Archive for February 2009
Poda
Angur do goarmi anakkon hu (nama mu sungguh harum anakku)
Songon bunga bungai nahussusi (seperti bunga bunga yang indah itu)
Molo marparange na denggan doho (jika kau memiliki kepribadian baik)
Diluat nadaoi (ditempat mu yang jauh)
Jala ikkon ingot doho (dan ingat lah selalu)
Tangiang mi do parhitean mi (doa adalah salah satu landasan)
Dingolumi da tondikku (kehidupan mu oh anak kesayangan ku)
Unang sai mian jat ni rohai (jangan pelihara iri dengki)
Dibagasan rohami (didalam hati mu)
Ai ido mulani sikka mabarbar (karena itu adalah permulaan malapetaka)
Da hasian (oh anakku)
Ikkon benget do ho marroha (engkau harus tawakal hati)
Jala pattun maradophon natua tua (dan hormat kepada orang-orang tua)
Ai ido arta na ummarga i (karena itu adalah harga yang termahal)
Dingolumi (dalam kehidupan mu)
Reff.
Ai damang do sijujung baringin (engkaluah adalah penerus tahta)
Di au amang mon…. (bagi ku orang tua mu)
Jala ho do amang silehon dalan (dan engkaulah si perintis jalan)
Dianggi ibotomi (bagi adik adik mu ini)
Ipe ingot maho amang (dang ingat lah selalu)
Dihata podakki (seluruh petuah ku ini)
Asa taruli ho amang (agar kau mempunyai kehidupan)
Disihadaoani (di tempatmu yang jauh)
Molo dung sahat ho tu tano parjalangan mi (kalau kau sudah tiba di tempat tujuan mu)
Marbarita ho amang (berikan kami berita mu)
Asa tung pos rohani damang nang dainang mon (agar hati kami tidak was was)
Ditano hatubuan mi (ditanah kelahiran mu ini)
—————–
Lagu ini ciptaan Tagor Tampubolon, pertama dipolulerkan oleh Eddy Silitonga pada awal 80an, banyak aspek yang membuat lagu ini populer, notasi, alur cerita dan range tone yang tidak begitu sulit untuk dinyanyikan oleh siapa pun.
Lagu ini beberapa kali memboyong piala, apabila ada perlombaan Karya Cipta Lagu Batak.
horas,
bj
Lissoi
Dongan sa pang kila laan, o parmitu
dongan sa par ti naonan, o parmitu
ar sak rap mangka lu pahon, o parmitu
to le marap mangan de hon, o parmitu
Lisoi lisoi lisoi lisoi
o parmitu lisoi
lisoi lisoi lisoi lisoi
inum ma tu akmi
Sirupma sirupma dor gukma dor gukma
handit ma galasmi
Sirupma sirupma dor gukma dor gukma
ingkon rumar do i
Lisoi lisoi lisoi lisoi
o parmitu lisoi
lisoi lisoi lisoi lisoi
inum ma tu akmi
Lisoi … !
Inang
“cerita ini didapat dari http://dennysitohang.wordpress.com/2008/11/09/inang/
Inang yakin, “Kalau Barita sudah menjadi orang yang hebat, dan pasti pula segalanya dia ingat, rumah, kebun, kerabat, semuanya, dan tentu pula padaku … Barita sedang berjuang di ibukota, sebaiknya aku terus berdo’a agar dia hebat seperti impianku” Dulu, supaya anaknya itu dapat menjadi sarjana, Inang bersemangat mengerjakan apa saja.
Selain berkebun di belakang rumah, dia menjadi buruh bangunan, Mengetok batu di pinggir jalan, tukang pengaspal jalan dan juga mengamen di tempat-tempat keramaian. Uang yang didapatnya selalu ia kumpulkan seperak demi separak. Bahkan sering dia berlauk garam dan cabe kalau makan. Semua dia lakukan demi mengirit untuk biaya kuliah Barita di Jakarta.
Sampai kemudian Inang mendengarkan Risma, gadis 15 tahun tetangganya membacakan surat yang dikirimkan Barita sambil menenun ulos di depan jendela yang menghadap keluar rumah. “Inang, kami berharap, Inang mau tinggal di Jakarta bersama Aku, Tiur, Istriku dan Anak-anak ku. Besok si Hotman datang menjemput Inang. Aku harap Inang bersiap-siap. Aku dan Tiur rindu sama Inang. Kami tunggu Inang di Jakarta. Salam hormat, Barita.”
Sesudah dipikir-pikir, tentulah karena Inang sudah lama menahan rindu. Pergilah dia ke ibu kota bersama dengan Hotman yang diutus Barita untuk menjemputnya.
Bukan main senangnya, Barita mendapatkan Inang yang datang menemuinya. Langsung saja disiapkannya kamar yang luas dan mewah untuk mamaknya itu, pesta penyambutan yang mengundang pejabat-pejabat, sejumlah pengusaha dan artis-artis pun dibuatnya untuk memperkenalkan mamaknya itu di depan klien-kliennya.
“Dialah perempuan yang bisa bikin aku berdiri di sini,” ujar Barita di atas panggung menggunakan mic di hadapan seluruh tamu undangan. Dengan paksaan Barita dan Tiur sambil menarik-narik tangan Inang, ia pun tiba di atas panggung bersama dengan Barita dan Tiur.
Namun ternyata sikap Sinta (istri Barita) dan Ibu Sinta berbeda dengan Barita. Mereka tampak tidak senang, mereka merasa sikap Barita terlalu berlebihan dengan kehadiran mamaknya.
Di atas panggung Inang menerima sebuah kado dari Barita dan dengan paksaan Inang harus membuka kado tersebut di hadapan para tamu yang hadir. Sebuah kacamata bergagang emas yang diterima Inang langsung dipakainya dengan keragu-raguan. “Itu supaya Inang bisa melihat dengan jelas” ujar Barita.
Di hadapannya, Inang dapat melihat dengan jelas ruangan yang luar biasa mewah tapi cenderung berlebihan yang dipadati oleh tamu perempuan dengan perhiasan emas dengan rambut yang bersasak setinggi langit dan tamu lelaki berjas hitam mahal. Jelas pemandangan yang tak biasa bagi Inang.
Di sampingnya ia melihat Barita berdiri dengan baju tuxedo mahal rancangan perancang terkenal lengkap dengan dasi kupu-kupu, tapi terlihat sedikit tercekik dan penuh keringat karena saking ketatnya baju yang dikenakan Barita.
“Kurasa semuanya ini tak pantas buatku,” kata Inang menggunakan mic. “Sekarang baru jelas kutengok, ruangan ini berlebihan mewahnya, lampu-lampu ini kelewat terang, padahal pemerintah menganjurkan hemat energy, dan kalau aku lihat dari dasi kalian semua, jangan-jangan kalian pula yang ikut menyusun peraturan itu. Kau Barita, apa bajumu itu tak kesempitan buatmu?” tambah Inang dengan keluguan dan kesederhanaannya.
Pesta pun berakhir, di kamar yang cukup luas, tampak sosok Inang tidur di atas tempat tidur yang besar dengan dibaluti berlapis-lapis pakaian dan selimut. Inang duduk dan meraih remote AC, namun ia tak dapat mematikan AC meski sudah mencoba menekan tombol-tombol yang ada di remote. “Dingin pun, dingin semu di Jakarta ini,” ujarnya dengan kesal.
Diraihnya tas-tas yang dibawanya dari kampung, dan pindah ke kamar yang lebih kecil di belakang rumah bekas kamar pembantu Barita. Di dalamnya hanya ada lemari kecil dan tempat tidur kayu yang kecil.
Pagi hari, Barita yang akan berangkat ke kantor tidak dapat menemui mamaknya di kamar terlihat panik mencari. Semua yang ada di rumah menjadi sasaran kemarahan Barita.
Sampai akhirnya seorang pembantu Barita menemukan Inang berada di kamar belakang.
Barita tidak senang melihat Inang pindah kekamar tersebut apalagi membersihkan dan membereskan kamar sendiri, Barita ingin Inang hanya bersantai-santai saja di rumah, karena semuanya sudah ada pembantu yang mengerjakan. Namun beda bagi Inang, Inang tidak mengerti bersantai-santai seperti yang diinginkan Barita. Perdebatan di dalam kamar antara Barita dan Inang terjadi sampai akhirnya Barita menerima telpon dan melambaikan tangan pada Inang untuk pamit berangkat kerja.
Hari demi hari dilalui Inang dengan suasana seperti orang asing di rumah Barita. Sampai pada klimaksnya, Inang melihat Tiur anak perempuanya yang sedang berciuman mesra dengan pacarnya di pinggir jalan di seberang salon. Sambil memanggil-manggil Tiur dan tanpa memperdulikan kendaraan-kendaraan yang berseliweran, Inang dengan cueknya berjalan menyeberang jalan.
Mobil-mobil pada ngerem mendadak. Seorang supir berteriak marah, “Kalau mau reunian jangan di tengah jalan, ini Jakarta.” Dengan emosi Inang menjawab, “Jakarta! Makan kaulah Jakarta kau itu! Hebat kali kayaknya!”
Melihat situasi ini, Tiur justru berbalik marah kepada Inang. Tiur merasa malu dengan penampilan Inang yang terkesan kampungan terlebih dengan sikap Inang yang marah-marah kepada Tiur di pinggir jalan. Dengan emosi Inang balas memarahi Tiur, “Kau yang bikin malu aku.. Tak ada keturunan kita seperti kau.. Untuk apa kau berpeluk-pelukan dan berciuman di depan kantor orang di pinggir jalan.. Dosa siapa ini Tuhan?”
Sementara Barita dan Sinta terus ribut dengan keberadaan Inang di rumah mereka, Sinta merasa Inang tidak bisa menghargai orang-orang di rumah dan keras kepala.
Suatu pagi, Inang melihat satpam sedang bersitegang dengan sepasang suami istri yang membawa seorang anak perempuan kecil. Inang menghampiri, lalu suami istri tersebut memberitahukan kepada Inang kalau mereka butuh perlindungan hukum dari Barita sebagai pengacara.
Inang membawa mereka menemui Barita di kantornya, tapi justru kekecewaan yang diterima Inang. Barita justru tidak dapat membela keluarga tersebut, karena Barita saat itu sedang menjadi pengacara perusahaan pabrik yang sedang dituntut anak keluarga tersebut dalam kasus yang berbeda. Dengan kecewa ibu si anak yang membutuhkan perlindungan hukum berkata dihadapan Inang, “Anak ibu sudah menjadi pengacara yang komersil.”
Di dalam kamar di rumah Barita, sambil duduk di pinggir tempat tidur dengan hati yang berkecamuk, Inang berkata dalam hati, “Barita sudah lupa akan semuanya, ia lupa apa yang harus dia perjuangkan, bahwa kita berjuang bukan untuk uang.. Dia pikir uang bisa membeli segalanya..”
Kekecewaan Inang bertambah ketika mendapati kabar Tiur telah ditahan Polisi karena sedang berpesta narkoba di apartemen milik teman Tiur. Terlebih-lebih ketika seluruh keluarga Sinta mengungkit-ungkit bahwa kesuksesan Barita tidak terlepas dari bantuan mereka. “Jujur saja, kalau tidak karena kami, Barita mungkin sedang mengais-ngais mencari pekerjaan di LBH sana,” kata Ibu Sinta.
Namun Inang melarang Barita untuk mengeluarkan Tiur dari tahanan meskipun itu akan mencoreng kehormatan keluarga. “Tiur harus menjalani persidangan, dia harus menerima hukuman atas perbuatannya. Tiur sudah terperosok, dan kau yang membuatnya semakin terperosok”.
Di hadapan orang tua Sinta, dengan tegas Inang mengatakan, “Ya, aku tega! Aku tanamkan di otak mereka untuk bertanggungjawab.. Dengan begitulah aku membesarkan dan menyekolahkan anak-anakku hingga mereka bisa seperti ini.. Mungkin dia lebih baik mengais-ngais di LBH sana untuk mencari pekerjaan, daripada menutup mata untuk membela orang lemah dan menghabiskan waktu untuk membela para koruptor yang jelas-jelas bersalah!! Dan kalian semua di sini ikut menikmati hasilnya.”
Sejak saat itu Barita mulai gamang, perkataan-perkataan Inang kepadanya terus-menerus terngiang-ngiang dikepalanya, perkataan-perkataan itu terus menterornya, di kantor hingga ketika sedang mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah, Sinta sibuk menunjukkan tabloid yang mengekspos kasus Tiur, Barita tak memperdulikannya. Barita terus menuju kamar Inang. Tapi justru Barita tidak mendapati Inang di dalam kamarnya. Barita hanya menemukan barang-barang yang dibelikannya buat Inang termasuk kacamata bergagang emas di sisi tempat tidur dan sebuah buku kecil yang di sampulnya tertulis nama Inang di atas bantal. Barita pun terduduk di sisi tempat tidur sambil memegang buku kecil dan kacamata Inang.
Dengan bergegas ia masuk ke kamarnya, Barita sibuk memasukkan perlengkapannya dan langsung menutup tas ranselnya dan langsung berjalan keluar tanpa memperdulikan Sinta.
Barita menjadi cemas, ia segera mencari kemana kira-kira Inang pergi. Barita berkeliling, ke berbagai jalan, mencari-cari. Menduga Inang akan pulang ke kampung, Barita mendatangi stasiun-stasiun Bis yang bertrayek Jakarta-Medan. Barita tiba di stasiun bis terakhir, ia mengecek daftar penumpang dan ternyata tertera nama mamaknya. Barita bertambah panik, dan tanpa pikir panjang ia segera mengejar bis yang telah lama berangkat.
Sesampai Barita di pelabuhan Merak. Semua bis yang menuju Medan diperiksanya. Lalu di dalam kapal penyeberangan, dicarinya Inang ke segala pelosok kapal. Tetap tidak ada hasil.
Kemudian, sepanjang perjalanan menuju kampung, dia seringkali menyetop bus–bus yang diperkirakannya membawa Inang. Dengan tanpa lelah, Barita terus memburu. Rumah-rumah makan tempat-tempat bis singgah pun didatanginya. Barita terus mencari dan mengejar dengan perasaan cemas.
Dalam pengejaran seperti itu, Barita seringkali diingatkan oleh kenangan-kenangannya. Ketika dia masih kecil, dan lalu meningkat remaja. Sendirian Inang merawat dan melindunginya. Bahkan terus bekerja keras ia agar dapat membesarkanya. Sampai Barita kuliah di Jakarta, dan akhirnya menjadi sarjana. Lalu sukses sebagai pengacara yang ternama.
Sementara itu Inang menumpang bis yang membawanya menuju kampung. Sepanjang perjalanan, dia terus merasa kecewa pada kenyataan yang terjadi. Barita ternyata tidak seperti apa yang diimpikannya. Namun dia masih berharap, dan karena itu dia berdo’a, supaya Barita dapat benar-benar menjadi impiannya.
Sepanjang perjalanan, sangat banyak yang dialami oleh Inang. Pengalaman-pengalaman manis maupun, pahit. Bis terperosok, lalu mogok yang membuat Inang harus mencari tumpangan karena sudah kehabisan uang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus lainnya. Menumpang dengan mobil yang isinya anak-anak band, sampai harus menumpang mobil terbuka yang membuat Inang masuk angin.
Barita yang terus menyusuri jalan menuju kampungnya, merasakan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Ketegangan dalam perjalanan semakin menjadi, dan akhirnya Barita kecelakaan, mobilnya rusak.
Barita terus tegang, dia harus bertemu menghadap Inang, dan langsung meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ia berharap Inang selamat, tetap sehat, dan dapat ditemuinya di rumah. Di dalam mimpinya Inang pergi menjauh darinya.
Sampailah Barita di rumah Inang, Rumah yang sangat sederhana, bahkan nampak rusak di sana sini. Dengan perlahan Barita memasuki rumah yang ternyata tidak terkunci. Barita melihat meja makan dengan dengan sepiring kosong yang ditengah-tengah mejanya telah terhidang sebakul nasi, serta lauk yang baru dimasak.
Barita kembali berjalan memasuki tiap ruangan yang terlihat rapi dan bersih. Namun tetap tak ada Inang di sana. Barita kemudian berjalan menuju pintu belakang yang terbuka dan sinar matahari yang masuk menerangi bagian belakang rumah.
Barita mendapati Inang sedang duduk di kursi di tengah halaman yang dipenuhi rumput serta bebungaan indah. Barita berjalan perlahan ke depan Inang. Mata Inang terbuka, seakan menikmati pemandangan danau dihadapannya.
Barita menatap Inang lekat-lekat. Mata Barita berlinang air mata. Dengan perlahan Barita mengguncang tangan Inang yang telah tak berdaya. Sejak itu, Barita sadar Inang telah tak ada bersamanya. Barita terduduk, air mata mengalir pelan.
Di pangkuan Inang tampak sebuah lipatan kain ulos lama dan secarik kertas dengan tulisan, “Akhirnya kau sampai! Ulos ini buat kau, supaya kau selalu ingat darimana kau berasal!”
Barita menangis dengan tubuhnya yang terguncang, namun ia tersenyum. Barita menutup mata ibunya dengan telapak tangannya. Barita menggendong tubuh ibunya masuk kedalam rumah. Akankah Barita mencari Inang di Akhirat yang begitu luas..?(Creatted By. Irwan Siregar & Firman Triyadi)
Marimbang
Boasa ma ikkon saonari ho hutanda (mengapa sekarang engkau ku kenal)
Ai tung boasa ma ikkon saonari ho huida (mengapa justru sekrang kau kulihat)
Hape ditikki haposoon hi (padahal masa mudaku)
Massai holip do ho jala buni (engkau tak pernah kulihat)
Hape dung saonari nungga tung sega (tapi sekarang sungguh merusak ‘suasana’
Sonang hian do jala aman situtu parsaripeon hi (awalnya keluargaku cukup bahagia)
Dunghon marhasohotan au tinodo ni (setelah aku menikah dengan pilihan)
Damang dainang i (kedua orang tuaku)
Didok hon halak au nungnga gabe (orang meninlai saya sudah cukup nyaman)
Torop so piga gelleng hi (mempunyai beberapa anak)
Sonang hian do parsaripeon hi (tadinya keluarga ku sungguh bahagia)
Boasa ma ikkon saonari ho hutanda (mengapa justru sekarang engkau kukenal)
Ai tung boasa ma ikkon saonari ho huida (mengapa sekarang kau kulihat)
Hape ditikki haposoon hi (pada saat aku muda dulu)
Massai holip do ho jala buni (kau sungguh tersembunyi dan tak pernah kulihat)
Ikkon marimbang marimbang nama sekarang menjadi harus ber-poligamy)
=====
Lagu yang cukup memukul persendian (dugul dugul, holi holi) para kaum ibu tentang kejadian yang terlihat dari sang suami yang mendapatkan tautan hati pada masa puber kedua:-(
sai unang ma nian adong na songoni bah!, alana sipata rokkap i nabinahen do dangi tahe hamuna??.
Lagunya cukup indah dan bagus, dibawakan ulang oleh Simanjuntak Stars dalam Album Parningotan!!
horas,
bj
Naposo
sipata hancit do ulu mangida angka anak boru on (santabi…tu
parsattabion)
molo ni umma, idok iba pagaranghu
molo so ni umma, idok iba na sobaoa
molo ni puji, idok iba holan na margabus
molo so ni puji, idok iba na so burju
molo nioloan sude hatana, idok iba na so adong pendirian
molo ndang ni oloi, idok iba na so pengertian
molo sering sering iba ro martandang, idok tu iba ‘ah bosan ‘
molo so ro iba da, di dok tu iba ‘na adong do hamlet mu na asing’
molo marpangkean na bagak iba, di dok iba play boy
molo daong, i dok iba par huta huta
molo cemburu iba, idok ibana, ‘ndang denggan songoni bang’
alai molo dang cemburu iba, idok ‘na so holong be roham tu au’
ah memang pusing do mamereng angka anak borua saonari on, pagodanghu
pangidoan na, Hansit Ulu
—-unknown—–
Simanjuntak Stars
Anda pernah mendengar petinju bayaran?, mereka tidak butuh gelar juara dan atribut lainnya yang penting mereka bertinju, kalah menang ada bayaran!. Sepertinya saya melihat persamaan itu dalam group yang satu ini. Karena dua dari tiga personil group ini menjadi penghias beberapa cover/sampul kaset/vcd yang sedang beredar sekarang sekarang ini.
Simanjuntak Stars itu sendiri terbentuk tahun 1998, waktu itu terbentuk atas keperdulian seseorang yang bermarga Simanjuntak untuk menunjukka bahwa Simanjuntak itu juga ada penyanyi yang patut dipertimbangkan. Personil mereka waktu muncul pertama sekali adalah : Nikson Simanjuntak (sekarang personil Lamtama), Max Simanjuntak dan Santer Simanjuntak. Lagu mereka yang disenangi masyarakan adalah “Dang Lepelmu Ahu Ito” ciptaan Bunthora Situmorang. Dinilai dari segi vocal, bukan karena saya marga Simanjuntak, mereka pantas dihardik untuk lebih disiplin lagi dalam memilih pasangan agar menjadi penyanyi favourite, kelemahan mereka hanya pada tidak adanya keseriusan tekad, sungguh sayang olah vocal mereka yang begitu prima berlalu begitu saja detelan oleh waktu.
Pada saat kehadiran mereka pertama sekali, banyak kalangan yang memandang sebelah mata bahwa trio ini hanya sekedar penghias atau pelengkap penderita di komunitas artis batak. tapi ada juga yang menaruh harapan bahwa mereka sebenarnya mampu untuk berhak menyandang penyanyi favourite tadi. Ternyata Benar! setelah mereka mengeluarkan album pertamanya, 5.000pcs kaset dalam waktu 2 minggu tersebar ke seluruh nusantara, menurut produsernya tidak kurang dari 25.000pcs kaset mereka beredar selama itu, jumlah peredaran kaset diatas rata-rata. Dan lagunya menjadi trend dan berhasil memikat perhatian, lagu mereka memang jarang dinyanyikan oleh penyanyi yang mempunyai vocal ‘biasa biasa saja’, karena range kunci yang dibuat oleh penulis lagu itu sangat cukup. artinya… pada intro lagu ini dinyanyikan dengan datar oleh Max, dan tiba saat reff 1 disambut oleh vocal nixon yang lumayan gelegar, nah tiba tiba dalam reff klimaks nya barulah vocal yang klimaks dan cukup tinggi yang dimiliki Santer menyambar dengan menghentak nada tinggi.
Mereka dapat cepat mengambil perhatian pendengar musik/lagu batak, lagu Dang Lepelmu Ahu Ito menjadi salah satu lagu yang sering terdengar di cafe-cafe atas permintaan pengunjung. Namun penyanyi banyak yang sulit membawakan lagu ini seperti yang dibawakan oleh mereka dengan pertimbangan “range” tadi, dari nada rendah yang tiba tiba menukik nada klimaks. Mereka sempat menerbitkan 2 album batak dengan Simanjuntak Stars.
Tapi sayang pada tahun 2000 salah satu personil trio ini harus mengundurkan diri untuk sementara dengan masalah pribadi, Max harus bersedia menanggalkan dunia nyanyi, saat itu dia tidak sadar bahwa pendengar sedang menunggu kehadiran mereka pada album album berikutnya. Pada saat alpanya Simanjuntak Stars itulah muncul Trio Lamtama dengan lagu “Unang Bolokkon Tanda Hi”. yang juga beranggotakan Nikson Simanjuntak sebagai leader vocal juga.
Pada tahun 2005, kembali Max mencoba untuk menapakkan kakinya masuk dalam dunia penyanyi lagi dalam dunia rekaman, bermaksud muncul lagi dengan formasi personil yang berbeda, karena Nikson Simanjuntak sudah menjadi pusat perhatian penikmat lagu batak dengan baju Trio Lamtama dan telah dikontrak oleh salah satu produser lagu batak, tidak diperbolehkan untuk bernyanyi di group group lain untuk sarana kaset/vcd.
Kini Simanjuntak Stars muncul dengan formasi baru : Halim Simanjuntak, Max Simanjuntak dan Santer Simanjuntak dengan album volume 3, lagu “Pabagas Tanoman” ciptaan Soritua Manurung, album ini menarik dan mampu juga menandingi album album sebelumnya, namun karena lalulintas peredaran lagu batak dalam warna trio sangat sibuk (baca:padat), maka mereka sepertinya tidak terdengar, namun mereka dengan setia mengikuti trend.
Pada penampilan show mereka di cafe cafe jakarta menggantikan kehadiran Max dengan Budiman Simanjuntak, dan mereka merubah nama kalau show di cafe cafe jakara menjadi El-Junt Stars, nama ini diambil dari kedua group yang mereka ikuti. Nama group mereka lainnya adalah Eljunt Voice, dengan beranggotakan : Halim Simanjuntak, Ganda Simanjuntak dan Santer Simanjuntak, mereka mengambil jalur dengan membawa lagu kenangan pop Indonesia “Jangan Biarkan” ciptaan Hanny Tuheteru. mereka bergabung dengan Ganda Simanjuntak adalah salah satu perwira TNI yang sekarang sedang bertugas di Markas TNI Bukit Barisan Medan, sampai video clip mereka pun menyertakan TNI yang pintar menari. Mudah mudahan apa yang saya jelaskan sebagai penyanyi bayaran tadi bisa anda pahami dengan keterangan ini.
Belum selesai sampai disitu, Halim dan Santer juga pernah menjadi salah satu penyanyi yang dibayar jauh melebihi honor penyanyi batak umumnya, pada saat mereka membawakan lagu “Biar Biarlah Sedih” ciptaan Rinto Harahap dengan membawa bendera Trio Delta bersama Tony Pakpahan, album ini terangkat atas ketertarikan salah seorang batak yang berprofesi sebagai Hakim marga Sihombing, keranjingan dengan lagu “Rasa Cinta” yang juga terdapat dalam album tersebut dengan vocal bariton-nya, dia rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk pembuatan album ini yang akhirnya menjadi suatu preseden buruk bagi produser produser lain untuk kerjasama dengan pihak distributor Virgo Records saat itu.
Tampaknya belum puas juga, Halim dan Santer bersama Budiman Simanjuntak personil yang menemani mereka bernyanyi di cafe cafe jakarta, akhirnya mengeluarkan sebuah album batak lagi “Sipanganon Na Tabo” ciptaan Soritua Manurung, namun sayang album ini tidak bisa memuaskan pasar mereka seperti yang mereka lakukan dengan Simanjuntak Stars.
Simanjuntak Stars sendiri telah mengeluarkan beberapa album mereka lainnya dengan bendera Wahana Records, diantaranya “Album Special bersama Jack Marpaung” dengan lagu Tuisema Anakhonhi Manjou Oppung ciptaan Jack Marpaung, disusul dengan “The Best Juntak Stars” dengan mengambil hits “Tangis Di Pesta Natal” ciptaan Johannes Hutasoit dan “Tataring Parapian ciptaan Yamin Panjaitan.
Menurut informasi yang dipercaya, bahwa Simanjutak Stars telah melakukan pengisian vocal dengan pihak Wahana Records sebanyak 7 album, termasuk dengan lagu lagu rohani dan album volume 4 mereka yang belum dipasarkan. Kami sedang menuggu waktu yang tepat dan itu akan terjadi secepatnya, demikian produser Wahana Records menjawab ketika ditanya apa rencana selanjutnya dengan keberadaan Simanjuntak Stars.
##
Tumagon Na Ma Mate
Nakkok au tu dolok
Da tuat au tu toruan da inang
Hubereng tu siamun hubereng tu hambirang
Sude mauli bulung huida humaliang
Boha ma au da hundul au
Martuktuk hian
Huingot lakkakki
Huingot I laos somarujung dainang
Nungnga sambor nipikku parsibaran lapa lapa
Didok sibarakki do au sigodang hangalan
Boha ma au mate diparalang alangan
Reff.
Sittakkon au da porhas
Tikkup hon au da sombaon
Buatton au da begu
Unang hutaon na songonon
Tumagon na ma au langge da inang
Unang sikkoru amonge
Tumagon nama au mate da inang
Unang mangolu amonge
Sittakkon au sittakkok
Sittakkon au sittakkon
Da porhas uuuu
Buatton buatton tikkuppon
Tikkup pon d porhas
…………..
Lagu lawas yang cukup manis dibawakan oleh Rita Butarbutar dengan vocal yang prima, and bisa membayangkan apa saja jika mendengar lagu ini, dengan musik orkestra yang dimainkan oleh Andolyn Sibuea. Lagu ini kerap dibawakan Rita Butarbutar pada acara shownya kepada penggemar setianya.
Lagu Ciptaan Nahum Situmorang ini adalah lagu yang cukup berkesan dari kehidupan pribadi sang penulis lagu ini.
Tumagogon nama mate….. (ah… gait gait hu doi:-))
bj
Trio Ambisi
Trio ini adalah merupakan ranking teratas saat ini dalam hal jam terbang untuk dunia rekaman maupun undangan untuk manggung pada pesta pesta besar baik di sekitar Jakarta maupun luar kota.
Para personil trio ini adalah : Andy Situmorang, Joe Harlen Simanjuntak dan Charles Simbolon, khusus nama yang saya sebutkan terakhir adalah salah satu dari sedikit artis batak yang memiliki suara yang khas dan mempunyai talenta yang khusus.
Trio ini dapat disebut sebagai pionir group batak yang menyanyikan lagu kenangan pop indonesia pada tahun 2000, setelah J-M-T (Joel Simorangkir, Maruli Sinaga, Tony Simarmata) yang berlabel Blackboard pada tahun 1993. dan Brothers (Marulis Sinaga, Max Simanjuntak, Hermon Pangaribuan) yang berlabel Wahana Records pada tahun 1998. Trio Ambisi mencoba belajar dari kegagalan pasar yang dialami oleh rekan rekan mereka sebelumnya, khusus untuk JMT sebenarnya mereka tidak dikategorikan gagal, karena penjualan kasetnya selalu mengalir dan menambah kocek Blackboard Record yang memang sudah mempunyai pundi pundi besar dari hasil penjualan kaset nasional dan izin edar untuk lagu lagu baratnya, maka tidak terlalu jelas sampai berapa oplah cetakan yang telah mereka keluarkan.
Trio Ambisi adalah alternative dari Trio Amsisi, dengan vacuum nya keberadaan Trio Amsisi saat itu, Charles Simbolon mencoba coba untuk membangun satu group lagi, dia bertemu dengan Joe Harlen Simanjuntak dan Andy Situmorang sambil latihan dan bermain di lapo lapo dan cafe cafe batak saat itu, mereka merasa cocok untuk membangun karir mereka dalam bentuk penerbitan album.
Kerjasama dengan beberapa produser (terutama produser batak) mereka lakukan dan hasilnya tidak begitu memuaskan, bisa dipastikan karena kecilnya ruang lingkup distribusi yang dimiliki oleh produser batak tersebut, saat itu produser batak bagaikan mati satu tumbuh dua, artinya dalam satu tahun bisa muncul nama baru menjadi produser namun karena kelemahan manajemen maka tak lama kemudian redup bagaikan sumbu yang kehabisan bahan bakarnya.
Akhirnya mereka dilirik oleh seorang produser taipan yang telah banyak mengorbitkan artis artis batak saat itu, namanya Columbia Records, mereka dianjurkan untuk merekam suara mereka dalam sebuah kaset dengan menggunakan gitar kopong, tak lama setelah mereka menyerahkan hasilnya, Koh Rudy menyuruh mereka untuk masuk rekaman, terbitlah satu album batak dengan judul “Memory”.
Album ini tidak begitu menarik, namun karena penguasaan pasar yang cukup luas distribusi Columbia Records, dan banyaknya produksi produksi yang laku saat itu, maka Album “Memory” ikut terseret ke pasaran, dan Trio Ambisi mulai dikenal pendengar. Mereka juga menerbitkan album rohani dan dangdut batak dari produser ini.
Tahun 1993 Bragiri Records, dibawah pimpinan Binsar Silalahi pengusaha pedagang rotan asal Pakkat ini mempunyai insting yang cukup kuat, dia telah lebih dulu sukses merekam beberapa lagu dangdut indonesia, seperti “Pembaringan Terakhir” yang dibawakan Gabby Parerra.
Binsar sengaja memesan sebuah lagu khusus kepada Bunthora Situmorang (konon lagu tersebut adalah cerita kehidupannya) untuk dinyanyikan Trio Ambisi, jadilah lagu itu terekam dan dibuat dengan konsep yang matang, dengan kwalitas mixing yang betul betul diawasi dengan ketat maka tanpa ragu Binsar merelease album tersebut dengan mengeluarkan sebahagian dari tabungannya untuk dipakai pendobrak peredaran kaset Trio Ambisi. Hampir setiap hari lagu “Unang Au Solsoli” terdengar di TVRI dalam program nasional dan beberapa kali muncul di stasion TV swasta nasional.
Pasar tidak bisa dibendung, bagaimanapun distribusi yang tadinya kecil mendadak menjadi pekerjaan yang sibuk untuk karyawan Bragiri Record melayani pasar saat itu, saya pun termasuk salah satu yang sibuk memesan kasetnya pada saat saya berada di Purwokerto untuk salah satu proyek yang dilakukan perusahaan dimana saya bekerja, saya melihat iklan mereka di TVRI dengan clip seorang bintang iklan ngetop saat itu bersama seorang wanita cantik dengan menggunakan ulos, saya masih ingat persis adegan itu dilakukan didaerah salabintana, jawa barat.
Trio Ambisi kebanjiran job, dan mereka sering bepergian ke Medan, Palembang, Surabaya dan kota kota besar lainnya untuk menghibur orang orang batak yang betul betul kehausan setelah beberapa lama tidak terpenuhi.
Demikianlah berjalan sampai hampir 5 tahun mereka banyak mengeluarkan album dari produser produser lain, sedangkan Bragiri terlena dengan kesuksesan yang diraih atau konsentrasi dengan usaha yang lain maka untuk produksi kaset menjadi hal nomor urut terakhir.
Sejak tahun 1998 Trio Ambisi mulai agak lesu, mereka seringkali hanya datang ke studio sekedar bersenda gurau dengan rekan artis batak lainnya tanpa kegiatan yang pasti.
Bermula dari perbincangan atas kegagalan trio yang baru mengeluarkan album pop kenangan indonesia, Charles Simbolon diam diam merekam dalam hati perbincangan tersebut, menurut banyak kalangan kegagalan tersebut lebih terfokus kepada kegagalan warna vocal dan pelafalan, orang batak ternyata masih banyak tergelincir untuk pengucapan/bernyanyi berbahasa indonesia.
Beberapa hari kemudian dia menawarkan proyek untuk pembuatan proyek album pop indonesia kepada salah satu produser batak pendatang baru BMJ yang dimiliki oleh seorang pengusaha percetakan marga Tambunan.
Tambunan setuju dan menyerahkan seluruh ide tersebut untuk ditindak lanjuti oleh almarhum A. Sijabat yang bertugas sebagai pengumpul lagu, pelaksana rekaman.
Sijabat yang ditunjuk untuk melaksanakan album ini menghubungi Tigor Gibsy Marpaung sebagai penata musik dan penata vocalnya. dan didampingi musisi Jimmy Pangkerego, pemusik tamu Gatot untuk pengisi Gitar dan Henry Lamiri dengan gesekan biolanya.
Banyak sudah memang kalangan artis batak pada saat mendengar pada saat take vocal berkomentar. bahwa album ini akan menjadi pengukir sejarah baru lagi pada Trio Ambisi, perpaduan vocalnya yang hampir sempurna dari ketiga personil trio ini.
Tapi bukan Tigor namanya jika tidak ada kontroversi, dia mempermasalahkan beberapa kali pengisian musiknya, ….. #### lah, musiknya jangan dibuat seperti itu dong, ini harus diganti!! kira kira begitu komentar arranger Tigor Gipsy dengan aksen Medan nya yang terdengar khas dan sengau, kalau musiknya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. beberapa kali memang terjadi perombakan disana sini.
Singkat cerita, Trio Ambisi kembali menjadi bulan bulanan pasar lagu pop kenangan indonesia, lagu “Jangan Sampai Tiga Kali” ciptaan Tagor Pangaribuan, “Demi Kau dan Sibuah Hati” Ciptaan Pance Pondag adalah lagu yang sering terdengar, dari aceh ke papua lagu ini berkumandang dengan gelegarnya, baik di rumah rumah makan, karaoke bahkan di mobil angkutan, lagu mereka sering terdengar. Tambunan kaya mendadak!.
Berkat lagu pop kenangan itu juga mereka menjalin hubungan “keluarga” angkat dengan Gubernur Papua, dan khabarnya mereka mendapatkan hadiah berupa tanah di daerah itu, dan gubernur dengan tegas mempersilahkan kedatangan Trio Ambisi kapan saja mereka mau. Karena konon Trio Ambisi turut setia menemani Gubernur pada masa masa kampanye pencalonannya.
Puncaknya mereka diberi kesempatan untuk membuat album daerah Papua, sungguh hal yang belum terjadi selama ini. Seharusnya Trio Ambisi pantas menerima penghargaan dari Gubernus Sumatera Utara, bukan kah mereka dapat dianggap sebagai duta orang batak yang mampu membawa nama orang batak jauh melambung didaerah orang.
Trio Ambisi telah mengeluarkan tak terhitung lagi album batak dan pop indonesia tidak kurang dari 5 album dari peroduser yang berbeda, mereka juga ditaksir beberapa produser untuk membuat album daerah, toraja, minang dll. Perjalanan keluar kota adalah hal yang sangat rutin mereka lakukan, sampai mereka kelebihan job karena banyak yang berbenturan waktunya, maka group lain biasanya kebagian untuk menampung.
Tahun 2007 adalah puncak ketenaran dan awal merosotnya pula, karena pada tahun tersebut salah seorang personilnya Charles Simbolon menderita sakit, membuat dia harus opname di beberapa rumah sakit di jakarta ditambah dengan usaha untuk penyembuhan harus rela menahan sakit untuk pergi ke negara jiran malaysia, namun sampai saat ini dia harus istirahat total sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Mudah mudahan dia masih bisa bernyanyi, tukas salah seorang penggemar setelah melihat Trio Ambisi, Charles digantikan oleh orang lain mengisi kekosongan sementara.
Trio Andesta
Andesta = Anak Desa Tapanuli, demikian mereka memberikan nama pada Trio yang muncul pada akhir tahun 90an, dan kehadiran trio ini sedikit mengobati akan kebutuhan penyanyi batak demi meneruskan cita cita kesinambungan penyanyi batak alias sebagai generasi baru.
Pada awalnya group ini muncul dengan beranggotakan : GoodWill Pakpakan, Benget (Ary) Manurung dan Joan Polado Sitorus, mereka sempat menerbitkan 2 album lagu batak pada saat mereka bergabung, diantaranya satu album diluncurkan bersama bintang tamu Johny S. Manurung (yang juga abang kandung Benget Manurung), Johny bertindak sebagai penata lagu sekaligus sebagai produser mereka saat itu, lagu mereka yang sempat bergeliat adalah Molo Marrokkap Napogos Tu Namora ciptaan Fredy Tambunan.
Namun setelah berjalan hampir 4 tahun nampaknya Joan Polado Sitorus tidak begitu tertarik untuk turut serta bergabung dengan dua rekannya tersebut, dengan alasan bahwa dia tidak “interest” untuk ikut bernyanyi di beberapa cafe cafe batak yang bertebar di daerah Jakarta seperti para penyanyi penyanyi batak umumnya. Konsekwensi harus diambil, dia harus merelakan temannya untuk mencari penggantinya mengisi acara acara sekaligus membawa bendera Trio Andesta.
Kini Trio Andesta beranggotakan : GoodWill Pakpahan, Benget (Ary) Manurung dan Sardion Sinaga, dan telah mengeluarkan beberapa album batak dan pop indonesia sampai saat ini. Album mereka yang pertama dengan judul “Marinahon Parjujui” ciptaan Liong Tambunan dilanjutkan dengan album berikutnya “Sapala Naung Maridi” ciptaan Anton Siallagan, keduanya adalah produksi CMP Records, salah satu produser yang banyak menerbitkan lagu lagu batak di tanah air.
Frankly speaking, Trio Andesta bersama Joan Polado jauh lebih matching daripada yang ada sekarang, namun spertinya mereka masih tetap dalam proses berusaha terus untuk berbenah untuk mematangkan vocal tiga-nya yakni Sardion, kalau didengar rasanya masih ada yang kurang, atau mungkin lebih tone, alias sangat sering tidak in-tone. Tapi salut buat untuk kareogafernya, bentuk tubuh yang ideal dan paras yang lumayan “tampan” dibanding dengan penyanyi penyanyi lain adalah nilai lebih buat mereka, tidak heran saat ini banyak penggemar mereka terdiri dari wanita wanita yang terkagum kagum kepada penyanyi trio batak.
Menurut saya mereka cukup terandalkan untuk dijadikan penyanyi pujaan berikutnya setelah Lamtama mulai pudar, namun dengan syarat mereka harus mengurangi jadwal manggung malam hari di cafe-cafe seperti yang sekarang ini mereka geluti, diganti dengan latihan latihan yang intensif.
Goodwil Pakpahan sebagai leader vocal, sipenyanyi muda yang punya vocal “mangiris ate ate” ini sepertinya tau bahwa vocalnya masih perlu banyak diasah untuk mendekati keganasan vocal seperti yang dimiliki oleh Asito Situmeang dari Trio The King, apakah dia sadar atau tidak, ada unsur sengau yang enak didengar. Kalau mereka dahulu sering membawakan lagu andung andung, tapi belakangan ini mereka lebih sering dengan lagu tema percintaan. mereka mungkin sadar salah satu album mereka “Boha Ma Bahenon Hu” ciptaan William Naibaho tidak mampu mendongkrak pasar walaupun mereka lakoni secara total, dan pembuatan video clipnya pun diperankan mereka sendiri dengan adegan menjual koran di jalanan jakarta.
Kebanyakan penggemar mereka berada di Pulau Batam dan Pekanbaru, mereka kerap bolak balik ke daerah ini untuk meghibur acara acara batak maupun acara acara gereja. sebelum saya lupa, ada baiknya mereka juga belajar bagaimana meng-entertaint penonton batak, daripada mereka sekedar komunikasi satu arah, tanpa mengikut sertakan penontonnya, mungkin mereka akan lebih baik sering menyaksikan penampilan Trio Lamtama, bagaiman Nixon Simanjuntak mampu “menipu” penontonnya sekedar mengambil nafas untuk lagu berikutnya dia sisipkan lawakan yang segar agar penonton tidak merasa ditipu.
Ada yang lebih menarik dari mereka, mungkin diantara mereka ada yang mempunyai darah bisnis mengalir ditubuhnya, sampai sampai mulai dari tahun 2006 produksi album batak mereka lakukan atas prakarsa sendiri, maksudnya mereka mau berkorban untuk menyisipkan penghasilan mereka selama bernyanyi di cafe cafe (honor, saweran, tips), mereka tumpahkan untuk modal produksi sendiri, sampai saat ini mereka telah berhasil meproduksi sendiri sebanyak 2 album, Fantastis!!.
Kelihaian mereka untuk mendekati artis senior pantas untuk dipelajari, pada tahun 2006 mereka mampu membujuk Charles Simbolon dan Rani Simbolon untuk ikut sebagai bintang tamu pada album mereka, sekaligus untuk membawakan lagu yang khusus diperuntukkan kepada salah satu orang batak kaya yang ada di Pekanbaru, siapa lagi kalau bukan Pak Hutahaean. Tapi sebaiknya mereka menghindari pembuatan album seperti ini jika ingin nama mereka lebih profesional.
Seperti yang saya jelaskan diatas, Trio ini adalah salah satu peserta kompetisi dengan trio trio lainnya untuk mencapai titik puncak kejayaan, itupun dengan syarat… apabila mereka sadar kelemahan kelemahan yang mereka miliki sekarang.
Penyanyi, Produser dan Distributor… adalah pekerjaan baru mereka, tapi jangan lupa bahwa sebenarnya jauh lebih penting bagaimana mereka membangun kepercayaan pasar dengan olah vocal yang sempurna. Hal yang sangat langka terjadi bisa sukses untuk menjalani ke tiga profesi itu.
Marsada Sada Bulung
Nungnga pasigat sigat bulung gaol
Manang mangarukkari sidingolon
Ma ho nian ale daborukku
Boru da hasian
Nungnga massai leleng naung marsirang
Jala sinirang ni da hamatean
Alai ikkon saonari ma tarsunggul
Diparmulian mon
Reff.
Alai di ida ho ma au inang
Marsada sada bulung inang mon
Lao mangadopi pesta mi boru
Dipesta pamasu masuon mon
Unang pola sai tangis ho inang
Boru hasian ku
Unang pola sai tangis ho inang
Apusi ilumi
………………
hm…….. lagu yang sedih dibawakan dengan sempurna oleh Rita Butarbutar, lagu ini karya cipta Johny S. Manurung dan dipopulerkan tahun 1995.




