Lagu Batak

Tentang : Artis, Pencipta, Musisi, Produser, Penikmat, Syair

Archive for December 2008

Keluar Kau..!!

leave a comment »

Sebutlah namanya si Tigor, pemuda Batak yang punya kesempatan untuk menimba ilmu Tehnik Elektro di negeri Jerman dengan bea siswa dari pemerintah. Setelah menamatkan sekolah di Jerman pulanglah si Tigor ke kampung halaman.

 

Seperti si doel yang sudah tamat sekolah insinyur dia diselamatin … begitu juga si Tigor ini karena rasa bersyukur, bapaknya Tigor mengundang semua kerabat dan saudara, ompung, tulang, namboru, dsb. dsb. diundangnya untuk selamatan bahwa si Tigor sudah insinyur dari Jerman pulak.

 

Setelah selesai acara keluarga, kilang padi (rice mill) bapaknya si Tigor mogok (maklum mesin tua..). sambil berlari ngos-ngosan kenek kilang datang menghampiri Bapaknya si Tigor.

 

 

Kenek          : Toke.. kilang kita mogok tidak bisa menggiling padi orang .. harus diperbaiki segera!

 

 

Bapaknya Tigor : Ah… dasar mesin tua .. mogok terus! tapi…. (tiba-tiba dia ter-henyak .. oh.. anakku sudah insinyur pasti dia bisa perbaiki pikirnya), maka dipanggilnya keras-keras si Tigor supaya semua orang tahu bahwa si Insinyur Tigor akan disuruh untuk memperbaiki mesin tua kilang Bapaknya.

 

 

Bapaknya Tigor : Tigor !! sini kau

Tigor          : ada apa pa’

Bapaknya Tigor : Ayo dulu sebentar ke kilang … katanya mesinnya mogok, supaya kau perbaiki dulu.

 

 

Seperti kerbau dicucuk hidungnya si Tigor menurut tanpa bisa ba..bi..bu, sampai dikilang, sitigor disuguhi mesin tua tadi untuk diperbaiki, tentu saja dia kelimpungan blepotan oli/solar tanpa bisa memperbaiki apapun.

 

Tentulah Bapaknya melihat hal ini aneh. dan langsung bertanya.

 

 

Bapaknya Tigor : Katanya kau insinyur lulusan jerman tapi hanya memperbaiki mesin tua aja tidak bisa.. Insinyur apa itu!! (mulai kesal dia).

 

Tigor          : Bukan begitu pa’ khan bagian-bagiannya lain yang ini namanya Mekanik sedangkan yang kupelajari itu Elektro.

 

 

Bapaknya Tigor : Ah.. sae dodak, cobalah kau ceritakan dulu apa saja yang kau lihat di Jerman sana.

 

 

Tigor          : Kalau di Jerman pa’ semua sudah serba canggih tak ada lagi mesin seperti ini, contohnya : aku jalan-jalan di suatu pabrik, buah-buahan masuk dari pintu sana. nah… keluar dari sana sudah jadi kaleng, namanya buah kaleng!! (bapaknya agak tertegun!), terus aku lihat lagi masuk tepung…. eh… keluar keluar sudah kaleng, itu Roti kaleng! (bapaknya mulai gusar!). pokoknya serba kaleng lah, masuk ini, masuk itu – nanti keluar sudah jadi kaleeeng!.

 

Bapaknya Tigor : bangkit dari tempat duduknya, sambil menunjuk ke arah Tigor, Hei… tigor, kau jangan bikin aku marah yaaa!! jauh-jauh kau disekolahkan pemerintah ke Jerman sana. hanya melihat seperti itu sudah kau bilang canggih.

 

 

Dikampung ini… dirumah… sebentar saja ini masuk… (sambil menunjuk ke bawah perutnya yang buncit itu) ketempatnya bersarang ….. KELUAR KAU!.

 

Si Tigor ???!.

Written by lagubatak

December 31, 2008 at 7:22 am

Posted in BATAK, humor

Saya Kepala Disini!

leave a comment »

Sebenarnya tidak selalu menguntungkan kalau punya Toko pada tempat
persimpangan jalan yang ramai. apalagi tempat itu tentu strategis untuk
“mangkal” nya anak-anak muda yang suka iseng (preman tengik!).

Kejadian seperti ini akan mungkin terjadi:

Seorang Tauke keturunan tionghoa mempunyai warung “kelontong” (toko
serba ada) dipersimpangan jalan yang sekaligus tempat persinggahan
preman-preman lokal.

Suatu saat preman-preman tersebut sudah kehabisan rokok dan tidak heran
sering juga mereka kelaparan. Diantara mereka (A) ada yang tidak perlu
ambil pusing langsung dia datang menemui si Toke pemilik toko, sambil
menyingsingkan lengan bajunya hanya sekedar memperlihatkan “tato” made
in dewek, dia bersuara agak keras :  Hai Tauke !!!, saya minta rokok …
saya sudah kehabisan rokok, saya kepala disini!!! (maksudnya… kepala
kumpulan preman). Wah gawat… pikir si Toke, buru-buru dia ambil
sebungkus rokok dan diberikannya kepada si “kepala” preman supaya dia
aman.

Hari berikutnya si (B) seperti sudah tau resepnya si (A) diam-diam dia
datang menemui si Toke, : Touke!! saya belum makan satu harian ….
kemaren touke kasih si (A) rokok …padahal saya “kepala” disini, sini
duitnya untuk makan…!. Juga dengan ketakutan si Toke merasa salah
“koneksi” sambil menyesali diri bahwa yang kemaren bukanlah kepalanya,
karena yang ini memang agak meyakinkan. tidak ada jalan lain harus
dikasih supaya aman. (tidak apa-apa masih ada untung pikirnya).
Memang…! dimana ada gula disitu mungkin ada semut!, hari berikutnya si
(C) tidak kalah gesit, dia dengan petantang-petenteng dari jauh sudah
teriak-teriak : Hei Touke….!! pokoknya kalau Touke mau aman disekitar
sini, touke harus kasih rokok dan uang sama saya, saya khan ‘kepala’
disini, …minta duitnya sini ….! (sambil mengancam).

Si Toke : ???…….. Huannyaaa… ke-maleng kepala!, …. ce-kalang
kepala! … kapang-kapang kepala!!, ‘lu punya -ekol- kapang datang!
haaaa ???, nich luitnya.
(maksudnya : waduh kemaren kepala, sekarang kepala, kapan-kapan kepala,
kamu punya ekor kapan datang, ini duitnya) serba salah memang!

** Selamat menjelang Tahun Baru 2008

Written by lagubatak

December 30, 2008 at 12:39 pm

Posted in Uncategorized

Marsius Sitohang

with 5 comments

[The Muse; Tonggo Simangunsong]

Marsius SitohangSebagai seniman tradisional Batak Toba, Marsius Sitohang mengaku lebih dihargai di negeri asing daripada di negerinya sendiri. Makanya, setiap kali pulang pagelaran dari luar negeri, Marsius selalu sedih. “Ternyata orang asing lebih cinta budaya kita daripada kita sendiri,” kata lelaki kelahiran Palipi, Samosir 1953 itu, miris.

Marsius masih ingat betul kejadian 1980 -an silam. Seperti kebiasaan orang Batak lainnya, sore hari sehabis manarik becak ia selalu menyempatkan diri untuk singgah di kedai tuak. Bersama tukang becak lainnya, di kedai tuak di Jalan Mesjid Raya Medan itu, mereka kerap menyenandungkan lagu Batak diiringi gitar. Sedang Marsius selalu didaulat memainkan seruling.

Kemahiran Marsius memainkan seruling memang tak diragukan lagi. Marsius kecil adalah gembala kerbau yang sering menghabiskan waktunya dengan seruling. Dan belajar secara otodidak dari orang-orang di kampungnya, Palipi.

Menarik becak sebenarnya hanya pelarian bagi Marsius, ketika grup opera yang sejak puluhan tahun ia geluti bersama ayahnya, tutup. Opera Batak bernama “Saut Cinta Nauli” milik ayah Marsius termasuk opera Batak yang sempat lama eskis di Sumatra Utara. Opera ini ibarat suku Gipsy, yang sering berpindah-pindah dan menetap dalam waktu lama dari kota-ke kota. Sayang, opera ini terpaksa gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan seni pertunjukan modern yang semakin gencar saat itu.

Setelah Opera Batak “Saut Cinta Nauli” bangkrut dan tutup, semua pemainnya beralih profesi. “Ada yang jadi sopir, pedagang. Dan seperti saya, yang terpaksa menarik becak karena tidak tahu mau kerja apa lagi,” kata Marsius.

The New York TimesMarsius yang sering mangkal di kedai tuak, diam-diam ternyata dilirik Alm M Marpaung, yang waktu ini memimpin “Pir Tondi Matogu”, sebuah grup tradisional, yang sering menjadi pengisi acara adat-adat Batak, seperti pernikahan, acara adat kematian dan lain-lain.

Alm M Marpaung akhirnya sering mengajak Marsius untuk mengisi musik di acara-cara adat. Sejak itu nama Marsius pun mulai dikenal. Hingga suatu kali, ia pernah diundang dalam sebuah seminar tentang musik tradisional, yang diadakan di Taman Budaya Medan.

Marsius sudah lupa persis kapan bulannya. “Tapi yang pasti saat itu, ada enam orang pemain musik tradisional yang turut diundang waktu itu, termasuk saya,” ujar Marsius dengan logat Batak Toba yang sangat kental.

Pada kesempatan itu, Marsius pun diperkenankan memainkan serulingnya. Ia masih ingat, “Waktu itu kami membawakan lagu ‘Andung-andung’, ‘Pinasa Sidungdungon dan ‘Didang-didang’”, kenangnya. Saat itu juga Marsius diperkenalkan kepada Rizaldi Siagian, yang adalah ketua jurusan di Fakultas Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU), yang turut hadir di seminar itu.

“Bisa kau ngajar?,” ujar Rizaldi kemudian kepadanya, seperti ditirukan Marsius. Ia tidak percaya dengan tawaran itu. Dan menganggapnya sebagai lulucon. Dengan enteng Marsius pun menjawab, “Saya tidak tahu not. Apa yang mau kuajari nanti?”

“Kau cukup mengajari prakteknya saja,” begitu Rizaldi menjelaskannya kepada Marsius saat itu. Tawaran itu pun akhirnya diterimanya dengan bangga. Ia lalu banting setir dari kesehariannya menarik becak. Dan beralih profesi menjadi dosen, dengan status honor.

Honor sedikit, asal seni tradisi terangkat

“Sejak 1987 lah saya resmi diangkat jadi dosen di sini. Waktu itu honor saya masih 3 ribu rupiah perbulan,” kenang ayah enam anak itu. Honor yang sedikit itu pun tidak dipersoalkan Marsius. “Asal seni tradisi ini terangkat,” ujarnya kepada Rizaldi saat itu.

Sejak diangkat menjadi dosen di Fakultas Etnomusikoli USU, nama Marsius pun semakin dikenal luas. Harian terkemuka Amerika Serikat The New York Times edisi 19 November 1991 bahkan pernah mempublikasikan pertunjukan Marsius dengan sesama pemusik tardisional lainnya. Termasuk dengan adiknya, Sarikaran Sitohang, yang selalu diajak Marsius sebagai pemusik pengiring.

“Sudah empat benua saya singgahi karena seruling,” ujarnya bangga. Termasuk negara-negara di Asia, Eropa, Australia dan Eropa. “Ini merupakan pengalaman yang sangat membanggakan. Karena seruling inilah saya bisa keliling dunia. Paling tidak saya bisa membanggakan nama USU dan Indonesia,” ujarnya.

Tak sedikit pula penghargaan yang ia terima dari luar negeri maupun dari negeri sendiri. “Saya tidak pernah menghitungnya. Karena banyaknya, saya sampai kerepotan untuk menjaganya agar tidak lapuk karena tidak bisa saya bingkai semua,” katanya.

Ketenaran ini jugalah yang mengundang banyak persepsi tentang Marsius. “Banyak orang menganggap saya sudah kaya karena saya sering ke luar negeri. Padahal, tidak. Seandainya mereka tahu,” ujarnya.

Wajar saja jika Marsius berkata demikian. Maklum, sejak ia diangkat menjadi dosen pada 1987, statusnya masih tetap pegawai honor. Bahkan, jumlah honor yang diterimanya setiap bulannya sangatlah tidak bisa diharapakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Untunglah selama ini saya punya kerja sampingan mengiringi acara pesta-pesta adat Batak. Kalau tidak dari situ, dari mana saya bisa menyekolahkan anak saya,” katanya. Marsius juga dipercaya mengelola sebuah grup tradisional bernama “Grup Sopo Nauli” di Jalan Bakti Medan, milik Daulat Manurung. Grup tradisional ini sudah enam tahun ia kelola.

“Kalau menggantungkan penghasian dari honor, sangat tidak mungkin,” jelasnya. Honor yang diterima Marsius setiap bulannya memang sangat sedikit. “Hanya Rp 270 ribu perbulan. Untuk transport saja kurang,” akunya.

Sayang, meski status kepegawaian Marsius yang sudah 20 tahun mengabdi namun masih berstatus honor itu sudah pernah diangkat lewat media massa dan eletronik di Tanah Air, namun, “Belum ada respons dari universitas samapi sekarang,” katanya.

Kalau respon dari masyarakat banyak, ujarnya. Suatu kali, Marsius pernah menerima uang dari orang yang tak dikenal. “Suatu hari saya dapat surat dari seseorang. Ia tak menyebutkan namanya, tapi di surat itu dituliskan dari seseorang yang bekerja sebuah perusahaan di Jakarta,” kenanganya.

Di surat itu si pengirim menyampaikan rasa simpatinya. Dan menyaranakn agar Marsius membuka rekening di bank. “Selama dua tahun ia mengirimi saya uang, sebesar 250 ribu per bulan,” kata Marsius tersenyum. “Itulah, entah siapa orangnya, aku pun tak tahu,” sambungnya.

Karena merasa penasaran, suatu kali ketika diundang main dalam sebuah pagelaran seni tradisional di Jakarta, Marsius pun menyempatkan diri untuk mendatangai alamat perusahaan si pengirim itu, dengan maksud ingin memberikan oleh-oleh seruling kepada orang tak yang tak pernah bertatap muka dengannya itu. “Sayang sekali waktu itu, saya tidak ketemu dengan orangnya. Akhirnya, seruling itu saya titipkan sajalah kepada karyawan di kantor itu,” katanya.

Begitulah lika-liku hidup Marsius, seniman tradisional Batak itu. Pun begitu, ia tetap selalu bersyukur dengan apa yang ia peroleh saat ini. Tak bisa dipungkiri memang bahwa USU lah yang membesarkan nama Marsius. “Karena USU jugalah saya sering diundang ke luar negeri. Sehingga saya dikenal orang. Dan bisa bermain musik di mana-mana,” akunya, meski ia masih sering “mocok-mocok” mencari job sampingan di luar aktivitasnya di kampus.

“Untunglah mahasiswa saja mau mengerti. Sehingga saya bisa mengatur waktu agar bisa main musik di grup lain,” ujarnya. Dari sinilah memang Marsius bisa mencari uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Sedikit demi sedikit uang hasil bermain musik ia tabung. Dari hasil tabungannya tersebut, ia mengaku bisa mendirikan rumah dan menyekolahkan anak-anaknya. Meski hanya satu orang yang sanggup ia saya biayai kuliah. “Yang lainnya hanya sampai SMA saja. Saya tidak sanggup lagi,” ujarnya.

Dan inilah harapan Marsius. ”Kalau memang honor saya tidak bisa dinaikkan, paling tidak tahun depan USU bisa memberikan satu kursi buat anak saya,” pintanya menyebut anak bungsunya, Tong Pandapotan Sitohang, yang kini masih duduk di bangku Sekolah Musik Menengah, Medan.

Sebenarnya sudah lama permohonan ini ia pendam. “Ketika saya ajukan kepada dekanat, mereka hanya menyuruh saya menjumpai sendiri ke rektorat,” katanya sambil menunjukkan surat permohonan itu…

Discl. Tri Yuwono
Foto-foto: Repro/Dokumentasi Marsius Sitohang

http://tonggo.wordpress.com/2007/12/04/marsius-sitohang-20-tahun-mengabdi-tetap-honor/

Written by lagubatak

December 27, 2008 at 3:06 am

Hari Natal

leave a comment »

Menurut saya, salah satu budaya dari penduduk jaman dahulu telah berhasil membuat orang jaman setelah mereka menjadi ketergantungan terhadap apa yang pernah mereka ciptakan pada kehidupan mereka. Hari Natal adalah salah satu contoh nyatanya, walaupun orang orang dapat membuat kisah atau mengetahui kapan dan bagaimana sesuatu hal terjadi (menafsir),  tidak begitu dengan natal (atau mungkin disengaja?). namun hampir dipastikan bahwa hari kelahiran Yesus Kristus bukanlah terjadi persis seperti yang dirayakan umat kristiani saat ini 25 Desember?? tahun berapa pulak?.

Ini adalah salah satu bentuk nyata yang perlu kita cermati, bahwa budaya adalah salah satu yang sangat baik untuk diteladani, tentu juga ada dari budaya itu yang perlu disingkirkan, bagaimana kita mengkritisinya dengan kebijakan kita masing masing, sama persis bagaimana kita mengimani agama menjadi salah satu filter kehidupan kita agar kita tidak sama seperti peliharaan kita yang tinggal bersama sama kita dirumah.

Setiap tahunnya kalau Hari Natal tiba, saya selalu teringat dengan analogi yang pernah saya dengar dari seseorang. Tentang Trilogi yang diajarkan oleh para ilmuwan kristen kepada para hamba hamba Tuhan/Pendeta dan para calon ilmuwan kristen generasi berikutnya. Bahwa sesungguhnya dalam trilogi itu dapat dimanifestasikan dalam kehidupan kita sehari hari.

Analoginya begini : anda adalah sebagai orang yang serba mampu melakukan apapun, tetapi ada sedikit dari kemampuan anda itu yang dapat menaklukkan kemampuan anda itu hingga tidak melakukan segalanya dengan mudah dan gampang.

Suatu saat anda berjalan jalan dan menemukan seekor anak burung yang sedang berkicau (menangis) sangat hebat dan terasa ketakutan dibawah sebuah pohon, karena anak burung tersebut telah terjatuh dari sarangnya dan ibunya belum kembali untuk menolong kembali ke sangkarnya. Tiba tiba anda berfikir, jika berencana dengan serta merta memungutnya dan ingin mengembalikannya ke sarangnya, maka si anak burung tersebut akan berkicau lagi ketakutan atau bahkan bisa mati karena ketakutan karena kehadiran anda yang begitu sangat asing dengan wujud mereka sebagai burung. Maka karena anda dapat melakukan “apapun”, maka anda sedikit mundur dari balik pohon dan mengucapkan mantra agar seketika anda akan berubah wujud menjadi seekor burung, agar anda dapat menyelamatkan anak burung tadi dengan baik. maka anda telah melakukan pekerjaan yang baik.

Kita tahu, Allah adalah sang pencipta khalik dan bumi, kita juga tahu bagaimana Allah melihat manusia dengan begitu sombong dengan dosa yang mereka ciptakan yang membelenggu kehidupan mereka. Sekarang Dia datang dengan wujud manusia agar dapat menolong anda lepas dari derita yang sedang anda alami. Dia (Allah) sebagai Yesus datang menawarkan diri walaupun tidak ada dari seorang manusia pun yang memintanya. Dia memungut anda dari segala kesalahan yang terjadi, mengembalikan anda ke tempat yang lebih baik agar anda hidup layak, memberikan makanan, minuman, dan segala kebutuhan yang anda inginkan.

Bahkan, Dia juga mengirimkan Roh Kudus kepada anda agar ada yang selalu mengingatkan anda akan segala hal yang pernah anda alami sebelumnya, tetapi hebatnya Dia selalu memberikan keputusan ditangan anda, bahkan Dia tidak mempunyai keuntungan lain dari semua itu, selain dari PUJI, SEMBAH dan MULIAKAN namaNya.

Selamat Hari Natal, semoga anda adalah salah satu burung yang diselamatkan, hingga suatu saat anda dapat menyelamatkan burung yang lain.

horas, bj

Muchtar Simanjuntak, Dameria Romauli Juliana Simamora, MaGivena Pinintha Simanjuntak, Dean Ray Jonathan Simanjuntak.

Written by lagubatak

December 24, 2008 at 4:49 am

Posted in Uncategorized

Trio Santana

with one comment

Mereka (Trio Santana) bisa menjawab sekaligus merubah pendapat dan pola pikir banyak kalangan artis/pengamat, bahwa sebuah trio agar bisa tenar dan bisa bertahan lama diminati pendengar  1), harus utuh atau tidak gonta ganti pasangan, 2). harus mempunyai hits lagu (artinya mereka yang pertama mempopulerkan lagu tersebut) agar dapat dikenang dan menjadi bahan pembicaraan, 3). Salah satu dari personil trio tersebut  sebaiknya dapat mencipta lagu (dalam artian masuk dalam nominasi bukan karena ada nepotisme).

Personil Trio Santana pertama muncul adalah terdiri dari : Gun Silalahi, Sudi Silalahi dan Joan Polado Sitorus, khusus nama terakhir ini disadari atau tidak, apabila dia membuat satu trio selalu sukses ironisnya setelah dia meninggalkan group tersebut, beliau mengundurkan diri dari Trio Santana setelah mereka menyelesaikan 2 album dan nama Trio Santana membumbung sampai ketingkat atas dalam peredaran vcd/kaset. Sebut saja sebelum dia masuk dalam Trio Santana, dia adalah orang pertama yang membidani berdirinya Trio Andesta (Joan Polado Sitorus, Benget (Ari) Manurung dan Goodwill Pakpahan), kemudian setelah dia menginggalkan Trio Santana dia berhasil membawa satu trio yakni Labarata (Joan Polado Sitorus, Toni Simarmata dan William Naibaho) dan sungguh mencengangkan penjualan album mereka mampu bersaing dengan trio trio papan atas walaupun keberadaan mereka silent artist tanpa banyak shouw dan publikasi seperti yang lainnya. Setelah itu dia kembali membentuk trio baru dengan nama 3 Marga (Joan Polado Sitorus, Johny Manurung dan William Naibaho), suatu saat saya akan menulis khusus nama beliau ini sebagai rasa simpati yang dalam.

Trio Santana belum dan hampir tidak pernah mempopulerkan sebuah lagu dari pertama sekali lagu itu dicipta sang pencipta (seperti Trio Ambisi dengan Unang Ahu Solsoli), namun mereka banyak suskes menyanyikan lagu yang tadinya tidak begitu populer dibawakan oleh group lain, tetapi setelah mereka menyanyikannya kembali dengan aransemen baru, tak diduga lagu tersebut bisa terkenal dan nama merekalah yang tercatat sebagai yang berhasil. Tercatat beberapa lagu yang cukup diminati anak anak muda beberapa waktu yang lalu, Andung Andung Anak Siampudan, Sigura Gura, Au do Nahusolsoli, Arbab, Pujima Debata, dan banyak lagu yang tidak dapat saya hafal yang membawa mereka menjadi populer sampai sekarang ini. Tapi secara jujur diakui bahwa formasi vocal mereka dalam dunia rekaman cukup memukau. Suatu ketika ada yang bertanya kepada sang penata vocal mereka yakni Tigor Panjaitan (personil Trio Maduma), apakah Trio Maduma tidak khawatir apabila eksistensi mereka tersingkirkan oleh keberadaan Trio Santana, karena formasi vocal yang mereka bawakan hampir sama persis, perbedaannya sedikit diantara Trio Maduma dan Trio Santana, Trio Maduma mempunyai suara alto (suara dua) yang dominan dan tidak dapat membawakan lagu lagu solo yang warna vocal lengkingan tinggi, tapi Trio Santana ada keunikan, justru Sudi Silalahi yang mempunyai lengkinang tinggi itu dimasukkan dalam formasi alto, namun tiba pada saat pengambilan vocal solo yang tinggi dia diberikan tempat karena personil mereka yang ditugaskan untuk suara tiga (dalam koor) tidak dapat melakukannya dengan baik, karena lengkingan suaranya falset atau yang biasa disebut kill.

Hampir tidak ada personil Trio Santana yang dianggap mampu untuk mencipta lagu yang terbilang tenar, memang ada satu dua yang mereka ciptakan dalam album mereka sendiri, tapi belum dapat mensejajarkan mereka dengan keberadaan personil Trio Lamtama Hady Rumapea dengan beberapa lagu hitsnya.

Namun jika diamati, ada beberapa hal yang harus dicermati dari keberadaan Trio Santana, Produser mereka mungkin melihat kelemahan yang sedang dialami trio ini, hampir beberapa album belakangan ini mereka tidak berhasil mengangkan pasar mereka seperti peredaran kaset/vcd mereka sebelum sebelumnya. Maka terjadilah perubahan nyata, bahwa trio ini sepertinya dikhususkan untuk membawa lagu lagu rohani dan natal, karena jauh pamor dengan Trio Lamtama dalam blantika lagu lagu batak, kebetulan produser yang menangani Trio Santana adalah sama juga yang memiliki Trio Lamtama dalam dunia kaset/vcd.

 Album terakhir yang dibawakan oleh Trio Santana (Unang Parsanggul Bane Bane) merupakan contoh kegagalan group ini dipasaran, bila diamati dari dekat hampir tidak ada perbedaan formasi vocal dan gambar yang terjadi tetapi terdapat perbedaan drastis penjualan kaset/vcdnya.

Personil Trio Santana (Gun Silalahi, Sudi Silalahi dan Edward Sitohang)

 

bersambung………….

Written by lagubatak

December 17, 2008 at 9:21 am

Gordon Tobing

leave a comment »

Dengan “A Sing Sing So” Menjelajah Dunia

Siapakah orang Batak yang tidak pernah mendengar lagu A Sing Sing so. Kalau pun ada, mungkin mereka generasi yang baru lahir, atau mereka yang “buta” sama sekali tentang lagu Batak populer. A Sing Sing So (ASS), adalah sebuah lagu rakyat yang selama puluhan tahun hingga kini, tetap dikumandangkan diantara ribuan lagu Batak, dari yang klasik sampai yang paling pop. Irama lagunya yang mendayu-dayu tapi dan diciptakan dengan notasi sederhana, membuat lagu ini cepat memasyarakat, bukan hanya dilingkungan parmitu, remaja tapi juga anak-anak. “A Sing sing S…A Sing Sing So…Ueeee, Lugahon au parau…ullushon au alogo… tu hutani datulangi…”. Demikian antara lain cuplikan lagu tersebut. Gordon Tobing, pemusik dan penyanyi Batak legendaris, adalah tokoh musisi yang berperan besar mempopulerkan lagu A Sing Sing So dan ratusan lagu rakyat Batak lainnya. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di Seantoro mancanegara. Kepiawaian menyanyikan lagu rakyat mengantarkannya mengelilingi dunia. Puluhan negara di lima benua telah disinggahinya. Belasan kepala negara telah mengucapkan “Selamat” menjabat tangannya. Dimanapun Gordon menyanyi selalu meninggalkan kesan mendalam, membuat gadis-gadis cantik di Meksiko dan Amerika “Tergila-gila” padanya.

Siapakah Gordon Tobing? Sebuah catatan menyebutkan, Gordon adalah anak kelahiran Medan tanggal 25 Agustus 1925. Ayahnya Romulus Lumbantobing juga dikenal pemusik/komposer terkenal pada jamannya, dan pencipta lagu Arga Do Bona Ni Pinasa (Lihat Liputan Bona Pasogit edisi 13/Juli 200, tulisan tetang S.Dis Sitompul). Romulus Tobing marpariban dengan komponis S.Dis Sitompul dari istrinya boru Hutabarat. Bakat musik yang mengalir dalam diri Romulus ternyata diwarisi Gordon yang sejak kecil telah digembleng bermain musik dan olah vokal oleh ayahnya. Gordon tidak pernah memperoleh pelajaran musik secara formal, tetapi merupakan bakat alam. Tahun 1950, Gordon berangkat ke Jakarta. Disana ia sempat berpindah-pindah pekerjaan, bahkan pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan Film Negara. Tapi di sana ia merasa tidak cocok, karena bakat musiknya tak tersalurkan. Kemudian ia pindah ke RRI (Radio Republik Indonesia). Disinilah ia jumpa dengan seniman- seniman musik terkenal seperti Iskandar dan Sudharnoto. Bakat musiknya mulai berkembang. Saat itu Gordon membentuk Kelompok Padua Suara, antara lain kelompok VG “Sinondang”. Setelah VG “Sinondang” bubar, Gordon membentuk kelompok yang dinamakan VG “Impola” (dalam bahasa Batak artinya : inti yang terbaik dari yang terbaik). Vokal grup Impola inilah yang membuat Gordon sangat terkenal sejak tahun 1960 an. Gordon bersama istrinya Theresia Hutabarat menjelajah banyak negara. Bahkan beberapa MC (Master of Ceremony) terkenal seperti Koes Hendratmo dan Hakim Tobing sempat ikut bergabung dalam kelompok itu.

Totalitas Gordon di dunia musik rakyat memang pantas dikagumi. Ia tidak pernah berniat untuk pindah jalur, seperti pemusik lain yang pindah jalur ke blantika musik pop. Gordon juga tidak pernah terpengaruh untuk meninggalkan dunianya, meskipun banyak alternatif pekerjaan lain yang bisa dimasukinya.

MARIO LANZA

Sebagai penyanyi lagu rakyat (folk song), salah satu lagu yang sangat disenangi Gordon dan selalu dinyanyikannya diluar negeri adalah lagu A Sing Sing So, ciptaan Boni Siahaan. Lagu itu di tahun 60 an menjadi lagu Batak terkenal di Amerika. Bahkan karena warna suaranya yang bagus dan sanggup melengking tinggi pindah oktaf, Gordon pernah dijuluki Maria Lanza Indonesia (Maria Lanza adalah penyanyi Italia bersuara emas yang menguasai ratusan lagu rakyat dari banyak negara di dunia/pen). Gordon Tobing pernah berkata: “Saya bisa menyanyikan banyak lagu rakyat dari mancanegara, hanya lagu dari Nigeria dan Arab yang tidak bisa saya nyanyikan”. Tiga tahun setelah menginjakkan kakinya di Jakarta, Gordon mulai bertualang ke berbagai negara. Tahun 1953 ia tiba di Moskow, disusul tahun 1960 mendarat di RRC, mendahului kunjungan Presiden Soekarno ke negara tersebut. Takkala mendarat di bandar udara, Bung Karno terkesima saat mendengar Gordon Tobing menyanyikan lagu Batak (termasuk A Sing Sing So) di bandara. Presiden pertama RI itu heran, dan bertanya pada ajudannya: “Siapa yang menyanyikan Lagu Batak disini?”. Setelah ajudan mengecek siapa yang menyanyi itu dan melaporkannya kepada Bung Karno, spontan Presiden berkomentar:”Luar biasa dia dengan lagu rakyat Gordon bisa sampai disini”. Sejak itu Bung Karno “Jatuh Hati” kepada Gordon dengan grup Impolanya. Tapi kini Gordon sipenyanyi “A Sing Sing so” itu hanya tinggal kenangan bagi pencintanya. Hari Rabu tanggal 13 Nanuari 1993 sang pengembara seni musik ini telah pergi jauh ke haribab Tuhan Sang Pencipta. Ia pergi secara mendadak, tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Hari Selasa tengah malam ia masih duduk santai menyaksikan acara televisi , film Another World, kesukaannya. Tiba-tiba ia berkata mengeluh kepada istrinya, bahwa dadanya terasa sesak. Tidak berapa lagi kemudian Gordon telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan istrinya tercinta Theresia Br.Hutabarat.

“Papa yang tak pernah mengeluh sakit sebelumnya, selama ini kondisi kesehatannya baik-baik saja. Papa juga tak pernah memeriksakan diri ke Dokter, sehingga tak pernah ketahuan kalau ia mengidap suatu penyakit” Ujar Enrico, putra sulung Gordon ketika itu, 9 tahun lalu. Gordon Tobing semasa hidupnya telah berjasa besar sebagai duta bangsa memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Almarhum juga memiliki kemampuan yang prima membawakan lagu rakyat setiap negara yang dikunjunginya, yang membuat semakin dikagumi kemanapun ia pergi. Sejumlah penghargaan bergengsi telah diterimanya dari negara yang pernah dikunjunginya. Antara lain dari Vietnam, Australia, Kuba, Jerman, dan Kamboja. Malah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan Presiden Fidel Castro dari Kuba pernah memberi hadiah gitar untuk Gordon. Terakhir, Kaisar Jepang menganugerahkan bintang tanda jasa The Order Of The Sacred Treasure, Goland Silver Rays kepadanya, karena dia dinilai berjasa meningkatkan hubungan kerjasama Indonesia-Jepang. Setelah Gordon Tobing telah tiada, masikah akan ada muncul tokoh seni musik Batak sekaliber Gordon? Banyak musisi dan penyanyi Batak bermunculan saat ini, tapi umumnya berkiprah di jalur pop. Kini dunia musik lagu rakyat terasa semakin sepi, menantikan kehadiran Gordon Tobing-Gordon Tobing yang baru, yang mampu menerobos jalur permusikan lagu rakyat di mancanegara.

note : kami mendapatkan tulisan ini dari berbagai sumber di internet tanpa ada penulis…..

Written by lagubatak

December 17, 2008 at 2:55 am

ALBUM PARNINGOTAN

with 3 comments

Album Parningotan

Album Parningotan

Album Pardomuan
Album Pardomuan
10 Supert Top Hits

10 Supert Top Hits

11 Lagu Batak Kenangan Tempo Doeloe bersama Simanjuntak Stars

Wahana Records memang selalu mempunyai invoasi baru dalam hal membuat album album yang layak dipertimbangkan oleh kalangan penikmat dan pengamat lagu batak. Setelah tergolong sukses membuat kompilasi lagu lagu popular “namasa nuaeng” yang berjudul Album Pardomuan, yakni lagu lagu yang cukup menggugah perasaan emosional pendengar. Dalam album Pardomuan ini kita dapat melihat bagaimana cara penyusunan lagunya hingga menjadi suatu keutuhan cerita bila kita amati dari segi penataan lagu.

Memang lagu yang dihadirkan tersebut adalah hasil seleksi dari album album yang telah beredar dipasaran sebelumnya, antara lain Poda Ni Dainang, Anak Medan, Ulos Saput, Soripada Naburju, dll. Namun karena penyajiannya yang cukup unik dan inovatif maka Album ini berhasil menduduki Top 10 lagu lagu batak terlaris 2 tahun belakangan ini, setelah terlebih dahulu diawali kesuksesan Album 10 Super Top Hits Lagu Batak, juga produksi Wahana Records.

Design covernya cukup unik dan menarik yang dirancang khusus dengan unsur kebatakannya, perpaduan antara gambar ulos dan rumah adat batak dengan pernik pernik dan warna khas batak. Bahkan ada pembeli yang berkomentar terobosan pembuatan cover VCD seperti ini membangkitkan gairah untuk memberikannya sebagai kado kepada kerabat atau lainnya. karena indah dan menarik.

Dalam Album Parningotan, penyajiannya berbeda dengan Album Pardomuan, pada Album Pardomuan disamping daftar lagunya adalah lagu pilihan pada masa kini, juga artisnya terdiri dari beberapa group penyanyi trio maupun solo. Sedangkan dengan Album Parningotan, lagunya adalah terdiri dari 11 lagu yang merupakan lagu lagu lawas yang pantas untuk diperdengarkan kembali, dan dinyanyikan oleh satu trio yakni Simanjuntak Stars yang diberi judul : 11 Lagu Kenangan Tempoe Doeloe bersama Simanjuntak Stars.

Adapun lagu lagu yang terdapat dalam Album Parningotan adalah :

1. Marrengge Rengge Cipt. Ismail Hutajulu

2.  Unang Tinggalhon Ahu  Cipt. Tilhang Gultom

3.  Ito Nabasa Cipt. Harison Siagian

4.  Tarunduk Ahu Cipt. NN

5.  Baju Kurung Cipt. Ismail Hutajulu

6.  Boasa Dung Botari Cipt. S. Dis

7.  Buat Ito Hu Raut I Cipt. Hotnida Simorangkir

8.   Sursar Cipt. NN

9.   Boasa Dohonon Mu Cipt. Tilhang Gultom

10. Tudia Nama Ahu Cipt. Ros Siadari

11. Marimbang Cipt. Nahum Situmorang

Menurut produser label Wahana Records Max Simanjuntak, Album Parningotan ini dapat menciptakan warna baru terhadap keberadaan lagu batak saat ini, karena disamping diproses dengan menggunakan teknologi audio yang cukup berimbang dan pengambilan gambar juga merupakan hal yang berbeda dibanding dengan album album lain sejenis yang beredar saat ini.

Album Parningotan di release dalam 3 sarana yakni, Audio Cassette, Video Compact Disc (VCD), dan Audio Compact Disc (CD).

Kami sangat yakin bahwa Album Parningotan akan menjadi salah satu top hits lagu yang akan lama memenuhi selera pasar lagu lagu batak, karena memang kami telah mempersiapkannya dengan perencanaan yang cukup matang, tambahnya.

Berpatokan pada keinginan pasar yang telah diprediksi, bahwa pendapat diatas bisa menjadi kenyataan benar, karena pada umumnya berdasarkan pengamatan tidak resmi yang telah dilakukan, bahwa kehadiran lagu lagu kenangan yang dibawakan dengan pola music modern tanpa meninggalkan ethnic musical yang menjadi andalan musik batak, akan merupakan pertimbangan tersendiri untuk dianggap layak menjadi  leader market.

“Nama besar tidak selalu membuat bahwa album itu menjanjikan laku dipasaran”, itu (nama) hanya merupakan jembatan bagi para penikmat untuk memilih lagu lagu yang layak untuk didengar, tambah Max disela sela perbincangan pada saat press release peluncuran Album Parningotan baru baru ini di bilangan Jakarta Timur, dimana Wahana Records berkantor selama satu dekade ini. Daftar lagu yang kami suguhkan adalah lagu pada era tahun 70an, dan sudah sangat jarang lagi dinyanyikan dalam bentuk Audio Cassette apalagi VCD, begitu Max menambahkan.

Wahana Records adalah salah satu rumah produksi lagu batak yang cukup produktif dan selalu mempunyai inovasi inovasi dan terobosan baru dalam menghadirkan lagu lagu batak dalam dunia blantika musik batak. Kehadirannya cukup menggembirakan para penikmat lagu batak dengan mempelopori terobosan untuk membuat lagu batak menjadi murah dan terjangkau dipasaran dengan menggunakan inovasi pembuatan VCD original harga ekonomis. Dapat dibayangkan harga pasaran VCD original Rp. 40.000,-/buah, namun untuk VCD lagu batak dapat diciptakan menjadi harga Rp. 10.000,-/buah tanpa harus melanggar peraturan yang ada, maka  bila diperhatikan dalam setiap VCD batak selalu tertera “original ekonomis”. Dengan demikian para penikmat lagu batak jelas tidak melirik lagi produksi produksi bajakan yang mengkhawatirkan dunia produksi rekaman. bahkan ide itu sekarang dilirik para produser lagu daerah lainnya untuk diadopsi pada produksi mereka untuk menghindari ulah pembajak.

“Penikmat lagu batak sangat wajar diberi penghargaan yang tinggi dengan cara menhadirkan produk produk yang bermutu, Karena telah terbukti bahwa mereka tidak tergiur untuk membeli produk produk bajakan, berbeda dengan produk produk lagu  daerah lainnya, mereka sangat memprihatinkan”, ujar Max dengan khas batak yang serius.

Simanjuntak Stars adalah salah satu group penyanyi trio dibentuk sejak tahun 1997 dan telah mengeluarkan 3 album pop batak; Vol.1 – Dang Lepelmu Au Ito – Cipt. Bunthora Situmorang, Vol. 2 – Alani Ho – Cipt. Fredy Tambunan dan Vol. 3 – Pabagas Tanoman – Cipt. Soritua Manurung, album album ini cukup sukses dipasaran dan 2 album lainnyanya tanpa volume, antara lain Special Edition Simanjuntak Stars bersama Jack Marpaung (Tuisema Anakhonhi Manjou Oppung – Cipt. Jack Marpaung) dengan durasi 10 lagu dan The Best of Simanjuntak Stars (12 lagu), mereka mampu menarik simpati para pendengar lagu batak didunia persaingan trio yang cukup ketat saat ini.

Pada album Vol.1 dan Vol. 2 trio ini mempunyai formasi personil : Nixon Simanjuntak, Muchtar Simanjuntak dan Santer Simanjuntak, namun karena Nixon Simanjuntak telah mempunyai ikatan kontrak dengan Trio Lamtama dengan salah satu produser batak, maka formasinya berubah, posisi Nixon sebagai leader vocal digantikan oleh Halim Simanjuntak.

Dalam akhir perbincangan,  Max menjelaskan bahwa dalam waktu dekat Wahana Records juga akan menghadirkan album terbaru dari Simanjuntak Stars Vol. 4 dalam bentuk Audio Cassette dan VCD. Saya berani memberikan garansi dengan kwalitas proses vocal dan musical album ini. Seluruh proses produksi, edit dan izin sensor telah selesai dan kami tinggal menggandakan dan mengedarkan kepasar, mudah mudah dalam waktu dekat kita sudah dapat menikmatinya. Ujarnya untuk mengakhiri perbincangan. Semoga berhasil! (lagubatak/pds)***.

 

 

 

 

Written by lagubatak

December 16, 2008 at 8:34 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 66 other followers