Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Author Archive

Horas, Tabe dohot Holong

with 6 comments

Telah 5 (lima) bulan saya tidak pernah meng-update blog ini, maklum saya sedang menjalin hubungan kerja dengan salah satu usaha di daerah Kalimantan, sekali kali saya juga melihat perkembangan blog ini, apa yang terjadi pikirku…, ternyata cukup mencengangkan, blog yang tak pernah di update selama itu tetap tampil berkibar dan mampu menarik peminat rata rata 1000 pengunjung per hari.

Rasanya saya ingin berbuat lebih banyak terhadap perkembangan blog ini secepatnya, namun apa daya kesibukan sehari hari menyita sangat banyak energy dan hampir tak dapat berbuat banyak untuk hal lain.

Bagi pengunjung yang ingin menymbang saran dan memberi kontribusi untuk kelangsungan blog lagu batak saya menawarkan kesempatan ini agar dapat ‘berbuat’ agar wadah ini dapat dipergunakan untuk pengembangan ke hal yang lebih positif.

Mauliate.

Written by lagubatak

June 7, 2011 at 12:08 am

Rajumi Sister

with 5 comments

Namanya Rajumi Sister, sebagai informasi mereka bertiga datang dari perantauan orang batak yang dominan didaerah Sumatra yakni Pekanbaru. Jika saya memberanikan diri untuk meng-upload lagu mereka ini, itu pertanda bahwa menurut hemat saya mereka cukup untuk diperhitungkan dalam bernyanyi.

Secara pribadi saya mengenal dari salah seorang personil Rajumi Sister, dia adalah pemerhati lagu batak dan dapat dikatakan sebagai orang yang peduli agar lagu batak tetap bergema di daerah Pekanbaru dan sekitarnya, dia adalah sang penyiar radio RRI khusus untuk Senandung Tapian Nauli yang memang tersohor acara lagu batak disana.

Saya sangat mengharapkan suatu saat kelak mereka benar2 dapat merealisasikan cita cita mereka untuk masuk dapur rekaman lagu batak, jika dilihat dari performance mereka sudah lebih dari cukup, leader vocalnya cukup mempunyai warna dan power yang dapat diperhitungkan kelak. Itu dibuktikan dari lagu yang sedang saya upload ini, hampir tidak ada nada yang fals yang berarti, padahal dari beberapa penyanyi amatir yang pernah saya dengar untuk membawakan lagu ini membutuhkan kwalitas yang baik, mereka telah membuktikannya.

Rajumi Sister dari Pekanbaru, saya yakin orang akan sependapat dengan cerita saya ini jika kalian dapat mewujudkan cita cita kalian secepatnya. Saya menunggu kalian dan juga berdoa untuk kalian bertiga. Horas

Written by lagubatak

December 18, 2010 at 10:37 am

Marsoban Sigadison

with 5 comments

MARSOBAN SIGADISON
CIPT. SORITUA MANURUNG

DOLOK NA TIMBO PE
DINAKKOHI HO INANG
RURA NA RAHIS PE
DIJURURI HO
MANDIORI SOBAN
NALAO SIGADISON MI
MARSAPSAPAN DAGING MI
SO DIHILALA HO INANG
PASARI SARI HAMI
AKKA GELLENG MI

POR NI UDAN I
DISUMUK HO DOI INANG
TUNG POSI PE ARI
DITAON HON HO
MANDIORI SAYUR
DIJUMA NI JOLMA I
SIPATA SO DIINGOT HO BE
LAO TU PARMINGGUAN I
MARSASADARI DIBALIAN HUTA I

JOT JOT DO AU
TUMATANGIS DA INANG
MARNIDA LOJA MI
HASSIT NAI DITAON HO ALE INANG
MARMUDU GELLENG MON
AI SO ADONG DIATTUREHON
DAMANG I BE HITA INONG HU
TUMAGONAN DO DAMANG I
DI LAPO AN MAMBAHAS TOGEL I

