Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Orang Mandailing Bukan Batak (apa benar?)

with 16 comments

parlapo  : dibutuhkan kedewasaan anda untuk membaca artikel ini, saya tertarik untuk mem-post-kan artikel ini sekedar tambahan perbendaharaan mengenal sub-etnis yang ada dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience).

Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Oleh : Abdur Razaq Lubis

NAMA Mandailing sudah diketahui sejak abad ke 14, dan ini menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing, yang barangkali telah muncul sebelum abad itu lagi. Nama Mandailing tersebut dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Batak tidak disebut sekalipun dalam kitab tersebut.

Nama Batak itu sendiri tidak diketahui dengan pasti asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun. Tapi orang pedalaman sendiri tidak membahasakan diri mereka, Batak. Kemudian panggilan ini dipetik oleh pengembara seperti Marco Polo, Ibnu Batutah, dan diambil oleh Portugis dan orang-orang dari atas angin dan bawah angin, hinggalah ke ini hari.

Bila Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, sekaligus mereka juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Persepsi Belanda terhadap orang-orang pedalaman termasuk terhadap bangsa/umat Mandailing dipengaruhi oleh persepsi kesultanan-kesultanan Melayu dan Minang, dan orang-orang pesisir, yang mereka dului berinteraksi.

Lama-kelamaan memBatakkan bangsa/umat Mandailing membudaya dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda hinggakan sesetengah orang Mandailing sendiri mulai melihat diri mereka dari persepsi penjajah yang melihat dari kacamata Melayu. Bangsa/umat Mandailing dikatogerikan bersama-sama dengan bangsa Toba, Pak-pak, Dairi, Simalungun dan Karo untuk tujuan administratif umum di samping menjadi sasaran zending/Kristenisasi.

Pandangan berikut dari sarjana-sarjana Barat seperti Lance Castles adalah tipikal :

“The use of ‘Batak’ as a common label for these groups (Toba, Mandailing dan Simalungun) as well as the Karo and Dairi has a chequered career. Linguists and ethnologists have always found the term necessary because of the strong common elements in all these societies. At some periods, however, those who were converted to Islam, especially Mandailings, have sought to repudiate any association with the non-Muslim Tobas by rejecting the Batak label altogether. This tendency has been strongest among Mandailing migrants to the East Coast of Sumatra and Peninsular Malaysia.”

(Pengunaan istilah ‘Batak’ sebagai label yang umum untuk kelompok-kelompok ini (Toba, Mandailing dan Simalungun) sebagaimana juga dengan Karo dan Dairi mempunyai sejarah yang berpetak-petak. Ahli-ahli bahasa dan etnologi senantiasa mendapati bahwa istilah ini merupakan istilah yang diperlukan dikarenakan adanya elemen umum yang kuat di dalam tiap-tiap kelompok ini. Pada periode tertentu, mereka yang kemudian memeluk Islam, terutama orang Mandailing telah berusaha untuk tidak dihubungkan sama sekali – hubungan dengan non-Muslim Toba dengan menolak label Batak secara keseluruhan. Kecenderungan ini telah terjadi terkuat di antara orang Mandailing perantauan di Pantai Timur Sumatra dan Semenanjung Malaysia).

Sementara sarjana Barat seperti Susan Rogers Siregar, agak peka dan mengerti sedikit.

“Much of the Western literature asserts that there are six major Batak cultures: Toba, Karo, Dairi-Pakpak, Simalungun, Angkola, and Mandailing. This division into ethnic units is somewhat misleading, however, since villagers often have little use for such general words as ‘Angkola’ and identitfy themselves in much more local terms as members of a ceremonial league or a group of village clusters. The sixfold ethnic division may reflect relatively new ethnic designations as members of different homeland groups come into contact and competition with each other”.

(Kebanyakan literatur Barat menegaskan bahwa ada enam budaya Budaya yang utama: Toba, Karo, Dairi, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing. Pembagian ke dalam beberapa kelompok-kelompok etnik ini, menyesatkan, lantaran penduduk desa umum tidak banyak menggunakan perkataan seperti ‘Angkola’ dan mengidentifikasikan diri mereka dalam istilah yang lebih lokal sebagai ‘anggota dari perhimpunan adat’ atau sebuah kelompok perkampungan. Pembagian enam etnik tersebut mencerminkan secara relatif penunjuk-penunjuk etnik baru sebagai bagian dari kelompok-kelompok pribumi yang berbeda yang belakangan bertemu dan bersaing satu sama lain)

Belakangan, sarjana-sarjana Indonesia (Indonesianists) dan antropolog terus memakai istilah Batak dengan alasan “useful” (berguna) dan “necessary” (perlu). Pada akhirnya, sarjana-sarjana yang kononnya, menyelidik secara netral dan objektif, sebetulnya bertanggungjawab mencipta identitas Batak dan memperkuat identitas Batak. Malah ciptaan mereka itu, mencorak dan mewarnai garis-garis besar ilmu mereka sendiri. Maka pemisahan Batak-Melayu itu berkepanjangan hingga hari ini.

Bangsa Mandailing dimelayukan Inggris

Kalau penjajah Belanda melabelkan orang Mandailing sebagai Batak, penjajah Inggeris melabelkan orang Mandailing sebagai “foreign Malays” (Melayu dagang). Di satu pihak, orang Mandailing disebut Batak Mandailng, dan di pihak yang lain, disebut Melayu Mandailing.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience). Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Meskipun berabad-abad orang-orang Batak sudah ‘masuk Melayu’, pemisahan Batak-Melayu terus kekal. Proses memelayukan orang-orang Batak termasuk bangsa/umat Mandailing yang dikategorikan sebagai sub-Batak itu, berkelanjutan hingga kini. Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa lain di Sumatra Utara supaya bertuankan Batak? Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa Nusantara yang kedapatan di Semenanjung supaya bertuankan Melayu ?

Bermula dengan rekayasa sosial engineering kolonial Belanda dan British, disusuli proses Malayanisasi (kemudian Malaysianisasi) dan Indonesianisasi yang berlaku sejak dari abad ke 19 sampai sekarang menerusi pendidikan nasional, polisi kebudayaan nasional dan nasionalisme Melayu dan Indonesia. Ciri-ciri khusus kebangsaan bangsa/umat Mandailing seperti bahasa dan aksara, digugat dan kemudian terhapus sama sekali atas nama asabiah (fanatik perkauman) pembangunan nasional, identitas nasional dan kesatuan nasional.

Rumusan
Pada tahun 1920an, alim ulamak dan pemuka-pemuka Mandailing telah memprotes percobaan orang-orang Batak-Islam termasuk orang Mandailing yang mengaku Batak, untuk dikuburkan di tanah perkuburan Sungai Mati. Alim ulama dan tokoh-tokoh Mandailing berhujah bahwa wakaf tanah perkuburan Sungai Mati hanyalah untuk jenazah-jenazah orang-orang Mandailing saja. Orang-orang Batak khusus Angkola termasuk Mandailing yang mengaku Batak, tidak pantas dikuburkan di pekuburan itu.

Pejuang-pejuang kebangsaan bangsa Mandailing membawa kasus/kes ke mahkamah syariah Sultan Deli dengan keterangan bahwa tanah perkuburan bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan, adalah semata-mata untuk bangsa Mandailing. Mereka yang berbangsa selain Mandailing, tidak boleh dikuburkan di situ. Mahkamah syariah Sultan Deli mendeklarsi bahwa bangsa Mandailing terpisah dan berdiri sendiri dari bangsa Batak. Kemudian bangsa Batak membawa kasus tersebut di mahkamah sibil di Batavia, Jawa. Mahkamah tersebut, mahkamah tertinggi di Hindia Belanda mendeklarasikan bahwa bangsa Mandailing bukan Batak.

Kasus jati diri tersebut dibukukan oleh Mangaradja Ihoetan dalam buku Asal-Oesoelnja Bangsa Mandailing (Pewarta Deli, Medan, 1926). Dalam pengantarnya kepada buku itu, Mangaradja Ihoetan menjelaskan maksud buku itu disusun “…hanjalah kadar djadi peringatan di-belakang hari kepada toeroen-toeroenan bangsa Mandailing itoe, soepaja mereka tahoe bagaimana djerih pajah bapa-bapa serta nenek mojangnya mempertahankan atas berdirinja kebangsaan Mandailing itoe. Dengan djalan begitoe diharap tiadalah kiranja mereka itoe akan sia-siakan lagi kebangsaanja dengan moedah maoe mehapoeskannja dengan djalan memasoekkan diri pada bangsa lain jang tidak melebihkan martabatnya”.

link artikel :

http://tobadreams.wordpress.com/2008/04/22/orang-mandailing-bukan-batak/

http://bumibebas.blogspot.com/2007/06/bangsa-mandailing-tidak-batak-dan-bukan.html

About these ads

Written by lagubatak

January 5, 2009 at 1:33 pm

Posted in BATAK, humor, mandailing, parbada

16 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. horas mandailing,,i love you mandailing

    andri lubis

    April 22, 2014 at 6:10 pm

  2. tahun 1928 (sumpah pemuda) JONG BATAKS BOND sudah eksis di Nusantara (Indonesia belum merdeka)
    Kalian semua bahkan jadi sperma pun belum.

    Suprie

    August 20, 2013 at 4:17 pm

  3. hanya kata BATAK yang bisa mempersatukan.. karna kata tersebut ajaib dan unik.. siapa yg bangga menyebut kata BATAK akan menjadi orang pintar,cerdik,bijak,gigih dan pemberani.. tetapi siapa yg malu dan tdk bangga dengan kata BATAK akan menjadi orang loyo,tdk punya prinsip,tdk cerdas,tdk terkenal,halak nalilu,tak tau sejarah,dan gak bisa jadi juara 1 atau pemenang sejati… kalo gak percaya perhatikan dan amati orang2 yg bangga dan orang yang malu..

    jendral siantar tupang

    August 18, 2013 at 5:39 pm

  4. Ile baya banyak lagi orang yang sok pintar antropologi.

    Amanta Holong

    August 1, 2011 at 6:02 am

  5. Baiklah, Suka disebut Batak Mandailing silahkan…….
    Tidak suka disebut Batak, yah… Mandailing saja silahkan… Kita tetap bersaudara Bhinneka Tunggal Ika. Horas be ma…..

    amanta

    June 29, 2011 at 7:29 am

  6. Saya ketik ‘lagu batak mandailing’ di google yang keluar cuma Parbeca. Ada apa ya…..

    amanta

    June 19, 2011 at 9:43 am

  7. Jawaban atas pertanyaan amanta: “Memang sejarah bukan hanya berdasarkan fakta saja melainkan juga atas kemauan (suka atau tidak suka) kepada Mandailing bukan Batak” Oleh karena itu silahkan berbeda pendapat tetapi tetap bersatu dalam NKRI.

    MNoor Dalimunthe

    June 19, 2011 at 12:58 am

  8. Mandailing bisa jadi atau ada yang bersaudara dengan Toba, tetapi dengan Batak tunggu dulu sampai kiamat?

    amanta

    June 16, 2011 at 1:34 am

  9. Mandailing bisa jadi atau ada yang bersaudara dengan Toba, tetapi dengan Batak tunggu dulu sampai kiamat?

    MNoor Dalimunthe

    June 16, 2011 at 1:30 am

  10. Sejarah harus dimulai dari fakta (Prasasti Tanjore 1025) dan diakhiri dengan fakta bahwa tidak semua orang Angkola dan Mandailing mau disebut “Batak”. Pada zaman dahulu kawasan Toba, Angkola da Mandailing merupakan segitiaga emas dalam mengelola potensi sumber daya alam (hasil hutan dan tambang emas) serta memperdagangkannya ke manca negara melalui pantai Timur: Panai, Aru dan pantai Barat: Barus Singkuang dll. Setelah penyerangan Rajendra Cola tersebut Panai terpecah menjadi Angkola (yang dipertuan cola) meliputi Padanglawas, Sipirok dan Sigalangan, Simangambat (Siabu) dan Mandailing (Pidoli) sampai Pasaman dimana terdapat candi-candi yang mempunyai kemiripan dan tidak ditemukan ada di Toba. Perkataan ‘Batak’ belum muncul pada masa itu. Mandailing lebih spesifik kepada aliran Sungai Batanggadis (Godang dan Julu) lihat kitab Negara Kertagama 1364. Jadi tidak dapat dikatakan bahwa Angkola dan Mandailing berasal dari etnis Toba apalagi mau disebut Batak, namun tentu saja ada diantara warganya yang punya kekerabatan dengan orang yang dari Toba. Akhirnya menjadi kenyataan sekarang ini ada orang di Angkola dan Mandailing sebagaimana dengan orang Toba mau disebut Batak. Aslinya etnis Angkola dan Mandailing sama tuanya dengan etnis Toba punya hubungan persaudaran melalui adat Dalihan Na Tolu (bersiambilan) bukan berarti berasal dari Toba dan inilah akhir fakta. Mari kita camkan sampai ada fakta selanjutnya!

    Amani Holong

    June 12, 2011 at 3:06 am

  11. Saya lahir di Mandailing bermarga Dalimunthe, suka disebut orang Tapanuli asalkan jangan disebut Batak.

    amanta

    June 10, 2011 at 4:56 am

  12. Kilas balik sejarah (WP), pem. kolonialis Belanda meresmikan pemakaian kata Batak pada tahun 1834 (Keresidenan Tapanuli) terdiri dari 4 daerah afdeling: 1. Sibolga en Omstreken (Tapanuli Tengah) 2. Angkola en Sipirok (Tapanuli Selatan dan Madina) 3. Bataklanden (Toba dan sektr) 4. Nias. Dalihan na Tolu, ulos, marga, aksara dsb telah dikenal sebelumnya di Mandailing walau tidak dipopulerkan, jadi tidak dapat dklaim oleh orang Toba memaksakan orang Mandailing harus mengaku Batak. Batak Maninggoring juga produk pemaksaan kol Belanda. Namun sebagian orang Mandailing bukan berarti tidak mau angkat saudara, yang keberatan bila disebut berasal dari Toba (tdk mempunyai kekerabatan di sana) tidak suka disebut ‘Batak’ karena ada nama yang baik telah kita sepakati ‘Tapanuli’. Pemerintah Indonesia juga tidak boleh menggeneralisasi kata tersebut walaupun untuk kepentingan sensus penduduk (tdk pernah diadakan kesepakatan antara Toba, Fak-fak/Dairi, Karo, Simalungun dan Mandailing untuk kata ‘Batak’),

    amanta

    June 10, 2011 at 3:11 am

  13. Mandailing dan Toba memamng bersaudara sama-sama imigran dari kawasan Burma tetapi bukan berarti orang Mandailing berasal dari Toba. Pada abad XIX pem. kolonial Belanda menyebut kawasan Toba sebagai Bataklander, sejak saat itu orang Toba suka disebut Batak. Sebaliknya orang Mandailing yang arif tidak menyukainya dan sampai sekarang tetap menyatakan dirinya Mandailing. Lihat juga tonggo-tonggo orang Toba si Boru Deak Parujar mengakui bahwa mereka berasal dari luat Bandaling (Mandailing).

    amanta

    June 7, 2011 at 1:51 am

  14. Mandailing dan Batak sejak dulu sudah ada persaudaraan katakanlah imigrasi proto Malay yang ke Utara itu menjadi Batak dan yang ke Selatan itu Mandailing. Jadi jangan ada salah satu diantaranya yang mengajukan klaim keduanya datang menempati tempat kosong.

    amanta

    June 5, 2011 at 1:42 am

  15. Orang Angkola yang mau disebut Batak silakan namun kita orang Angkola yang mau disebut Mandailing tidak Batak, mari tetap anggap saudara. Budaya itu hasil dari budi daya kalau mau dan sebaliknya saya tidak mau membudi dayakan kata ‘Batak’ lebih baik yang lama saja deh saya suku Tapanuli: indah, lembut, halus perkataan tersebut.

    Amani Holong

    May 23, 2011 at 2:10 am

  16. Kalau mau bersatu jangan ‘Batak’ namanya.

    Amani Holong

    May 22, 2011 at 2:50 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers

%d bloggers like this: