New-Release Album Vol.4 – Simanjuntak Stars!!
Bornginon
Tahuak Manuk
Dainang
Akhirnya, baru baru ini Simanjuntak Stars berhasil me-release album baru mereka pada volume 4, dengan susunan lagu :
1. Bornginon Cipt. Robert Marbun
2. Di Pesta Bona Taon Cipt. Mangara T. Manik
3. Manganju Ma Ho Cipt. Fendy Manurung
4. Tarlambat Kapal Cipt. Soritua Manurung
5. Soripada Naburju Cipt. Sudiarto Tampubolon, SH
6. Tahuak Manuk Cipt. Harun Situmeang
7. Dainang Cipt. Otto Hasibuan, SH
8. Manis Begeon Cipt. Anton Siallagan
9. Pos Ma Roham Cipt. Gaol Naibaho
10. Sadarion Nama Cipt. Yamin Panjaitan
——————-
Mari menghargai poduk bangso sendiri……… dengan menghindari produk dalam bentuk ‘bajakan’ dan sejenisnya.
10 Lagu Manis Tapsel Madina
10 Lagu Manis Tapsel Madina
Bersama :
Rony Syahputra Siregar
Maya S. Tanjung (KDI)
Nikma D.
Tetty Malinda Nst
Khoirul Nasution
Sinda Sari Harahap
Amas Muda Lubis
Dengan lagu :
Padiarma Sasada Au
Bulan Dua
Gincu Narara
Janji Dibangku Bulu
Ho Do Nadiroha
Songon Nipi
Maya
Memory Porni Udan
Uti Utian
Mandua Roha
————-
** betul-betul manis:)
Oppung Surip telah tiada

Oppung Surip
Mbah Surip Tak Gendong Meninggal Dunia
Penyanyi fenomenal Mbah Surip meninggal dunia, Selasa (4/8/2009) pukul 10.30 WIB. Penyanyi Tak Gendong itu sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.
“Iya benar tadi meninggal pukul 10.30 WIB,” kata Mega, petugas pendaftaran RS Pusdikkes saat dikonfirmasi detikcom.
“Selamat Jalan Mbah Surip”
Minta Pendapat Pengunjung

Simanjuntak Stars
Seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, bahwa blog ini juga akan saya fungsikan untuk meminta pendapat dari para pengunjung tentang keberadaan lagu batak pada umumnya, namun saya akan mencoba mengkhususkan terhadap sebuah group (trio) yang sedang eksis saat ini.
Simanjuntak Stars (salah satu trio batak) sebenarnya telah merampungkan 7 (tujuh) album selama ini, namun yang telah release ke pasar masih sampai 5 (lima) album, sedangkan produsernya masih menganggap waktu yang belum tepat untuk me-release album album yang lainnya. Namun kesempatan ini dimanfaatkan untuk meminta pendapat para pengunjung (yang kami anggap telah dewasa untuk memilih dan menilai sebuah lagu).
Maka dalam kesempatan ini kami memohon penilaian sekaligus pendapat pengunjung kiranya memberi masukan kira-kira apa judul/hits yang cocok untuk album berikutnya ini. Sengaja kami memberi 2 pilihan judul lagu yang menurut kami pantas sebagai hits untuk album volume 4 ini, antara lain :
1. Tahuak Manuk Cipt. Harun Situmeang<<= klik mendengar dari YouTube
Tahuak manuk dope sogot manogot i
Da nungnga borhat ho inang tu parjajoan mi .. hei.. hei
Martaon ombun ho tahe inang ni gelleng hu
Lao mandiori ngolu-nglou siapari iMar hoi-hoi ho inang siganup ari i
Tung hir do hodok mi didadang las ni ari i
Sodisarihon ho bei loja ni daging mi
Asal ma dapot boras si satangkar iReff.
Hape martonga borngin pe inang
Da asa mulak ho… marsikkor daging mi tahe
Inang ni gelleng huSo sanga be diabing ho boru ta siampudan i
Pasari sari ngolu ngolu siapariSotung mandele ho inang dihalojaon mi
Paima magodang sude gelleng ta i
2. Bornginon Cipt. Robert Marbun<<= klik mendengar dari YouTube
Bornginon nama ito
Parsirangan ni janji ta
Ai marsogot haduan
Naeng marbogas nama auAle hinaholongan
Tinggal ma ho hasianBorngnion nama ito
Ilu ilu maraburan
Roha mi nang roha hon
Rap mabugang do itoNa marsihaholongan
Ikkon marsirang namaReff.
Hasian…. boha bahenon
Nga hubaen lakka hu ito songonon
Arsak mi… nang rimas mi
Di-nipim ubatan hu doi haduanIngot ma…. sai ingot ma
Roha hu holong hu di ho
Sude hutading hon di ho
Dan sebagai bonus untuk anda, kami berikan sebuah lagu “Dainang” Cipt. Otto Hasibuan, SH yang juga terdapat pada album tersebut nantinya, disamping lagu lagu lainnya tentunya.
Atas pendapat dan masukannya kami haturkan terima kasih.
Blog Lagu Batak
Kembali saya mencoba untuk mengulang-ulang berita, namun memiliki informasi kesegaran didalamnya, berita itu adalah tentang pengunjung blog lagu batak kita tercinta ini.
Sampai saat ini pengunjung blog kita tidak kurang dari 120.000 hints, saya belum bisa pastikan apakah ini benar2 pengunjung sebanyak ini atau dari beberapa pengunjung dengan total 120 ribu menekan klik pada halaman halaman blog ini. Namun yang pasti saya menilai bahwa ini adalah keriduan orang batak (simpatisan) untuk melihat bagaimana perkembangan lagu batak itu secara up-to-date, berikut pembandingnya:
Blog Stats Summary Tables
Total views: 120,182
Busiest day: 1,623 — Wednesday, February 4, 2009
Views today: 199
Totals
Posts: 96
Comments: 556
Categories: 15
Tags: 196
jumlah ini selalu menggugah semangat saya untuk mengisi informasi2 tambahan yang mungkin dibutuhkan pengunjung di seberang sana. Dan juga cukup banyak software yang ditawarkan oleh portal portal lain khusus yang bisa mengawasi dan memonitor darimana saja pengunjung blog ini, ternyata diataranya adalah:
Country Visitors Last New Visitor
1. Indonesia 3,640 July 8, 2009
2. United States 434 July 8, 2009
3. Malaysia 46 July 8, 2009
4. Norway 45 July 5, 2009
5. Singapore 44 July 7, 2009
6. Netherlands 21 July 7, 2009
7. Japan 17 July 6, 2009
8. Australia 13 July 7, 2009
9. Korea, Republic of 13 July 7, 2009
10. Germany 9 July 3, 2009
11. Philippines 6 July 7, 2009
12. Unknown – Satellite Provider 6 June 30, 2009
13. Saudi Arabia 5 June 22, 2009
14. France 4 July 7, 2009
15. United Kingdom 4 July 4, 2009
16. Taiwan 4 July 3, 2009
17. United Arab Emirates 4 June 29, 2009
18. Yemen 3 July 8, 2009
19. Sweden 3 July 5, 2009
20. Ireland 3 July 5, 2009
Saya masih tetap melihat banyaknya pengunjung dari negara sendiri tentunya, diikuti oleh pengunjung yang berasal dari Amerika kemudian diikuti dari negara negara lain. Namun ada sedikit yang membuat saya agak terkaget-kaget. Tadinya saya memikirkan bahwa orang-orang batak itu lebih banyak di daerah belanda atau inggirs, namun berdasarkan laporan ini bahwa tidak kalah banyaknya di negara Norwegia, Oslo. Kalau tidak salah dia berada di semenanjung Skandinavia bagian ujung barat. Bagus!, ini adalah informasi baru buat saya, karena jika saya amati dengan semakin mendetail, pengunjung dari Oslo ini hampir setiap hari aktif dan selalu melihatnya secara rutin, hmmm….
Namun ada sedikit permintaan, ini juga demi naiknya rating dari blog ini, agar bisa diakses rekan-rekan yang lainnya yang belum sempat melihatnya. apabila misalnya anda berada dinegara yang jauh (contoh Norwegia), jika anda membuat satu tulisan dan hints dalam blog ini (apakah itu berupa tulisan, atau komentar sedikit pun) maka mesin pengolah kata akan bekerja untuk mengakses kalimat-kalimat ini dan akan menjadi populer menjadi kenaikan rank blog itu sendiri.
Lakukanlah sedikit saja, mungkin hanya menyisihkan 5 menit waktu anda untuk menulis komentar, apa saja tidak masalah, seperti dalam pernyataan saya, bahwa komentar menghujat sama nilainya dengan yang memuji. Maksud ini agar supaya rank blog ini bisa naik, dengan demikian jika rekan yang lainnya ingin mencari dengan tag:lagu batak akan lebih membantu daripada hanya sekedar melihat lihat saja:-).
Imbauan ini berlaku untuk seluruh negara pengunjung blog ini.
mauliate,
bj
Pemilihan Umum
Pemilihan Umum telah memanggil kita. seluruh rakyat menyambut gembira, hak demokrasi pancasila, dibawah undang undang dasar empat lima… begitulah sedikit penggalam lagu mars tentang pemilihan umum Indonesia. Entah kenapa, saya mendengar lagu tersebut lebih berbobot dari lagu Indonesia Raya yang selalu dikumandangkan pada hari 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Republik ini.
Sedikit lebih selidik alasan tersebut terjawab, walaupun itu hanya pendapat pribadi saya saja, menurut saya karena dalam lagu mars pemilihan umum ini sarat dengan kalimat yang menonjolkan ajakan kepada masyarakat untuk melaksanakan haknya sebagai warga negara memilih pemimpinnya untuk lima tahun yang akan berjalan, lagu tersebut tersebar ke seluruh indonesia baik radio, tv, koran sekali dalam lima tahun. Sedangkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan juga melalui semua fasilitas tadi sekali dalam setahun. Jadi mungkin hanya masalah sering dan jarangnya sesuatu kata/lagu ini diucapkan maka ada kerinduan yang mendalam jika itu dilakukan dengan bobot yang sama. Lagu Pemilu sekali lima tahun (cukup lama menunggu agar kita dapat menikmati lagu ini dengan akbar) dan Lagu Indonesia Raya sekali setahun.
Tapi entah kenapa lagu pemilu tersebut sudah jarang saya dengar kembali akhir akhir ini, padahal dalam tahun 2009 ini terdapat 2 kali pesta akbar di alam demokrasi kita, yakni pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.
Karena saya tertarik membicarakan dari segi lagunya, maka saya akan sertakan syair masing masing lagu tersebut :
Lagu Pemilihan Umum
Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi pancasila
Hikmah Indonesia merdeka
Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban Ampera yang setia
Dibawah Undang-undang Dasar 45
Kita menuju ke pemilihan umum
Lagu Indonesia Raya
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Semangat yang ada dalam kedua lagu tersebut sangat mempengaruhi pengalaman pengalaman nenek moyang indonesia dari zaman ke zaman, disanalah kita dapat merasakan bagaiman mereka sebelum mengecap kemajuan zaman tapi telah mampu membuat masyarakat lainnya tergugah.
Mari tuntaskan ajakan itu, datang ke tps masing masing dan lakukan hak sekaligus menjadi kewajiban anda sebagai warga negara indonesia yang baik.
Pesta demokrasi 2009.
Jayalah Negeriku dan Bangunlah Putra/Putrinya
Buni Di Ate-ate
Terdapat dalam Album “Aek Sibulbulon”
Buni Di Ate-ate<<== Klik mendengar dari YouTube
Naeng do ho sai hupasiding
Alai maniak ate ate
Lam dao ahu laho manadinghon ho
Lam ganda sitaonon
Naeng do ho sai hulupahon
Siholhi so boi hutaon
Nunga tung balga jala tung bagas
Holong ni rohaku
Reff.:
Bereng ma dison buni di ate-atehon
Simpan dope goarmu
Bereng ma dison peak di pusu-pusuhon
Simpan dope gambarmu
Ndang tarbahen ahu hape
Mangalaupahon ho
Ndang tarbahen ahu ndang tarbahen ahu
Laho pasidinghon ho
********
marappilaos syair nai ateh, sossok ma on tu na manigati halungunaon ni roha, ala na sai mardua roha tu nahinaholongan ni rohana, unang ito…. pittor pillit ma!! hehehehe.
Satire dalam Lagu
Dear friends,
Kali ini saya ingin mencoba melihat/membahas sisi lain dari sebuah lagu yang tercipta dari seorang penulis lagu. Seni memang adalah satu sifat yang universal, rata-rata seorang seniman/wati(harusnya aku harus sering menulis seperti ini:-)) mempunyai sifat yang halus dan berbeda dengan sifat sifat yang ada pada manusia biasa, pada umumnya:-(.
Jika kita mendengar sebuah lagu, baik notasi dan aliran syair yang terkandung didalamnya, biasanya kita hanya terpaku pada pengertian syair dan lekukan nada-nada yang diciptakan oleh penulis lagu itu sendiri, seolah lagu tersebut tak ada niatan yang hendak disampaikan.
Namun ini ada info, setelah diadakan sedikit pencarian informasi, ternyata banyak lagu terutama syairnya adalah berupa sindiran kepada pemerintah, kawan, lawan (mungkin dalam bahasa sastra indonesia disebut satire).
Satire ini terdiri dari 2 bentuk, bentuk yang pertama adalah secara langsung, itu berupa sindiran kepada pihak pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat dan langsung menyampaikannya dengan kalimat yang telak. Kemudian yang kedua adalah berupa tidak langsung (kiasan), seolah-olah syair itu tidak ditujukan untuk menyindir seseorang namun setelah ditelaah ternyata kandungan sindiran ada didalamnya, dan biasanya bentuk sindiran (kiasan) inipun terbagi dalam beberapa bentuk.
Dalam dunia seni lagu batak hal ini juga sangat terlihat jelas. Perbincangan tentang hal ini pernah ramai dalam lingkungan artis dan pencipta lagu batak itu sendiri, beberapa diantaranya seolah berlomba untuk saling membuat syair syair yang menyampaikan isi hati penulis kepada pihak lain, dan yang tidak kalah serunya adalah “lawan” tersebut berada dalam lingkungan sendiri yakni artis/pencipta lagu batak, seru!!.
Lebih menarik lagi adalah bahwa sindiran (satire) dalam syairnya disampaikan secara halus dan tidak akan tampak pada orang orang biasa yang tidak mengerti arah tujuan dari si pencipta itu sendiri.
Nama nama pencipta lagu batak yang menurut kami sering mempunyai makna ganda dalam lagu lagu ciptaannya, sebut saja : Dakka Hutagalung, Bunthora Situmorang, Tigor Gipsy Marpaung, Jack Marpaung, Mangara Manik, William Naibaho, Rober Marbun, Yamin Panjaitan, dan masih ada nama lainnya.
Nah, to the point!, bukan suatu rahasia umum lagi bahwa dalam dunia artis batak kita mengenal sosok artis/penyanyi batak yang namanya Trio Lasidos. Kebetulan dua dari personilnya adalah yang sangat produktif dan aktif untuk mencipta lagu, yakni Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung.
Juga mungkin sebahagian besar diluar artis batak telah mengetahui bahwa kefakuuman Trio Lasidos tidak memproduksi lagu batak dari tahun 80an oleh karena terjadinya suatu kesalah fahaman diantara kedua belah pihak ini, untunglah baru baru ini ada orang batak (D.L. Sitorus) yang memfasilitasi agar diantara mereka terjadi rekonsiliasi, bisa rukun dan bergabung lagi dalam bendera Trio Lasidos.
Saya memulainya sedikit demi sedikit,
Jika diantara kita masih ingat lagu “Dewi” karya cipta Bunthora Situmorang, kira kira syairnya begini : “Anggo hatam tu au ito, natua tua mi do namamaksa ho, asa oloan mu tu tinodo nai mangido maaf ho tu au”, (Kalau kau mengatakan bahwa orangtua mu yang memaksamu untuk dijodohkan kepada orang pilihannya dan engkau datang minta maaf padaku).
Disini jelas kita akan terpaku terhadap kalimat, bahwa pengertiannya adalah yang sebenarnya tentang kepiluan seorang lelaki yang ditinggal oleh pacarnya.
Namun Bunthora memulai dengan kata sindiran halus. Pada saat itu ada suatu perseteruan antara dia dengan Jack Marpaung atas ketidak selerasan hubungan mereka secara group Lasidos, muncul dugaan pada saat itu Jack Marpaung membelot ingin mencari popularitas yang lebih dibanding dirinya. Dahulu dia sudah mulai mencari partner untuk bernyanyi dalam album batak tanpa sepengetahuan Bunthora, dalam dunia artis batak perlakuan seperti ini sangat tidak lazim, dari saat itu bahwa Jack Marpaung lah yang memulainya terjadinya seringnya pergantian personil dalam suatu group trio batak, hingga terbawa sampai sekarang ini.
Yang lebih tanpak adalah dalam Reff. lagu tersebut : “O Ale Dewi hasian, tung so pola au sega bahenon mu, alai pargabuson mi do hasian nasai hutangisi”, (Oh Dewi kasih ku, saya tak akan menderita karena perbuatanmu tapi yang selalu kusesali adalah kebohongan mu), mengapa saya berani mengatakan dalam lagu ini adalah sindiran kepada Jack Marpaung?. Anak tertua dari Jack Marpaung adalah Dewi Marpaung, jika saya Bunthora karena saya tidak sedang sreg dengan Jack, saya tidak akan membuat lagu seperti ini membuat nama anak teman didalamnya jika tidak ada unsur lain. Dan itu pernah ditanyakan beberapa orang terhadap Bunthora, tetapi dengan sopan dan halus Artis Batak senior yang sangat dihargai ini menjawab dengan diplomasi batak yang santun, namun sesekali dia mengakuinya terhadap teman dekatnya.
Sebenarnya banyak lagu Bunthora yang sedikit dan banyak menyinggung perseteruan mereka pada saat itu, dan umumnya lagu tersebut dikenal masyarakat banyak. Tapi saya akan ambil contoh lain yang bisa dipercaya kebenarannya, kenapa??, karena yah… percaya deh!.
Pernah mendengar judul lagu “Dang Lepelmu Au Ito??” lagu ini dibawakan pertama kali oleh Simanjuntak Stars dan sepertinya Bunthora tidak puas, dia kembali menyanyikan lagu ini bersama group “optional”nya pada saat itu bernama 3 Bintang, bersama Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.
Syairnya kira-kira begini : “Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi…. Dang lepelmu au ito”, (oleh karena kemiskinan ku itulah penyebab saya tidak menyampaikan rasa cintaku padamu, aku menganggap bahwa aku bukan levelmu). Jika kita selidiki syair lagu ini, adalah seolah olah bahwa seorang pria akan merasa berkecil hati oleh karena kemiskinan yang membuat dia tidak mampu mengucapkan rasa cintanya kepada seorang wanita.
Kembali Bunthora memulainya dengan halus, untuk menyampaikan bahwa dia sudah merasa berlapang dada selama ini yang membuatnya tidak menyampaikan seluruh gundau hatinya kepada Jack. Tapi sebenarnya ada yang perlu disampaikannya kepada Jack, yaitu bahwa dia bukan “lawan” yang setimpal buat Bunthora (khusus arti Dang Lepel ini sengaja dibuat terbalik untuk menekankan apa yang ada dalam hatinya). Bahwa dirinya lebih mempunyai keistimewaan yang dapat diandalkan:-).
Dalam Reff lagu tersebut : “Hape parsatokkinan do ito tu au holong mi, marsapata ma ito holong hi dibahen ho, alai so jadi mandele au ito, hutanda do ito dirikki dang lepel mu au ito”, (Tapi hanya sekejap cintamu padaku, tapi kaulah yang menanggung akibatnya, saya cukup mengenal diriku, kau bukan level ku). Kembali pengulangan kalimat bahwa Engkau bukan Level saya.
Pernah sekali seseorang bertanya bahwa syair lagu “Dang Lepelmu Au Ito” itu adalah ungkapan bahwa pihak lain lebih tinggi dari kita, dengan demikian bahwa Bunthora itu berada dibawah lepel Jack Marpaung?, buru buru Bunthora dengan nada yang lain menjelaskan, oh.. bukan, coba jangan baca semua syairnya.. tapi hanya menyebut “Dang Lepelmu Au” apa kesannya?, disitu pengertian yang saya ambil, katanya!.
Tidak lengkap jika saya hanya menunjukkan lagu lagu ciptaan Bunthora Situmorang yang menyerang atau membuat sindiran terhadap Jack Marpaung, tetapi hal sebaliknya juga banyak berseliweran di lagu batak, lagu ciptaan Jack Marpaung banyak yang mengandung sindiran sebagai balasan terhadap lagu Bunthora.
Tapi ada baiknya saya lanjutkan kemudian hari:-)
Berpikir Sejenak
Maaf, 2 hari ini saya diserang virus flu yang cukup berat, maka saya memutuskan untuk tinggal dirumah daripada harus pergi ke kantor, kasihan mereka yang dikantor bisa mengalami penularannya nanti, tapi setidaknya perasaan sekarang sudah mulai membaik.
Dan tulisan saya buat yang kedua kalinya, semalam saya sudah menulisnya dengan rapih dan baik, ternyata ada kesalahan teknis, sebelum saya mem-publishnya, kursor saya agak nakal dan lelet, saya curiga jangan jangan nanti laptopnya bisa hang-off, saya buru-buru select-all tulisan yang saya buat maksudnya mau mengcopy supaya nanti bisa ter-cover dari ulah komputer. Pada saat saya mau pilih copy, yang saya takutkan benar benar terjadi dan malah lebih buruk:-( dengan kecepatan “hantu” dan saya tidak merasa menekan “paste”, blassss…. semua tulisan hilang dan tidak bisa di-undo. Maka mudah mudahan apa yang sudah tertulis semalam bisa saya gali lagi saat ini.
Okay, kembali ke topik masalah, saya ingin mengajak anda berfikir sejenak. Karena kita berada di blog lagu batak maka tentu yang kita bicarakan adalah tentang lagu batak, lagu batak yang mati suri, lagu batak yang sudah terpolusi, lagu batak yang tak bernyali, lagu batak yang serampangan, lagu batak yang masih banyak segi negatif yang perlu kita kikis dan benahi. Tapi yang saya mau coba ungkapkan sekarang ini adalah bagaimana lagu batak itu menjadi suatu pembelajaran kepada generasi batak berikutnya. Dengan kata lain syair lagu batak itu dapat memberi gambaran kepada generasi selanjutnya bagaimana kehidupan bangso batak pada saat lagu itu tercipta. huh!
Nanti saya akan kasih contoh yang lebih konkrit, agar anda tau maksud dan tujuan saya, karena kadang kadang saya sangat miris jika melihat lagu batak itu menjadi bulan bulanan orang lain, namun kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.
Sekarang saya mea memberi contoh. Kita semua tau dan mungkin hafal judul lagu “Butet”, Butet dipangungsian do amang mu ale butet….., coba sedikit membayangkan arti liriknya (Butet, sekarang ayah mu sedang berada dipengungsian) Damargurilla damar darurat ale butet (Bergerilya dan serba darurat hai anak ku)…. Bagaimana kita membayangkan seorang ayah dari bayi perempuan yang membutuhkan dekapan ternyata ayahnya sedang berada di hutan belantara yang mungkin belum pernah dijamah oleh manusia. Hanya untuk mempertahankan atau ingin merebut kemerdekaan dari orang orang yang serakah ingin memiliki harta yang bukan miliknya, kalau kita sebut sekarang itu adalah perampok.
Saya belum lahir pada saat lagu ini dibuat atau tercipta bahkan puluhan tahun setelahnya, tapi saya bisa membayangkan sipencipta telah melihat kehidupan nenek moyang saya yang meninggalkan keluarga untuk pergi ke hutan belantara untuk bersembunyi dan mengintip musuh saat itu, dan bisa terbayang bahwa semua kaum lelaki melakukannya dengan sukarela.
Dan jujur saya katakan, jika saya mendengar syair lagu ini, pikiran saya langsung melompat ke salah satu negara yang simbol benderanya 3 warna yang hanya disobek warna birunya maka jadilah bendera republik Indonesia. Saya bisa membayangkan bolanda itu menghardik hardik nenek moyang saya karena tidak melakukan perintah mereka untuk menggali harta kekayaan alam ini. Kejam mereka kejam, saya pernah berniat untuk membuat pernyataan kepada pemerintah mereka agar mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membayar segala kesalahan mereka kepada nenek moyang saya waktu lampau. Apa pun alasannya mereka telah melakukan kesalahan besar.
Maksud saya itu adalah kekuatan dari sebuah lagu, dia bisa memberi pelajaran dan membangkitkan semangat apabila disampaikan dengan benar.
Kembali saya ambil contoh lagu yang lain, judulnya “Mampar Manarus”, lagu ini tercipta tahun 70an dan penciptanya adalah seniman yang betul betul mengerti dan mungkin melihat kenyataan hidup pada saat itu, namun dia bisa dengan jelas memberitahu kepada orang bahwa ada kehidupan yang seperti ini. Penciptanya adalah Parihutan Manik, seorang pencipta lagu batak yang lagunya saat ini sering dinyanyikan. Inilah copy-an lirik nya (thanks to Rio Simanjuntak) :
“Mampar Manarus” (yang tidak mengerti, ambil kamus… hehe – tak ada ibu yang menyusui)
Unang sai tangis ho butet
Boru hasianhu
Boto do lungun borungku
Na so marina i
Ai ompungmi do da butet
Na gabe loja i
Mandior panarusanmi
Tu dongan huta i
Nang tonga borngin da butet
Diompa ompungmi do ho
Manuntuk jabu panarusanmi
Tu na marasi roha i
Marganti soring da butet
Laho panarusanmi
Dihalojahon ompungmi
Holan humokhop ho
…Mulak tu: Nang tonga borngin…d. u.
Mampar manarus ho butet
tu dongan huta i
Dihalojahon ompungmi
Holan humokhop ho
Sai maraburan ilungki
Marnida dangolmi
Tau kah anda, arti lagu tersebut sangat dalam dan sangat menggugah hati siapun yang mendengar dengan syarat dia mengerti dengan baik bahasa batak. Saya tuntun anda untuk bisa mengerti, Ada seorang bayi yang usia entah beberapa hari telah menjadi piatu (ibunya meninggal), si nenek bayi inilah yang berusaha untuk mencari ibu-ibu yang lain (yang baru melahirkan juga), agar sibayi bisa menyusui atau diberi ASI, pada saat tengah malam Jangan bayangkan dulu saat itu ada susu formula yang siap saji bisa diberi kepada bayi.
Nah, kembali dalam lagu ini kita bisa mengerti dan membayangkan kehidupan orang tua sebelum generasi sekarang. Saya sangat mengerti lagu ini dan saya bisa membayangkan apa yang terjadi dengan sibayi pada saat dia malam hari layaknya seperti bayi-bayi lainnya yang kehausan.
Contoh diatas, keduanya adalah lagu yang tercipta pada masa dimana kita mungkin tidak mengalamnya lagi, namun saya akan coba untuk memberikan contoh lagu yang betul betul ada di era sekarang, dimana kita hidup dan mendengar dan melihat lakon lakon yang terdapat pada lagu tersebut. Lagunya adalah “Andung Ni Pejabat”, ini syairnya (thanks to Rio Simanjuntak) :
Inang ni sibutet
Peresiden nungnga margatti
Berantasonna ma korupsi beha ma i
Nungnga godang naung diperiksa
Nungnga godang naung dipenjara dongan-donganhi
(inanta)
Amang ni sibutet
Tokkin nai giliranta
Auditonna ma sude artanta
Ukkitonna do muse sinamot i
Sitaonna ma sude
(inanta)
Villa na di Puncak i
Hotel na di Medan i
Showroom mobil dohot pabrik na di Batam i
Jualonna nama i lelangonna nama i
Hepengna i masuk do i tu kas negara
(amanta)
Amang simatua mobil na hulean i
Hasil ni korupsi do i
Sotung leas roham marnida ahu helam on
Molo gabe masuk penjara ahu
…Mulak tu: Amang ni sibutet…d.u.
Lagu ini bukan lah didramatisir, diperbesar besar, agar menjadi perhatian pendengar. Bukan, ini adalah contoh nyata yang ada pada kehidupan manusia sekarang ini, si pencipta telah melihat dan menonton, bahkan saya yakin kita setuju apa yang terkandung dalam syair lagu tersebut. Presiden telah berganti, Team Pemberantasan Korupsi, Sita, Mobil diberikan ke Mertua tapi hasil korupsi, Harta semua akan kembali ke Kas Negara. Itu nyata, dan kronologisnya bisa saja seperti itu.
Nah lagu ini akan menjadi pembelajaran kelak mungkin setelah 50 tahun kedepan, bahwa nenek moyang mereka pernah mengalami yang namanya jaman korupsi, bisa saja mereka menertawai sikap kita sekarang ini, namun apa yang saya sampaikan bahwa mereka telah bisa membayangkan perasaan nenek moyang mereka puluhan tahun sebelumnya, hanya karena sebuah syair lagu.
“Lha, buku sejarah, kan ada juga Lae?”, apa…. lae bilang Sejarah?, yeap betul saya yakin sejarah akan mencatat apa saja yang terjadi pada zaman sekarang untuk bisa diketahui pada yang akan datang. Tapi nilai historisnya mungkin ada bedanya, jika saya membaca buku sejarah Sisingamangaraja dibanding dengan lagunya, berbeda jauh!. Dan perlu juga lae tau, bahwa tidak semua orang suka dan sempat untuk membaca buku. Ngerti lah laek.
Saya juga ingin menuliskan bagaiman lagu yang sekarang ini menjadi kenangan yang tidak perlu dilakonkan lagi pada 50 tahun yang akan datang. Tapi karena flu saya semakin berat, saya akan tulis lagi kemudian… tapi datang ya lae, lihat nanti……..(oh iya, tulisan ku yang semalam lebih bagus ternyata, sayang hilang).
horas,
bj