MARLAMBAS ROHA MA HO
INANG NAULI LAGU
GOGO I MA TANGIANG MI
PAIMA MAGODANG HAMI
AKKA GELLENG MON
NA LAO MAMBALOS LOJA MI

Written by lagubatak

October 16, 2010 at 2:14 pm

Dang Boi Bulan Makkatai

with 2 comments

bulan

Dang Boi Bulan Makkatai
Cipt. Iran Ambarita

Boasa sai holan na marsak ho ito
boasa sai holsoan rohami
unang sai pikkiri be roma ho pajonok ma tuson
asa huhaol ho gomos
rap manaon hita na dua disasude na i

Ai holan ho do dingolukku hasian
dohot dibagasan rohakkon
pos roham di au ito dang tadikkonokku hasian
manang tu dia pe au lao
rap manaon hita na dua disasudena i

Reff.
Unang pola sukkun bulan
lao paposhon rohami
dang boi bulan manghatai
ro ma ho tuson ito

unang pola sukkun bintang
lao pasonang rohami
pajonok ma tuson ito
asa huhaol ho gomos

Written by lagubatak

October 11, 2010 at 3:26 am

Anak Medan (untuk amang Mula Harahap)

with 4 comments

http://mulaharahap.wordpress.com/

Dia adalah sosok manusia batak yang bersahaja, hampir semua orang yang mengenalnya tak pernah ada yang mengeluh terhadap tingkah dan perangai yang pernah membuat sahabat bahkan lawannya mencela, namun selalu memuji dan berharap jika suatu saat kelak bisa menemukan orang yang dapat menggantikan sosoknya dimuka bumi ini.

Dia adalah Mula Harahap, yang pada tanggal 16 September 2010 lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang pada usia 57 tahun karena menderita penyakit jantung. Menurut catatan salah seorang anak beliau, bahwa beliau ditinggal oleh anaknya sewaktu mau berangkat kerja dalam keadaan tertidur dilantai kamar tidur dengan posisi tengkurap, kemungkinan beliau mengalami sakit/panas pada dada yang sangat hebat seperti lazimnya bagi seseorang yang mempunyai penyakit jantung, dan 10 menit kemudian anak beliau menerima berita bahwa amang Mula Harahap sudah tiada.

Saya sangat menaruh simpathy terhadap beliau, dan pengagum ‘seluruh’ tulisannya termasuk pada milis-milis yang beliau ikuti, bahkan pada account jejaring sosial facebook. Itulah sebabnya saya sangat merasa kehilangan melebihi kehilangan seorang kerabat yang sudah saya kenal lama sekalipun.

Karena blog ini berisikan tentang lagu batak, dan saya tau beliau juga sesekali senang dengan lagu batak, juga beliau pernah menyinggung bagaimana lagu batak agar dikenal oleh masyarakat luas dari tulisan tulisannya. Maka saya akan memberikan salute dan memberi penghargaan khusus dari sisi kehidupan saya.

Dari beberapa tulisan beliau (pengenalan), saya akan mencoba memberikan makna dari sebuah lagu terhadap keberadaan seseorang. Maka saya memilih salah satu lagu yang menurut saya cukup pas untuk kepribadian dan kehidupan beliau bersosialisasi.

Lagu Anak Medan adalah sebuah lagu yang menggambarkan kepedulian seseorang (orang batak maupun bukan) terhadap teman/kerabat yang hampir mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarganya, bahkan untuk yang lebih jauh lagi, Raja Batak mempunyai kemiripan dengan kehidupan seperti itu. Raja Batak selalu bepergian untuk berperang demi untuk keselamatan orang lain.

Inilah syair Anak Medan secara utuh yang diciptakan oleh Fredy Tambunan.

Anak medan, Anak medan,
Anak medan do au, kawan
Modal pergaulan boido mangolu au,
Tarlobi dipenampilan main cantik do au, kawan
Sonang manang susah happy do diau,

Nang pe 51, solot di gontinghi,
Siap bela kawan berpartisipasi,
378 Sattabi majo disi,
Ada harga diri mengantisipasi

Reff:
Horas… Pohon pinang tumbuh sendiri
Horas… Tumbuhlah menantang awan
Horas… Biar kambing di kampung sendiri
Horas… Tapi banteng di perantauan

Anak medan, Anak medan,
Anak medan do au, kawan
Susah didonganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan ai rela do au, kawan
Hansur demi kawan, ido au kawan

kira kira pengertian lagu tersebut pada bait pertama adalah :
Saya adalah seorang anak yang besar di Medan, saya bisa dan dapat hidup dengan hanya modal pergaulan atau persahabatan. (saya membaca beberapa tulisan beliau, bahwa beliau sangat bangga dan tidak pernah melupakan tempat dimana beliau tumbuh besar dari mulai anak balita sampai menjelang dewasa, walaupun beliau lahir di Palangkaraya, kemungkinan ayah beliau seorang pekerja yang berpindah-pindah).
Terlebih dalam segala penampilan saya selalu bermain cantik, baik dalam keadaan senang dan susah saya selalu bawa dalam keadaan happy. (saya pernah menemukan penampilan dalam foto beliau di account facebook pada masa muda dengan menggunakan baju lengan panjang, celana dan sepatu seperti layaknya penampilan seorang anak muda yang masih dijumpai di kota Medan saat ini, dalam keadaan susah maupun senang dia selalu kelihatan ceria dalam segala tulisannya, bahkan sekali-kali bergurau bahwa dia adalah pengagum Happy Salma, makanya saya tertarik menyebutnya selalu Happy dalam hatinya:-)).

pada syair bait kedua :
Walaupun belati/pisau terselip dalam pinggang saya, dan selalu suap untuk berpartisipasi membela kawan, tapi dalam hal tipu menipu, bongak membongak saya selalu menghindarinya karena harga diri jauh lebih penting dari semua itu. (ilmu pengetahuan yang ada dalam pikiran beliau adalah semacam pisau yang siap menghujam pada orang orang yang bermaksud menipu sesamanya, maka dia siap untuk memperjuangkan sampai kapanpun dan tidak segan segan beliau berteriak dalam tulisannya pada hal hal yang menurut beliau tidak beres, tapi dia selalu menjunjung tinggi apa arti harga diri).

Reffrein lagu tersebut adalah :
Selamat lah, pohon pinang walau tumbuh sendiri tapi tetap menantang awan/angin, walaupun tidak hebat (kambing) dikampung sendiri tapi selalu jaya (banteng) dalam perantauan. (beliau sebenarnya sudah memperlihatkan talenta yg dimilikinya sebelum dia menginjakkan kakinya di Jakarta, tapi semakin terasa dan bergema setelah di Jakarta seperti yang kita lihat bersama selama ini).

syair bait ke tiga :
Aku ini Anak Medan kawan, saya tidak bisa melihat kesusahan dalam diri sahabat/teman saya, titik darah penghabisan aku rela demi memperjuangkannya, bahkan hancur demi kawan pun aku rela. (ini yang membuat saya kagum mengapa saya memilih lagu ini sangat cocok dengan kepribadian beliau, menurut saya beliau sangat mempunyai kesempatan dengan ilmu pengetahuan dan kemampuan dia untuk mengecap kehidupan materi yang mewah jika dia tidak peduli dengan lingkungan dan lingkup sosial lainnya. Dari banyak tulisannya saya membaca bahwa dia rela hidup sederhana dan tidak segan ikut membantu orang orang dalam kesusahan).

Kini dia telah tiada, tapi beruntunglah dia hidup dan berkarya pada era komputer telah dapat menyimpan banyak buah pikirannya yang bisa dibaca setiap saat berulang ulang. Satu yang membuat aku terkagum kagum lagi dengan beliau adalah perawakannya yang mirip pada almarhum Bapatua ku Reinhard Simanjuntak yang salah satu wartawan senior di Kompas, yang juga meninggal dengan serangan jantung.

Selamat jalan amang Mula Harahap, semakin saya merenung bahwa sebenarnya apa yang amang perbuat selama ini : itulah arti hidup. Tidak banyak yang dapat melakukan hal yang sama, bahkan mencoba pun tak sanggup.

Written by lagubatak

September 28, 2010 at 12:49 am

Posted in BATAK, LAGU BATAK

Tarhirim Au

leave a comment »

Tarhirim Au
Cipt. Dolok Simanjuntak

disi hutanda ho ito
songoni ma burju mi tu au
lambok pangkuling mi
mambahen sai masihol au tu ho
massai las do roha hi di tikki i
pajumpang dohot ho

dung saonari da hasian
gabe muba burju mi tu au
songoni pakkuling mi
sipata holan na muruk ho tu au
gabe hassit ma roha hi dibahen ho
ito da hasian

tarhirim au dijanji mi
didok ho haholongan mu au ito
manis di bibir holong mi
sipalessem do hape sude na i
hassit nai pambahenan mon
digabusi ho ma au da hasian

dang hurippu songon on
gabe sega au holan alani ho
dang hurippu songon on
gabe sega au holan alani ho

sega ma au

Written by lagubatak

September 25, 2010 at 2:25 pm

Mata Baru, Semangat Baru

leave a comment »

Tulisan ini di-unduh dari salah satu note seorang motivator St. Jansen Sinamo. Penting untuk dilihat karena mencakup beberapa sejarah yang ada di tanah batak. semoga beliau berkenan dengan pengu-unduhan secara sepihak, tanpa meminta persetujuan. Namun karena nilai yang terkandung didalamnya yang membuat saya berani melakukannya:)/

Pertengahan Juni 2007 yang lalu saya berkunjung lagi ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Saya bermaksud mengikuti puncak acara peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII, yang tewas di ujung bedil Belanda pada 17 Juni 1907. Sebagai Sekjen Yayasan Pencinta Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini berbeda. Dulu saya melihat daerah ini dengan mata ekologi dan geologi. Kali ini saya melihatnya dengan mata sejarah.

Dengan mata ekologi saya tak putus takjub dengan fenomena alam Danau Toba. Geologi menakrifkan danau ini terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu tatkala Gunung Toba purba meletus sambil menghamburkan 800 km kubik material ke angkasa. Bandingkan dengan Gunung St. Hellens, Pinatubo, dan Tambora yang masing-masing cuma melontarkan 0.2, 4, dan 20 km kubik saja. Letusan Gunung Toba adalah salah satu ledakan terdahsyat yang pernah terjadi di bumi, nyaris memusnahkan umat manusia. Kaldera yang ditinggalkannya itulah yang kemudian menjadi Danau Toba, 110 km panjangnya membujur miring dari barat laut ke tenggara.

Selama 10.000 tahun selanjutnya, magma terus mendorong—meski tak lagi sanggup bikin ledakan—lalu mendongkrak kulit bumi sehingga menggembung di atas muka danau: dan hatta, lahirlah pulau Samosir!

Ribuan tahun selanjutnya bekas-bekas ledakan kolosal itu hilang perlahan oleh tutupan vegetasi dan kemudian menghutan lalu berganti rupa menjadi situs ekologi yang biru dan hijau, subur dan cantik menawan, seperti yang dengan menggetarkan dikidungkan Nahum Situmorang.

Kemudian, di sekitar abad ke-14 atau 15, beberapa rombongan manusia merambah naik ke kawasan ini, bermukim di sana, lalu menjadi sebuah masyarakat yang kini disebut sebagai orang Batak. Saya tak putus-putus mensyukuri temuan alam para nenek moyang itu yang menjadi situs ekologis kelahiran jutaan putera-puteri Batak: banyak yang jenderal dan profesor, guru dan pendeta, politikus dan birokrat, seniman dan intelektual, pengusaha dan pengacara, sopir dan kondektur; termasuk dinasti Sisingamangaraja yang bertahta di Bakara, dan tentu: saya sendiri juga.

Dari ketinggian bukit makam resmi pahlawan itu saya memandangi Balige dan sekitarnya. Saya mengingat ulang kisah perjuangan Sisingamangaraja XII: khususnya episode pertempuran Bahal Batu yang pertama. Saya bayangkan ribuan pasukan Batak bertempur di pallagan Balige itu dengan bedil-bedil sederhana melawan pasukan Belanda yang telah bersenjata otomatis bahkan bermeriam. Dengan menunggang Sihapaspili, kuda putihnya, Raja Batak yang masih belia itu tampil gagah ke medan laga. Namun sungguh sial, bahu kirinya tertembak. Ia kalah, lalu mundur teratur. Namun sejak itu, selama 30 tahun ia terus melawan secara gerilya dari hutan-hutan kawasan barat daya Danau Toba. Tetapi, akhirnya ia tewas pada 1907 mempertahankan kebebasannya, kedaulatan negerinya, dan martabat bangsanya. Saat tafakur mengheningkan cipta di depan makam Soposurung itu, tanpa bisa dicegah air mata saya merembes deras: terharu, bersyukur, dan bangga sekaligus. ***

Dari ketinggian surga sana Allah melihat dunia. Ia menyaksikan derita manusia. Mata yang penuh belas kasihan itu tidak tahan lalu mengutus putera-Nya yang tunggal. Sang putera itu kemudian mengundang manusia: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”Begitulah mata Tuhan melihat Anda dan saya. Ia tahu derita dan sedih-pedih kita. Ia melihat dan menunggu kita. Mari datang dan berlabuh di haribaan-Nya. Ia tahu harapan dan rindu-cita kita. Ia melihat dan menunggu kita. Mari memandang, datang, dan berharap akan rahmat-Nya.

Mari memakai mata Tuhan sebagaimana Abraham melihat dengan mata Tuhan. Meski janji Tuhan tampak mustahil, namun Abraham tidak bimbang. Ia memutuskan melihat kondisi hidupnya sebagaimana Tuhan melihatnya. Ia percaya dan terus menanti penuh iman akan janji-Nya.

Mari memakai mata Tuhan sebagaimana Daud melihat dengan mata Tuhan. Meski jauh-jauh hari telah diurapi Samuel, namun prospek menjadi raja tampaknya justru mustahil sementara ia malah jadi buronan raja Saul yang makin tua makin menderita neurosis. Namun Daud tidak bimbang. Ia memutuskan melihat kondisi hidupnya sebagaimana Tuhan melihatnya. Ia percaya dan menanti penuh perjuangan akan janji-Nya.

Ketika saya melihat dan menghayati Danau Toba sebagai medan laga bagi pejuang-pejuang Batak melawan Belanda, maka Sisingamangaraja XII menjadi riil di hati saya. Saya rasakan ia begitu dekat, menghayati emosi dan pikirannya, dan terinspirasi olehnya. Karenanya, saya lebih mencintai Tanah Batak [dan Indonesia] yang diperjuangkannya.

Ketika saya melihat hidup saya dengan mata Tuhan sebagaimana Tuhan melihatnya: bahwa Ia sedang bekerja di dalam dan melalui diri saya, maka Tuhan begitu riil di hati saya, sehingga sukacita, keberanian, serta semangat baru melimpah ruah dari dalam jiwa saya.

Terimakasih Tuhan, Engkau sungguh baik, bisik saya mantap, dengan wajah sumringah!

Written by lagubatak

September 21, 2010 at 12:22 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers