Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Author Archive

Mengapa orang Batak temperamental??

leave a comment »

Orang Medan, lebih khusus lagi orang Batak, kerap dianggap sebagai pribadi yang temperamental. Emosinya mudah naik, belum lagi nada bicara dan volume suaranya yang tinggi dan sangat terus terang. Perlukah dikendalikan?

“Kalau tidak berpikir panjang, saya bisa naik pitam saat bicara dengan keluarga suami saya,” ujar Lita, wanita Jawa yang menikah dengan pria Batak. Bagi Lita, bicara dengan nada tinggi dan volume keras, serta blak-blakan merupakan hal yang sama sekali ditentang dalam ajaran keluarganya.

“Kadang saya terpancing mau marah karena menganggap mereka tidak sopan kalau bicara. Tapi terus ingat lagi, oh ya mereka orang Batak. Habis, suami saya karakternya sudah seperti orang Jawa sih,” tambah Lita yang bertemu suaminya saat kuliah di Yogya itu.

Tapi jangan salah kira dulu. Nada tinggi belum bisa dijadikan patokan bahwa orang Medan atau orang Batak temperamental, kata sosiolog sekaligus antropolog dari Universitas Negeri Medan, Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak.

Nada tinggi yang biasa keluar dari mulut orang Medan biasa dijumpai pada orang Batak dari pegunungan, seperti daerah Samosir. “Karena di sana wilayah perkampungannya jauh-jauh, di daerah pegunungan pula. Sehingga mereka harus berteriak-teriak untuk memanggil. Tapi hatinya belum tentu keras, sehingga tidak terpancing emosinya. Apalagi yang sudah terdidik,” tutur Prof. Bungaran.

Atas dasar itulah hipotesa yang mengatakan orang Medan atau orang Batak itu temperamental baginya tidak benar. Hal senada juga dikatakan Dra. Mustika Tarigan. Dosen Psikologi Perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Nada tinggi memang menjadi karakter orang Medan, tapi nada tinggi tidak otomatis menjadi indikasi temperamental.

“Karakter mereka memang ekspresif. Dan cara mengekspresikannya sendiri lebih ekstrem, jadi terkesan emosional. Tapi tidak semuanya temperamental,” katanya. Ia maklum bagi orang dari daerah lain karakter seperti itu terkesan berlebihan.

Marah Itu Perlu
Temperamental merupakan keadaan yang terkait dengan emosi. Contohnya orang yang mengendarai mobil lalu mengumpat, “Kurang ajar!” setelah diserobot secara tiba-tiba oleh tukang becak, merupakan luapan dari emosi dalam bentuk marah.

“Ungkapan marah itu diperlukan, karena manusia bukanlah superman yang bisa mengemas diri semanis mungkin saat marah. Yang perlu diingat adalah, boleh marah tapi lihat ketupatnya,” tambah Mustika. Ketupat yang dia maksudkan adalah keadaan, waktu dan tempat. Perlu diperhatikan juga obyek kemarahan, kadar kemarahan, serta tujuan dari amarahnya itu sendiri.

Misalnya, orangtua yang marah kepada anaknya mempunyai tujuan baik, supaya anaknya menjadi baik. “Tapi ada juga yang untuk show off, menunjukkan bahwa dirinya punya power atau kekuasaan. Nah, itu tidak benar,” terangnya.

Nada Tinggi
Nada tinggi yang diidentikkan dengan cara bicara orang Medan tidak selalu bisa disamakan dengan kemarahan, walaupun perasaan marah orang Medan lebih banyak diekspresikan dengan nada tinggi dan bahasa tubuh yang terlihat jelas.

Di satu sisi nada tinggi yang ekspresif itu bisa membuat lega, enak, dan puas orang yang mengekspresikannya karena ’sampah’ yang berada dalam dirinya keluar. Tapi, seperti diakui oleh Dra. Mustika, dampaknya bisa membuat orang lain tersinggung dan tidak bisa menerima ekspresi amarah yang terlontar itu.

Belum lagi adrenalin orang yang bersangkutan juga akan naik. Apa akibatnya? “Ia akan cepat lelah. Makanya, orang yang marah itu akan capek karena energinya terkuras. Itu sebabnya untuk mendinginkan diperlukan minuman,” ucapnya.

Di masyarakat lain bisa jadi kemarahan tetap diekspresikan dengan nada lembut atau malah diam lalu meninggalkan orang yang membuatnya marah tadi. Menurut Dra. Mustika, “Diam atau escape sebentar dari amarah merupakan cara mengontrol amarah, dan baru dicetuskan kemudian bila situasinya bagus. Kita bisa bilang, ’saya kok jadi marah ya dengan sikap kamu’. Bukan dengan kata-kata, ‘kamu membuat saya marah’. Karena kalau begitu, kita menyalahkan orang lain.”

Perlu Dikendalikan
Bagaimana pun menekan amarah itu tidak bagus, kata Dra. Mustika, sedangkan yang benar adalah mengontrol atau mengendalikannya. Ia mengakui bahwa untuk mengontrol atau mengendalikannya tidak mudah, butuh waktu mempelajarinya.

“Apa boleh buat, kita harus mengelola emosi. Caranya bisa dengan banyak bergaul atau meminta feedback atau umpan balik dari orang lain. Lalu juga harus menyadari bahwa permasalahan tidak akan selesai dengan luapan emosi,” tutur perempuan yang juga bergerak di LSM Pusat Kajian Perlindungan Anak ini.

Mengapa orang Batak yang tinggal di Pulau Jawa misalnya bisa tidak seemosional yang di Medan? Jangan lupa faktor lingkungan yang turut mempengaruhi emosi.

“Komunitas atau lingkungan akan berpengaruh terhadap diri seseorang. Maka orang Medan yang telah banyak bergaul dengan masyarakat heterogen, emosinya juga lebih terkontrol.

Tapi siapa pun kita, jika mau marah sebaiknya pertimbangkan dulu baik buruknya supaya tidak membuat orang lain maupun diri sendiri sakit.

Sumber : (Diana Yunita Sari) Harian Kompas

Written by lagubatak

July 19, 2010 at 9:21 am

Posted in BATAK

Migrasi Orang Batak

leave a comment »

Oleh: Togar Nainggolan, Nijmegen, Netherland

Dalam Buku Harian saya terdapat catatan berikut: “Harapohan, 24 Juni 1996, Senin, pagi….Pengungsian besar. Dari kampung kecil ini, yang hanya berpenduduk sebanyak 500 jiwa, 150 orang (petani) berangkat ke Sumatra Timur sebelum perang. Sesudah perang hal itu terulang lagi, bahkan dengan jumlah yang lebih banyak, yaitu 300 orang.” Bulan Juni 1996 saya mengadakan penelitian lapangan di Samosir untuk skripsi saya. Sebenarnya tema skripsi saya bukan tentang perpindahan ini, tetapi dirangsang oleh kuliah Bronnenonderzoek (penelitian sumber-sumber) saya tertarik untuk mencari-tahu gejala ini. Ada dua pertanyaan saya. Pertama ialah apa sebab dan akibat migrasi ini? Dan kedua, apa arti migrasi ini untuk orang Batak Toba? [selanjutnya disingkat (orang) Toba] Saya mencari sumber-sumber untuk menerangkan (menguraikan) masalah ini. Saya buat itu pertama dengan mencari sumber lisan (oral history). Dan yang kedua sumber-sumber tertulis. Berikut ini laporan ceritera saya.

Cukup sulitlah untuk mendapat informan yang tahu persis tentang kedua migrasi ini di Negeri Belanda. Saya memilih dua misionaris untuk hal ini karena mereka saya kenal ketika mereka masih di Indonesia. Mereka lama tinggal di Sumatra Utara. Saya kira bahwa mereka tahu banyak tentang kejadian ini. Informan saya yang pertama ialah P. Beatus Jenniskens (86). Dia tinggal di biara Kapusin Tilburg. Dia mulai karya misinya pada tahun 1938. Selama 28 tahun dia tinggal di daerah Toba dan 18 tahun di Sumatra Timur (Panombangan). Dia selalu bekerja di tengah-tengah orang Toba. Karena itu dia mengenal suku ini dengan baik. Tahun 1984 dia harus kembali ke Negeri Belanda karena sakit yang cukup parah.

Menurut Jenniskens ada beberapa alasan mengapa orang Toba pergi merantau (migrasi). Pertama ialah karena daerah Toba tidak subur. Sementara pengolahan persawahan merupakan sumber kehidupan utama di daerah ini. Orang hanya bisa mengolah sawah di lembah atau di muara sungai, di mana ada pengairan. Di sini memang tanah di pakai secara optimal. Tetapi karena jumlah penduduk semakin bertambah (orang Toba suka dengan keluarga besar) maka pada suatu ketika harus dicari lahan baru. Namun bukan hanya itu alasannya. Yang kedua ialah pada masa revolusi (1945-1950) situasi sangat kacau. Orang Toba menggunakan kesempatan ini untuk menduduki dan mengolah tanah-tanah kosong di Sumatra Timur. Pater Beatus berceritera lebih banyak tentang migrasi gelombang kedua.

Informan saya yang kedua ialah P. Bavo Westgeest (56). Saat ini dia tinggal di biara Kapusin, Wolfkuilseweg 173, Nijmegen. Dia adalah misionaris di Sumatra Utara dari tahun 1968 sampai 1985. Tahun 1985 dia kembali ke Negeri Belanda juga karena alasan kesehatan.

Pater Bavo bukan saksi mata dari kedua kejadian ini. Dia mendapat informasi tentang situasi ini dari sumber kedua, artinya dari sumber-sumber tertulis lain. Menurut beliau kekurangan tanah — karena tanah yang tidak subur dan bertambahnya penduduk — mengakibatkan kemiskinan dan banyak perkara soal tanah. Setiap orang tentunya ingin memperoleh sebidang tanah yang subur, tetapi lahan tidak cukup. Maka terpaksa para petani merantau.

Kedua informan saya melihat secara nyata akibat migrasi ini untuk orang Toba ialah perbaikan ekonomi. Perbaikan ekonomi rumah tangga ini nampak jelas dengan hidup mereka yang lebih baik. Tentu hal ini ada hubungannya dengan kesuburan tanah dan naiknya produksi mereka. Kadang-kadang mereka mengirim uang kepada keluarga di kampung; pulang ke kampung pada kesempatan tertentu atas biaya sendiri; membayar banyak biaya pesta keluarga di kampung; mengajak anggota keluarga yang lain untuk datang ke tempat mereka dan kalau memungkinkan tinggal bersama mereka di tempat perantauan; memberi bantuan untuk orang yang baru mulai di tanah perantauan.

Saya ingin tahu lebih jauh: sejauh mana faktor ekonomis dan situasi yang kacau pada masa sebelum dan sesudah perang mempengaruhi migrasi petani Toba. Saya cari informasi lanjut tentang hal ini. Untuk lebih gampang mencari sumber tertulis saya menggunakan komputer perpustakaan universitas Nijmegen. Sesudah menemukan sumber-sumber tersebut, saya seleksi. Sumber-sumber yang penting ialah statistik (de Volkstelling 1930), dua buku Karl Pelzer (1978, 1982) dan buku Clark Cunningham (1958). De Volkstelling 1930 melaporkan berapa banyak penduduk di Nederland-India menurut daerah dan pulau dalam tahun 1920 dan 1930. Pelzer menulis tentang konflik antara pemilik perkebunan dan petani di Sumatra Timur pada masa penjajahan dan revolusi. Para petani ingin memiliki sebidang tanah dari tanah perkebunan tersebut. Dan pemilik perkebunan tentunya tidak mau. Ini tentu saja menimbulkan problem. Cunningham membuat penelitian tentang petani Toba yang merantau dari kampung Meat (sebuah kampung dekat Balige) ke kampung Rawang (di daerah Asahan). Dia membuat penelitian ini dengan partisipasi dan observasi di tengah orang Toba pada kedua tempat tersebut. Menurut Cunningham, latar-belakang dan budaya orang Toba ikut berperan bagaimana mereka hidup di daerah transmigrasi.

Menurut sumber tertulis yang saya baca alasan ekonomis perpindahan orang Toba pada waktu itu dapat diterangkan sebagai berikut. Daerah Toba ada pada Bukit Barisan. Hapir dua-per-tiga dari daerah ini berada pada ketinggian di atas 1000 meter. Daerah Toba ada sekitar 10.000 km2. Tahun 1985 tinggal sekitar 700.000 orang di daerah Toba. Dengan demikian ada sekitar 70 orang per-km2. Kepadatan penduduk ini termasuk cukup tinggi untuk daerah agraris yang tidak subur seperti tanah Toba (Eijkemans, 1995:9). Orang Toba tinggal terutama di kota-kota kecil, sepanjang pantai danau Toba dan di lembah-lembah. Karena daerah ini bergunung-gunung maka dia termasuk daerah yang ‘terbatas’ dan ‘tertutup’ (bdk. lembah). Infrastruktur sangat kurang memadai (Cunningham, 1958:16). Orang hanya bisa mengusahakan persawahan di lembah di mana pengairan memungkinkan. Sementara itu 90% penduduknya hidup dari hasil pertanian, terutama beras. Karena tiap keluarga mempunyai hanya rata-rata 0,83 ha sawah (Eijkemans, 1988:12) sementara jumlah anggota keluarga besar (4-6 anak) maka pendapatan keluarga sangat rendah (Rodenburg, 1997:23). Pada waktu itu tidak ada perbaikan cara pengolahan tanah pertanian. Orang Toba mengolah tanahnya dengan cara tradisional, yaitu dengan tangan. Daerah ini termasuk salah satu daerah termiskin di Propinsi Sumatra Utara (Eijkemans, 1995:9). Karena itu mereka terpaksa merantau, baik untuk sementara maupun tetap (Spaan, 1995:22; Rodenburg, 1997:36).

Tentang sebab-sebab politik migrasi ini saya menemukan informasi lebih lengkap pada hasil studi Pelzer dan Cunningham daripada yang diberikan oleh informan saya. Sebelum perang (Perang Dunia II), pemerintah kolonial Belanda mengadakan undang-undang pengaturan penduduk, a.l. transmigrasi (Slockers, 1973:6). Pemerintah ingin bahan makanan yang cukup dan pendapatannya meningkat. Karena itu pemerintah Belanda membuat proyek pengairan dan meminta orang untuk mengolah sawah di sana. Pemerintah kolonial meminta orang Toba untuk mengolah persawahan di daerah Simalungun. Orang Simalungun tidak mengolah sawah pada waktu itu. Maka pada tahun 1930 datanglah di sana sekitar 30.000 orang Toba. Mereka mengolah persawahan seluas 35.540 acre (1 acre=40,5 are) (Cunningham, 1958:iii). Sesudah perang, di mana ada kekosongan kuasa dan situasi yang kacau di daerah perkebunan, datang ribuan orang Toba ke daerah perkebunan di Sumatra Timur. Menurut Cunningham (1958:vii) banyaknya orang Toba yang datang ke sana pada periode 1950-56 ada sebanyak 250.000 orang. Organisasi petani dari partai komunis (BTI, Barisan Tani Indonesia) menuntut supaya sebagian dari daerah perkebunan diberikan kepada petani. Tiap petani mendapat dua hektar tanah yang tidak diairi dan satu hektar sawah (Pelzer 1982:50). Pada tahun 1958 petani menduduki 126.000 hektar dari tanah perkebunan (Pelzer, 1982:165).

Kemudian migrasi ini tentu tidak lepas dari mental dan kegigihan orang Toba. Yang saya maksud dengan mental di sini ialah “espirit de corps, family unity, personal dynamism, individual enterprise, and sense of purpose” dari orang Toba (Cunningham, 1958:85). Sedang kegigihan berarti di sini ketekunan dan kerja kerja keras orang Toba sebagai akibat dari situasi mereka di kampung (lihat faktor-faktor ekonomi Rodenburg, 1997:35-7 dan interview dengan Pater Westgeest). Selain daripada itu orang Toba beranggapan bahwa di luar Toba situasi hidup mereka akan lebih baik (Rodenburg, 1997:201). Mereka ingin mencapai kemajuan ekonomi.

Akibat dari faktor-faktor di atas ada dua, yaitu perbaikan kehidupan ekonomis dan transformasi dari identitas. Perbaikan ekonomi dimungkinkan oleh tanah yang subur, kepadatan penduduk yang rendah, dan infrastruktur yang lebih baik di Sumatra Timur (Rodenburg, 1997:22).

Yang saya maksud dengan transformasi identitas ialah bahwa orang menyesuaikan dirinya dengan situasi yang baru tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Dari satu pihak orang Toba mempertahankan identitasnya dengan memegang tetap tradisi tua. Mereka membangun perkampungannya di daerah perantauan (kampung Rawang) seperti di daerah Toba, yaitu atas dasar hubungan keluarga atau tempat asal yang sama. Mereka membangun Gereja sebab mereka Kristen. Mereka memegang adatnya. Mereka menggunakan bahasa Toba di antara mereka. Mereka memegang sifat ‘kasar dan keras’ sebagai ‘groep personality’ atau ‘culture and personality’ bila dibandingkan dengan orang Jawa yang ‘halus dan sopan’. Tetapi dari pihak lain orang Toba harus menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Mereka hidup di daerah lain. Mereka tinggal di antara orang Islam dan suku lain. Maka mereka harus juga memperhatikan kelompok yang lain. Orang Toba, Jawa dan Cina datang ke sana sebagai perantau. Dalam hal ini mereka harus saling menolong untuk mempertahankan kelompok mereka terhadap pemilik tanah. Orang Toba harus bicara dalam Bahasa Indonesia terhadap kelompok yang lain. Dengan demikian mereka juga merasa diri sebagai orang Indonesia. Dan dalam struktur politik orang Toba merupakan satu bagian dari orang Indonesia yang hidup di sana secara multi-kultural. Orang Toba adalah satu bagian dari seluruh kehidupan kelompok (Cunningham, 1958:130-136).

Dari penelitian sumber-sumber ini saya tarik kesimpulan berikut: Migrasi dari petani Toba disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, budaya. Akibat dari migrasi ini untuk orang Toba ialah perbaikan kehidupan ekonomis dan transformasi identitas.

Kalau studi ini kemudian saya evaluasi maka harus saya katakan bahwa informasi oral history dari informan saya hanya sedikit yang dapat saya gunakan. Sumber-sumber tertulis memberi data yang lebih lengkap. Hal ini mungkin terjadi karena mereka melihat persoalan migrasi ini dari sudut dan kepentingan yang berbeda. Mungkin juga saya kurang pandai mencari informasi yang perlu. Namun demikian hal itu tidak mengurangi pentingnya ‘oral history’ sebab informan saya dapat melukiskan peristiwanya lebih ‘hidup’. Dengan demikian kedua sumber ini saling melengkapi.

Dari hubungan sebab-akibat migrasi ini untuk orang Toba kita dapat mengatakan bahwa mereka melaksanakan hal itu sebagai suatu strategi hidup. Mereka ingin hidup dan hidup lebih baik. Untuk memberi gambaran singkat tentang hal ini saya kutip berikut ini Cunningham:

In 1950, one large group of fifty families moved together on the long walk up the main road at Tampahan, where a bus and truck, hired for the move, took them away from Tapanuli (the Toba-Batak land). The move was made in such large numbers and in such haste, that no big going-away celebration was held. “Anyway,” I was told, “No one in Meat could have afforded one.” Those who stayed were too poor, and those who left needed all of their money for the pioneering venture (Cunningham, 1958:79).
Bahan rujukan:

* Interview dengan Pater Beatus Jenniskens, 14 september 1997 te Tilburg.
* Interview dengan Pater Bavo Westgeest, 20 september 1997 te Nijmegen.
* Eijkemans, C., Profitability or Security: Decision-making on land use among Toba Batak peasants in North Sumatra, Indonesia, Nijmegen: NICCOS (22), 1995.
* Cunningham, C.E., The Postwar Migration of the Toba-Bataks to East Sumatra, Yale University: Southeast Asia Studies, Cultural Report Series, 1958.
* Pelly, U., Urban Migration and Adaptation in Indonesia: A Case Study of Minangkabau and Mandailing Batak Migrants in Medan, North Sumatra, Illinois: Ann Arbor, 1983.
* Pelzer, K.J., Pioneer Settlement in the Asiatic Tropic: Studies in Land Utilization and Agricultural Colonization in Southeastern Asia, New York: American Geographical Society, 1945.
* ________, Planter and Peasant: Colonial Policy and the Agrarian Struggle in East Sumatra 1863-1947, Leiden: KITLV Press [Verhandelingen 84], 1978.
* ________, Planters Against Peasant: the Agrarian Struggle in East Sumatra 1947-1958, Leiden: KITLV Press.[Verhandelingen 97], 1982.
* Rodenburg. J., In the Shadow of Migration: Rural Women and Their Households in North Tapanuli, Indonesia, Leiden: KITLV Press. [Verhandeling 174], 1997.
* Sherman, D.G., Rice, Rupees, and Ritual: Economy and Society among the Samosir Batak of Sumatra, California: Stanford University Press, 1990.
* Slockers, A., Transmigratie in Indonesiæ, Nijmegen: Kandidatsskriptie, 1973.
* Spaan, E. (et al.), Farming in the Toba-Batak Heardland: Two case studies on Samosir island, North Sumatra, Indonesia, Nijmegen: Catholic University Nijmegen, 1995.
* Volkstelling 1930, Batavia: Landsdrukkerij, 1933-1936.

Written by lagubatak

July 15, 2010 at 1:08 am

Posted in BATAK

Waka waka for South Africa

leave a comment »

waka waka
You’re a good soldier
Choosing your battles
Pick yourself up
And dust yourself off
And back in the saddle

You’re on the frontline
Everyone’s watching
You know it’s serious
We’re getting closer
This isnt over

The pressure is on
You feel it
But you’ve got it all
Believe it

When you fall get up
Oh oh…
And if you fall get up
Oh oh…

Tsamina mina
Zangalewa
Cuz this is Africa

Tsamina mina eh eh
Waka Waka eh eh

Tsamina mina zangalewa
Anawa aa
This time for Africa

Listen to your god

This is our motto
Your time to shine
Dont wait in line
Y vamos por Todo

People are raising
Their Expectations
Go on and feed them
This is your moment
No hesitations

Today’s your day
I feel it
You paved the way
Believe it

If you get down
Get up Oh oh…
When you get down
Get up eh eh…

Tsamina mina zangalewa
Anawa aa
This time for Africa

Tsamina mina eh eh
Waka Waka eh eh

Tsamina mina zangalewa
Anawa aa

Tsamina mina eh eh
Waka Waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa

Written by lagubatak

July 6, 2010 at 10:00 pm

Posted in KARYA CIPTA

Sinaga Bersaudara

with one comment

Saya terusik dari beberapa email dan pesan dari beberapa pengunjung untuk menulis lagi artikel tentang trio trio batak yang sedang aktif sekarang ini bahkan yang pernah aktif sekedar meramaikan kancah dunia lagu batak hari hari sebelumnya. Dan kebetulan hari libur yang panjang ini membuat waktu saya cukup untuk memnulisnya dengan tujuan sekedar berbagi informasi yang ada pada saya yang mungkin perlu juga diketahui khalayak ramai.

Sinaga bersaudara disingkat dengan 7naga, yang dalam bunyi notasi nada ‘7’ adalah ‘si’ maka tersebutlah 7naga untuk menabalkan nama dari Sinaga Bersaudara untuk ikut meramaikan kancah dunia lagu batak, group ini berdiri sejak tahun 1989 dengan beranggotakan Maruli Sinaga, (alm) A. Benny Sinaga dan Johan Sinaga. Jika anda adalah penggemar lengkingan power vocal yang mendayu dayu dipadu dengan vocal falset yang cukup tajam namun menyayat hati group ini adalah salah satu contoh yang memiliki perpaduan tersebut dan merupakan vocal yang nikmat didengar apabila lagu yang dipilih adalah berthema andung andung.

Ada beberapa keunggulan group ini yang lebih dominan, diantaranya adalah seperti yang saya telah sebutkan sebelumnya perpaduan lengkingan leader vocal yang dilakoni Maruli Sinaga dengan lapisan vocal falset dari Johan Sinaga yang dipercaya sebagai suara 3. Disamping itu juga dalam formasi suara 2 dipercayakan kepada sang pencipta lagu kawakan pada jamannya yakni (alm) A. Benny Sinaga yang terkenal dengan lagunya Lobi Sappulu Taon, bahkan dalam album pertama mereka lagu yang mereka bawakan seluruhnya adalah lagu hasil karya A. Benny Sinaga (termasuk didalamnya adalah Lobi Sappulu Taon).

Perjalanan karir mereka tidak banyak yang mengetahui selain dari orang-orang yang betul betul mengerti bagaimana bisnis kaset pada zamannya, karena disamping mereka tidak begitu aktif untuk mengikuti show-off pada acara acara tertentu seperti layaknya penyanyi penyanyi lainnya. Karena mereka lebih tertarik dalam bisnis diluar tarik suara bahkan lebih cenderung mengandalkan bahwa dunia tarik suara adalah sebagai penopang bisnis lainnya bahkan jika malu disebut sebagai sekedar untuk memuaskan hobby yang telah mengalir dalam tubu mereka.

Sebelum A. Benny Sinaga menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 2005 yang lalu, mereka sempat menerbitkan tidak kurang dari 3 album. 2 album dalam pop tapanuli dan 1 album kemudian diterbitkan dalam pop kenangan indonesia. Jika diantara anda ada yang mengenal sosok Abi Besok, seorang pengusaha taipan yang berdomisili di Tanjungbalai, maka mereka cenderung akrab, bahkan dalam beberapa klip album pop indonesia mereka, lokasi yang diambil adalah lokasi dimana rumah Abi Besok yang berada di Tanjungbalai, hal itu menandakan bahwa kehadiran mereka dalam kancah dunia tarik suara dapat menarik perhatian dari kalangan pengusaha taipan.

Pada tahun tahun dimana Sinaga Bersaudara sedang menerbitkan albumnya, Maruli Sinaga mencoba menapaki berbagai bisnis,t ermasuk didalamnya adalah sebagai Propotor Tinju Profesional yang bergabung dan bekerja sama dengan promotor tinju Turino Tidar di Jakarta, mereka sempat menerbitkan petinju petinju handal yang dapat bertanding di kancah dunia internasional. Namun saya kurang mengikuti perkembangannya setelah mereka membuka usaha baru diluar promotor tinju.

Bahkan belakangan Maruli Sinaga pernah mencoba ikut dalam kompetisi menjadi salah satu calon Bupati di Samosir dan kalah pada tahun 2005, dan khabarnya beliau juga ikut kembali dalam kancah pemilihan orang nomor satu dalam pemerintahan di kabupaten Samosir tersebut.

Sekarang ini mereka telah menekuni karir masing masing setelah A. Benny Sinaga tiada, sedangkan Johan Sinaga terlihat bersama Trio Sandos yang telah menerbitkan 2 album pop tapanuli.

Written by lagubatak

May 29, 2010 at 11:04 am

Trio Persada (Medan-Batam)

with 10 comments

Krisis ekonomi, krisis kepercayaan dan krisis globalisasi boleh terjadi, tapi buat orang batak krisis lagu batak jangan sampai terjadi, bahkan herannya lagu batak semakin meraja lela peredarannya dari tahun ke tahun sejak tahun 2003 yang lalu, belum ada kepastian sudah berapa banyak trio batak yang muncul dari tahun tersebut sampai sekarang ini.

Memang disadari, bahwa banyaknya trio batak tumbuh bukan berarti kesejahteraan atas lagu batak dan artis batak itu otomatis terlihat dari banyaknya muncul trio trio baru batak, namun dipastikan bahwa sebenarnya orang batak tidak rela lagu batak itu hilang tertelan krisis apappun itu.

Saat ini kembali muncul salah satu trio baru yang cukup dapat diharapkan untuk meramaikan kancah lagu batak dimasa yang akan datang. Munculnya trio ini merupakan salah satu kejadian uniqe yang mungkin perlu diceritakan hingga menjadi suatu trio yang solid nantinya.

Sebenarnya ketiga penyanyi yang dinamakan Trio Persada ini sudah melakoni diri sebagai penyanyi pada acara acara pesta orang batak juga untuk tempat hiburan yang ada di kota Medan dan sekitarnya. Mula mula mereka sepakat untuk membuat salah satu grup dengan beranggotakan Roy Marbun, Hilman Sirait dan seorang marga Sihotang, oleh karena kesibukannya menjalani kuliah Sihotang mengisyaratkan agar Roy dan Hilman mencari penggantinya karena tidak dapat mengikuti jadwal latihan dan rekaman dalam waktu yang telah ditentukan.

Kemudian tersebutlah salah satu marga Marbun, setelah menjalani beberapa latihan dan beberapa pengenalan studio rekaman, maka dengan alasan yang sama bahwa marga Marbun juga akan menjalani kegiatan yang sama di kampusnya untuk menyelesaikan skripsi dan tugas tugas lainnya. Dengan alasan yang sama Marbun juga mengundurkan diri bahwa dirinya tidak dapat membagi waktunya untuk emngikuti jadwal latihan dan rekaman.

Tekad dan kemauan yang kuat selalu muncul dari 2 personil lainnya tersebut diatas, maka mereka menemukan seseorang yang cukup layak untuk mendampingi mereka untuk latihan dan masuk rekaman, sebutlah marga Simanungkalit. Seorang penyanyi yang sudah punya pengalaman dalam dunia hiburan di kota Medan.

Singkat cerita setelah mereka menjalani latihan dan rekaman, tibalah waktu mereka untuk menjalani jadwal studio untuk ‘take vocal’ dengan musik, lagu dan perlengkapan lainnya yang telah disediakan oleh sang produsernya, dalam waktu yang telah ditentukan take vocal telah rampung, dan pada saat finishing rekaman tersebut marga Simanungkalit dengan tiba tiba mengundurkan diri dengan alasan yang tidak jelas.

Maka sang produser sekarang harus mengambil tindakan agar seluruh biaya yang telah dikeluarkan tidak terbuang sia sia, dengan konsekwensi bahwa akan ada biaya tambahan dengan pencarian personil baru untuk menuntaskan rekaman tersebut.

Seorang penyanyi yang telah lama bergelut dalam dunia hiburan di daerah Batam harus dipanggil untuk menggantikan posisi yang kosong tersebut atas prakarsa dari produser. Bulles Simanjuntak menempati posisi sebagai suara 2 sekaligus suara 5 dalam formasi falset, terjadilah formasi trio jarak jauh dengan salah satu personilnya ‘pernyanyi terbang’ dari Batam, sebutlah mereka trio koalisi Medan – Batam.

Walaupun pertemuan mereka dalam waktu yang relatif sangat singkat, tetapi karena darah dan jiwa seni yang telah melekat dalam tubuh mereka, rekaman tersebut dapat mereka rampungkan dalam waktu yang sangat singkat dan diluar dugaan. Mereka merampungkan seluruh pekerjaan dari take vocal sampai dengan pengambilan gambar/klip di pulo samosir dalam tempo 10 hari, sungguh prestasi yang cukup baik.

Lagu mereka terdiri dari 10 buah lagu terdiri dari hasil karya para pencipta lagu batak yang cukup handal, dengan berbagai pola dan cerita, dari percintaan sampai pada petuah orang tua dan beberapa lagu komedi.

Dalam waktu dekat album mereka akan dapat dilihat dipasaran, namun anda beruntung sudah mengunjungi blog ini (sebelum album tersebut berada dipasaran, anda telah dapat menyaksikanya terlebih dahulu).

Silahkan didengar dan jika anda bisa memberi tanggapan apakah mereka layak untuk menempati posisi tertentu dalam blantika musik lagu batak nantinya?, silahkan beri tanggapan!. Simaklah 2 buah lagu mereka berikut ini :

Benget Ma Ho Cipt. Tagor Tampubolon

dang tarporo anak hu
aek sian andalu i
ikkon marbisuk ho
ikkon marbisuk ho anak hu
jala mar roha ho
jala mar roha ho
songon darapati

unang haraphon anak hu
udan sian langit i
burjuhon ma burjuhon ma
mula ulaon i
asa boi dapot
asa boi dapot
ni luluan mi

unang mago mago mangapian ho
marnida namaduma i
ikkon tiruon mu doi
ikkon tiruon mu doi
asa taruli ho
dingolu ngolu mi

songon duhut na nigisgis doi
molo parngolu ngoluon on
benget ma ho amang
benget ma ho amang
asa taruli ho
dingolu ngolu mi

Lao Pe Au Cipt. Yamin Panjaitan

soadong nian nasala manang hurang
pambaehnan hi nasailaon
jala ro do au nuaeng tu jolom
lao patakkashon i tu ho ito
aha salah hu mambahen muba

husukkun ho denggan
alai sai sip do ho

molo sai songonon nama tongtong
namasa dihita nadua ito
sai bossir soada do dibahen ho
asa sogo roha hu mida ho

tumagon ma tumagon ma
tumagonan nama au lao sian ho

lao pe au dao ito
asa tung sombu roham
ido pinarsitta mi
pasonang hon roha mi

huboto do ito
adong manopot ho
lao pe au lao pe au
lao pe au ito

Written by lagubatak

May 6, 2010 at 10:16 am

Molo Huingot

with 2 comments

Molo Huingot

molo huingot
molo huingot ma sude akka naung salpu i
molo sai hurimangi di rohakki

olo menetek ilu sian mata
dang tarhatahon be tahe
ai nungga salpu be sude lungun nai tahe

molo huingot
molo huingot ma muse si dongan magodang i
dongan saparmeaman na uju i

nunga ro di dia saonari
dongan saparmeaman i rap dakdanak uju i
tikki di huta i

saonari nungga dao au diparjalangan
huta hatubuan nungga leleng dung hutinggalhon
alai rohakki tung naso lupa do
di angka parsorian dohot dongan na uju i

o ale alogo
pasahat jolo tonakkon
tu sasude dongan magodang nunga di dia saonari

ai tung so boi be marpungu
songon tikki naung salpu i
tuhan ta i manang manggomgom hita on sude
tuhan ta i manang manggomgom hita on sude

Written by lagubatak

April 28, 2010 at 8:09 am

Maria

with one comment

Halo kawan-kawan, dalam beberapa minggu terakhir ni ada khabar gembira untuk khalayak pencinta dan pemerhati lagu batak atas hadirnya sebuah group penyanyi batak yang berasal dari pulo samosir dengan membawakan musik etnik batak dengan lagu lagu yang cukup berkesan, namanya adalah Marsada Band.

Jika diamati dari keberadaan lagu tersebut, beberapa diskusi yang dilakukan dengan para pekerja musik dan pemerhati, kehadiran group ini telah lama dinanti nanti oleh masyarakat luas. inilah salah satu lagu hits mereka yang telah beredar dipasaran seluruh indonesia saat ini Maria Cipt. Joeharlen Simanjuntak, simaklah………….

Maria

Nang pe naung muli ho ito hasian
Nang pe dao ho sian au
Anggo roha hu sai hot doi tu ho
Sahat rodi na lao mate au

Manghirim au diharorom hasian
Manghirim au dijanjimi
Nungnga martaon au paima ima ho
Surat sabikbik pe so ro

Sai holan na marsak au ito
Sipata sai ro do tu nipikku bohi mi
Maria taringot au naung salpui
Maria sega nai pikkiran hi marningot ho

Maria didia ho

Sai…………….

Written by lagubatak

April 22, 2010 at 7:21 pm

Horas Medan (Marsada Band)

with 16 comments

Khabar gembira bagi para pengunjung blog yang berada di area Kota Medan dan sekitarnya, karena anda dapat melihat performance dengan “live” Marsada Band di Grand Antares Hotel Jl. Sisingamangaraja, Medan pada tanggal 21 Februari Acara Batak Night.

Terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran, semoga sukses!!

disamping itu juga, Marsada Band akan tampil dalam acara “Ragam Serumpun” di DeliTV untuk pemirsa tv di Medan dan sekitarnya dengan jadwal tayang :

Phase 1 : Tanggal : 19, 22, 24 Februari 2010 pukul 17:30 – 18:00 (sore)
Phase 2 : Tanggal : 20, 21, 27, 28 Februari 2010 pukul 08:00 – 08:30 (pagi)
Phase 3 : Tanggal : 23 Februari 2010 pukul… 19:05 – 19:30 (malam)
Phase 4 : Tanggal : 01 Maret 2010 pukul 17:30 – 18:00 (malam)
Phase 5 : Tanggal : 02 Maret 2010 pukul 19:05 – 19:30 (malam)

Written by lagubatak

February 19, 2010 at 3:57 pm

Posted in 1

Angkola Voice

with 3 comments

Baru saja lahir era baru terhadap audio, musik dan visual untuk lagu tapsel (mandailing) yang membuat kita berdecak dan patut mensyukuri kehadiran teknologi untuk dunia seni suara. hal ini beralasan untuk dinyatakan karena baru baru ini sebuah group yang menamakan dirinya “Angkola Voice” menancapkan cita cita mereka untuk membangun jika berlebihan menyebutnya memperbaiki citra dan eksistensi musik tapsel di dunia rekaman.

Pada umumnya banyak dijumpai keunikan (perbedaan) dalam musik tapsel, artinya berbeda dengan musik puak batak lainnya : karo, toba, dan simalungun karena ketiga puak yang baru disebutkan ini terdapat kemandirian yang utuh atas musik daerah masing masing. Dalam musik karo kita akan menemukan kesendirian tanpa mengadopsi musik musik dari luar terlepas dari asal muasal mereka berada. sedangkan batak toba nyaris tak ada yang dapat menilai bahwa musik mereka didapatkan dalam musik musik etnis lainnya, kalaupun ada itu hanya modifikasi beberapa pelaku atau musisi yang ingin memoderenkan kehadiran musik batak itu sendiri yakni mencampurkan keragaman alat alat musik yang terdapat didunia luar. Sedangkan musik dan lagu tapsel, sungguh banyak bersinggungan dengan musik dan warna dari daerah daerah tetangga sekitar yang mempengaruhinya, sebut saja misalnya, minang dan melayu… Anda yang mendengar musik dan lagu tapsel saat ini, harus membutuhkan waktu sesaat untuk meyakinkan bahwa yang sedang anda dengar itu adalah lagu tapsel, dari kalimat dan jenis melantunkannya. Dahulu memang ada salah satu simbol yang menandakan bahwa musik tersebut datangnya dari tapsel (mandailing) karena mempunyai ciri khas tersendiri, itulah yang dinamakan “onang-onang”. sipelantun dapat menggabungkan beberapa kata dan kalimat dirangkai menjadi suatu syair namun bukan merupakan keutuhan dalam satu lagu (akan berbeda kalimat bila dilantunkan kemudian), hampir sama disandingkan dengan bentuk “mangandung” dalam batak toba.

Mungkin itulah yang dimaksud dengan era baru dan perbaikan yang ingin dibangkitkan oleh Angkola Voice, jatidiri lagu, musik dan pola penampilannya. dari segi musikalitas, walaupun memang tidak menghadirkan tradisi yang kolot, namun terlihat bahwa mereka ingin menyandingkan musik tapsel itu dapat menempuh batas batas daerah seperti musik batak toba yang sebelumnya telah dikenal luas diluar masyarakat batak sendiri.

Sebut saja contoh, salah satu lagu yang terdapat dalam album mereka adalah lagu “Kijom”, lagu ini adalah salah satu roh yang memikat siapapun pendengarnya, tidak peduli anda pernah mendengar lagu itu sebelumnya ataupun baru saja mendengar. si arranger/musisi ingin membuat “benchmark” yang tidak terdapat pada musik musik daerah lainnya namun utuh bahwa inilah yang disebut musik tapsel dengan menampilkan modernisasi didalamnya. Terlebih pula adalah cara mereka menyanyikannya, sipenata vocal nampaknya mengerti bahwa awal mula musik mandailing terdapat dalam ‘nafas’ onang-onang, maka dalam bait bait tertentu alunan onang-onangnya nampak nyata dalam beberapa ‘bar’ dari keseluruhan lagu.

Biasanya dalam hal revolusi (perubahan) dibutuhkan proses yang tidak mudah, termasuk dalam hal musik dan lagu, namun jika kita setuju bahwa revolusi itu selalu membawa nilai positif bagi penikmat dan seluruh pengguna. Walaupun kadang memang harus diyakini bahwa perubahan itu menjadi cemoohan terlebih dahulu namun akan diaminkan jika mayoritas menyetujuinya dengan baik. kira kira itu yang tersirat dari beberapa analisa atas album ini.

Namun secara nyata mereka dapat menyampaikannya dengan perbuatan atau pekerjaan yang telah mereka hasilkan, baik dari segi musikalitas, audio, visual dan artikulasi agak berbeda dari musik dan lagu tapsel yang pernah ada, dan perubahan itu diterima banyak pihak, karena menurut informasi setelah album mereka diluncurkan dalam waktu 1 (satu) minggu VCD yang mereka keluarkan sudah diatas rata-rata peredaran lagu tapsel lainnya, suatu hasil yang perlu dibanggakan dari segi pasar.

Ddalam album ini Angkola Voice menampilkan 12 buah lagu, 3 judul lagu diantaranya adalah lagu kenangan yang dimaksudkan sebagai tolok ukur darimana mereka beranjak untuk mensejajarkan sentuhan yang mereka lakukan. 9 buah lagu didalamnya adalah lagu ciptaan baru yang pantas untuk dinikmati.
1. Parjalang, 2. Batang Galoga, 3. Kecewa, 4. Marsak, 5. Rara, 6. Sangolu Sahamatean, 7. Tolu ari nai nama, 8. Supir Lintas, 9. Posma Roham, mayoritas lagu tersebut ciptaan Ali Rahmat Siregar, salah seorang pendatang baru yang pantas diperhitungkan untuk berkarya dalam lagu tapse. Sedangkan 3 judul lainnya adalah : 1. Sitogol (salah satu lagu tapsel yang selalu dinyanyikan oleh batak toba), 2. Kijom, 3. Bollo Bollo.

Saya tertarik untuk ingin membuktikan penjelasan diatas atas hasil kerja mereka, diantaranya adalah lagu Kijom yang dibawakan dengan baik dan tidak menghilangkan jatidiri lagu tapsel itu sendiri.

Kijom

Kijom ale kijom, kijom ale kijom
Kijom ale dongan ma dongan dongan

Losung ni pidoli
Tumbuk salapa indaluna
Janji ta na sadoli
Tumbuk tu halak do jadi na

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong
Ise na dikenang siboru na lom lom

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus ilu

Written by lagubatak

February 18, 2010 at 10:20 am

Sihumisik Parsiboras (Togama Trio)

with 45 comments

Sadia, sai sadia
Da leleng nai tu ambarita
Da leleng nai tu ambarita
Sadia leleng nai da inong
Da taonon hu menderita

Sihambir gabe gambir
Tandiang i ma gabe boras
Tandiang I ma gabe boras
Tudia pe au laos so tampil
Tu aha pe au laos so bolas

Sai tudia ma luluan da inong
Da sihumisik parsiboras

Boasa ma ale inang
Boasa ma ale amang
So dulo on mu anak mon
So dulo on mu pahompu mon

Hape massai leleng
Tar paima ima hami
Amang sodap nai
Molo huida ho di lambung hi

Written by lagubatak

February 16, 2010 at 11:43 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers