbong inilah tempat semua yang kita sebut di atas, PINTU HALONGANGAN, OPAT BATU TOLU AEK, (Tujuh Keanehan, Empat Batu Tiga Air).

Yaitu :
1. Mula Ni Guru Tatea Bulan atau Aek Boras
2. Mual Ni Boru Pareme
3. Batu Parhusipan
4. Batu Pargasipan
5. Batu Nanggar
6. Batu Hobon
7. Mual Pansur Sipitu Dai

Mual Pansur Sipitu Dai (Pancuran Tujuh Rasa) adalah satu air dengan tujuh buah pancuran yang masing-masing, pancuran mempunyai tujuh sumber mata air, yang masing-masing mengalir sehingga bergabung menjadi satu aliran dalam satu bak yang panjang, kemudian dari bak yang panjang itu dibuat pancuran yang tujuh itu menjadi tujuh macam pula seperti pada sumber mata airnya padahal telah bergabung dalam bak yang panjang.

Air ini disebut “PANSUR SIPITU DAI” (Pansur Tujuh Rasa), karena pancuran yang tujuh itu mempunyai tujuh macam rasa, ketujuh pancuran ini, dibagi menurut status masyarakat yang ada di Limbong yaitu :

1. Pansuran ni dakdanak yaitu tempat mandi bayi yang masih belum ada giginya
2. Pancuran ni sibaso yaitu tempat mandi para ibu yang telah tua, yaitu yang tidak melahirkan lagi
3. Pansuran ni ina-ina yaitu tempat mandi para ibu yang masih dapat melahirkan
4. Pansur ni namarbaju yaitu tempat mandi gadis-gadis
5. Pansur ni pangulu yaitu tempat mandi para raja-raja
6. Pansur ni doli yaitu tempat mandi para lelaki
7. Pansur Hela yaitu tempat mandi para menantu laki-laki yaitu semua marga yang mengawini putri marga Limbong

KEANEHANNYA :
1. Dari tujuh macam rasa yang dari pancuran itu tidak ada satupun seperti rasa air biasa
2. tujuh macam rasa bersumber dari tujuh mata air telah bergabung dalam satu Labuan (Bak Panjang) tetapi anehnya rasa air yang tujuh macam itu, dapat terpisah kembali, sehingga rasa air yang mengalir melalui pancuran yang tujuh itu menjadi tujuh macam rasanya.
3. selama bergabung dalam labuan (bak panjang), rasa lainnya hanya satu macam saja, walaupun sumbernya tujuh macam dan keluarnya tujuh macam
4. apabila air ini diambil dan dibawa ke tempat jauh dan tidak direstui oleh penghuni alam yang ada di tempat itu, maka airnya akan menjadi tawar seperti air biasa.
5. Mandi di pancuran ini, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
6. apabila ada orang jatuh saat mandi di Pancuran ini, kalau pada saat jatuh kepalanya ke arah hulu, maka ia akan jatuh sakit, tetapi kalau kepalanya ke arah hilir, maka ia akan meninggal dunia.
7. di pancuran ini, orang dapat berdoa kepada Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Mah Esa) memohon kesembuhan, memohon agar murah rejeki dan memohon bermacam keinginan lainnya, dan ternyata sudah banyak orang yang telah berhasil memperolehnya.

Part II
Pancur Tujuh Rasa adalah melambangkan angka sakti atau bilangan sakti, karena bilangan tujuh itu adalah bilangan sakti dalam kehidupan ritual bagi suku Batak, dan juga melambangkan beberapa macam keadaan suku Batak.

Adapun berbagai macam keadaan yang dilambangkan Pancur Tujuh Rasa ini ialah :
1. menurut ahli perbintangan Batak, bahwa dunia ini beserta isinya, di ciptakan oleh Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) dalam tujuh hari yaitu mulai dari artia hingga samirasa yaitu hari pertama hingga hari ke tujuh, menurut penanggalan Batak jumlah hari penciptaan yang tujuh inilah yang merupakan dasar untuk dikembangkan menjadi nama-nama hari yang tigapuluh untuk mengikuti peredaran bulan mengelilingi bumi selama satu bulan. Jumlah hari yang tujuh itu, sama dengan jumlah hari yang pergunakan kalender Internasional, yang lazim disebut dengan istilah seminggu, namun perbedaan antara kalender Internasional dengan kalender penanggalan Batak ialah : kalender Internasional berpedoman kepada siang, yakni berdasarkan peredaran matahari, yang dimulai dari tengah malam yaitu jam 0.00 sampai dengan yakni jam 0.00. Tetapi penanggalan Batak berpedoman kepada malam yang berdasarkan peredaran bulan yaitu dimulai dengan jam 18.00 (jam 6.00 menjelang malam) sampai dengan jam 18.00.

Adapun nama-nama hari yang tujuh itu, kemudian dikembangkan menjadi tiga puluh, mengikuti peredaran bulan dalam satu bulan, adalah sebagai berikut :
Artia (hari pertama, senin), suma (hari kedua selasa), anggara (hari ketiga rabu), muda (hari keempat kamis), boras pati (hari kelima Jumat), singkora (hari keenam sabtu), samisara (hari ketujuh minggu), artian ni aek, suma ni mangodap, anggara sampulu, muda ni mangodap, boraspati ni tangkop, singkora purnama, samisara purnama, tula, suma ni holom, anggara ni holom, nada ni holom, singkora mora turunan, samisara mora turunan, artian ni angga, suma ni mate, anggara ni begu, muda ni mate, boras pati na gok, singkora duduk, samisara bulan mate, hurung, ringkar.

Kalender Internasional menghitung hari 356 hari atau 12 bulan dalam setahun, tetapi penanggalan batak menghitung hanya 355 hari atau 12 bulan namun sekali 3 (tiga) tahun, ada bulan ke-13 yang disebut bulan lamadu.

Dalam kehidupan suku Batak ada ahli perbintangan yang namanya disebut “Datu Siboto Ari”. Datu Siboto Ari ini dapat mengetahui dan menentukan, hari yang baik, hari yang sial, hari yang naas, hari yang subur dan hari-hari lainnya. Datu Siboto Ari (ahli perbintangan Orang Batak) yang dapat mengetahui dan menentukan mana hari baik dan mana hari sial, bukanlah ilmu ramal-meramal tetapi sesuai dengan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai maka mereka dapat membaca dan mengartikan situasi yang akan terjadi pada saat-saat tertentu, atau hari-hari tertentu sesuai dengan pengaruh dan hubungan letak dan posisi bulan pada garis edarnya dan akibatnya terhadap manusia.

Jadi jelaslah bahwa ilmu perbintangan Batak itu bukanlah ilmu ramal meramal, melainkan adalah ilmu pengetahuan alam atau ilmu hukum alam. Menurut ilmu perbintangan batak bahwa manusia itu sangat erat kaintannya dengan alam semensta, sehingga letak dan posisi bulan pada garis edarnya, ini sangat berpengaruh dan mempunyai akibat tertentu, terhadap kehidupan manusia maka oleh karena itu untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu, harus dipilih hari yang baik. Para Datu Siboto Ari (Ahli Perbintangan Batak), pada umumnya mereka menuliskan ilmu pengetahuan perbintangan itu pada sepotong bambu yang disebut “Bulu Parhalaan”.

Didalam bulu parhalaan ini dituliskan daftar hari baik dan hari sial serta hari-hari lainnya, sesuai dengan pengaruh dan akibat letak posisi bulan pada garis edarnya terhadap manusia yang berhubungan dengan bentuk pekerjaan yang akan dikerjakan dan juga disesuaikan dengan tingkatan status orang yang akan mengerjakan pekerjaan itu. Hanya sayang Bulu parhalaan itu, sangat sederhana sekali, jadi masih memerlukan usaha kita sekarang untuk menyempurnakannya, sehingga menjadi ilmu yang sangat bermanfaat luas dalam kehidupan manusia.

2. Pansur Sipitu Dai (Pancur Tujuh Rasa) juga melambangkan bahwa penguasa Alam Semesta, bersemayam pada tingkatan langit yang Ketujuh, dan pada lapisan awan yang ketujuh. Hal ini dapat kita lihat dalam Tonggo-tonggo si Raja Batak (Doa Siraja Batak) sewaktu si Raja Batak mengadakan upacara persembahan menyembah Debata Mulajadi Na Bolon di Puncak Dolok Pusuk Buhit, dengan Tonggo-tonggo (Doa sebagai berikut) :
“Hutonggo hupio hupangalu alui ma hamu ompung, Debata Mula Jadi Nabolon, dohot tamu ompung Debata Natolu, natolu suhu natolu harajaon, namanggomgomi langit dohot tano, dohot jolma manisia”. (Aku berdoa, menyebutkan dan berseru padamu Tuhan, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan dengan Tiga nama Tuhan dengan kekuasaan, tiga kerajaan, yang menguasai langit bumi serta segenap isinya).

Mula ni dungdang mula ni sahala, Siutung-untung nabolon, silaeng laeng mandi, Siraja inda-inda, siraja indapati. (Awal dari “dungdang” awal dari kharisma, Siuntung-untung na bolon, burung layang-layang, Siraja inda-inda, Siraja idapati).

Napajungjung pinggan, dihos ni mataniari, Nahinsa-hinsa suruon, nagirgir mangalapi, nasintak sumunde-sunde, nauja manotari, siboto unung-unung, nauja manangi-nangi. (Yang menjingjing piring di tengah teriknya matahari, yang gampang disuruh, dan mudah jemput, yang maha tau apa yang dibicarakan, serta yang peka).

Napabuka-buka pintu, napadung-dang dungdang ari, napasorop-sorop ombun, di gorjok-gorjok ni ari, parambe-rambe nasumurung, sitapi manjalahi, napatorus-torus somba, tu ompunta Mulajadi. (Yang membuka pintu, yang menentukan hari, yang meneduhkan hari, diatas teriknya panas mata hari, menenangkan yang panas hati, dan menunjukkan jalan yang baik, yang meneruskan doa kepada Tuhan).

Tuat ma hamu ompung, sian ginjang ni ginjangan, sian langit ni langitan, sian toding banua ginjang, sian langit na pitu tingka, sianombun na pitu lampis, sian bintang na marjombut, tu lape-lape bulu duri, sian mual situdu langit, tu gala-gala napul-pulan, hariara sangka mandeha, baringin tumbur jati, disi do partungkoan ni ompunta Mulajadi. (Datanglah Engkau ya Tuhan, dari tempat yang Maha Tinggi dari atas langit, serta alam semesta. Dari langit yang ketujuh dan dari awan yang ketujuh lapis, “sian bintang najorbut, tu lape-lape bulu duri”. Dari mata air menuju langit, tu gala-gala napulpulan. Hariara sangka mendeha, baringin tumbur jati, disitulah bersemayam, Allah Bapak maha Pencipta langit dan bumi).

Jadi dalam tonggo-tonggo ini, jelas kita mengetahui bahwa Allah Pencipta alam, bersemayam di langit yang ke tujuh.

3. Pansur si Pitu Dai (Pancuran tujuh rasa), juga melambangkan bahwa ramuan obat-obatan tradisionil Batak, banyak yang harus bersyarat tujuh misalnya : harus tujuh macam, harus tujuh kali, harus tujuh buah, harus tujuh lembar, atau harus tujuh potong.

4. Pansur sipitu Dai (Pancur tujuh rasa), juga melambangkan tata tertib acara margondang (acara Gendang Batak). Pada acara margondang, acara harus dimulai dengan Gondang si Pitu Ombas (tujuh buah irama lagu Gendang dimainkan secara non stop tanpa di ikuti dengan tarian). Setelah gendang sipitu Ombas selesai, maka dimulailah acara menari, tetapi acara ini, harus dimulai dengan “Pitu Hali Mangaliat” (Arak-arakan tujuh kali keliling lapangan menari) dan untuk menutupi acara margondang ini, harus dimulai dengan acara Pitu hali mangaliat.

5. Pansur Sipitu Dai (Pancuran tujuh rasa) juga melambangkan “partuturan” (panggilan) dalam stuktur atau susunan Tarombo (silsilah) karena hanya tujuh Generasi yang mempunyai Pertutuan (panggilan) dalam satu garis keturunan yaiut :
1. Ompu : Nenek moyang yaitu semua genarasi mulai dari tiga generasi diatas kita.
2. Ompung : Kakek, yaitu orang yang dua generasi diatas kita
3. Amang : Ayah, yaitu yang satu generasi diatas kita
4. Haha Anggi : Abang Adik yaitu orang yang segenerasi dengan kita
5. Anak : Anak yaitu orang yang saatu generasi di bawah kita
6. Pahompu : Cucu, yaitu orang yang dua generasi di bawah kita.
7. Nini : Cicit yitu orang yang mulai tiga generasi di bawah kita.

6. Pansur Sipitu Dai (Pancur Tujuh rasa0 juga melambangkan bahwa dari sepuluh orang keturunan Guru Tatea Bulan, hanya tujuh orang yang mempunyai keturunan langsung, karena tiga orang dari mereka menjadi orang sakti :.

Adapun orang yang menjadi sakti ialah :
1. Raja Uti Sakti dan tinggal di udara, di darat dan di laut.
2. Boru Biding laut (boru Tunghau), sakti dan tinggal di hutan atau darat
3. Nan tinjo Sakti dan tinggal di Danau Toba atau laut.

Adapun yang mempunyai keturunan langsung sebanyak tujuh orang yaitu :
1. Saribu Raja
2. Limbong Mulana
3. Sagala Raja
4. Silau Raja
5. Boru Pareme
6. Bunga Haomasan
7. Anting Haomasan

Nama yang tujuh ini di gabung menjadi satu ikatan yang dinamakan “Sipitu Tali’ (tujuh satu ikatan), dan nama yang tujuh ini jugalah yang menjadi pedoman untuk pembagian negeri limbong menjadi Pitu Turpuk (tujuh daerah perkampungan), kemudian sipitu tali atau sipitu turpuk ini juga yang menjadi dasar tata pelaksanaan hukum adat di negeri limbong, baik secara pribadi, maupun secara kelompok.

Pemerintahan Limbong dilaksanakan oleh kumpulan dari utusan dari tiap kelompok atau turpuk, yang disebut dengan nama Raja Bius (Raja Wilayah) atau dengan istilah Raja Ni Sipitu Tali. Demikian juga dalam acara kebudayaan ritual, misalnya mengadakan pesta Horbo Bius atau horbo lae-lae, maka raja Bius atau raja ni Sipitu tali inilah yang paling banyak berperan dengan raja-raja yang lain yaitu :

‘Jonggi Manaor” dari turpuk Sidauruk
“Raja Sori” dari turpuk Borsak Nilaingan
“Raja Paradum” dari turpuk Nasiapulu
“Manontang Laut” dari turpuk Sihole
“Raja Paor” dari turpuk habeahan

Bersamaan dengan itu, lahirlah Sisingamangaraja dari marga Sinambela dan juga Palti Raja dari marga Sinaga. Kesaktian Jonggi Manaor ialah Batara Guru Doli bertempat tinggal di Limbong. Kesaktian Sisingamangaraja ialah dari Bala Sori bertempat tinggal di Bakkara, dan kesaktian Palti Raja ialah Bane Bulan bertempat tinggal di Palipi.

Jonggi Manaor beserta dan Raja Sori, Raja Paradum, Manontang Laut dan Raja Paor, mereka inilah pelaksana utama dalam upacara “Hoda Somba” yaitu upacara persembahan, mempersembahkan kuda kepada Debata Mulajadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Esa). Kuda ini dipersembahkan melalui perantaraan Raja Uti, “Raja Hatorusan natorus marpangidoan tu Debata” (yang biasa atau yang bisa langsung bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa). Upacara Hoda Somba ini diadakan terutama kalau terjadi kemarau panjang di seluruh wilayah Samosir.

Maka Hoda Somba (Kuda Persembahan) disediakan oleh keturunan Lontung dari Samosir, kemudian kuda ini diantarkan ke Limbong yang Upacara penyerahan ini dipimpin oleh marga Situmorang, kemudian di Limbong diadakan upacara memohon turunnya hujan mereka pergi ke Simanggurguri dengan membawa seperangkat Gendang di Simanggurguri Jonggi Manaor Martonggo (berdoa) memohon turunnya Hujan, dan pada saat itu juga pasti datang hujan sehingga semua peserta upacara itu harus basah kuyup di Limbong di Guyur air Hujan.

Hoda Somba (Kuda Persembahan) ini dipotong kemudian dikuliti, semua dagingnya dibagi dan dimakan menurut tata cara hak (Parjambaron)menurut status dan kelompok masing-masing kepada semua peserta upacara. Hoda Somba (Kuda Persembahan).

Kemudian kulit Kuda itu, diantarkan kepada Raja Uti di Barus dan yang mengatarkannya ialah Jonggi Manaor, Raja Sori, Raja Paradum, Manontang Laut dan Raja Paon, mereka berjalan kaki dari negeri Limbong melewati Hutan belantara menuju Barus.

Tetapi … setelah mereka berjumpa dengan Raja Uti di Barus, kulit Kuda yang mereka bawa dari Limbong itu menjelma menjadi Kuda yang hidup sebagaimana Kuda itu sebelum dipotong.

Pansur Sipitu Dai (Pancuran tujuh rasa) ini juga mempunyai kisah tersendiri dari si Boru Pareme, karena di Pansur Sipitu dai inilah si Raja Lontung bertemu dengan si Boru Pareme, yang kemudian mereka kawin. Hingga sekarang, apabila ada orang yang kesurupan si Boru Pareme, maka orang itu selalu meminta manortor (Menari) di Pansur Sipitu Dai. Siboru Pareme dengan Raja Lontung mempunyai 7 (tujuh) keturunan yaitu : Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar.

Dari anak Lontung yang tujuh orang ini, anak yang paling bungsu yaitu Marga “Siregar”, adalah menantu kesayangan bagi marga Limbong. Hal itu dapat dibuktikan kalau pansur Ni Hela salah satu Pancuran dari yang tujuh yang di khususkan untuk tempat mandi semua menantu (yang mengawani putri Limbong), kalau pansur Hela ini russak, maka hanya marga Siregarlah yang berkewajiban dan berhak untuk memperbaiki Pancuran itu.

Demikianlah Kisah Pitu Halongangan Opat Batu Tolu Aek, (Tujuh keajaiban Empat Batu Tiga Air), yang terletak di Kaki Dolok Pusut Buhit Kecamatan Sianjur Mula-mula, semoga bukti-bukti sejarah yang masih mempunyai keanehan ini, dapat dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi penerus Bangsa Indonesia karena kebudayaan yang ada di Sianjur Mula-mula adalah milik seluruh BANGSA INDONESIA HORAS.

Written by lagubatak

June 24, 2009 at 11:48 am

Marimbang

leave a comment »

Special Edition & Jack Marpaung

Special Edition & Jack Marpaung


Marimbang<<=klik disini untuk mendengar dari YouTube

Boasa ma ikkon saonari ho hutanda
Ai tung boasa ma ikkon saonari ho huida
Hape ditikki haposoon hi
Massai holip do ho jala buni
Hape dung saonari nungga tung sega

Sonang hian do jala aman situtu parsaripeon hi
Dunghon marhasohotan au tinodo ni
Damang dainang i

Didok hon halak au nungnga gabe
Torop so piga gelleng hi
Sonang hian do parsaripeon hi

Boasa ma ikkon saonari ho hutanda
Ai tung boasa ma ikkon saonari ho huida
Hape ditikki haposoon hi
Massai holip do ho jala buni
Ikkon marimbang marimbang nama

On ma hape bossir ni hasesega ni pangaroha i hi
Pargaulanta mula ni sikka mabarbar
Dihasesega ni, sonang hian do

Written by lagubatak

June 23, 2009 at 11:51 pm

Upa Ni Loja

leave a comment »

Tu hamu akka tamu nami na ro mandulo blog on, dison adong do sada meam-memam na berhadiah naboi gabe hepeng sijaloon mu, alai asal ma serius jala adong account mu, biasana pembayaran melalui account USPS, Paypal dohot Alertpay. Setiap survey patujolo $6.00, mangihut tu si muse tergantung ma tu survey na asing. Sesuai dohot paretta boi ma upa ni loja mu i dikirim tu rekening lokal muna.

Dapot roha do aha na adong dibagasan panuturion nasida, alana di negara naung maju informasi do apala na rikkot naboi mambahen hamajuan. Jala porlu do dinasida pandapot sian sude jolma asa boi dibahen nasida aha na rikkot tu sude parbinotoan.

Memang survey on sian bahasa sileban (inggris) do, alai ala naung adong tulang ta si “google”, boi do hamu mangido pangurupion sian nasida asa diterjemahon, molo so olo, unang halleti hamu boru nai:-).

Selamat manubo ma ate, nion ma alamatna :

Written by lagubatak

June 23, 2009 at 7:47 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers